KOALISI PDIP DENGAN GOLKAR

2 September 2008 | 7:52 am | Dilihat : 405

Oleh: Prayitno Ramelan

26 April 2008

Berita terhangat menyangkut pilpres 2009 adalah usulan koalisi PDIP dengan Golkar. Mega jadi calon presiden dan Yusuf Kalla jadi calon wakil presiden. Walau masih merupakan pendapat beberapa pribadi, informasi tersebut penting untuk diperhatikan dan disikapi oleh elit PDIP, Golkar maupun Parpol peserta pemilu lainnya. Setiap langkah dan strategi kedua partai tersebut jelas akan sangat mempengaruhi hasil pilpres mendatang. Dari perkembangan situasi politik muncul euphoria baru, calon dari parpol papan tengah dapat mengalahkan calon dari parpol papan atas pada tingkat pilkada. Keyakinan tersebut belum teruji dalam tingkat nasional. Konstituennya lebih heterogen, popularitas, aspek moralitas, visioner, kompetensi dan kapabilitas menjadi bagian penilaian.

Pada pilpres 2004, koalisi keduanya terjadi pada pilpres putaran kedua. Pada putaran pertama keduanya masih bertarung dengan capresnya masing-masing. PDIP yang mengusung Mega/Hasyim mendapat 31.569.104 (26,6 persen), Golkar yang mengusung Wiranto/Salahudin mendapat 26.286.788 (22,154 persen), Partai Demokrat yang mengusung SBY/JK mendapat 39.838.184 (33,574 persen). PAN mengusung Amin/Siswono (14,658 persen), PPP mengusung Hamzah Haz/Agum (3,009 persen) dari suara sah sebanyak 118.656.868 suara. Jumlah suara tidak sah 2.636.976 dan golput berjumlah 33.754.959.

Dari jumlah suara yang diperoleh, maka proporsi angka perolehan suara terhadap jumlah pemilih terdaftar 155.048.803 adalah Megawati 20,360 persen, Wiranto 16,954 persen, SBY 25,694 persen, Amin Rais 11,218 persen, Hamzah Haz 2,302 persen, suara tidak sah 1,701 persen dan golput 21,770 persen. Gambaran diatas menunjukkan dengan hanya mengandalkan pendukungnya yang captive, dengan bermain sendiri Mega hanya mendapat 20 persen, berat mencapai 50 persen plus satu suara. Apabila bergabung dengan Golkar sejak awal, kemungkinan/kira-kira sudah memiliki modal 37 persen, hingga hanya dibutuhkan 13 persen plus satu suara untuk menang.

Hasil survey capres/cawapres 2009

Dari hasil survey nasional Reform institute selama Januari-Pebruari 2008 di 33 propinsi, sebanyak 25,2 persen responden memilih SBY, Mega 17,1 persen, Sri Sultan 5,1 persen, Wiranto 4,1 persen, Hidayat 3,3 persen, Gus Dur 2,9 persen, Amien Rais 2,2 persen, Akbar 1,8 persen, Jusuf Kalla 1,6 persen dan Sutiyoso 1,2 persen. 20,2 persen responden belum menentukan pilihannya. Untuk cawapres Jusuf Kalla menjadi favorit responden dengan 15,4 persen, Sri Sultan dengan 12,2 persen dan Wiranto 7,2 persen. Partai yang banyak dipilih, PDIP 19,3 persen, Golkar 16,1 persen, Partai Demokrat 8,3 persen, PKS 5 persen, PKB 4,5 persen dan PPP 3,1 persen.

Dalam pertanyaan kinerja pemerintah SBY-JK, keberhasilan dibidang pendidikan 21 persen, kesehatan 18,5 persen, kegagalan dibidang ekonomi adalah masalah stabilitas harga (43 persen) dan kesempatan kerja 21,9 persen. Terdapat 20-30 persen responden yang belum menentukan pilihan. Berdasarkan data-data diatas, maka ?the future? (perkiraan kedepan) terlihat suatu peta politik kasar untuk tahun 2009. PDIP dan Golkar diperkirakan akan tetap menjadi dua partai papan atas, apabila digabungkan akan memiliki suara diatas 35 persen.

Partai Demokrat kemungkinan akan meraih suara lebih besar dibandingkan perolehan suaranya pada pemilu 2004 dengan masih kuatnya dukungan terhadap SBY. Pemilih Demokrat sangat tergantung kepada popularitas dan kredibilitas SBY. Berdasarkan jumlah pemilih SBY pada pilpres 2004, survey terhadap SBY yang 25,2 persen serta posisi PD pada urutan ketiga partai favorite, posisi SBY sebagai capres kedepan diperkirakan masih tetap menjadi yang terkuat. Yang menjadi ancaman adalah besarnya pendapat responden tentang kegagalan SBY dalam menangani stabilitas harga. Karena menyangkut harkat hidup rakyat banyak, hal ini yang dapat menurunkan popularitasnya menjelang 2009.

PKS diperkirakan juga akan mendulang suara lebih besar dengan kedudukan keempat. Apabila RUU Pilpres sudah ditetapkan dan partai/koalisi partai dapat mengajukan capres dengan syarat 15-20 persen, maka PDIP dan Golkar diperkirakan tidak terlalu sulit mengajukan capresnya. Apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar, maka parpol-parpol papan tengah diperkirakan harus berkoalisi untuk mengajukan capresnya. Jadi bagaimana strategi untuk memenangkan pilpres 2009?. Pembentukan opini sebaiknya dibuat jauh hari sebelum pilpres, lebih baik lagi apabila dibentuk koalisi permanen. Koalisi permanen, penentuan capres dan cawapres sebaiknya diumumkan lebih dini, karena sosialisasi kepada konstituen tidak dapat dilakukan mendadak.

Kegagalan Golkar dan PDIP pada pilpres 2004 disebabkan koalisi mendadak, terjadi hanya singkat, pada pilpres putaran kedua dan hanya ditingkat elit berupa statement. Koalisi belum tersosialisasi mencapai akar rumput, yang justru sangat penting sebagai pemilih. Kalau untuk sasaran 2009 memang keduanya akan berkoalisi, yang perlu dilakukan adalah pembentukan koalisi lebih awal. Lebih ideal apabila direalisasikan dalam beberapa pilkada pada 2008 yang belum berlangsung, sehingga konstituennya sudah terlatih dan secara psikologis terkondisikan. Tanpa sosialisasi koalisi dari sekarang, kemungkinan besar capres PDIP-Golkar tetap akan kalah dengan SBY yang masih lebih popular.

Apabila dihadapkan head to head, terlihat dari hasil beberapa survey SBY masih menang dari Mega dan jauh diatas JK. Inilah strategi PD yang menghindari pernyataan koalisi lebih dini. Tanpa SBY bergerak, JK jelas merasa tidak etis bergerak. Apabila koalisi JK-Mega untuk pilpres baru dilakukan setelah pemilu 2009, jelas sudah bukan ancaman lagi terhadap SBY. Sementara itu kini PD cukup menjaga performance dan kredibilitas SBY dengan banyak cara sebagai incumbent. Hal ini bisa dilakukan sendiri oleh SBY yang semakin piawai..

Bila hasil pemilu 2009 perolehan suara PD mencapai 12-15 persen maka bargaining power PD jadi besar. Apabila kini tidak menghitung dengan benar, Golkar justru yang akan masuk dalam killing ground seperti kasus 2004, dengan perolehan suara besar, perannya kurang. Apabila SBY memutuskan tetap berpasangan dengan JK, maka lawan terberatnya adalah apabila Mega berpasangan dengan cawapres dari PKS (apabila perolehan suaranya mendekati 10 persen). Karena itu peluang koalisi permanen dengan PDIP kini terlihat menjadi pilihan terbaiknya.

Kemungkinan lain apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar, SBY akan memilih cawapres dari PKS. PKS, yang hingga kini sudah memenangkan 88 dari 149 pilkada yang diikutinya patut diperhitungkan. Partai ini mampu membaca keinginan rakyat. Strateginya adalah mengakumulasi kemenangan pilkada untuk kemenangan pemilu legislatif. PKS akan mengajukan capres apabila perolehan suaranya mencapai 20 persen, tapi kelihatannya akan sulit tercapai. Jadi kemungkinan terbuka peluang koalisi dengan PD atau dengan PDIP.

Bagi SBY nampaknya peluang menang lebih besar apabila mengambil cawapres dari PKS, karena terjadi perubahan perilaku konstituen. Konstituen akan cenderung memilih capres/cawapres yang dikenal bersih dan jujur. SBY dengan upayanya yang serius memberantas korupsi, akan dinilai masyarakat sebagai tokoh yang jujur. Apabila disandingkan dengan calon PKS nampaknya akan memenuhi keinginan konstituen. PKS kuat aroma kejujurannya, karena selalu menonjolkan masalah kejujuran dan pengabdian kepada masyarakat.

Demikian perkiraan kasar terhadap peluang koalisi PDIP-Golkar, walau koalisi belum tentu terjadi, tetap menarik untuk terus diikuti perkembangannya. Pada pemilu mendatang PDIP dan Golkar boleh menang seperti 2004. Tetapi belum tentu menang pada pilpres, lawannya adalah SBY yang semakin hebat dan berkibar. Ada pepatah mengatakan siapa cepat dia dapat, siapa pintar dia bersinar, jadi siapa yang cepat dan pintar?. Mega dengan JK, SBY, atau calon alternatif?. Segala kemungkinan masih bisa saja terjadi, waktu masih cukup untuk berbuat sesuatu.

Tulisan ini untuk temanku Agung Laksono, yang pada 2004 suka berdiskusi, ngobrol-ngobrol, tukar pikiran, minum kopi di Hilton. Selamat berjuang Mas, semoga sukses di 2009. Saya tetap dijalur independen saja, jadi penulis dirumah, sambil minum kopi, mengamati yang pada sibuk dan ribut-ribut.

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.