Ada yang Terlupakan dari Pak Matori

15 November 2008 | 7:35 am | Dilihat : 155

Matori yang saya maksud disini adalah Bapak Matori Abdul Djalil Almarhum, dilahirkan 11 Juli 1942 dan meninggal dunia pada tanggal 12 Mei 2007. Semasa hidupnya beliau dalam kancah perpolitikan nasional dikenal sebagai politisi yang tangguh dan pemberani serta teguh pada prinsip.

Pak Matori aktif di organisasi IPNU (1960), GP Ansor (1963), PMII (1964-68), Sekretaris Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah 91979-1982). Sebagai anggota DPR-GR (1968), DPRD Salatiga (1971-1977), DPRD Jateng dari PPP (1977-191987), DPR dari PPP(1987-1997), DPR dari PKB dan Wakil Ketua MPR (1999), Menhan Kabinet Gotong Royong (10 Agustus 2001-21 Oktober 2004).

Setelah meninggal, beliau dimakamkan di pemakaman umum tanah kusir. Para murid dan pendukungnya yang mantan anggota PKB, Pekade kemudian menyusun buku biografinya, dan diterbitkan dengan judul "Pergulatan Membela Yang Benar". Buku tersebut mengupas perjalanan hidupnya baik sebagai poitisi, kiprah di Partai berbasis Islam, Demokrasi, Reformasi, PKB, Solusi Bangsa, pandangan dan pemikirannya dan Pengabdiannya kepada Negara.

Apakah Matori seorang yang hebat?. Seorang anak Bangsa yang berjasa kepada Negaranya?. Mari kita lihat pendapat Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono dan Menhan Prof.Dr.Juwono Sudarsono dalam buku biografinya.

Presiden SBY menulis, Saya mengenal Pak Matori sebagai politisi yang andal, teguh dalam pendirian, tegas dalam bersikap, dan berani mengambil risiko, serta juga sebagai sahabat yang menyenangkan. Ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan, bersama jajaran Menkopolkam lainnya, Pak Matori mampu mengamankan dan mengurangi tekanan politik internasional saat bangsa kita menghadapi aksi teror bom Bali pada bulan Oktober 2002. Beliau juga aktif dalam upaya penyelesaian damai konflik di Nanggroe Aceh Darussalam, pengendalian konflik Poso dan berbagai tugas lain dibawah koordinasi Bidang Polkam yang saya pimpin.

Selanjutnya sebagai upaya membangun kehidupan demokrasi yg transparan dan akuntabel di Indonesia, Dephan yg saat itu beliau pimpin berhasil menyusun Buku Putih Pertahanan Indonesia yg sangat strategis. Tentu saja masih banyak lagi peran, kiprah, dan perjuangan Pak Matori dalam pentas nasional, maupun inernasional. Kita patut meneladani perjalanan hidup beliau yang berjuang, mengabdi, dan berbakti tanpa pamrih dalam membangun kehidupan yg lebih baik di Tanah Air tercinta.

Selanjutnya Prof Juwono melengkapi, Beliau menunjukkan ketokohan seorang pemimpin bangsa yang memelopori Islam ramah, bijak, dan moderat. Beliau juga saya kenal sebagai tokoh yang sangat luas pergaulannya dari kalangan anak muda lintas organisasi, tokoh lintas agama hingga tokoh politik dipartai lain dan sangat dekat dengan kalangan militer. Ini merupakan kelebihan seorang politisi yang tidak banyak dimiliki tokoh lain.

Saya terus ingat sikap beliau terhadap Pancasila. Dalam pandangan beliau, Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara teokrasi. Bentuk negara Indonesia seperti saat ini, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan bentuk ideal dan final. Bahwa rakyat dalam negara ini beragama dan mayoritas muslim itu benar, tetapi negara tidak berdasarkan agama tertentu. Bahwa semua agama dilindungi dan diberi kebebasan untuk mengamalkan ajaran agama masing-masing itu juga benar, namun untuk menjalankan syariat itu menurut beliau tidak perlu menggunakan negara.

Oleh karena itu, Pancasila yg didalamnya memuat religiusisme, nasionalisme dan demokrasi harus diterima sebagai dasar negara. Pandangan seorang poitisi yg demikian itu sungguh sangat mahal harganya. Pada masa beliau juga lahir buku putih Dephan yang saya nilai sebagai ruh dalam pelaksanaan kebijakan Dephan saat ini. Dua hal tersebut merupakan peninggalan yang dapat disebutkan pada masa beliau menjabat. Beliau kita kenal sebagai pekerja keras, umara-ulama pemimpin bangsa dan umat. Semoga amal kebaikannya menjadi teladan bagi kita semua dan kekurangannya sebagai manusia dimaafkan.

Dari kesan beliau berdua, saya kira kita sependapat bahwa Matori Abdul Djalil memang seorang tokoh yang patut kita teladani, tokoh hebat, cerdas, pintar, bijak, sangat besar jasanya kepada negara ini.

Kini Jasadnya terbaring di pemakaman umum Tanah Kusir. Apakah terlalu berlebihan apabila kita menyampaikan saran kepada pemerintah, kiranya berkenan memberikan penghargaan sedikit saja sebuah tanda penghargaan yg beliau tidak miliki, yang memungkinkan beliau  memiliki hak dan dapat ditempatkan di Taman Makam Pahlawan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Malu rasanya hati ini mendapat hak ke TMP, dibandingkan beliau yang jauh lebih berjasa kepada  bangsa dan negara ini. Semoga  beliau yang disana teringatkan dan tersentuh. Amin.

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2008/11/15/ada-yang-terlupakan-dari-pak-matori/ (Dibaca: 1035 kali)

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.