Pemeriksaan Sekuriti Pada Bank Mandiri, Enzo dan PLN

8 August 2019 | 12:15 pm | Dilihat : 269

Berita yg menonjol dan viral di medsos beberapa waktu terakhir adalah tragedi Bank Mandiri, black out PLN dan kasus calon taruna Akmil Enzo Allie. Dari tiga kasus tersebut, yang perlu dilakukan badan intelijen adalah langkah pengamanan. Fungsi intelijen, terdiri dari Pengamanan (Pam) Personil, Pam Materiil, Pam informasi dan Pam Kegiatan. Mari kita bahas secara singkat.

Tragedi Bank Mandiri

Kita terkejut dan heran dgn kasus kegagalan pengamanan sistem Bank Mandiri yang terjadi pada bulan Juli 2019. PT Bank Mandiri (Persero) mengungkapkan kesalahan sistem teknologi informasi yang terjadi pada Sabtu (20/7) seharian menyebabkan perubahan saldo pada 1,5 juta rekening nasabah dari total 20 juta nasabah yang dimiliki perseroan. Ada yang mendadak berkurang dan ada yang mendadak saldonya berlebih.

Mandiri adalah bank BUMN yang besar, sebagai tulang punggung perbankan nasional. Dengan kasus yg menyentuh 1,5 juta nasabah tersebut, jelas citranya menurun, dsan masyarakat menjadi ragu-ragu turun kepercayaannya. Karena ini BUMN,  Badan Intelijen (BIN)  harus melakukan pemeriksaan sekuriti. Apakah Mandiri bobol diserang hacker atau cracker? Bagaimana kasus terjadi dan bagaimana menghindarinya pada masa mendatang.

Kasus Catar Enzo Allie

Kasus Calon Taruna Enzo Allie yang viral setelah pada pantuhirpus diwawancarai oleh Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahyanto dengan bahasa Perancis. Enzo yang blasteran Perancis-Indonesia dan faseh berbicara Perancis, jejak digitalnya di Face Book  diungkap Facebooker. Diberitakan ibunya, Hadiati Basjuni Allie terpapar virus khilafah garis Ikhwanul Muslimin sebagai kader PKS saat pilpres 2019. Tertayang juga foto Enzo yang membawa bendera Tauhid. Kasus tersebut menjadi debat pro dan kontra, viral di FB dan twitter.

Persoalan Enzo kini menjadi domain Gubernur Akmil dan Kepala Staf TNI AD (Kapusintelad) setelah dia lulus tes pantuhirpus, Panglima TNI menyeleksi akhir bersama tiga Kepala Staf Angkatan (AD, AL, AU) dengan referensi para Catar itu sudah lolos (memenuhi syarat) seleksi awal (daerah), yang meliputi fisik, kesehatan, psikotes, akademik dan penelitian personil (litpers). Untuk Enzo tercatat memenuhi syarat (MS) Litpers oleh tim dari Pusintelad.

Jelas Mabes TNI akan berpegang mereka yang tampil di pantuhirpus untuk mengikuti seleksi akhir  sudah memenuhi syarat. Kini dengan viralnya kasus Enzo terpapar faham/ideologi selain Pancasila, sebenarnya tidak sulit dilakukan litpers pendalaman. Seperti kata Menhan Ryamizard Ryacudu, perlu litpers pendalaman, kalau terpapar dan anti Pancasila ya jangan dilanjutkan, diberhentikan. Dalam kasus Enzo keputusan berada pada Gubernur Akmil dan Kapus intel TNI AD.

Saat masih aktif, penulis bertahun-tahun pernah menangani seleksi litpers . Jangankan baru calon, sudah jadi taruna saja kalau tidak memenuhi syarat/aturan di Akademi TNI atau adanya informasi yang terbukti negative terhadap si taruna ya diberhentikan. Pada dasarnya tim intelijen penyeleksi tegas menyikapi kasus litpers, kalau berwarna abu-abu saja diberhentikan, lebih-lebih hitam, kalau hijau terus.

Aspam Kasad disarankan melakukan pemeriksaan sekuriti komprehensif terhadap kasus Enzo, baik pengamanan personil, materiil, informasi dan kegiatan seleksi, sebagai langkah cegah tangkal kemungkinan adanya infiltrasi. Kasus Enzo cukup diselesaikan internal TNI AD, secara sistem bukan diselesaikan oleh Mabes TNI, ataupun Panglima TNI.

Kasus Black Out PLN

Pemadaman listrik secara massal 8-18 jam yang terjadi pada Minggu (4/8/2019) menjadi topik hangat untuk seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah terdampak seperti Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat (Kompas)

Pemadaman listrik secara serentak sejak pkl.11.00 hingga malam hari ini terjadi karena sistem di SUTET Ungaran-Pemalang black out. Black out-nya SUTET Ungaran-Pemalang membuat aliran listrik di dua sirkuit tersebut turun drastis, memengaruhi sirkuit Depok-Tasikmalaya, sehingga kejadian ini disebut N minus 3.

Artinya, terjadi gangguan listrik pada 3 SUTET secara bersamaan. Inilah yang menyebabkan pemadaman serentak terjadi. "Karena tegangan turun akhirnya sirkuitnya terlepas, sistem listrik antara Barat dan Timur terpusah. Inilah yang menyebabkan listrik di bagian Barat Mati sementara Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali menyala," jelas Direktur Pengadaan Strategis II PLN, Djoko Raharjo Abumanan.

Black out mendadak dan cukup lama baru teratasi jelas menimbulkan gangguan terhadap seluruh sistem yang menggunakan listrik. Dampak  yang timbul menyangkut hak-hak publik juga merugikan perekonomian dan juga pertahanan negara. Disimpulkan bahwa ketahanan energi lemah dan rawan, ini sebuah catatan khusus, bahaya bagi bangsa Indonesia.

Disinilah dibutuhkan pemeriksaan securiti oleh intelijen disamping dilakukannya audit teknologi. Pemeriksaan sekuriti dilakukan untuk menemukan titik rawan PLN dari sisi personil, materiil, informasi dan kegiatan. Mengatasi kerawanan diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menutup celah kelemahan yang dapat menghancurkan PLN pada masa mendatang.

Sementara Audit Teknologi dilakukan oleh BPPT untuk memeriksa sistem, sarana, operasional dan lain sebagainya, dengan tujuan menilai mengapa kasus terjadi dan bagaimana mengantisipasinya di masa mendatang. Sementara dinilai belum perlu dilakukan Audit Forensik, yang ujungnya penindakan hukum.

Kesimpulan

Dari tiga kasus diatas, terlihat bahwa langkah pemeriksaan sekuriti perlu dilakukan untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi. Intelijen menangani kasus untuk menemukan kerawanan dalam rangka langkah preventif sebelum ancaman muncul. Bahasa pengamanannya, ini adalah upaya  cegah tangkal. PRAY.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.