Pengebom Kampung Melayu, Siapa Mereka?

26 May 2017 | 4:46 pm | Dilihat : 1184
IMG-20170527-WA0007Presiden Jokowi  bersama Wapres Jusuf Kalla saat meninjau lokasi ledakan didampingi Kepala BIN Budi Gunawan dan Wakapolri Komjen Syafrudin  (Foto : Dokumentasi Khusus)

Terkait dengan serangan bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu Rabu (24/5/2017) malam, Presiden Jokowi mengucapkan belasungkawa untuk para korban dari Polri yang tewas. Presiden memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke akarnya.

"Saya mengucapkan rasa duka yang mendalam kepada keluarga korban, baik yang masih di rumah sakit atau keluarga korban yang meninggal. Terutama aparat kepolisian. Karena kita sudah tahu dari para korban itu sudah keterlaluan. Tukang ojek jadi korban, sopir angkot jadi korban, polisi jadi korban," kata Jokowi, saat menjenguk korban luka-luka di RS Polri Kramatjati, Kamis (25/5/2017).

Presiden juga meminta  meminta seluruh pihak bersatu untuk melawan terorisme. "Kita semua harus bersatu melawan terorisme ini. Saya tegaskan sekali lagi tidak ada tempat di Tanah Air kita bagi terorisme," kata presiden yang ditemani Wapres Jusuf Kalla (JK). Presiden Jokowi dan Wapres JK dari RS Polri Kramatjati, menuju lokasi bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur dan tiba pukul 21.48 WIB di lokasi pengeboman. Kunjungan Presiden dan Wakil Presiden dinilai membawa dampak positif, menimbulkan  ketenangan warga.

IMG-20170527-WA0008

Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla di lokasi ledakan di Kampung Melayu Kamis malam (25/5/2017). foto : Dokumentasi Khusus

Keduanya ditemani Wakapolri  Komjen Syafruddin dan Kepala BIN Budi Gunawan. "Kita ingin pemerintah segera menyelesaikan Undang-undang Antiterorisme sehingga akan memudahkan aparat penegak hukum untuk menindak, utamanya dalam pencegahan," kata Jokowi di lokasi kejadian.

Pelaku Bom Bunuh Diri

Wakapolri Komjen Syafruddin menyatakan  pelaku bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam, terdiri dua orang, semuanya meninggal."Atas nama satu Ahmad Sukri, dan kedua Ichwan Nurul Salam (INS), keduanya adalah pelaku dan keduanya meninggal," katanya, Kamis, 25 Mei 2017.  Saat ini, Polri  tinggal mengembangkan DNA, dan mencocokkan data antemortem untuk memastikan betul-betul, apakah mereka pelakunya atau bukan. "Karena tubuhnya hancur dan hanya ditemukan potongan-potongan tubuh di TKP," ujarnya.

Dari hasil pulbaket serta data base yang penulis simpan selama ini nampaknya penyerang merupakan bagian dari jaringan  JADKN (Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara) yang didirikan pada bulan Maret 2014, dan kini dibawah pimpinan Amman Abdurrahman . Inilah informasi tentang kaitan pelaku bom Kampung Melayu itu dengan JAKDN.

Ichwan (INS) merupakan warga asli Cibangkong, Bandung. Sudah dua tahun ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Cibangkong RT 02 RW 07 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat bersama seorang istri dan dua anaknya, (berusia 6 dan 3 tahun). Sehari-hari INS berprofesi sebagai pedagang, berjualan susu murni di dekat kontrakannya dan akhir-akhir ini membuka usaha obat-obatan herbal di rumah kontrakannya itu.

densus 88 menangkap teroris di arjuna

Ilustrasi saat Anggota densus 88 melakukan penyergapan teroris di kantor Kelurahan Arjuna, Kota Bandung (foto : Pojok Bandung)

Menurut pamannya Yuniar Hidayat (40), paman INS, Ichwan diketahui lebih agamis. "Dua tahun yang lalu, dia jadi lebih agamis, seperti memperdalam agama," Sebelum menjadi pelaku bom bunuh diri, INS berpamitan kepada keluarga pergi ke Tasikmalaya. Ia tidak berpamitan secara langsung kepada ibu atau keluarga besarnya. Ia hanya berpamitan kepada istrinya, Sabtu (20/5/2017). "Dia bilang ke istrinya. Saya tahu dari istrinya. Bilangnya mau ke Tasikmalaya bantuin konfeksi temannya," kata Yuniar.

Kabid Humas Polda Jawa Barat,  Komjen Pol Yusri Yunus saat memeriksa rumah kontrakan INS sejak Kamis (25/5/2017) pagi hingga siang  menyita sejumlah barang milik Ichwan, diantaranya peralatan berkemah militer, paspor dan dokumen-dokumen lainnya.  Selain itu, di rumah kontrakan itu terdapat poster dan selebaran-selebaran ajaran keyakinan tertentu. "Belum ditemukan adanya material pembuat bom di sini," katanya.

INS, terduga pelaku teror bom panci  Kampung Melayu, diduga satu jaringan dengan para pelaku teror bom panci di Taman Pendawa, Cicendo, Kota Bandung beberapa waktu lalu. "Istrinya sempat dikenalkan oleh suaminya (INS) ke salah satu pelaku bom panci di Cicendo yang namanya Agus," kata Yusri.  Agus sendiri ditangkap di indekosnya di Jalan Kebon Gedang III RT 02 RW 11, Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung pada Rabu (8/3/2017). Saat penangkapan itu, ditemukan sejumlah komponen bahan peledak. "Semuanya ini keterkaitan dengan yang Purwakarta juga," katanya.

IMG-20170527-WA0009

Presiden Jokowi di lokasi Kampung Melayu menyatakan,  "Saya tegaskan sekali lagi tidak ada tempat di Tanah Air kita bagi terorisme" (foto : Dokumentasi Khusus)

Pelaku kedua, di identifikasi bernama Ahmad Sukri, lahir di Bandung, 1985, dan bekerja sebagai buruh lepas. Sukri diketahui juga sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Menurut pengakuan ibu pelaku sudah selama tiga bulan Sukri terakhir tinggal di rumah kontrakan di wilayah Garut bersama istri dan anaknya, berdekatan dengan rumah kontrakan adiknya (22) yang bekerja sebagai penjahit pakaian. Anggota Densus 88 Polri menjemput orangtua A Sukri yang bernama Eti Hasanah, Kamis (25/5/2017) dari kediamannya di Kampung Ciranji/Rawatampele RT 04/05, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat untuk dimintai keterangan.

Pada Jumat (26/5/2017) , dini hari, polisi menangkap tigatersangka teroris berinisial A, W, dan J  (26/5/2017) , dini hari di tiga tempat berbeda. A ditangkap di Jalan Mohammad Toha, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung; W ditangkap di Jalan Rancasari, Kota Bandung; dan J ditangkap di kawasan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. "Perannya masih kita dalami. Termasuk kelompoknya. Tetapi kemungkinan mengarah ke pelaku yang di Cicendo (bom Taman Pendawa). Tapi harus dipastikan lagi," kata Kabidhumas Polda Jabar, Kombes Pol Yusri Yunus.

Jamaah Anshar Daulah Sebagai Holding

Jamaah Anshar Daulah lebih lengkap namanya adalah Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), di dalamnya terdiri dari beberapa organisasi yaitu, Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pemimpinnya Santoso yang sudah tewas, Mujahidin Indonesia Barat, Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshorud Tauhid, tim Hisbah Solo, dan Tauhid wal Jihad (Amman Abdurrahman). Tim Hisbah ditangkap di Solo pada Agustus 2015. Tokohnya Ibadurahman alias Ali Robani alias Ibad, Yus Karman, dan Giyanto alias Gento telah ditangkap.

tiga tokoh

Tiga tokoh terkait ISIS, (Dari kiri) Abu Bakar al-Baghdadi, Abu Bakar Ba'asyir, dan Amman Abdurrahman (foto : detikX)

JADKN didirikan pada pertengahan Maret 2014. Sebagai pemimpin sementara saat itu adalah Marwan alias Abu Musa sebelum tampuk kepemimpinan diserahkan ke Amman Abdurrahman. Abu Tholut, mantan anggota markaziah JI dan juga mantan ketua Mantiqi III Jamaah Islamiah,  alias Imron Baehaqi, menjelaskan bahwa amir JAKDN saat ini adalah Amman sedangkan Abu Bakar Ba’asyir menjadi penasehat.

Amman kini ditahan di Lapas Kembang Kuning Nusakambangan, sedang Ustadz Ba'asyir di Lapas Gunung Sindur Bogor. Amman sebagai pemimpin  Tauhid Wal Jihad memiliki anggota hanya sekitar 400 orang tetapi sangat militan. Amman sudah berba'iat kepada Amir ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Bahrun Naim , warga Indonesia di Suriah  yang selalu  berhubungan dengan jaringan Amman Abdurrahman.

Dari hasil penangkapan Densus 88, terkuak beberapa aksi JAKDN, misalnya, pada hari Sabtu (10/12/2016) Densus 88, menangkap tiga orang terduga teroris yang terdiri dari dua pria dan satu wanita di ‎dua lokasi. Dua pria yakni Nur Solihin (NS) dan Agus Supriyadi (AS) ditangkap di dalam mobil di saat melintas di dekat Fly Over Kalimalang. Sementara satu wanita atas nama Dian Yulia Novi (DYN) ditangkap di kos-kosan Jalan Bintara VIII RT 04 RW 09, Kota Bekasi.DYN menurut pengakuan siap akan menjadi pengantin menggunakan bom Panci Presto atas arahan Bahrun Naim, untuk menyerang pergantian penjagaan di Istana.

Pada hari Rabu (21/12/2016), Densus 88 menangkap sejumlah pelaku terduga teroris di dua lokasi berbeda di Tangerang Selatan. Penangkapan pertama dilakukan di Jalan Raya Serpong, atas nama Adam. Sedangkan lokasi penangkapan kedua di Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten, dimana tiga terduga teroris lain (Omen, Iwan dan Helmi), tewas ditembak karena melakukan perlawanan merupakan satu kelompok dikendalikan oleh Bahrun Naim, juga tergabung dalam JADKN.

Pada hari Minggu (25/12/2016), Densus  menggerebek empat terduga teroris di Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Dari empat orang yang digerebek, dua dinyatakan tewas karena melawan saat ditangkap. Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Rikwanto menyatakan, "Para terduga teroris akan merencanakan aksi pidana terorisme pada hari raya natal dan Tahun Baru 2017," katanya. Menurut Rikwanto, terduga teroris yang digerebek di Kelurahan Babakan, Setu, Tangerang Selatan, Banten, merupakan satu jaringan dengan kelompok bom panci Bekasi dan Tasikmalaya, Jawa Barat.

ngerinya-bom-panci-di-kampung-melayu-murah-mudah-dan-mematikan

Bom Panci presto murah dan mematikan. Bom Panci Kampung melayu pancinya dibeli di Padalarang, bon pembelian  masih dikantungi pelaku (Foto : Tribun Kaltim)

Bom panci meledak di Taman Pandawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Senin (27/2/2017) pagi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pelaku bernama Yayat Cahdiyat tewas ditembak karena melawan petugas kepolisian. Polisi juga menangkap Agus Sujatno alias Abu Muslim dan Soleh alias Gungun. Mereka merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan ISIS. Soleh berperan sebagai penyandang dana. Sedangkan Agus berperan sebagai penyandang dana sekaligus membantu merakit bom panci.

"Sel-sel jaringan Aman Abdurrahman yang pernah membaiat mereka melalui online, ketika berada di dalam Nusakambangan kemudian pertemuan JAD di Malang, dibaiat melalui online," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/3/2017).

Sama dengan Maman, Yayat merupakan residivis kasus terorisme yang pernah dipenjara selama 2 tahun. Menurut Boy, Yayat sempat melakukan komunikasi dengan sel-sel terorisme lainnya dari dalam lapas. "Proses pascabebas yang akhirnya mempertemukan mereka kembali dengan semangat euforia radikalisme di ISIS dengan sel JAD," tutur Boy.

Polri Masih Menjadi Target Utama Teroris

Dari beberapa informasi tersebut diatas, mulai terlihat benang merah antara bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu dengan beberapa kasus bom di daerah Jawa Barat dan Jakarta. Ichwan nampaknya mengenal Agus Sujatno alias Abu Muslim dan Soleh alias Gungun yang terkait bom panci Taman Pendawa. Agus termasuk penyandang dana dan perakit bom dan tercatat sebagai anggota Jamaah Anshar Daulah (JAD).

Dari kasus di Kampung Melayu, dimana korban tewas (tiga) dan lima lainnya luka-luka, menunjukkan di kawaan terminal yang padat manusia, justru korbannya mayoritas anggota polisi. Menarik yang dikatakan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat itu Senin (13/3/2017), saat ini Boy menjabat sebagai Kapolda Papua, "Motivasinya tetap ingin melakukan aksi balasan. Ini wujud aksi balasan yang mereka lakukan dengan melakukan serangan balik ke markas petugas," katanya.

polisi target utama

Jaringan teror JAD masih ingin membalas dengam kepada Polisi, berarti harus waspada masih menjadi target utama (foto : Nasional Kompas)

Dari hasil pemeriksaan para tersangka, Polri menyebut motif pelaku bom panci di Kota Bandung untuk membalas dendam terhadap polisi. Mereka ingin melakukan aksi teror di markas-markas petugas kepolisian. Rencana teror di Bandung saja ada beberapa lokasi yang menjadi target pelaku, di antaranya Mapolda Jawa Barat, Pos Lalu Lintas Geger Kalong, dan Polres Cianjur. Serangan bom panci kecil, tetapi pesannya sampai tentang eksistensi keberadaan mereka. Strategi penyerangan mereka ganti dengan cara seperti ini. Motif teror itu  yang penting pesannya sampai, mereka ingin dipeduli kan dengan apa yang mereka inginkan.

Nah, dengan demikian, maka mapping menjadi lebih jelas, pembentukan sel-sel di dalam negeri umumnya terkait dengan JAD atau JADKN yang dapat disebut sebagai holding. Umumnya jaringan yang sudah berbaiat kepada Abu Bakr al-Baghdadi, Amir ISIS atau Islamic State justru dikendalikan oleh Amman Abdurrahman yang masih mendekam di LP Nusakambangan. Holding ini mengait ke markas ISIS pusat melalui Bahrun Naim, WN Indonesia yang ada di Suriah. Dialah penyandang dana serta pengatur kodal serangan di Indonesia.

Keberadaan Bahrun Naim di Suriah, mirip dengan posisi Mohammad Ali Baryalei, tokoh ISIS asal Australia, yang dikabarkan tewas pertengahan Oktober 2014. Ali Baryalei dipercaya sebagai sosok yang merekrut banyak pejuang ISIS asal Australia. Menurut catatan pemerintah, sekitar 60 warga Australia bergabung dengan ISIS dan Ali dikabarkan merekrut separuhnya. Ali memegang Kodal Suriah-Australia dan pernah memerintahkan sel di Sydney dan kota lainnya di Australia untuk melakukan teror.

ali australia

Tokoh teroris ISIS asal Australia Mohammad Ali Baryalei, pengatur kodal ke Australia, setelah tewas, teror di Australia reda (foto :ABC)

Setelah dia tewas, maka aksi teror di Australia mereda. Jadi persoalan teror terhadap polisi nampaknya mirip kasus ini,   intinya berada di Suriah, ini yang harus di-counter dengan ops clandestine. Selain itu, menggeliatnya jaringan ISIS di Filipina juga perlu diwaspadai, karena beberapa militan radikal Indonesia berada di sana dan link tetap ada. Pemutusan hubungan memang agak sulit dengan kemajuan teknologi, tetapi dengan kemampuan teknologi BIN dan Polri, masalah pasti dapat dipecahkan.

Sebagai penutup penulis mengingatkan kepada aparat terkait dan anggota DPR perlu bersama-sama memenuhi keinginan  Presiden Jokowi, agar revisi Undang-undang Nomor. 15/2003 tentang Terorisme segera diselesaikan, sehingga akan memudahkan aparat penegak hukum untuk menindak, utamanya dalam pencegahan.

bahrun naim x

Ikon ISIS WN Indonesia di Suriah Bahrun Naim, makin eksis, pengatur kodal serangan di Indonesia , sekelas dengan Ali Baryalei yang sudah  tewas (foto : detikNews)

Sebuah serangan teror umumnya tidak berhenti pada satu aksi, perlu diwaspadai kemungkinan serangan lanjutan. Yang perlu diingat, aksi teror memang sulit diantisipasi, karena inisiatif di tangan penyerang. Ini pekerjaan intelijen bukan hanya pekerjaan law enforcement. Kira-kira begitu, maaf Pak Tito, hanya sekedar saran dari Old Soldier sebagai mantan Kelompok Ahli BNPT.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.