MENSIKAPI PILKADA JAWA TENGAH

12 September 2008 | 8:28 am | Dilihat : 210

Oleh: Prayitno Ramelan

23 Juni 2008

Walau belum secara resmi KPUD mengumumkan hasil pilkada Jawa Tengah, quick count dari beberapa Lembaga Survei menunjukkan bahwa pasangan Letnan Jenderal TNI (Pur) Bibit Waluyo dengan Bupati Kebumen Rustriningsih telah menang dengan hasil yang jauh diatas para pesaingnya. Lembaga Suvei Nasional, Lingkaran Survei Indonesia, Lembaga Survei Indonesia dan Puskaptis memberikan prosentase kemenangan kepada Bibit-Rustriningsih sebesar 39,13 - 44,42 persen suara pemilih. Pasangan yang diusung PDIP tersebut mengalahkan pasangan Sadono-M Adnan (Golkar), Sukawi Sutarip-Sudharto (PD-PKS), M Tamzil-Rozak Rais (PPP-PAN), dan Agus Suyitno-Kholiq Arif (PKB). Gubernur Jateng Ali Mufiz memperkirakan golput berkisar antara 35-40 persen.

Pemilihan Kepala Daerah di pulau jawa, khususnya tingkat propinsi sangat menarik untuk diikuti dan dipelajari secara mendalam oleh partai politik peserta pemilu. Dari empat propinsi besar, mulai terlihat peta kekuatan partai politik. Di DKI walaupun kalah dalam pilkada, PKS yang berdiri sendiri perolehan suaranya hampir menandingi gabungan dari 29 parpol. Ini dikarenakan Jakarta termasuk lumbung suara dari PKS. Pada pilkada Jawa Barat koalisi PKS-PAN mampu menempatkan calonnya sebagai gubernur-wagub hanya dengan dasar perolehan suara 16,7 persen pada pemilu 2004. Kini di Jawa Tengah PDIP yang berdiri sendiri memenangkan calonnya sebagai gubernur-wagub.

Sementara ini masih tersisa satu propinsi kunci yaitu pilkada di Jawa Timur yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2008. Hingga saat ini para elit parpol terlihat masih mengalami kesulitan membaca perilaku para pemilih di pilkada. Sementara orang membacanya adanya pengaruh kuat dan korelasi pilkada dengan pilpres 2009. Pada pemilu 2004 lalu, masyarakat yang baru belajar melaksanakan pilpres langsung, tidak bisa dikontrol oleh jejaring parpol. Pada putaran kedua pasangan SBY-JK yang didukung partai papan menengah mampu mengalahkan pasangan Mega-Hasyim yang didukung dua parpol papan atas. Saat itu yang terbaca, untuk tingkat nasional pengaruh parpol terkalahkan dengan daya tarik capres. Konstituen memutuskan pilihannya hanya berdasarkan ketertarikan pribadi dan pengaruh keluarga.

Pada pilkada tingkat propinsi DKI, pengaruh kuat PKS dan daya tarik Adang hampir saja memenangkan persaingan. PKS terlalu percaya diri sehingga mengalami kegagalan di DKI. Pada pilkada Jabar, pemilihan calon yang tepat, penonjolkan kejujuran dan kepolosan calon serta dukungan PKS yang menyuarakan kebersihan mampu menciptakan kemenangan. Pasangan HADE ahirnya mengalahkan incumbent Gubernur dan dua Jenderal purnawirawan. Patut diingat Jabar yang wilayahnya bersentuhan dengan DKI mempunyai kemiripan sikap konstituennya yang dinamis.

Kini di Jawa Tengah, keadaan terbalik, calon PDIP yang Letjen purnawirawan dipasangkan dengan incumbent bupati wanita yang menang. Dari data perolehan suara pemilu 2004 di Jateng, PDIP meraih 29,83% suara, Golkar 16,14% suara, PKB 14,71% suara. Sementara PPP-PAN 16,81% dan PD-PKS 12%. Ini menunjukkan Jateng adalah lumbung suara PDIP. Kemenangan calon PDIP kali ini banyak disebabkan karena mereka all out dalam kampanye. Megawati yang dalam survei LSN pada awal 2008 popularitasnya tetap stabil ikut aktif berkampanye dan terlihat mampu merangkul dan menjaga hati serta kesetiaan konstituennya.

Kelebihan lain dari calon PDIP dikarenakan keduanya merupakan pasangan ideal dan layak dijual. Bibit kelahiran Klaten, sebagai pensiunan militer terlihat tegas, jujur dan bersahaja, berbicara apa adanya. Tidak ada berita negatif dari cagub ini. Pasangannya sebagai satu-satunya calon wanita diantara tujuh pria terlihat menarik dan pintar. Dinilai cukup profesional sebagai incumbent Bupati. PDIP telah belajar dari kasus di Jawa Barat dan Sumatera Utara, bahwa untuk memenangkan sebuah pilkada harus digunakan strategi pengaktifan mesin partai secara maksimal dan pemilihan calon yang disesuaikan dengan keinginan dan perilaku pemilih.

Calon dari Golkar berada diurutan kedua. Dengan perolehan suara 16,14 % pada pemilu 2004, sebenarnya Golkar mampu bersaing, tapi strateginya kalah dibandingkan kompetitor utamanya. Mesin partainya kurang berfungsi maksimal, sehingga tidak mampu mengalahkan kharisma Mega dilapangan. Kelemahannya dikarenakan tidak mungkin JK sebagai Ketua umum juga turut berkampanye. Setelah kalah dilumbung suaranya di Jabar, kekalahannya di Jawa Tengah banyak mengundang kritik di internal Golkar sendiri.

Kondisi yang agak parah dialami PKB, calonnya yang mantan Pangdam Diponegoro Mayjen TNI (Pur) Agus Suyitno hanya mampu menempati urutan terahir perolehan suara dari 5 pasang calon. Kondisi ini merupakan peringatan yang serius bagi PKB yang masih berkonflik. Dengan perolehan suara 14,71 % pada pemilu 2004, kenapa calonnya kini justru berada diurutan paling bawah. Ini membuktikan bahwa emosi dan ambisi petinggi PKB yang terus berkonflik sangat merugikan partai, menyebabkan konstituennya bosan dan lari kecalon lain.

Dalam pilkada ini kegagalan PKB bukan disebabkan calonnya yang mantan purnawirawan TNI. Toh, calon PDIP sebagai pemenang juga purnawirawan TNI. Lemahnya dukungan terhadap calon lebih murni karena imbas masalah internalnya. Konflik yang kini terjadi pengaruhnya akan sangat besar pada pemilu dan pilpres 2009.

Untuk calon dari gabungan PD-PKS dan PPP-PAN, yang belum dapat menang lebih disebabkan karena faktor tidak adanya keistimewaan yang menonjol dari calon mereka, kalah popular dengan pemenangnya. Lagipula upaya merebut simpati dilumbung PDIP dan Golkar sangat sulit dilakukan. Kondisi budaya masyarakat Jawa Tengah menunjukkan bahwa pemilih tradisional PDIP tetap setia kepada partai dan tokohnya. Kentalnya budaya penurut masyarakat Jateng akan sulit menggoyahkan kepemimpinan keturunan Bung Karno sebagai simbol dan panutan di PDIP. Alhasil, peran Mega, mesin partai dan kesesuaian calon merupakan satu kesatuan yang sulit dilawan.

Dengan demikian maka ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai pelajaran dan perlu disikapi. Mesin partai politik mulai mampu menggiring kembali kesetiaan konstituennya didaerah tertentu. Kedua, pasangan calon yang dipilih dapat berasal dari purnawirawan TNI ataupun sipil. Ketiga, calon sebaiknya memenuhi kriteria faktor utama jujur, sederhana dan dapat dipercaya. Keempat, karakter dan budaya dari daerah pemilihan sangat perlu diperhitungkan

Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka akan semakin lengkaplah pembacaan arah perilaku pemilih yang selama ini sangat sulit untuk ditentukan. Setelah pilkada Jawa Timur nanti, diperkirakan perilaku pemilih akan semakin jelas arahnya. Dengan demikian maka parpol peserta pemilu dapat menerapkan strategi pemenangan secara lebih efektif dan efisien.

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.