Suksesnya Strategi Nuklir Korut dan Upaya CIA Menghabisi Kim Jong-Un

10 May 2017 | 7:45 am | Dilihat : 710

North-Korea-USA-war-790564

Donald Trump dan Kim Jong-Un (foto : Daily Express)

Ketegangan di Semenanjung Korea pada akhir-akhir ini antara Korea Utara dengan Amerika Serikat menunjukkan 'alergi' para pejabat AS dengan percobaan nuklir  negara yang dipimpin Kim Jong Un itu. Penulis teringat ada pendapat lama yang mengatakan, jangan  ada siapapun  yang coba-coba melawan AS apabila tidak memiliki senjata nuklir. Selain nuklir,  SPM (senjata pemusnah massal) lainnya seperti gas saraf  dianggap sangat berbahaya dan tidak disukainya.

AS adalah negara super power terutama dalam kekuatan militer tak tertandingi,  pemilik senjata nuklir terbesar di dunia. Kekuatan dan kemampuan militernya terbesar dan tercanggih di dunia dengan alutsista dan personil yang sangat terlatih, daya hancurnya demikian hebat. Belum lagi perangkat tersembunyi  berupa  instrumen perang lainnya yang mampu menghancurkan negara manapun selain militer.

Nah, kini Korea Utara merupakan sebuah negara yang tidak terlalu besar, dinilai memainkan peran antagonis, dengan gigih menunjukkan bahwa dia bisa dan mampu membuat peluru kendali jarak jauh berkepala  nuklir dan kimia. Menlu AS, Rex Tillerson pekan lalu mengatakan bahwa demi keamanan nasional AS dan regional, pembatasan program senjata Pyongyang jelas merupakan prioritas yang lebih tinggi. Menurutnya, batas kesabaran sudah habis.

US-ENERGY-OIL-EXXON-TILLERSON

Chief executive Exxon Rex Tillerson yang kini menjadi Menteri Luar Negeri Amerika (foto :InsideClimate)

Ditegaskan Tillerson, "Kami tidak menginginkan perubahan rezim, kami tidak mencari jatuhnya rezim, kami tidak mencari reunifikasi kilat semenanjung. Kami menginginkan Semenanjung Korea yang denuklirisasi," katanya.   Ditambahkannya,  "An urgent national security threat and top foreign policy priority".

Presiden AS Donald Trump yang belum setahun menjabat mengatakan bahwa sebuah konflik besar dengan Korea Utara dimungkinkan dalam kebuntuan mengenai program nuklir dan misilnya, namun dia lebih memilih langkah diplomatik terhadap perselisihan tersebut. "Ada kemungkinan kita akan mengalami konflik besar dengan Korea Utara. Tentu," kata Trump kepada Reuters dalam wawancara di Oval Office pada hari Kamis (27/4/2017).

Menarik pendapat Fu Ying (pernah memimpin delegasi pada perundingan nuklir multilateral Korea yang gagal)  dalam makalahnya untuk institusi Brookings.  Menurutnya persepsi AS kurang tepat dalam menangani Korea Utara, pemerintah Trump yang baru nampak lebih menegaskan perubahan denuklirisasi dan rezim.

AS selama ini menilai bahwa China yang mempunyai peran besar  ke Korut karena  aliansi ideologis komunis kedua negara. Keliru, karena yang pertama adalah masalah strategis, yang kedua masalah ideologis, dua masalah berbeda yang dicampur adukkan, yang satu strategis yang lain ideologis. Selain itu AS juga keliru menilai adanya  persepsi dan pertimbangan yang menilai China memandang Korut sebagai negara penyangga apabila disatukan di bawah AS.

Ðàáî÷èé âèçèò ïðåçèäåíòà Ðîññèè Âëàäèìèðà Ïóòèíà â ÊÍÄÐ.

Kim Jong-Il dan Vladimir Putin, menunjukkan bahwa Korea Utara dan Rusia telah lama menjadi sahabat (Foto : unredacted)

Ternyata Korea Utara adalah negara klien Uni Soviet, bukan di bawah pengaruh penuh China. Soviet menyediakan hampir semua bantuan ekonomi dan militer ke Korea Utara, termasuk kemampuan nuklirnya sejak  awal.

Menurut Fu Ying, China memang mempunyai beberapa pengaruh ke Korut, tetapi tidak seperti yang dikatakan Presiden Trump, memegang kunci untuk mengendalikan Korea Utara. Kesalahan persepsi kedua adalah bahwa menurut AS inilah saatnya beraksi, karena pembicaraan maraton selama bertahun-tahun membujuk Korea Utara untuk melepaskan program senjata nuklirnya telah gagal. "Kesabaran strategis telah berakhir," kata Tillerson.

Beberapa upaya perundingan sejak era Presiden Clinton dan dilanjutkan George Bush kemudian gagal. Alasan yang paling menentukan kegagalan itu, seperti yang dikemukakan Fu dalam esainya, adalah tujuan konkretisasi dan perubahan rezim Amerika yang bertentangan. Oleh karena itu kini, pemerintahan baru menilai keamanan nasional dan regional sekutu terancam, program senjata nuklir Korea Utara berlanjut, kini AS mulai melakukan pengerahan gugus tempurnya ke kawasan Semenanjung Korea, siap berperang dan menyerang.

Program  Nuklir dan Rudal Korea Utara

Seri uji coba nuklir Korea Utara tercatat dilakukan  sejak  9 Oktober 2009- 6 Januari 2016, uji coba nuklir sebanyak lima kali, dengan rata-rata kekuatan percobaan antara 7 – 30 kiloton, total jumlah seluruh percobaan 63,4 kiloton. Program senjata nuklir Korea Utara  fokus pada penggunaan praktis energi nuklir dan penyelesaian sistem pengembangan senjata nuklir.  Korea Utara mulai mengoperasikan fasilitas pembuatan dan konversi uranium, dan melakukan uji peledak dengan ledakan tinggi.

north-korea-nuclear-test-1492043970939-videoSixteenByNineJumbo1600-v3

Reaktor nuklir Korea Utara Punggye-ri diparkirakan akan menjadi tempat percobaan nuklir Korut ke-enam (Foto : NYT)

Pada tahun 2002, Pakistan telah mengakui bahwa Korea Utara telah mendapatkan akses ke teknologi nuklir Pakistan pada akhir tahun 1990-an. Korea Utara kemudian mengembangkan program senjata nuklir militer, dan mungkin juga senjata kimia atau biologi. Sejak 2003, Korea Utara tidak lagi menjadi negara yang tergabung dalam kesepakatan dalam "Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons".  Pada tahun 2003, Korea Utara mengumumkan penarikannya dari Traktat Proliferasi Nuklir tersebut. Perundingan multi-negara dengan Korea Utara mengenai program nuklirnya terhenti pada tahun 2008.

Pada tanggal 6 Januari 2007, pemerintah Korea Utara lebih lanjut menegaskan bahwa mereka memiliki senjata nuklir. Pada tahun 2012, Presiden Obama berusaha menghidupkan kembali kesepakatan pembekuan percobaan nuklir, dengan imbalan  bantuan pangan, tetapi tidak berjalan.

Pada tanggal 6 Januari 2016  Survei Geologi Amerika Serikat mendeteksi gangguan gempa 5,1 seismik yang dilaporkan sebagai uji coba nuklir bawah tanah keempat, dimana Korea Utara mengklaim bahwa tes ini merupakan percobaan  bom hidrogen. Pada tanggal 7 Februari 2016, sebulan setelah uji bom hidrogen, Korea Utara mengklaim telah menempatkan satelit ke orbit mengelilingi Bumi.

Pada tanggal 9 September 2016 Korut melakukan uji coba nuklir kelima berkekuatan 20-30 kiloton. Kini dalam perkembangan situasi yang memanas, Kim Jong Un bersumpah untuk melakukan uji coba nuklir keenam, yang menurut Amerika Serikat tidak akan ditolerir.

Dalam pembuatan peluru kendali (rudal), Korea Utara mencatat kemajuan yang signifikan. Dimulai sejak tahun 1993 saat meluncurkan rudal Nodong. Hingga kini pada era Kim Jong Un, KOrea utara telah meluncurkan sekitar 66 rudal, dimana disamping kegagalan, inilah keberhasilannya.

north-korea-nuclear-missiles

Korea Utara memamerkan peluru kendali balistiknya (foto : National Review)

Tahun 1998 - Korut melepaskan rudal balistik pertamanya, roket Unha-1, yang juga dikenal sebagai rudal Taepodong-1, dari lokasi peluncuran Musudan-ri di Provinsi North Hamgyong

Tahun 2005 - Korea Utara menembakkan rudal jarak pendek ke Laut Jepang.

Tahun 2012 - Peluncuran satelit Kwangmyŏngsŏng-3 Unit 2 yang sukses di atas sebuah roket tiga tingkat (12 Desember 2012)

Tahun 2014 (Maret 2014) Korut berhasil meluncurkan rudal Nodong.

Tahun 2015 - Korea Utara mengklaim berhasil meluncurkan rudal dari kapal selam. Tahun 2016 (Agustus) - Korea Utara mengklaim meluncurkan rudal yang mampu menyerang Amerika Serikat.

Tahun 2017 (Februari)- Korea Utara melakukan uji coba rudal Pukguksong-2 ke Laut Jepang, merupakan peluncuran pertama rudal balistik jarak menengah baru.

Tahun 2017 (Maret)- Korea Utara meluncurkan empat rudal balistik dari lokasi peluncuran Tongchang-ri di barat laut. Beberapa terbang sejauh 620 mil (1.000 km) sebelum jatuh ke Laut Jepang.

Tahun 2017 (April) - Korea Utara melakukan uji coba sebuah rudal tak dikenal dari lapangan terbang Pukchang. Menurut Komando Pasifik AS, rudal diyakini sebagai rudal balistik jarak menengah tipe terbaru KN-17, gagal terbang dan  jatuh beberapa menit setelah lepas landas.

Dengan demikian, walau saat ini data kekuatan alutsista senjata nuklir Korea Utara kemungkinan besar belum mampu mencapai daratan Amerika, tetapi apabila terjadi perang terbuka ataupun terbatas, maka Jepang dan Korea Selatan akan menerima akibat parah. Diperkirakan pada first strike Korea Utara, korban yang akan jatuh di Korea Selatan maupun personil militar AS akan mencapai satu juta. Mengerikan memang.

Apa Langkah Amerika?

Langkah Amerika akan diputuskan oleh mereka yang siapa yang sedang menduduki jabatan di pemerintah.  Presiden Donald Trump memang dalam kampanye terlihat keras. Beberapa pengamat mengatakan bahwa Trump tampaknya membebaskan Amerika Serikat dari kebijakan neokonservatif dan liberal-intervensionis masa lalu. Untuk pertama kalinya dalam 16 tahun, pihak Amerika kini  dengan agak tegas menyatakan bahwa prioritas utama adalah perlucutan senjata.

Apakah Trump akan menggempur Korea Utara? Menurut penulis alternatif tersebut jelas ada, dahulu Israel pernah melakukan penghancuran reaktor nuklir di Irak (Operasi Udara Opera). Sebelumnya AS menyerang dengan 59 rudal ke pangkalan di Suriah dalam kasus tuduha serangan gas saraf. Juga AS menjatuhkan bom 10 ton di Afghanistan. Walau langkah lebih merupakan psywar, tetapi ancaman Korut mereka nilai sangat berbahaya.

인쇄

Beberapa gugus tempur  US Navy pembawa pesawat tempur AS yang disiagakan di Semenanjung Korea (Foto : Hankyoreh)

Pilihannya menyerang terhadap target terbatas, dengan catatan harus atas persetujuan Rusia dan China (Rusia pendukung tidak langsung Korut) dan China akan keberatan apabila terjadi perang, akan menerima akibat mererima curahan pengungsi yang akan menimbulkan malapetaka di provinsi-provinsi di Timur Laut, menekan nilai tenaga kerjanya dan akan menurunkan  kualitas hidup. Dalam konsep strategis hegemoni di Laut China Selatan, penyatuan kedua Korea dibawah payung AS akan  mengakibatkan pasukan Amerika akan stasioner di perbatasannya.

Nah apakah AS akan mengganti Rezim? Artinya menghabisi Kim Jong Un? Pada hari Kamis (5/5/2017) media KNCA menulis, bahwa Kementerian Keamanan Korea Utara menuduh badan intelijen Amerika Serikat dan Korea Selatan merencanakan untuk membunuh pemimpin negara tersebut, Kim Jong Un, dengan menggunakan "zat biokimia".

Kementerian tersebut menuduh CIA dan Badan Intelijen Nasional Korea Selatan telah menyogok pekerja kayu Korea Utara yang dipekerjakan di Rusia untuk kembali ke negara tersebut dan mencoba untuk membunuh pemimpinnya dengan imbalan US$290 ribu.

Agen yang dibina tersebut, menurut Kementerian Pertahanan seharusnya menargetkan "pemimpin tertinggi" (Kim Jong Un)  pada  parade militer, dengan menggunakan "bom terorisme" yang melibatkan "zat biokimia termasuk zat radioaktif dan zat beracun nano." Pernyataan keras tersebut bahkan menyebut AS sebagai gembong terorisme.

Pilihan operasi clandestine oleh para cleaner nampaknya akan sulit dilakukan terhadap Kim Jong Un, disamping rakyatnya akan marah besar. Rakyat Korea Utara sangat mematuhi dan setia kepada Dinasti sejak Kim Il Sung, dengan kepemimpinan otokratis.  Kini keturunan dinasti Kim itu hanya tersisa Kim Han Sol, anak Kim Jong Nam yang dibunuh di Malaysia. Han Sol kini dibawah perlindungan beberapa negara, yang mungkin sudah dibina mereka apabila Jong Un jatuh atau dibunuh. Langkah ini menurut penulis dapat menyebabkan antiklimaks dan berbahaya.

Kesimpulan

Nampaknya pilihan AS akan lebih baik apabila melanjutkan langkah diplomasi perundingan. Presiden Trump walau keras tetap seorang pebisnis yang tidak akan terlalu mengambil resiko berupa perang. Dalam berdagang yang penting fihak lawan akan menerima negosiasinya.

Sebenarnya Korea Utara melakukan upaya pengorbanan anggaran dalam melakukan uji coba nuklir dan rudal lebih kepada langkah deterrent agar tidak duserang AS, mereka faham bahwa cepat atau lambat mereka akan dilumpuhkan agar bersatu dengan Korea Selatan di bawah AS. Korea Utara tidak ingin menerima "carrot" seperti nasib Muammar Khadafy yang telah  menyerahkan program senjata nuklir Libya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi yang dipimpin Amerika.

Tetapi tenyata  Obama kemudian lebih memihak pemberontak Arab Spring  setelah Khadafi melakukan  tindakan keras terhadap mereka.  Khadafy kemudian terbunuh di  gurun pasir, setelah mencoba melepaskan diri dari kepungan para pemberontak tersebut.

Amerika mestinya faham bahwa perundingan atau kesepakatan dengan Korea Utara untuk menghentikan program nuklirnya cukup dibayar dengan imbalan keinginan utama Korea Utara jaminan tidak akan diserang. Penulis menyarankan kepada Presiden Donald Trump, untuk melakukan negosiasi tersebut, Ibu Megawati atau Rahmawati sebagai keturunan mantan Presiden Soekarno diminta sebagai mediator. Believe it or not, sampai kinipun kalau ada anak Soekarno ke Korea Utara, mereka akan digelarkan karpet merah. Begitu informasi intelijen yang penulis tahu.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.