Perhitungan dan Strategi SBY Mengusung Agus

24 September 2016 | 11:20 pm | Dilihat : 18819

agus-harimurti-minta-maaf-tak-ikut-melepas-sby-dari-istana

Keluarga Mantan Presiden SBY, Agus, kiri, (Foto:merdeka)

Pilkada di DKI Jakarta kini menjadi berita paling menarik tidak hanya bagi masyarakat Jakarta, juga masyarakat di propinsi lainnya di Indonesia. Pemilihan (pemungutan dan penghitungan ) secara langsung baru akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017, tetapi pemberitaan balon (bakal calon) kini sudah demikian gegap gempita diberitakan.

Walau pemungutan suara baru akan dilakukan sekitar empat bulan setengah lagi, strategi awal jelas akan berperan dan menentukan kemenangan calon yang diajukan. Kini sudah jelas dari tiga koalisi  10 parpol di DKI Jakarta, ada tiga calon yang akan bersaing pada Pilkada 2017.

Koalisi pertama dengan total 52 kursi, terdiiri dari PDIP (28 kursi), Partai Golkar (9), Partai Hanura (10) dan NasDem (5) mengusung pasangan incumbent Ahok-Djarot. Koalisi kedua dengan total 28 kursi, terdiri dari  Partai Demokrat (10), PPP (10), PKB (6 ) dan PAN (2) mengusung pasangan Agus H.Yudhoyono-Sylviana. Sementara koalisi ketiga dengan total 26 kursi, terdiri dari Partai Gerindra (15) dan PKS (11) menusung pasangan Anis Baswedan-Sandiaga Uno.

agus  cagub dki

Parpol koalisi Cikeas pengusung Pasangan Agus,Cagub dan Sylviana Murti, Cawagub DKI Jakarta (Foto : infomenia)

Nah pada kesempatan ini penulis mencoba menganalisis keterkejutan kita dengan munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung mantan presiden SBY sebagai calon Gubernur yang diusung oleh koalisi Cikeas.

Mengenal Mayor Inf Agus Harimurti

Seperti yang selalu penulis sampaikan, pulbaket  informasi intelijen yang paling penting dan tersulit tetapi harus dijawab dari  Siabidibame adalah Me (mengapa). Pertanyaannya mengapa Mayor Infanteri Agus H.Yudhoyono disetujui oleh ayahnya SBY untuk diusung koalisinya  sebagai  cagub DKI? Agus yang dilahirkan di Bandung, pada 10 Agustus 1978  saat ini berpangkat Mayor Inf, menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning (AK). Agus yang lulusan akademi milter (Akmil) tahun 2000 adalah pemegang Tri Sakti Wiratama, dengan penghargaan lulusan terbaik Adhi Makayasa, seperti yang juga dipegang ayahnya yang alumnus 1973.

Agus Harimurti 1

Mayor Infanteri Agus Harimurti Yodhoyono Gagah dengan seragam tempur (Foto : krjogja)

Lulus dari Lembah Tidar, ia juga lulusan terbaik saat mengikuti pendidikan Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan juga lulus terbaik pada Kursus Combat Intel pada tahun 2001. Agus mendapat penugasan di  Kostrad. Pada tahun 2002, saat menjabat Komandan Peleton di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak Hitam, jajaran Brigif Linud 17 Kostrad, Agus diberangkatkan ke Aceh dalam melakukan Operasi Pemulihan Keamanan.

Pada tahun 2005, Agus  mengikuti pendidikan Master di Singapura . Ia pun lulus dengan predikat sangat memuaskan, mendapat  gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Selama berada di Singapura, Agus juga terlibat dalam berbagai kegiatan, baik sebagai observer pada kegiatan Shangri-la Dialogue maupun pada kegiatan Asia Pacific Program, serta peserta pada forum the Asean 100 Leadership, dan setelahnya, menjadi peserta forum Asean Leadership ketiga di Malaysia pada tahun 2006.

Pada  November 2006 Agus mendapat penugasan sebagai anggota pasukan PBB ke daerah konflik Lebanon yang masih  berkobar konflik kekerasan sebagai bagian dari Kontingen Garuda XXIII-A,  sebagai Pasiops Batalyon Infanteri Mekanis. Agus tidak hanya melakukan tugas pokoknya, lebih dari itu, perwira yang memiliki prinsip "Think big, Do small, Do now" ini sukses dalam penugasannya di luar negeri.

gelaragus

Mayor Inf Agus Yudhoyono setelah  selesai sekolah komando di Amerika Serikat,  Command and General Staf Collage (CGSC) Foto :liputan6

Pada tahun 2008, Agus mendapat tugas dari  Kementerian Pertahanan (Kemhan), untuk bergabung dalam tim kecil guna merealisasikan gagasan Presiden SBY dalam rangka pendirian Universitas Pertahanan. Setelah sukses membantu seniornya mewujudkan terbentuknya Unhan, Agus diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi program master di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Agus pun diterima sebagai mahasiswa dalam bidang Public Administration dan lulus dengan predikat sangat memuaskan pada tahun 2010.

Selanjutnya dia mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, AS lulus dengan sangat baik.  Panglima Angkatan Bersenjata Australia, Jenderal David Hurley, bahkan  pernah mengundang Agus dan beberapa perwira TNI lainnya ke Australia, dalam program The Young Future Leader.

Pada 12 Oktober 2013, Agus dianugerahi penghargaan Nanyang Outstanding Alumni Award dari almamaternya sewaktu menempuh pendidikan di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU). Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi NTU terhadap Agus atas kontribusinya dalam bidang militer kepada masyarakat, dan kategori ini dikhususkan untuk alumnus  yang berprestasi dan berusia di bawah 40 tahun.

Pada bulan Juni 2014, Agus mengikuti  pendidikan militer setingkat Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Sekolah ini merupakan sekolah yang sama dan pernah diikuti oleh Ayahnya SBY. Ia menuntaskan tugas pendidikannya selama satu tahun dan lulus pada 12 Juni 2015.

Disamping menempuh pendidikan militer, Agus juga berhasil menyelesaikan program Master dalam Kepemimpinan dan Manajemen (MA in Leadership and Management) dari George Herbert Walker School di Webster University dengan hasil yang sempurna, yaitu IPK 4.0.

Beberapa tanda jasa dan penghargaan yang dimiliki Agus, antara lain; Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Satya Lencana Dharma Nusa, Satya Lencana Santi Dharma, Medali PBB, Medali Penghargaan dari pemerintah dan Angkatan Bersenjata Lebanon, Medali Kepeloporan, serta medali penghargaan dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat: Distinguished Honor Graduate dan Commandant's List of the Maneuver Captain Career Course dari the US Army Maneuver Center of Excellence dan The Order of Saint Maurice dari the US National Infantry Associatio.

Sebagai konsekuensi atas sejumlah penghargaan itu, akhirnya banyak permintaan berdatangan kepada Agus untuk menjadi nara sumber, instruktur dan pembicara di berbagai  forum-forum akademik nasional dan internasional.

Yang menarik apa yang dia ungkapkan, "Winning is not a chance, but it is a choice." Seperti ayahnya, Agus mengatakan membaca buku bukanlah hobinya, tetapi membaca baginya adalah suatu keharusan, sebagaimana halnya berolahraga dan mengasah kepemimpinan di lapangan. Kini Agus sudah menyatakan mengundurkan diri dari TNI dan akan masuk ke wilayah politik.

gatot bertiga

Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyayangkan mundurnya Mayor Agus untuk terjun ke politik (Foto :harianaceh)

Sebagai purnawirawan TNI, penulis melihat apa yang telah dilakukan Mayor Agus Harimurti, baik masalah pendidikan, kegiatan serta pengalaman penugasan, bagi seorang pamen ini suatu hal yang menonjol dan luar biasa. Agus juga mempunyai basis dasar intelijen tempur, sehingga mampu membuat perkiraan kekuatan, kemampuan dan kerawanan lawan dan diri sendiri.

Pada sisi lain, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyayangkan pengunduran diri Mayor Agus Harimurti tersebut. Gatot menjelaskan belum ada yang mampu menyaingi nilai Agus sejak menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Di Akademi Militer, kata Gatot, dia mendapatkan predikat Adhi Makayasa. Ia pun mengatakan belum ada menyaingi Agus dari penilaian mental, fisik, dan intelektual.

Menurutnya,  saat dia   menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, Agus masuk radar sebagai kader yang disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan. Ini masuk reformasi TNI dan saat itu Gatot mengumpulkan kader terbaik dari angkatan 90-2004. "Mayor Agus masuk dalam salah satu kader yang disiapkan," katanya. "Saya sudah siapkan sebagai kader, lalu lihat kadernya pilih berpolitik, berat. Tapi itu hak pribadi," kata Gatot di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Jumat, 23 September 2016.

SBY Sang Pemikir dan Ahli Strategi

Pada saat pagi dinihari sekitar pukul 02.45 WIB tentang pencalonan Agus menjadi calon Gubernur dan didampingi Sylviana Murni, penulis yang menunggu keputusan koalisi Cikeas, walau sudah ada kabar selentingan, sempat terkejut juga dan memosting informasi tersebut ke laman Face Book. Hampir semua teman yang menanggapi  menyayangkan keputusan keluarga Cikeas, mengingat 'moncer' dan performance Agus yang bisa diharapkan sebagai generasi penerus TNI. Jelas TNI membutuhkan para pemimpin yang tidak biasa, harus luar biasa mengingat perkembangan situasi global. Pada umumnya teman-teman penulis mengungkapkan SBY mengorbankan anaknya demi politik.

pepo

Agus demikian menghormati ayahandanya, saat SBU berulangtahun ke 66 dia sengaja secara khusus mengucapkan selamay kepada Pepo-nya (Foto :jakartapost)

Nah, walaupun dikatakan itu adalah keputusan pribadi Agus, jelas arahan dan pertimbangan SBY menurut penulis sangat besar pengaruhnya terhadap Agus. Pertama kita harus memahami siapa Pak SBY ini. Penulis mengenal beliau dan juga Ibu Ani Yudhoyono sejak lama. Kita semua tahu bahwa SBY menjadi presiden dalam dua periode dan dapat dikatakan mampu menjaga dan menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi dengan baik.

Sebagai contoh, dari analisa Intelstrat ekonomi saja misalnya,  SBY saat menjabat sebagai presiden mampu menjaga kondisi perekonomian Indonesia dalm kondisi dunia yang berat. Sejak 2004 dia menerapkan kebijakan yang disebut prudent economic policy. SBY  faham bahwa dari fakta sejarah, kejatuhan pemimpin di Indonesia disebabkan karena runtuhnya perekonomian negara. Oleh karena itu kebijakannya berupa meningkatkan  kehati-hatinnya atau kebijakan dalam menangani masalah-masalah praktis, melatih dan menjaga akal sehat pejabat yang bertanggung jawab menangani  masalah perekonomian. Dalam membuat perencanaan masa depan, diperlukan  sebuah investasi yang bijaksana.

Nah, kemampuan dalam memperkirakan masa depan ekonomi dunia itu yang mendapat acungan jempol dari Badan Intelijen AS (CIA), saat terjadinya financial crisis pada tahun 2008 dimana negara-negara di dunia diguncang kasus Mortgate, pemerintah AS saja  terpaksa harus melakukan BLBI sebesar US$4 Triliun, Eropa harus mengeluarkan  US$4,2 Ttiliun. Tetapi ternyata ada tiga negara yang secara ajaib terhindar krisis tersebut yaitu China, India dan Indonesia. CIA menyimpulkan bahwa Indonesia mampu terhindar krisis finansial karena kebijakan SBY yaitu kebijakan menangani ekonomi dengan hati-hati dan bijak. Krisis 2008 Financial crisis (institusi) berbeda dengan krisis 1997/1998, monetary crisis (kurs).

Nah, dengan contoh tersebut, maka selamatlah perekonomian Indonesia. Ini menunjukkan  bahwa SBY adalah pemikir, ahli strategi dan pemimpin yang mampu membuat perkiraan keadaan masa depan, berhitung dengan penuh kehati-hatian, walau kadang dikatakan lambat. Oleh karena itu penulis melihat masalah Agus ini dari beberapa fakta.

Persaingan dalam Pilkada kali ini yang menarik karena terlibatnya secara langsung tiga tokoh besar (SBY, Megawati dan Prabowo). SBY paling faham dalam menghadapi keputusan PDIP yang mengulur waktu hingga tiga hari sebelum batas akhir pendaftaran, hari Selasa (20/9/2016) dalam menetapkan cagub yang diusung. Oleh karena itu, walau Demokrat juga pada awalnya tergabung dalam koalisi kekeluargaan, tetapi SBY sudah menyiapkan opsi calonnya sendiri selain opsi rame-rame koalisi AJA (Asal Jangan Ahok).

Walau Roy Suryo menyatakan nama Agus diajukan oleh tiga parpol koalisi, tetapi seperti dikatakan oleh  Wasekjen PPP Arwani Thomafi, bahwa nama Agus dimunculkan oleh Partai Demokrat dan telah dibicarakan sejak tiga minggu sebelum dilakukan pertemuan di Cikeas pada hari  Rabu (21/9/2016). "Tiga minggu sebelumnya, nama Mas Agus muncul dan dibicarakan pula oleh nama-nama lain seperti Sandiaga Uno, Sylviana Murni. Karena kami kan mencari paket pasangan calon," kata Arwani Jumat (23/9/2016).  Arwani  mengaku mendengar munculnya nama Agus dari beberapa fungsionaris Partai Demokrat itu.

Pertimbangan SBY Mengajukan Agus

Hampir semua fihak menyayangkan keputusan SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang bersama tiga parpol lainnya menyatakan mengusung Mayor Agus sebagai calon Gubernur dari koalisi Cikeas. Tetapi dibalik semua itu terdapat pertimbangan-pertimbangan yang apabila diukur dari 9 komponen intelijen strategis, terdapat sebuah perhitungan dan rencana besarnya yang matang dan apik.

Pertama, sebagai ayah, SBY  jelas berhitung tentang masa depan anak-anaknya, masa depan partainya dan juga masa depannya. Tetapi sebagai mantan presiden dua periode, masa depan bangsa dan negara ini juga menjadi beban pemikirannya, terlebih melihat kondisi masa kini. Apabila kita tinjau dari sisi positif nampaknya terpaksa SBY merubah apa yang pernah disampaikannya.

Saat masih menjabat sebagai presiden, dalam pengarahannya kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri di Graha Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, Presiden SBY mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang prajurit berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian yang lebih luas lagi kepada negara.

"Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat," katanya. Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi dan Polri lulusan tahun 2009 akan dilantik dan mengucapkan sumpah atau prasetya perwira (praspa) di Dermaga Ujung, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, pada Rabu 23 Desember 2009 dalam upacara pelantikan yang dipimpin oleh Presiden SBY.

Nah, kenapa kini justru anaknya sendiri yang demikian bersinar diputus karir militernya dan diarahkan untuk menjadi gubernur sipil. Disinilah sebagai Ayah, SBY melihat bahwa Agus kini sudah berusia 38 tahun, dan untuk menjadi pemimpin di TNI jelas butuh waktu sekitar 8 hingga 10 tahun. Waktu itu terlalu lama dan penitian karir militer jelas akan semakin berat persaingannya. Dengan pertimbangan diterjunkan ke wilayah politik, dimana bekal keilmuwan Agus dinilainya cukup, apabila nanti jadi, maka cukup belajar yang tidak terlalu lama dan dengan didampingi Sylviana Murni yang sudah faseh dalam alam pemda, SBY yakin  Agus akan mampu.

Di lain sisi, nampaknya SBY melihat bahwa pada Partai Demokrat tidak ada kader yang menonjol dan mumpuni yang dapat menggantikannya. Pilihannya adalah Agus, disini artinya kalaupun nanti kalah, Agus akan ditarik menjadi pemimpin Partai Demokrat. Paling tidak dengan dikiprahkan sebagai balon Gubernur DKI, nama Agus akan mulai populer. Bisa dan mungkin saja, terbersit sebuah cita-cita apabila sikon politik memungkinkan pada pilpres 2019, Agus ikut tampil paling tidak sebagai Cawapres atau bahkan mungkin Capres.

Jadi sebenarnya kesimpulan dimajukannya Agus adalah sebuah pemikiran wajar, yaitu proses regenerasi keluarga Cikeas untuk masa depan. SBY kini berusia 67 tahun, jelas mulai lelah berpolitik, jadi apa salahnya agak mundur sedikit, tidak ikut bermain di politik praktis. Oleh karena itu, Agus diharapkannya sebagai troef card baik di partai, keluarga maupun bangsanya. Kiprah Agus dengan pangkat Pamen yang sudah masuk spotting Panglima AB Australia, sebagai The Young Future Leader jelas hebat.

Kita lihat nanti kemampuan Agus, berpasangan dengan  Sylviana Murni yang memahami manajemen pemerintahan daerah, penulis tidak sabar menunggu saat perdebatan sesama cagub dan cawagub. Banyak yang memperkirakan Agus akan terpental di putaran pertama, kalau pilkadanya dilaksanakan saat ini mungkin betul, dia baru saja muncul. Tapi perlu diingat, dengan bekal ilmu yang tinggi, kedisiplinan, arahan ayahnya, jaringan ayahnya yang selama ini sudah ada, dukungan keluarga besar TNI dan performance Agus, menurut penulis justru san Mayor ini bisa menjadi kuda hitam, tergantung nanti tim sukses menggorengnya. Wilayah politik di Indonesia sering unpredictable, balum lagi politik di sini kata ahlinya sangat kotor.

Bagaimana kalau kalah? Ya tidak apa-apa, Partai Demokrat akan menjadi wilayah pengabdian dan proses belajarnya. Perhatikan pegangannya,  "Winning is not a chance, but it is a choice", dan ini, "Think big, Do small, Do now." Ahok, dan Anis Harus hati-hati mestinya. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

            .
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.