Indikasi Keterlibatan Intelijen AS dalam Coup De’tat di Turki

23 July 2016 | 1:54 am | Dilihat : 2054

People stand on a Turkish army tank in Ankara

Rakyat Turki menaiki Tank pasukan yang melakukan kudeta (Foto : thewire)

Kudeta semalam yang terjadi di Turki sejak Jumat (15/7/2016) oleh pihak militer di Turki menyisakan pertanyaan, mengapa mereka melakukan coup disaat negara dengan penduduk sekitar 75 juta itu sedang mengalami masalah domestik dan internasional yang berat. Militer dianggap lembaga terbesar di negeri ini. Penilaian dalam posisi politik dan pertahanan, Turki merupakan sebuah negara yang dinilai Barat sebagai mitra penting dalam memerangi terorisme dan menjadi jangkar stabilitas di kawasan yang penuh dengan berbagai kesulitan yang complicated.

Sebagai anggota NATO, Turki memiliki peran penting  yang menjembatani Eropa dan Timur Tengah, dimana terdapat demikian banyak site senjata nuklir. Selain itu Turki memiliki pangkalan udara strategis di Incrilik  sebagai pangkalan operasi udara sekutu dalam menumpas kelompok teroris Islamic State. Bahkan beberapa analis Barat menyebut Turki sebagai  pasak pada as roda penting di kedua Eropa dan arsitektur keamanan Timur Tengah yang mempunyai peran penting dalam bidang intelijen.

Perang di Suriah yang berlarut telah membebani Turki yang harus menampung sekitar 2,5 juta pengungsi Suriah. Sejak tahun lalu  Turki  dilanda sejumlah serangan teror mematikan, dimana yang terbaru terjadi teror di bandara utama Istanbul, yang menewaskan lebih dari 40 orang. Dalam masalah keamanan dalam negeri, pemerintah Turki juga sedang memerangi pemberontak Kurdi di Tenggara, konflik yang tenang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi meradang setelah terjadinya  perang sipil Suriah. berpendapat bahwa penggulingan berusaha ini telah menyentuh kerentanan Turki.

Kronologis Kudeta (Coup D'etat) 

Pada  Jumat (15/7/2016) pukul 20.00 waktu setempat, pasukan pemberontak di Istanbul menutup landmark kota, Bosporus Bridge. Pasukan menembak ke kerumunan orang di Istanbul. Sebuah serangan diluncurkan pada pasukan khusus polisi yang setia kepada Erdogan di pinggiran Ankara, di mana ledakan terdengar oleh warga. Para pemberontak kemudian menyerbu stasiun televisi yang dikelola negara dan melakukan serangan  dari udara dengan helikopter. Komplotan kudeta juga berusaha untuk merebut gedung Parlemen dan markas intelijen di Ankara.

576523886

Para pendukung Presiden Erdogan yang militan akhirnya mampu menggagalkan upaya kudeta (Fofo : gettyimages)

Pada Jumat malam, komplotan kudeta telah menangkap beberapa komandan dari markas, staf militer dan membawa mereka ke lokasi yang dirahasiakan, menurut Jenderal Umit Dundar, yang ditunjuk sebagai kepala staf. Kepala staf militer Jenderal  Hulusi Akar, kemudian diselamatkan dalam operasi Sabtu pagi dari sebuah pangkalan udara di Ankara. Sebuah serangan diluncurkan pada pasukan khusus polisi yang setia kepada Presiden Erdogan di pinggiran Ankara, di mana ledakan terdengar oleh warga. Para pemberontak kemudian menyerbu stasiun televisi yang dikelola negara melalui serangan udara.

Upaya kudeta  dilakukan oleh faksi dalam Angkatan Bersenjata Turki yang mengatas namakan dirinya di bawah dewan  'the Peace at Home Council', dimana Dewan tersebut berusaha untuk menguasai beberapa tempat penting terutama di dua kota utama Ankara dan Istanbul. Kudeta itu kemudian dapat diakhiri satu hari kemudian ketika pasukan yang setia kepada Erdogan mengatasi kendali faksi militer yang secara terbuka diproyeksikan berupa kekuatan militer terhadap pemerintah Turki dan pimpinan militer.

Para pejabat mengatakan komplotan utama terdiri  dari Gendarmerie, kekuatan Polisi  Militer; Angkatan Udara; dan beberapa elemen dari Angkatan Darat. Saat awal, pihak militer menutup dua jembatan yang melintasi selat Bosporus, Pemberontak menggunakan  tank untuk  menguasai jembatan dan jalan raya. Pesawat-pesawat tempur menjatuhkan bom pada demonstran dan di parlemen serta fasilitas pemerintah lainnya. Hal tersebut dikatakan telah  mengubah  Istanbul dan ibukota, Ankara, menjadi zona perang.

Para pejabat AS dan Turki mengatakan saat terjadinya kudeta Erdogan sedang berlibur di Bodrum, Turki Selatan tetapi kemudian terbang ke Istanbul, dimana ribuan warga yang menentang pemberontak menyerbu tank-tank di jalan raya. Setelah terbang, tempat peristirahatannya diserang pasukan khusus yang meluncur dari helikopter dengan tali dan menembaki rumah yang sebelumnya ditempati Erdogan. Presiden Erdogan dari sebuah tempat rahasia berhasil mengimbau rakyat dan loyalisnya untuk melakukan perlawanan. Rakyat kemudian menyerbu para pemberontak.

akin ozturk

General Akin Öztürk, yang ditahan pada hari Sabtu (16/7/2016, dan dibawa ke pengadilan,  dituduh sebagai pimpinan dan perencana kudeta (Foto: vidalatinasd)

Para pemimpin militer loyalis  Erdogan melakukan perlawanan, memerintahkan jet tempur F-16 di Ankara untuk menembak jatuh sebuah helikopter yang digunakan oleh para pemimpin militer pemberontak. Kemudian dilakukan penangkapan, di antara mereka yang ditangkap adalah Jenderal Erdal Ozturk, komandan Angkatan Darat Ketiga (pasukan AD terbesar di Turki), dan Jenderal Adem Huduti, komandan Angkatan Darat Kedua yang mengontrol perbatasan negara, serta laksamana yang sampai saat ini diperintahkan penjaga pantai, dan beberapa kolonel di brigade mekanik dan unit militer kunci lainnya. Jenderal Akin Ozturk, mantan pimpinan  angkatan udara Turki yang juga merupakan anggota Dewan Agung Militer juga ditahan dan akan didakwa dengan pengkhianatan.

Pemerintah Turki pada hari Sabtu (16/7/2016) menegaskan kembali kontrol dan melakukan penangkapan massal setelah pelaku kudeta yang gagal. Selama kudeta berlangsung, telah jatuh korban tewas 312 orang baik dari komplotan kudeta maupun warga sipil, polisi dan tentara loyalis dan lebih dari 1.500 yang terluka. Terdapat kerusakan pada beberapa  gedung pemerintah  yang seperti gedung DPR Turki dan Istana Presiden.  Pemerintah Turki mengumumkan, melalui Menteri Kehakiman Bekir Bozdag bahwa jumlah yang ditahan karena dituduh terlibat dalam kudeta menjadi  6.000 orang. Diantara yang ditahan 2.839 anggota militer dan 2745 hakim,  15.000 staf pendidikan juga diberhentikan dan lisensi mengajar dari 21.000 orang guru yang bekerja di lembaga swasta dicabut, 626 sekolah dibekukan. Turki dinyatakan darurat selama tiga bulan.

turkey-f-16-fighting-falcon-using-flares2

Pesawat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hampir ditembak jatuh oleh  F-16 AU Turki pada malam kudeta dalam penerbangan ke Istanbul (Foto : fightersweep)

Angkatan Udara dituduh terlibat, dimana beberapa pilot berhasil menguasai pesawat tempur F-16  dan helikopter dan juga berhasil menguasai Pangkalan AU Ackinci, di luar Ankara. Selain itu beberapa personil di Pangkalan Udara Incirlik, pangkalan udara utama NATO yang merupakan home base pesawat tempur koalisi,  stockpile terbesar senjata nuklir di Eropa dan terdapat sekitar 1.000 tentara AS, juga diduga mengambil bagian dalam upaya penggulingkan pemerintah.

"Kami menduga bahwa Incirlik digunakan untuk mengisi bahan bakar pesawat yang dibajak tadi malam, sekelompok kecil pasukan Turki ditempatkan di Incirlik mendukung upaya kudeta," kata seorang pejabat loyalis Erdogan, Loyalis militer memutus aliran listrik ke Incrilik dan mengeluarkan larangan terbang. Semua penerbangan sipil ke Ankara diberhentikan, FAA memberhentikan semua penerbangan ke dan dari AS ke Turki.

Kudeta digagalkan sebagian oleh massa dari orang-orang yang menyerbu ke jalan-jalan dalam menanggapi imbauan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada pukul 03.00/LT yang mendesak warga untuk turun ke jalan, disiarkan melalui  TV anchor iPhone. Gabungan militer dan polisi loyalis dengan prakyat pendukung Erdogan membuat pengkudeta tidak berdaya. Pada Sabtu hingga Minggu, pemerintahan Erdogan melakukan pembersihan mereka yang diduga terlibat, dimana dari pemberitaan terakhir sekitar sepertiga jenderal telah ditangkap. Erdogan kemudian menginginkan diberlakukannya lagi hukuman mati.

Posisi Politik Turki Dibawah Erdogan Sebelum Kudeta

Recep Tayyip Erdogan, sebagai pemimpin AKP, pertama terpilih sebagai Perdana Menteri pada tahun 2002, suara pemilu  (51,79% suara). Mantan Organisasi Sekretaris Kerjasama Jenderal Islam Ekmeleddin Ihsanoglu, yang maju sebagai calon bersama 13 partai oposisi termasuk Partai Republik Rakyat (CHP) dan Partai Nasionalis Gerakan (MHP), menjadi pemenang kedua dengan 38,44%. Wakil pemimpin Partai Rakyat Demokratik (HDP) Selahattin Demirtas, yang menerima dukungan dari 8 partai sayap kiri, menjadi pemenang  ketiga dengan 9,76%.

Erdogan-2

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang nyaris tewas saat terjadinya kudeta (foto : independent)

Erdogan mengambil alih jabatan sebagai Presiden dari Abdullah Gül pada 28 Agustus 2014, sedangkan Ahmet Davutoglu, yang terpilih menjadi pemimpin AKP, menjadi Perdana Menteri pada tanggal yang sama. Erdogan lahir 26 Februari 1954 adalah seorang politikus Turki yang menjadi Presiden ke-12 dari Turki. Dia sebelumnya dia menjabat sebagai Perdana Menteri Turki (2003-2014) dan sebagai Walikota Istanbul dari tahun 1994 sampai 1998. Ia mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada tahun 2001 dan memimpin ke tiga kemenangan pemilihan umum pada tahun 2002, 2007 dan 2011. Erdogan latar belakang politiknya berbasis  Islam dan juga penganut sebagai seorang demokrat, administrasi dirinya  konservatif, yang mengawasi kebijakan ekonomi sosial konservatif dan liberal.

Setelah berpisah dengan sekutu lamanya  Fethullah Gulen, Erdogan membawa reformasi peradilan skala besar yang dikritik karena mengancam independensi peradilan. Sebuah  skandal korupsi pemerintah sebesar US $ 100 miliar pada tahun 2013 menyebabkan penangkapan sekutu dekat Erdogan,dimana Erdogan juga  dicurigai setelah rekaman dirilis di media sosial.  Pemerintah Erdogan dituduh   merendahkan konstitusi, melakukan pelanggaran HAM melakukan tindakan keras terhadap pers dan media sosial, dan memiliki akses untuk memblokir Twitter, Facebook dan YouTube pada berbagai kesempatan. Wartawan oposisi dan politisi menjuluki kepemimpinanya  sebagai seorang "diktator", bukan seorang pemimpin yang demokratis.

gulen

Fethullah Gulen Tokoh Agama Turki yang kini bermukim di AS Dituduh Erdogan sebagai dalang kudeta (Foto : turkisamericannews)

Pada saat sebelum kudeta, Presiden AS Barack Obama berhasil  meyakinkan dan mendapat dukungan Erdogan yang selama ini enggan untuk melibatkan pasukan Turki yang sebagian besar dari suku Kurdi untuk melakukan penyerangan ke kelompok Islamic State  di desa-desa yang berada sekitar  60 mil dari perbatasan Suriah-Turki.

Selama ini Turki takut mengoperasikan pasukan yang mayoritas suku  Kurdi tersebut,  khawatir mereka akan  mendirikan negara di Suriah Utara. Bentangan perbatasan dekat kota Suriah Manbij adalah bagian terakhir dari wilayah yang dikontrol Islamic State di daerah yang sangat penting untuk kelangsungan kekuasaan  kelompok militan itu. Di Irak, ibu peperangan (kota terakhir dibawah Islamic State) adalah Mosul. Amerika akan menekan teroris Islamic State di Irak dengan mendukung pasukan Irak dan di Suriah dengan pasukan Turki.

Amerika Serikat terus  berusaha melakukan  kerjasama yang erat dengan Turki dalam memerangi Islamic State, sementara Eropa telah mengandalkan Turki untuk membantu membendung aliran pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang di Timur Tengah ke Benua Eropa. Karena itu Turki pantas disebut sebagai negara jangkar karena memiliki peran penting sebagai anggota NATO dalam menjembatani Eropa dan Timur Tengah, dan sebagai tuan rumah untuk pesawat tempur AS dan koalisi.

Erdogan-and-Obama

Presiden Obama dan Erdogan saat pertemuan bilateral di Seoul (Foto :frontpagemag)

Sejak bulan Agustus 2015, pesawat tempur serang darat AS, A-10 Warthogs dan pesawat lainnya telah melalukan operasi udara secara  konstan dari Incirlik, posisi strategis Incrilik menyebabkan AU dari AS dan koalisi yang melakukan operasi udara  ke wilayah Irak dan Suriah lebih efisien.  Turki awalnya menolak permintaan AS saat kampanye melawan Negara Islam mulai tahun 2014 untuk melakukan operasi dari Incirlik. Tapi pada musim panas 2015, Ankara berbalik arah. Untuk para penerbang, itu berarti shorty  yang lebih pendek untuk menggempur target kubu Islamic State  di Suriah utara. Demikian pentingnya Incrilik Menhan AS menyebutnya sebagai ujung tombak.

Dalam posisi politik di kawasan, pada hari Senin (4/7/2016), Presiden Recep Tayyip Erdogan telah meminta maaf ke Moskow terkait ditembaknya  pesawat Su-24 oleh pesawat Turki yang menewaskan pilot Rusia setelah ditembak jatuh di Suriah pada bulan November 2015. Sementara pada hari itu juga,  Ankara dan Tel Aviv sepakat untuk memperbaiki hubungan yang rusak  pada tahun 2010 akibat serangan Israel pada kapal bantuan kemanusiaan Turki untuk Gaza yang mengakibatkan kematian 10 orang Turki.

10-thunderbolt-ii-16x24_print-700

Ilustrasi Pesawat Serang Darat (Air to Ground) A-10 Thunderbold-II (Warthog) yang dioperasikan dari Incrilik (Foto : karar)

Yang lebih menarik, pemimpin kelompok parlemen (HDP ) Idris Baluken, mengatakan  kepada Sputnik Turki bahwa, "menurut informasi yang diketahui, negosiasi rahasia sedang dilakukan antara Suriah dan Turki, di Aljazair dan beberapa negara lainnya. Sejauh diketahui, kepemimpinan Turki sedang mempersiapkan dasar bagi transisi dari retorika 'Assad musuh' untuk retorika 'Assad saudara'. tampaknya memang Damaskus telah mengirimkan surat permintaan maaf. "

Wartawan Turki, Murat Yetkin menyatakan, "Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan Pemerintah (AK Party) tampaknya akan mencoba untuk pulih dari regresi diplomatik dalam beberapa tahun terakhir, yang telah mengakibatkan Turki kehilangan teman-teman di kawasan," katanya. Politisi Sputnik menegaskan, "Kepemimpinan Suriah telah mencapai kemajuan besar., telah memastikan integritas negara, bisa melakukan kontrol atas sebagian besar dari wilayah Suriah sampai ke daerah-daerah di Utara. Kerjasama antara Turki dan Suriah sekarang tak terelakkan. Tegaknya kembali hubungan dengan Rusia akan menyebabkan pemulihan hubungan dengan Suriah. ini adalah hal yang sangat penting, "katanya.

Komplikasi Hubungan Politik dan Pertahanan AS-Turki 

Turki, sampai saat ini banyak dipuji sebagai model demokrasi di negara Muslim, kedua yang mirip adalah Indonesia, dengan mayoritas Muslim tapi mampu menggunakan sistem demokrasi. Ternyata Turki kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka masih  rentan terhadap jenis pergolakan dalam negeri oleh militer, dikenal sebagai negara dengan reputasi yang tidak stabil kronis.

blackhawk

Helicopter Angkatan Darat Turki, Sikorsky S-70A Black Hawk (Foto: airplane-pictures)

Beberapa pengamat mengatakan, banyak yang keliru  menilai sentimen dari orang-orang Turki, yang dari waktu ke waktu, meskipun penerapan demokrasinya masih tercederai dengan kondisi otoriter.  Militer demikian kuat disana, tetapi Turki kini  berubah menjadi bangsa yang sangat anti-militer. Terkait upaya kudeta, para pejabat senior pemerintahan Obama mengecam keras upaya oleh faksi militer yang mencoba untuk merebut kekuasaan di Turki, dan kegagalan kudeta ini disambut dengan sangat lega di dalam Gedung Putih dan Pentagon.

Pemerintah AS jelas sangat khawatir dan sangat bergantung pada dukungan Turki dalam menggempur Islamic State  dan untuk menyediakan tempat yang aman bagi ribuan imigran yang mengungsi dari Suriah.

Yang menjadi masalah besar dalam hubungan Turki-AS adalah penegasan Presiden Erdogan bahwa Fethullah Gulen, ulama Turki yang tinggal di Pennsylvania, berada di balik plot kudeta. Erdogan menuntut ekstradisi Gulen kepada pemerintah Amerika Serikat. "Begitu mereka menyerahkan bahwa teroris pusat di Pennsylvania kepada kami, semuanya akan jelas," kata Erdogan. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan lebih keras, hari Sabtu (16/7/2016) bahwa setiap bangsa yang mendukung Gulen akan dianggap sebagai "musuh" oleh  Turki.

john kerry

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan Amerika Serikat akan mendukung penyelidikan untuk menentukan siapa yang mendalangi upaya kudeta (Foto: pravdareport)

Sementara  Gulen membantah terlibat dalam upaya kudeta. Dia menyebut tuduhan Erdogan sebagai penghinaan dan mengatakan kepada wartawan surat kabar the Guardian dan media lainnya pada hari Sabtu bahwa upaya kudeta mungkin telah "dipentaskan" oleh pemerintah Turki sendiri.

Menteri Luar Negeri John F. Kerry,  mengatakan Amerika Serikat akan mendukung penyelidikan untuk menentukan siapa yang mendalangi upaya kudeta. Dia meminta Turki untuk mengirim bukti, yang mengatakan Amerika Serikat akan mempertimbangkannya di bawah standar hukum AS, kemungkinan ekstradisi. Kerry juga mengingatkan kepada  Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, bahwa "sindiran" keterlibatan Amerika dalam kudeta akan memiliki konsekuensi politik yang merusak.

Nah, pada masa  mendatang, bisa diperkirakan akan muncul komplikasi hubungan antara  AS serta NATO dengan  Turki sebagai sekutunya. Di satu sisi, para pejabat AS menjelaskan Turki sebagai "pendukung mereka", tetapi pada tahun terakhir kepemimpinan nasional Turki telah menunjukkan peningkatan kecenderungan kearah otoriter karena ia mengkonsolidasikan kontrol pemerintah. Erdogan telah lama mengecam AS karena membiarkan Gulen tinggal di Pennsylvania, yang menurutnya selalu berkomplot  melawan dia. Penolakan Amerika Serikat mengekstradisi  Gulen  ke Turki mungkin akan mempersulit hubungan yang sudah tegang tadi.

Dalam hal tuduhan keterlibatan AS, Kerry menolak implikasi bahwa AS telah terlibat dalam kudeta. "Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat  bersedia untuk memberikan bantuan kepada otoritas Turki melakukan penyelidikan kudeta tersebut. Tapi  sindiran publik atau klaim tentang peran apa pun oleh Amerika Serikat dalam upaya kudeta yang gagal  benar-benar palsu dan berbahaya bagi hubungan bilateral kita," demikian ditegaskan oleh Kirby, Juru bicara John Kerry.

Analisis Skenario Kudeta (Coup D'etat)

Arti dari coup d'état secara harfiah adalah  "pukulan negara, " atau penggulingan. Kudeta adalah tindakan  ilegal  terhadap pemerintahan yang sah oleh militer atau elit lain dalam sebuah negara. Sebuah kudeta dianggap berhasil ketika pengkudeta berhasil merebut dan memegang kekuasaan setidaknya selama tujuh hari. Kudeta Jumat malam itu jelas merupakan kegagalan upaya penggulingan Erdogan.

turki_tentara-kudeta_640x360_getty

Setelah kudeta digagalkan, para anggota militer yang ditangkap mendapat perlakuan keras dari loyalis Erdogan (Foto: bbc)

Banyak yang kemudian bertanya, mengapa faksi militer Turki melakukan kudeta? Militer selama ini dianggap sebagai lembaga terbesar di negeri ini. Tetapi dengan terjadinya kudeta yang berakhir dalam semalam tersebut, jelas  militer Turki akan mengalami mengalami penurunan citra dan performanya.

Para faksi yang melakukan kudeta memang  tidak suka dengan sikap otoriter Erdogan, selain itu  beberapa yang terlibat diketahui  memiliki hubungan dekat dengan pihak AS. Oleh karena itu di Pangkalan AU Incrilik terjadi penangkapan beberapa perwira Angkatan Udara dan juga Jenderal AU.

Turki mempunyai nilai sangat penting dan strategis bagi AS dalam upaya menurunkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, selain meredam Islamic State. Di kawasan ini, kepentingan utama AS adalah melindungi Israel dari ancaman abadi Suriah dan Irak, sementara penghancuran Islamic State adalah bagian skenario AS yang nampaknya menilai peran Islamic State sudah selesai dan apabila tidak diredam diperkirakan akan bisa menjadi bola liar yang mengancam dunia.

Russia-Su-24-Shot-Down-Video-Clip

Turki akhirnya meminta maaf kepada Rusia karena Menembak Su-24 Rusia di Wilayah Udara Suriah (Foto: financetwitter)

Dari situasi dan kondisi politik di Turki, nampaknya upaya Erdogan yang secara rahasia mengadakan pendekatan ke pemerintahan Suriah dibawah Bashar al-Assad, dan juga ke Rusia jelas tidak disukai AS. Turki bersama NATO tergabung dalam koalisi Amerika dalam mendukung Free Syrian Army yang memberontak kepada pemerintahan Suriah.  Erdogan kini sudah menyampaikan permintaan maaf kepada Rusia penembakan SU-24 Rusia di Suriah oleh pesawat AU Turki. Nah, pendekatan Erdogan ini jelas akan merubah peta politik di kawasan Timur Tengah dan sekaligus akan mengganggu upaya AS dan koalisi dalam penghancuran teroris Islamic State. Pemerintahan dibawah Barack Obama  nampaknya akan berusaha menyelesaikan persoalan IS sebelum pemilu presiden AS pada bulan November 2016.

Oleh karena itu apakah ada upaya keterlibatan pihak intelijen AS dalam kudeta tersebut dengan memainkan kartu Gullen dan Gullenis? Indikasinya,  Presiden Erdogan dan PM Turki Binali Yildirim demikian marah dan serius menuduh keterlibatan Gullen, dan bahkan  Menlu Turki Mevlut Cavusoglu secara terbuka menuduh AS terlibat.  Selama ini penanganan teroris Islamic State di Timur Tengah dipercayakan penuh kepada   CIA, demikian juga perang terhadap pemerintahan Bashar al-Assad jelas di kontrol  oleh pihak intelijen.  Kini penulis melihat kasus Turki nampaknya mirip dengan kasus penyerbuan ke Irak (Saddam Husein) Tahun 2003.

Presiden George Walker Bush, sebelum berakhirnya masa jabatan menyatakan mengaku menyesal dengan terjadinya Perang Irak. Dikatakannya,“Keputusan saya untuk melakukan perang terhadap Saddam Hussein (Presiden Irak) berdasarkan informasi intelijen yang tidak benar akhirnya menjadi penyesalan saya yang terbesar sebagai presiden,” demikian pengakuan Bush ketika diwawancarai oleh TV ABC, Selasa (2/12/2008).

Disini terlihat bahwa intelijen bisa memiliki skenario tersendiri dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Presiden Obama juga pernah menyatakan bahwa Director of National Intelligence, James Clapper dinilainya terlalu memandang enteng Islamic State. Oleh karena itu nampaknya di AS bisa saja terjadi perbedaan pandangan dan keputusan antara presiden dengan badan intelijennya.

cia logo

Logo CIA, Badan Intelijen Tangguh dari Pemerintah Amerika, mampu melakukan operasi intelijen di seluruh dunia (Foto :caribflame)

Oleh karena itu posisi baru yang diambil Erdogan jelas akan dapat mengganggu operasi udara AS dan koalisi dari Turki (Incrilik). Nah, dengan demikian, maka kudeta militer Turki yang mendadak dan terkesan kurang terencana tersebut merupakan "warning intelijen" terhadap Erdogan. Bukti lain yang menguatkan kecurigaan Erdogan tentang keterlibatan AS, sejak terjadinya kudeta, pemerintah Turki men-shut down pangkalan Incrilic untuk operasi penerbangan. Pasokan listrik ke Pangkalan Incrilik diputus.

Dari beberapa fakta dan analisis diatas, sementara dapat disimpulkan, bahwa kudeta di Turki memang tidak berdiri sendiri, ada conditioning operation  luar yang memengaruhinya. Kudeta terkesan mendadak dan tidak terencana dengan baik, walau diperkirakan sepertiga jenderal Turki terlibat. Penangkapan 6.000 orang jelas bukan jumlah yang sedikit, sementara hampir 3.000 militer ditahan. Dengan demikian maka perencana kudeta telah salah dalam membaca kondisi Turki dimana rakyatnya masih memegang prinsip-prinsip demokrasi, sementara aksi kekerasan oleh militer tidak mereka sukai.

erdogan and bashar al assad

Hubungan Presiden Erdogan dengan Presiden Bashar al-Assad yang semakin akrab dan berdamai sebagai negara tetangga, akankah AS ditinggalkan? (Foto:mihanpost)

Upaya Erdogan yang mencoba mencari solusi tersendiri untuk berdamai dengan Rusia dan Suriah penulis perkirakan menjadi salah satu detonator meletusnya kudeta tersebut. Pihak yang mampu merangsang dalam kasus ini hanya  intelijen yang sangat faham dengan sikon kawasan. Penolakan keterlibatan oleh Gulen, serta bantahan Menlu John Kerry atas keterlibatan kudeta, bukankah justru menunjukkan indikasi adanya keterlibatan intelijen yang tidak melaporkan operasi senyapnya kepada pimpinan nasional (Barack Obama), seperti yang terjadi pada Presiden Goerge Bush.  Apakah kali ini intelijen mengulangi kasus Irak?

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.