Langkah Blitzkrieg ARB Untuk Menyelamatkan Posisi Politik

12 January 2016 | 2:20 am | Dilihat : 828

ARB dan Idrus

Aburizal Bakrie dan Idrus Marham, mampukah bertahan? (Foto :nasional.tempo)

Sebuah langkah cepat dari Aburizal Bakrie (ARB) dalam upayanya penyelamatan posisinya serta kepengurusan Golkar dibawah kepemimpinannya adalah dengan menyatakan bahwa Golkar memberikan dukungan kepada pemerintah. Pernyataan diberikan setelah ARB dipanggil dan bertemu dengan Presiden Jokowi Senin (11/1/2016). Aburizal yang didampingi oleh Idrus Marham menyatakan  alasan mengapa Golkar memberikan dukungan pada pemerintah.

Disebutkannya alasannya mendukung pemerintah ;  dalam keadaan sulit seperti saat ini, diperlukan stabilitas politik, adanya keputusan konsultasi nasional internal Golkar serta kepastian adanya kebutuhan konsolidasi kekuatan politik.  Sebelum ARB, Agung Laksono  telah dipanggil juga ke istana untuk bertemu presiden.

Seperti diketahui sejak tanggal 31 Desember 2015, hingga kini  tidak ada kepengurusan Golkar  yang memiliki dasar hukum dan diakui pemerintah,  karena kepengurusan Golkar hasil Munas Riau telah habis pada akhir Desember tahun lalu. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, sesuai dengan putusan MA pula, tak ada perintah mengesahkan kepengurusan hasil Munas Bali kubu Aburizal Bakrie.‎‎‎

Dilain sisi Menkumham telah mencabut surat keputusan tentang kepengurusan Golkar hasil Musyawarah Nasional Ancol kubu Agung Laksono, sebagaimana amanat putusan Mahkamah Agung yang mengembalikan kepengurusan Golkar pada hasil Munas Riau yang habis pada 31 Desember 2015.‎

Blitzkrieg 2

Strategi Blitzkrieg mengandalkan unsur pendadakan (Foto: ratamap)

Pernyataan ARB tersebut dalam militer dapat disebut sebagai strategi Blitzkrieg yang dipakai oleh pasukan Jerman. Ide Blitzkrieg sebenarnya sangatlah sederhana. Mencari titik lemah lawan, dan jika sudah ketemu maka di tempat itulah sebuah serangan besar-besaran dengan kecepatan tinggi dilakukan. Jika sebuah garis pertahanan sudah mampu ditembus, maka pasukan  itu akan mampu mengurung lawan dari belakang garis pertahanan sehingga membuat pasukan musuh tidak mempunyai pilihan lain selain menyerah. Strategi ini sangat mengandalkan unsur suprise atau pendadakan.

Dalam penggunaan strategi ini ARB memahami bahwa pemerintah membutuhkan stabilitas politik dan dia memanfaatkan posisinya dengan menawarkan konsolidasi politik. Pemerintah memahami dan telah membaca  nilai tawar ARB lebih kuat dibandingkan Agung Laksono, kemudian Menkumham mencabut Skep berdasarkan keputusan Mahkamah Agung. Kasus serupa pernah terjadi saat perseteruan antara Gus Dur sebagai pendiri PKB tergusur oleh keponakannya Muhaimin Iskandar (Cak Imin), untuk menguasai PKB. Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syura PKB dilumpuhkan Ketua Umum PKB hanya dengan skep Menkumham.

Apakah ini juga akan serupa? Semua tergantung kepada pemerintah, apabila dikeluarkan skep pengakuan kepengurusan Golkar dibawah ARB maka persoalan dasar hukum selesai. Tetapi pada sisi politis, apakah ARB mampu meyakinkan Jokowi bahwa dengan sebenarnya Golkar dibawahnya akan konsisten? Dalam pertemuan itu, Ical mengaku memberikan dukungan pada pemerintah bisa tidak bergabung dengan koalisi partai penyokong pemerintah. Keputusan yang mirip dengan PAN. Dalam politik umumnya tidak ada kepastian, yang ada adalah kompromi serta strategi membangun kekuatan untuk menekan lawan politik.

Golkar kini memiliki dua kemungkinan, pertama. terus dipimpin oleh ARB (dengan Skep baru) atau kedua,  Golkar yang akan melaksanakan Munas/Munaslub. Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Golkar, Akbar Tanjung, berdasarkan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga partai, masalah itu hanya bisa diselesaikan dengan menggelar Munas bersama atau Munas Luar Biasa.  Akbar mengaku khawatir jika konflik tidak juga selesai, perolehan Golkar di Pilkada serentak 2017 mendatang akan besar pengaruhnya. ‎Pada Pilkada 2015 lalu, kata Akbar membuktikan, dari 116 calon yang diusung Golkar, hanya 49 pasangan yang menang.

Apakah strategi Blitzkrieg ARB sukses? Dalam  unsur suprise atau pendadakan dengan pernyataannya, sebagai tim inti KMP  mungkin ARB sudah tepat, tetapi ada ketentuan lain yang menentukan kesuksesan strategi ini. Ketika informasi, meskipun hanya sedikit saja bocor, maka Blitzkrieg akan menjadi sebuah serangan bunuh diri.

Dalam peperangan mekanis modern, prinsip-prinsip strategi Blitzkrieg masih dilaksanakan. Beberapa pertempuran seperti Operasi Desert Storm sangat kental dalam  penggunaan strategi Blitzkrieg. Tank masih dan kemungkinan akan terus menjadi tulang punggung pasukan ke depan. Tentu saja, tank sendiri tidak bisa memenangkan perang, ia harus dikombinasikan dengan infantri, bahkan juga kekuatan udara.

Nah, karena ARB sudah menggunakan jalan singkat Blietzkrieg, maka dia tidak akan bisa hanya mengandalkan diri serta kelompoknya belaka untuk mempertahankan kepemimpinannya, tetapi dia harus mampu dan mau mengombinasikan dengan kekuatan internal Golkar lainnya. Diantaranya dengan arus Golkar generasi penerus yang lebih muda.  Apabila sukses, maka hadiah yang diterimanya adalah skep sakti seperti yang pernah diterima Cak Imin.

Apabila tidak, maka kemungkinan besar dia bisa dilengserkan oleh mereka yang lebih muda. Ada kekuatan regenerasi yang kuat disana. Inilah politik, perlu kecerdasan dan kecerdikan untuk mengelola dinamika yang terus bergejolak. Parpol pada umumnya lemah apabila tidak memiliki patron yang kuat, karena banyak aliran oportunisme disana. Dalam bahasa dan format intelijen, pada periode kini, ARB adalah seorang level handler (agen pengendali), sementara Presiden Jokowi adalah principle agent. Begitulah kira-kira.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.