Kasus Germanwings Flight 9525 dan Malaysia Airlines MH370 Adalah Pesan Teror

1 April 2015 | 12:40 pm | Dilihat : 886

Germanwings-plane-crash-pilot-passengers-safe-566836

Ilustrasi Pesawat Germanwings (Foto: express.co.uk)

Dalam satu Tahun terjadi empat kecelakaan pesawat terbang yang mendapat perhatian khusus dari aparat hukum dan intelijen. Kasus tersebut adalah Malaysia Airlines System (MAS) Flight MH370, dan MH17, AirAsia QZ8501, dan Germanwings 4U 9525. Dari empat kasus tersebut, penulis menilai bahwa kasus MAS MH370 dan Germanwings Flight 9525 penyebab kecelakaan sementara bisa disimpulkan karena keputusan ekstrem pilot pesawat sendiri yang masih diselimuti misteri.

Sementara dua kasus lainnya, runtuhnya MH17 disebabkan karena ditembak oleh misil saat melintas di jalur internasional, diatas wilayah konflik Ukraina. Hingga kini belum dapat dibuktikan siapa penembak yang bertanggung jawab dan apa motif penembakan. MH17 black box telah ditemukan dan tidak ada data pendukung di dalamnya yang terkait dengan kecelakaan tersebut. Baik data CVR maupun FDR secara jelas bahwa MH17 telah mendapat clearance oleh ATC Ukraina.

Dalam kasus AirAsia Indonesia QZ8501, data CVR dan FDR yang tersimpan dalam black box dalam waktu relatif cepat dapat ditemukan oleh Basarnas. KNKT masih mendalami dua data tersebut. Sementara seperti yang disampaikan oleh Menteri Perhubungan Indonesia, dalam kronologis kejadian, terbaca pilot berhadapan dengan 'tembok' cuaca (cumulonimbus), dan memutuskan menembus serta berakhir menjadi tragedi kecelakaan.

Dua Pesan Teror

Dari empat kasus tersebut, indikasi serta fakta yang perlu diperhatikan adalah dua kasus terjadi adalah pesawat Boeing 777 buatan AS (MH370 dan MH17) sementara dua kasus lainnya adalah pesawat buatan Eropa (Airbus A320-200) yaitu QZ8501 dan 4U9525. Data masing-masing dua kasus pesawat pabrikan AS dan Eropa sebaiknya jangan dikesampingkan. AS dan negara-negara Eropa dalam dua dekade terakhir merupakan target teror, yang diserang melalui suicide bombing.

Efek gentar bom bunuh diri yang menghantam manusia atau apapun yang ada di permukaan bumi memang menakutkan dan menjadi komoditas utama dari media.  Tetapi  tindakan teror  berupa pembajakan, sabotase dan kasus bunuh diri dengan sarana pesawat terbang jauh lebih besar dampaknya, khususnya dampak pemberitaannya.  Serangan berupa suicide akan memunculkan tekanan psikologis bagi masyarakat luas atau juga bisa terbaca merupakan sebuah 'message' terhadap target operasi dari pelaku teror. Oleh karena itu penulis mencoba membahas kasus Germanwings Flight 9525  yang termasuk aksi suicide dilakukan oleh pilot pesawat itu sendiri, dikaitkan dengan kasus MH370.

Pada kasus MH370, sejak peristiwa 8 Maret 2014 hingga kini belum ditemukan secara pasti keberadaannya.  Black box MH370 yang berisi data CVR (Cockpit Voice recorder) serta FDR (Flight Data Recorder) sebagai dasar terpercaya pengungkapan kasus tidak juga ditemukan. Akhirnya  pemerintah Malaysia pada Kamis (29/1/2015), mengumumkan pesawat itu resmi dinyatakan mengalami kecelakaan dan semua penumpang dianggap tewas. Pengumuman disampaikan Kepala Departemen Perhubungan Sipil (DCA), Azharuddin Abdul Rahman, dalam sebuah konferensi pers.

“Sebanyak 239 penumpang dan awak dianggap telah kehilangan nyawa mereka,” katanya. Pihak Malaysia Airlines, lanjut dia, segera melanjutkan pembayaran kompensasi bagi keluarga korban. ”Pengumuman ini tidak berarti akhir (segalanya),” ujar Rahman. ”Kami akan terus maju (mencari pesawat MH370) dengan bantuan dari Pemerintah China dan Australia,” kata Azharuddin.

Dalam perjalanaan pencarian dan penyelidikan penyebab hilangnya  MH370, bisa disimpulkan pesawat dibajak oleh kapten pilotnya sendiri,  dikaitkan dengan lingkup politik dan terorisme.  Menyelidiki sesuatu dengan penyebab ektrem, terlebih sebuah kasus yang berhubungan dengan kejadian besar, menyangkut nyawa manusia, bersentuhan dengan teknologi serta adanya unsur-unsur yang berbau dengan tindak kriminalitas tingkat tinggi dalam sebuah negara, lebih ideal apabila dipergunakan ilmu intelijen.

Dilain sisi,  nafas tindak terorisme adalah "the art of impossible". Sebelum kasus 911, tak seorangpun pernah berpikir akan ada segelintir orang yang  nekad menerbangkan dan menubrukkan pesawat ke WTC hingga runtuh. Semua pihak awalnya  akan berpikir "impossible", tapi nyatanya "possible". Penulis setuju dengan pendapat para investigator internasional yang bersidang di Australia pada bulan Oktober 2014, bahwa MH370 terbenam atau dengan sengaja dibenamkan secara utuh ke Samudera Hindia. Siapa pelakunya, sementara disimpulkan pelakunya adalah Captain Pilotnya sendiri Zhaharie.

germanwings-epa

Reruntuhan A320 Germanwings Fligh9525 (Foto : independent.co.uk)

Nah, kini dalam kasus kecelakaan pesawat Airbus A-320-200 di pegunungan Alpens, walau fakta black box yang ditemukan baru CVR, nampaknya rekaman tersebut sedikit banyak telah memberikan gambaran latar belakang kecelakaan dan mulai diakui serta  kini dibahas oleh dunia penerbangan internasional.

Informasi mengejutkan berasal dari ungkapan seorang jaksa dari Perancis, Brice Robin, yang menyatakan , berdasarkan hasil pemeriksaan blackbox  bahwa co-pilot Andreas Lubitz sengaja menjatuhkan pesawat Airbus A320-200 Flight 4U9525 Germanwings ke Pegunungan Alpen Prancis. Menurutnya, pada 10:31, setelah Captain Pilot (Mr. Patrick Sonderheimer) terdengar keluar cockpit, pesawat  berada pada ketinggian jelajah 38.000 feet. Dari rekaman data bahwa autopilot dimatikan dan co-pilot dan Lubitz mengaktifkan sistem penerbangan untuk memulai turunnya pesawat . Sebuah analisis data transponder oleh Flightradar24 menunjukkan bahwa autopilot pesawat itu telah disetting ulang secara manual dari 38.000 ke bawah 100 meter.

Lubitz diketahui telah mengunci pintu cockpit setelah Capt Pilot Patrick pergi ke toilet. Kemudian dalam upaya kembali ke seat, capt Patrick berusaha membuka pintu, setelah permintaan membuka tidak direspons oleh Lubitz. Walaupun Patrick berusaha dengan kekerasan membuka pintu, upayanya gagal dan bahkan menimbulkan kepanikan serta teriakan di kalangan penumpang. Sementara Lubitz menurunkan pesawat.

Menurut jaksa dari Düsseldorf, Christoph Kumpa, Co Pilot, Andreas Lubitz (27)  "telah menerima psikoterapi untuk jangka waktulama, di mana diketahui ada catatan kecenderungan bunuh diri". Rincian baru dirilis Senin (30/3) menunjukkan bahwa penyidik semakin fokus pada masalah psikologis yang dinilai sebagai komponen utama dari motivasi yang dilakukan Lubitz.

Maskapai penerbangan Lufthansa Jerman (pemilik Germanwings), mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima informasi tentang kondisi mental Lubitz tersebut. CEO Lufthansa Carsten Spohr mengatakan perusahaan yakin pilot mereka adalah "100 persen fit untuk terbang" (AP). Dari hasil penyelidikan ke kediaman Lubitz, tidak ditemukan secara pasti bukti motivasi dari Lubitz.

Pihak penyelidik telah mendapatkan gambaran garis kehidupan Lubitz secara samar, sejak Kamis (26/3). Dia diketahui bercita-cita menjadi pilot sejak masih remaja dan bergabung di klub terbang di kampung halamannya dekat Frankfurt. Lubitz mulai bekerja untuk Germanwings, (Lufthansa) sejak bulan September  2013 dan memiliki 630 jam terbang.

Kepala eksekutif Lufthansa, Carsten Spohr, mengatakan, "Ketika seseorang membunuh dirinya sendiri bersama 149 orang lainnya, ... itu bukan bunuh diri. Jika Lubitz ingin bunuh diri dalam kecelakaan pesawat, dia bisa saja pergi ke bandara kecil di hari liburnya , menyewa Cessna dan diterbangkan serta dijatuhkan di  medan yang dipilihnya.

Apakah memang yang dilakukan Lubitz hanya sekedar bunuh diri dengan alasan pribadi ataukah ada latar belakang lain yang menjadi motivasinya? Ini sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh aparat keamanan dan intelijen Jerman dan Perancis.

Apabila Lubitz melakukan dengan motif terorisme, maka dia mampu memanfaatkan kerawanan sistem di perusahaan Germanwings khususnya dan Eropa pada umumnya. Perusahaan penerbangan di Eropa mengijinkan seorang pilot untuk sendiri berada di cockpit, sementara di AS minimal harus dua orang. Kini peraturan tersebut telah diubah di Eropa. Kedua, pintu menuju cockpit memang dibuat bahkan tahan peluru ,untuk mencegah masuknya teroris seperti pada kasus 911,  dan ternyata kini merupakan awal malapetaka.

Sementara penulis setuju dengan ungkapan Spohr di Jerman dan Eugene Robinson di AS. Sepertinya Lubitz tidak hanya mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena dia depresi. Dia rupanya memutuskan untuk mengakhiri 149 kehidupan lain juga karena ia ingin mengatakan sesuatu kepada kita. Tragisnya, ini justru jenis hal yang teroris lakukan.

Nah, dari kasus Germanwings Flight 9525, apabila dikaitkan dengan kasus MH370, nampak kemiripan upaya mencelakakan pesawat yang dikemudikannya sendiri. Dalam kasus MH370, pesawat sulit ditemukan karena pelaku (pembajak) adalah seorang pilot yang sangat berpengalaman sehingga investigator hanya bisa memperkirakan dan sangat sulit menemukan bukti kasus. Pesawat dibenamkan pada wilayah laut yang sangat luas di Samudera Hindia, sangat dalam (4.500m) dengan arus kuat dan belum dipetakan.

Pada kasus Germanwings ini pelaku hanya seorang co pilot dengan jam terbang  yang hanya 630 jam. Oleh karena itu dia hanya mampu menyingkirkan Capt Pilot, mengunci pintu dan menjatuhkan pesawat.

Jadi, walau belum didapatkan bukti yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum, kasus empat pesawat Boeing777 dan Airbus 320 merupakan misteri yang harus dijawab oleh para penyelidik kecelakaan pesawat. Apakah kita akan menolak beberapa fakta dan indikasi yang ada terkait dengan aksi terorisme? Walau belum ada satupun pernyataan dari kelompok teroris, para operator penerbangan harus mewaspadai dalam satu tahun terjadi empat kecelakaan dengan korban ratusan jiwa.

Menurut penulis secara spesifik, pesan tersebut adalah 'public tension,' kami  ada dan mampu berbuat sesuatu. Anda tidak aman. Satu kasus kecelakaan di Malaysia, satu kasus di Ukraina, satu kasus di Indonesia, satu kasus di Perancis, setelah ini di wilayah negara mana yang akan mereka pilih? Ini pekerjaan rumah bagi intelijen komuniti yang harus mampu menjawab. Kira-kira begitu.

Penulis : Marsda TNi (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-Dalami Keganjilan Air Asia di Juanda Disitu Awal Musibah QZ8501,  http://ramalanintelijen.net/?p=9404

-Hilangnya Air Asia QZ 8501 Dari Sudut Pandang Intelijen, http://ramalanintelijen.net/?p=9394

-MH370 dan MH17 Adalah Dua Pesan Teror Terhadap Malaysia, Adakah Pesan Ketiga?  http://ramalanintelijen.net/?p=9261

-Apakah Malaysia Airlines MH17 Memang Sudah Ditarget? http://ramalanintelijen.net/?p=8660

-Boeing 777 Malaysia Airlines Flight MH17 Jatuh Ditembak di Udara Ukraina,  http://ramalanintelijen.net/?p=8550

-Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Menyatakan CIA Menutupi Masalah MAS MH370,  http://ramalanintelijen.net/?p=8404

-Skenario Desepsi MH370 dan Alasan Ke Samudera Hindia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8264

-Kasus MH370, Sebuah Pelajaran Berharga Bagi Indonesia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8208

-Skenario Desepsi MH370 dan Alasan Ke Samudera Hindia,   http://ramalanintelijen.net/?p=8264

-Penyelidikan MH370 ditingkatkan Menjadi "Criminal Investigation" ,  http://ramalanintelijen.net/?p=8245

-Ayman al-Zawahiri Pengganti Osama Perintahkan Serang AS,  http://ramalanintelijen.net/?p=7431

 
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.