Jangan Anggap Enteng, Sebaiknya Tetap Berfikir Worst Condition

3 November 2016 | 7:43 am | Dilihat : 3736

mui.jpg.pagespeed.ic._PhTi5NpTB

Konperensi Pers tokoh-tokoh GNPF dalam persiapan aksi demo 4 November 2016 (Foto : gontornews)

Dalam sebuah aksi unjuk rasa, kepentingan kelompok dalam menyuarakan tuntutan merupakan yang disuarakan, tetapi intelijen tahu bahwa dibelakang itu ada juga pihak yang berkepentingan untuk digerakannya sebuah aksi demo.

Rencana demo Jumat (4/10/2016) akan digelar oleh mereka yang menamakan kelompoknya GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI), menuntut Gubernur DKI Jakarta Ahok agar diperiksa, di BAP dan ditangkap terkait ucapannya yang dinilai menista agama Islam, surat Al Maidah ayat-51. Sejak itu setelah uji coba demo tanggal 14 Oktober 2016 dengan jumlah sekitar 50.000 orang, GNPF mengancam akan menggelar aksi demo tanggal 4 November dengan jumlah dua ratusan ribu. Sejak itu pemerintah terlihat agak gagap, menghitung momentum Ahok diperkirakan targetnya lebih tinggi (presiden).

GNPF menyatakan Presiden Jokowi melakukan intervensi, karena Polri tidak memanggil Ahok. Presiden menyatakan demo boleh tetapi jangan rusuh dan merusak. Presiden melakukan langkah pendinginan politik dengan mengunjungi Ketua Umum Gerindra Prabowo, comanders call petinggi TNI-Polri serta mengundang tokoh-tokoh moderat  organisasi Islam NU dan Muhammadiyah. Dengan tegas presiden menyatakan tidak akan melakukan intervensi.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menegaskan tak akan mengintervensi proses hukum kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan calon Gubernur DKI, Ahok. "Presiden mengatakan beliau sudah memerintahkan untuk diproses dan beliau tidak akan melakukan intervensi terhadap masalah ini,” kata Ma'ruf di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (1/11/2016).

????????????????????????

Foto ilustrasi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian  (Foto : metrotvnews)

Pada acara Mata Najwa, Rabu (2/11/2016) malam, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan Kamis ini akan menyampaikan surat panggilan kepada Ahok yang direncanakan akan diperiksa Bareskrim  Senin (7/11/2016). Sementara Imam Besar FPI Habib Rizieq akan menjadi saksi ahli,  memberikan kesaksian pada Kamis ini. Pertanyaan pentingnya, dengan perkembangan ini, apakah badai demo akan mereda dan persoalan selesai? Penulis mencoba menganalisisnya dari sudut pandang intelijen.

Demo dan Tekanan Psikologis

GNPF merupakan kelompok besar solidaritas umat Islam serta simpatisannya yang mengancam demo besar-besaran setelah sholat Jumat (4/11/2016) dengan tujuan istana presiden. Habib Rizieq, pemrakarsa GNPF menyatakan demo adalah aksi konstitusional terkait penistaan Islam oleh Ahok. Habib menyatakan presiden Jokowi mengintervensi, hingga Polri tidak kunjung memanggil Ahok, yang pernah datang tetapi bukan dipanggil.

Berita-berita semakin bebas, menjurus liar, kemudian muncul berita kemarahan mantan presiden SBY karena katanya ada analisa intelijen yang menyebutkan ada parpol yang membiayai aksi demo tanggal empat. Di sisi lain Prabowo menyatakan bahwa tidak melarang kadernya ikut demo, selama sebagai pribadi karena Gerindra belum memutuskan akan turun ke jalan.

Berita yang beredar, solidaritas umat Islam terhadap aksi demo penistaan Islam nampak semakin membesar, banyak perwakilan ormas daerah yang akan ke Jakarta, dan diperkirakan jumlah pendemo akan bisa mencapai 200.000 orang. Pengalaman kerusuhan 1998 membuat masyarakat Jakarta resah dan takut. Itulah efek psikologis yang penulis kira konsepnya dibuat oleh mereka yang ahli. Semua resah, termasuk juga presiden, Polri, TNI serta mantan presiden SBY.

Tekanan itu yang kemudian membuat Presiden memutuskan menyatakan tidak mengintervensi kasus Ahok. Nah, mulailah babak penyelesaian kasus serta pengamanan demo agar tergembosi. Kapolri Tito Karnavian yang penulis kenal expert dalam kasus-kasus teror terkait dengan psywar kemudian melakukan langkah antisipatif, menerima Habib Rizieq sebagai saksi ahli, menyampaikan pangilan kepada Ahok. Disini memang terlihat presiden sepertinya menahan kasus Ahok karena Jokowi merupakan bagian dari parpol PDIP, pengusung Ahok-Djarot. Kasus Ahok mirip kasus Archandra, dilepas sebagai menteri empat hari, tetapi kemudian aman-aman saja dilantik kembali setelah status sebagai WNI selesai.

Blusukan

Dari bahasa tubuh, memang keduanya sangat akrab (foto: SuratKabar)

Nah, dalam kasus Ahok, mengapa tidak kemarin-kemarin Ahok dilepas? Pendemo murni hanya minta diperiksa, tetapi mengapa sulit. Ini makin menguatkan tuduhan intervensi. Menurut penulis, wajar saja Ahok nampaknya dilindungi, karena Ahok disamping bagian dari calon yang diusung PDIP juga mantan Wagubnya. Hubungan keduanya nampak sangat erat, dan keduanya nampak saling tahu sama tahu satu sama lain.

Perkiraan Situasi Keamanan 

Tersisa satu hari, dimana aksi demo akan digelar besok setelah sholat Jumat di Istiqlal. Nampaknya rencana demo tetap akan berjalan, karena Ahok baru akan diperiksa Senin. Massa akan tetap berkumpul di muka istana presiden siang dan bahkan hingga sore atau malam hari. Bukan tidak mungkin mereka akan menuntut perwakilannya untuk diterima presiden.

Yang perlu diwaspadai oleh aparat keamanan, dari sisi psikologis dengan pernyataan Presiden Jokowi dan Kapolri, emosi massa secara utuh nampaknya sudah dapat diturunkan. Tetapi pada masyarakat yang sudah terprovokasi pelemparan berita penistaan,serta  militansi anti Ahok masih besar. Disana sini masih banyak kompor-kompor yang terus menyala.

Saat melakukan kampanye di Rawabelong  Selasa (2/11/2016) sekitar pukul 16.00 WIB, cagub   Ahok ditolak secara fisik oleh sekelompok orang di Jl Ayub, Rawa Belong, Jakarta Barat.  Ahok sedianya akan meninjau di aliran Sungai Sekretaris. Tetapi tiba-tiba ada sekelompok orang berteriak-teriak menolaknya, menyebut dajal dan ada yang meneriakkan usir. Ahok kemudian menuju ke Markas Polsek Kebon Jeruk dengan menaiki mobil angkot. Agak memalukan bagi seseorang yang masih resmi menjabat sebgaai Gubernur walau cuti.

sejumlah-warga-mengusir-basuki-tjahaja-purnama_20161102_171138

Ahok di Demo dan Dikejar Puluhan Orang Saat Blusukan di Rawa Belong (Foto : tribunnews)

Aparat keamanan sebaiknya tetap mewaspadai terjadinya penyusupan, dimana apabila  dalam penilaian, Ahok hanya menjadi sasaran antara, maka penulis perkirakan demo akan dikisruhkan. Secara teori intelijen, sebuah kelompok massa setenang dan setertib apapun akan langsung bergolak apabila terjadi martir, korban jatuh diantara mereka, pelaku tidak harus dari aparat keamanan, bisa dari kalangan pendemo dimana penyusup bersembunyi.

Contoh terang saat demo 18 Maret  2011 di kota Deraa, Suriah dimana penduduk setempat turun kejalan dan melakukan protes  setelah 15 anak sekolah ditahan dan diberitakan mereka disiksa oleh polisi. Karena ada empat pendemo tewas ditembak, aksi menjadi rusuh, tuntutan berubah menjadi turunkan presiden Suriah. Kerusuhan terus berkembang menjadi perang saudara hingga lima tahun belum juga selesai.

Walau tensi GNPF sudah diturunkan paling tidak 50 persen, pendekatan sudah dilakukan kepada tokoh-tokoh demo, penulis hanya mengingatkan kepada aparat keamanan, ada sesuatu yang belum jelas dan belum lengkap info intelijennya.

Peneliti terorisme Sidney Jones di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (1/11/2016) menyatakan, sudah ada ancaman untuk menerapkan hukum Islam kepada Ahok jika dia tidak ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Demonstrasi yang akan berlangsung pada 4 November mendatang tidak murni dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dan sejumlah organisasi Islam dari berbagai daerah. “Ada banyak unsur, ada juga seperti unsur ekstrim,” katanya.

Sydney Jones menilai beredarnya foto kelompok Jaisy al-Fath di Suriah yang bertuliskan 'Tangkap Ahok atau Peti Mati Ahok' menunjukkan memang gerakan anti Ahok di Indonesia telah ditunggangi oleh kelompok radikal.

sydney jones wahid

Pengamat Terorisme Sydney Jones bersama Nasir Abas di Wahid Institute, dalam diskusi  'Ancaman Radikalisme dan Terorisme di Pilgub DKI'  (Foto : bbc)

Sydney menyebutkan, "Soal Abu Jibril, mereka ketemu FZ Jumat lalu. Jelas ada ancaman kalau Ahok tidak diproses, mereka katakan, kami tidak bertanggungjawab apa yang terjadi. Kenapa dibiarkan orang macam itu untuk mengontrol. Ada hubungan Abu Jibril dari MMI dengan Suriah, jelas anaknya tewas di sana," katanya. Dia menduga ada juga keterkaitan antara kelompok ISIS di Suriah dengan kelompok radikal di Indonesia dalam konteks keterlibatan pada demo mendatang. “Paling sedikit sudah ada hubungan dari mereka dengan kelompok keras di Indonesia.”

Selain itu Sidney juga menduga ada kalangan yang mendanai rencana aksi 4 November. "Ada satu pertanyaan juga, siapa yang mendanai demo ini? Karena ini bukan sesuatu yang murah mendatangkan orang dari luar Jakarta, untuk transportasi, dan lain-lain, siapa yang di belakang demo itu? Saya masih tidak tahu," kata Sidney. Namun dia menduga ada unsur politik yang terlibat.

Nah, dengan informasi Sydney Jones yang pernah bersama-sama penulis sebagai nara sumber di media elektronik, demo ini sebuah momentum yang akan dimanfaatkan baik untuk kegiatan langkah politik dan bisa untuk aksi teror dengan akibat luas. Momentum sulit ditemukan, karena itu terbentuknya solidaritas Islam kali ini bisa berbahaya bagi kemanan nasional apabila keliru dalam terapinya, mohon hati-hati.

1359229IMG-20161101-120739780x390-1

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Iriawan menyatakan, rencananya menyiagakan 20.000 personel dibantu kepolisian daerah lainnya. (Foto : megapolitan)

Kesimpulannya, sebaiknya aparat keamanan jangan terlalu percaya diri, perlu dalami info keterlibatan tangan-tangan jahil dari luar, baik yang terkait politik maupun terorisme. Berfikir worst condition atau kemungkinan terburuk jauh lebih baik dibandingkan dengan berfikir aman-aman saja, kalau itu memang terjadi, maka aparat keamanan tidak terkena unsur pendadakan. Dari pada nanti gagap, lebih baik siap penuh setiap saat. Penyesalan tidak pernah di depan, tetapi selalu di belakang. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.