Indonesia Harus Cerdik Menyikapi Neokonservatif Amerika

18 February 2016 | 10:25 pm | Dilihat : 1252

US candidates

Calon Presiden AS dari Partai Demokrat dan Partai Rerpublik (Foto: voanews)

Pada suatu hari penulis bertemu dengan seorang pengusaha asal AS yang sudah cukup lama di Indonesia, berdiskusi tentang pemilu di AS. Dia menyarankan bahwa pengemban amanah  di Indonesia supaya mengikuti dengan cermat pilpres di sana. Penting bagi Indonesia terkait dengan peran serta konsep kelompok neokonservatif-Amerika tentang hegemoni AS di dunia. Penulis sepakat dengan ucapannya, dan memang sebaiknya kita ikuti dan pelajari  calon-calon tersebut, yang dalam dunia intelijen disebut spotting.

Pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2016 akan dilaksanakan pada hari Selasa, 8 November 2016 dan menjadi pilpres empat tahunan yang  ke-58. Prosesnya berlangsung panjang selama 1-2 tahun, meliputi deklarasi, caucus/primary, nominasi capres lewat konvensi, pemilihan oleh rakyat, pemilihan oleh electoral college, dan pelantikan.

republican-party-vs-democratic-party-rivalry-23328

Logo pemilihan Partai Republik dan Partai Demokrat (Foto : justrivals)

Di AS terdapat beberapa partai politik, tapi hanya dua yang besar yang berpeluang menang dalam pemilu tersebut, yaitu Partai Demokrat (sejak 1828) dan Partai Republik (1854). Karenanya, sistem politik di AS dikenal dengan sebutan sistem dua partai. Selain itu terdapat tiga partai kecil (gurem) lainnya, yaitu Libertarian Party (1971), Green Party (1980an), dan Constution Party (1992).

Serupa dengan pemungutan suara di pilpres, perolehan suara di caucus/primary juga tidak langsung menjadi kandidat, melainkan dikonversi menjadi delegate (mirip elector di pilpres). Delegate inilah yang kemudian memilih kandidat pada saat konvensi. Konvensi Partai Republik akan dilangsungkan tanggal 18-21 Juli 2016 di Cleveland, Ohio, sementara Partai Demokrat tanggal 25–28 Juli 2016 di Philadelphia, Pennsylvania. Selanjutnya, kandidat yang terpilih dalam konvensi akan menentukan calon wakil presiden yang akan mendampinginya.

Penganut Neokonservatif di Amerika

Mengapa kita perlu mengetahui calon Presiden AS yang berpandangan Neokonservatif (Neocon)? Para Neocon ini penganut kepercayaan bahwa Amerika Serikat harus memiliki kekuatan dan pengaruh yang tak tertandingi dan jika perlu menggunakan kekuatannya   untuk memromosikan nilai-nilainya di seluruh dunia. Beberapa bahkan berbicara tentang perlunya upaya untuk   menumbuhkan sebuah kerajaan AS. Neocon percaya ancaman modern yang dihadapi AS  harus dicegah, kadang-kadang harus dilakukan melalui rangkaian aksi militer atau preemptive.

neoconned

Neokonservatif Amerika tokoh utamanya Hillary Clinton (Foto:thenewsdoctor)

Sebagai contoh, korban keyakinan neocon adalah kejatuhan Presiden Irak, Saddam Husein, yang dituduh memiliki senjata pemusnah masal (SPM). Dari sejarahnya, kelompok neokonservatif asli adalah sekelompok kecil intelektual liberal, sementara sebagian besar adalah Yahudi, yang pada tahun 1960 dan 70-an, tumbuh kecewa dengan apa yang mereka lihat sebagai ekses sosial kiri Amerika dan keengganan untuk meningkatkan kekuatan yang  memadai pada bidang  pertahanan.

Kebanyakan neokonservatif di AS adalah pendukung kuat  negara Israel, yang mereka nilai sangat penting bagi AS, berupa  kebutuhan power militer di kawasan Timur Tengah yang dikatakannya mudah berkonflik.  Mereka melihat Israel sebagai pos utama demokrasi di wilayah yang diperintah oleh penguasa-pemguasa lalim dari dunia Arab. Mereka mempercayai  bahwa otoritarianisme dan teokrasi telah memungkinkan muncul dan berkembangnya anti-Amerikanisme  di Timur Tengah. Oleh karenanya Neocon  menganjurkan dilakukannya langkah transformasi demokratis wilayah tersebut dan dimulai dari Irak.

Dari kasus intervensi AS ke Afghanistan dan Irak, neocon bisa memaksakan terjadinya  perubahan  rezim dan membentuk pemerintahan baru yang tekendali. Neocon percaya bahwa AS harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengakhiri terorisme yang didukung oleh sebuah negara. Hal ini berarti dimungkinkannya dorongan agresif untuk dilakukannya transformasi demokrasi di Timur Tengah. Bahkan setelah runtuhnya menara kembar WTC,  banyak konservatif lainnya, terutama di sayap isolasionis, melihat ini sebagai mimpi yang terlalu bersemangat dengan segala konsekuensi yang mengerikan.

Kapal Induk USS Carl Vinson

Kapal Induk AS Carl Simpson merupakan salah satu Tulang Punggung AL AS  yang dipelihara dengan konsep neocon (Foto :  hendiskinz)

Jadi dapat disimpulkan bahwa kelompok penganut neocon di AS; pertama  tetap terus berusaha mempertahankan upaya hegemoni AS di dunia dan tak boleh tertandingi serta negara kebal terhadap ancaman. Konsep dari kondisi ini harus dipertahankan dengan sebuah  kekuatan militer yang mumpuni. Kedua, mereka berpendapat apabila sikon mengancam keamanan negara, serta terdapat kelompok teror yang didukung sebuah negara atau lebih, maka langkah preemtive harus dilakukan. Oleh karena itu pengendalian sebuah kekuasaan di sebuah negara hanya akan dicapai apabila negara tersebut menganut faham demokrasi. Neocon tetap meyakini bahwa otoritarianisme dan teokrasi merupakan ancaman dan harus diganti dengan sistem demokrasi.

Antara Neokonservatif AS dengan Kondisi Indonesia

Indonesia sejak tahun 1998 telah melakukan reformasi dan menerapkan sistem demokrasi. Hal ini jelas menurunkan tekanan dari AS, khususnya para neocon yang melihat rezim sebelumnya adalah otoriter. Tekanan di Indonesia terlihat dari aktif disuarakannya HAM (Hak Asasi Manusia). Setelah terjadinya Bom Bali 2002, penulis yang saat itu menjadi penasihat Menhan bidang Intelijen, mendapat tugas dari Menhan, Bapak Matori Abdul Djalil (Alm) untuk berkordinasi dengan BIN dan Bais TNI, mengordinasikan bahwa Menhan akan menyatakan  pengebom Bali adalah Jaringan Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah.

Ktr-Kementerian-Pertahanan-RI

Kantor Kementerian Perrtahanan RI, Menhan adalah Salah Satu Back Bone Negara (Foto : Setkab)

Menhan mengumumkannya ditengah masih besarnya pendukung aliran Muslim radikal di Indonesia. Ternyata kemudian, penulis baru faham bahwa apabila Indonesia tidak mengambil sikap, bukan tidak mungkin akan ada langkah preemtive strike baik dari AS maupun Australia dan sekutunya untuk mengejar teroris ke dalam wilayah Indonesia, dan mungkin akan mengondisikan mengganti Rezim yang berkuasa. Langkah berani Menhan  menyelamatkan negara dari tekanan neocon AS berupa ancaman militer. Demikian peran besar Menhan saat itu dalam menyikapi situasi.

Nah, bagaimana dengan kondisi yang berlaku saat ini? Indonesia menurut penulis merupakan negara yang terus dicurigai oleh AS serta kelompok five eyes, terbukti dengan dibongkarnya kasus penyadapan oleh Badan Intelijen AS dan Australia terhadap Presiden SBY serta beberapa pejabat tingkat atas. Ini berarti Indonesia memang termasuk salah satu negara di Asia Tenggara yang dicurigai (tidak dipercaya) oleh para neocon serta pemegang kekuasaan di AS, termasuk juga yang dicurigai, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Sementara yang tidak dicurigai (tidak disadap adalah Singapura).

Quo Vadis Konflik Laut China Selatan

Gambar diatas menunjukkan bahwa saat ini China telah membentuk wilayah administrasi baru yang disebut “Garnisun Sansha” yang berada di bawah Komando Militer Guangzhou. Peluang konflik lau dengan AS semakin besar (foto : kurniawan02)

Dibelakang ini semua,  Indonesia sebaiknya waspada terhadap kepentingan nasional AS dalam pandangan menghilangkan ancaman terorisme dari Timur Tengah, yang jawabannya adalah demokrasi. Selain itu juga kepentingan serta perkembangan situasi, ketegangan AS-China di Laut China Selatan. Mereka klaim bahwa pendekatan sistem bukan hanya baik bagi AS, juga bagi dunia. Oleh karena itu bagaimanapun, hingga saat ini  di Timur Tengah, Rezim Bashar al Assad harus diturunkan dan China harus ditekan. Dalam pandangan neokon, dunia hanya bisa mencapai perdamaian melalui kepemimpinan AS yang kuat didukung dengan kekuatan yang kredibel, bukan hanya berupa  perjanjian yang lemah dan tidak dihormati oleh para  tiran.

Dalam memenuhi ambisi hegemoninya itu,  kekuatan militer AS akan dikonfigurasi ulang di seluruh dunia untuk memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar dan kemampuan penyebaran yang cepat untuk hot spot di Timur Tengah dan Asia Tenggara. AS akan menghabiskan lebih banyak anggaran pada bidang pertahanan, terutama untuk kemampuan teknologi tinggi, serta presisi senjata penghancur yang dapat digunakan untuk serangan preemptive.

hillary_clinton_kab_150508_16x9_992

Hillary Clinton Capres dari Partai Demokrat, seorang Neocon (Foto : abcnews.go)

Dari kandidat Partai Demokrat yang menonjol, Hillary Clinton, yang kalah dalam jajak pedapat, dia kemudian merangkul sikap neokonservatif di Timur Tengah. Hillary terus mencoba memukul Senator Bernie Sanders yang mengusahakan berdamai dengan Iran, sementara Hillary berada pada posisi bersama neocon  berpihak kepada Israel. Nampaknya AS kini dapat menjinakkan Iran yang bersedia menurunkan pengayaan nuklir dan hadiahnya, embargo ekonomi dari AS dan Uni Eropa dicabut. Neocon-Amerika serta Israel marah mengutuk sikap AS, dan bahkan Menhan Israel menyatakan akan berpihak kepada teroris ISIS apabila Iran menguasai Suriah.

Hillary Clinton juga dahulu mendukung pendudukan Irak dibawah Presiden George W. Bush. Dia memihak kelompok neokonservatif serta mendorong Presiden Barack Obama untuk meningkatkan perang di Afghanistan dan ketika dia menghasut dilakukannya "perubahan rezim" di Libya sehingga Muammar Khadafi jatuh. Tapi ia tampaknya masih percaya bahwa dia akan mendapatkan keuntungan politik jika dia terus berpihak dengan neokonservatif dan mereka di AS dan Barat dikenal sebagai  "liberal intervensionis."

Hillary adalah salah satu contoh capres AS yang terkenal dan posisinya kuat pada Partai Demokrat, dia adalah neokonservatif kawakan. Nah, bagaimana pemerintah Indonesia akan bersikap apabila nanti Hillary yang menang? AS dengan pengaruh neocon yang mengandalkan kekuatan militer sebagai negara adi daya, akan mengalami benturan dengan Indonesia yang bersandar kepada ekonomi kerakyatan, politik luar negeri bebas aktif.

Oleh karena itu intelijen memang sebaiknya mulai mengaktifkan pulbaket terhadap calon-calon di AS, sehingga Indonesia tidak terkena unsur pendadakan. Indonesia harus cerdik agar tidak menjadi bulan-bulanan para neocon itu pastinya. Kewaspadaan terhadap ancaman asimetris seperti misalnya proxy war. Demikian contoh kekuatan neokonservatif di AS yang akan memengaruhi dunia dengan konsep hegemoninya bersandar kepada kekuatan militer.

Mengenai calon yang lain, merupakan tugas para pengemban amanah untuk melakukan spoting, seperti latar belakang calon Partai Republik Donald Trum yang menonjol dengan sikap anti muslim. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

         
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.