GNPF Sebaiknya Waspada Terhadap Adanya Penyusupan Teroris

16 November 2016 | 7:45 am | Dilihat : 1179

gereja oikumene yg di bom

Gereja Oikumene Samarinda yang di bom, beberapa motor rusak dan  lima cedera, termasuk seorang balita tewas (Foto : tempo)

Pelemparan bom (low explosive) ke Gereja Oikumene Sengkotek di Samarinda, Kalimantan Timur,pada hari Minggu (10/11/2016) sekitar pukul 10.10 Wita membuat publik terkejut. Lima jemaah gereja terluka akibat ledakan ketika mereka menuju parkiran, salah satunya  balita  bernama Intan Olivia Marbun (2,5 tahun), yang pada Senin pagi pukul 03.05 Wita akhirnya meninggal dunia  akibat luka bakar 78 persen yang dideritanya.

Pelaku pengeboman yang ditangkap masyarakat bernama Juhanda alias Jo adalah mantan napi terkait jaringan bom buku di Jakarta Tahun 2011. Kapolri Tito Karnavian yang mantan Kepala BNPT menjelaskan,  "Ini kan sudah ketahuan pelakunya. Jaringannya sudah diketahui. Ada lima orang lagi sudah ditangkap. Ini sedang dikembangkan," kata Tito kepada wartawan usai upacara HUT ke-71 Korps Brimob di lapangan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat (14/11/2016). Menurut Tito, pelaku bom ini merupakan pelaku lama yang diduga terlibat dalam kasus bom di Serpong dan bom buku. "Jadi dia sekarang bergabung dengan JAT (Jamaah Anshorut Tauhid)," katanya.

Juhanda Jaringan Teroris Bom Buku 2011

Juhanda alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, 32 tahun, pernah menjalani hukuman pidana 3,5 tahun pada 2012 karena kasus teror bom buku 2011 dan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014. Dalam pemeriksaan ternyata Juhanda si pelaku tinggal di sebuah masjid di Kelurahan Sengkotek, di sekitar Gereja Oikumene.

juhanda bom samarinda

Penampilan pelaku pengeboman, Juhanda saat diadili karena kasus bom buku Maret 2016 (Foto : nasional tempo)

Rangkaian serangan bom buku terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 15 dan 16 Maret 2011 yang dipimpin oleh Pepi Fernando. Mereka yang dikirimi bom buku adalah kantor KBR 68H Utan Kayu, Jakarta Timur,  Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pol) Gories Mere, ke kediaman artis Ahmad Dhani dan ke kediaman Ketua Umum Partai Patriot Yapto S Soerjosumarno.

Selain itu mereka juga  terlibat dalam kasus temuan bom rakitan di Kota Wisata, Gunung Putri, Bogor (18/3/2011), rangkaian bom di Jalan Raya Puspitek pada (25/3/ 2011), ledakan bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, pada (21/4/2011), rencana pengeboman di jalur keluar pintu tol Jagorawi, fly over Cawang UKI, dan temuan bom tabung di bawah jembatan Banjir Kanal Timur (BKT) Cakung, Jakarta Timur.

Pepi Fernando alias M. Romi alias Ahyar  seorang pria lulusan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat dan mantan kameramen stasiun tv swasta, merupakan pimpinan  Negara Islam Indonesia (NII) wilayah Bekasi, Jawa Barat (Baca : http://ramalanintelijen.net/pepi-aktor-intelektual-bom-buku-terancam-hukuman-mati/ ).  Pepi kemudian keluar dari NII wilayah Bekasi karena berbeda pemahaman tentang jihad.  Dia kemudian membentuk kelompok sendiri, menghendaki agar Jihad dilakukan dengan jalan perang, terhadap orang yang dianggapnya kafir atau musuh Allah. Kelompok baru Pepi ini beranggotakan Maulana, Firman, Watono, Nano, Darto, Wari, Febri Hermawan alias Awi, Ahmad, Toib, Hendrik, dan Juni Kurniawan. Bersama Hendi Suhartono alias Zokaw, dia  diduga menjadi otak dan pelaku utama bom buku, bom Puspiptek, hingga bom dekat pipa gas Serpong.

jaringan-pepi-fernando

Pepi Fernando merupakan otak teror bom yang ditemukan di Gading Serpong, Desa Cihuni, di Tangerang. Dari tangannya polisi menemukan sembilan paket bom ditemukan. Berat setiap paket bervariasi antara 10 hingga 15 kilogram. Pepi dihukum 18 Tahun penjara (Foto : merdeka)

Jaringan Pepi Fernando sebanyak 18 orang ahirnya dapat ditangkap Densus 88, dan kemudian diadili. Pengadilan Negeri Jakarta Barat sejak 31 Oktober 2011 menggelar sidang perdana terhadap tujuh tersangka bom buku. Ketujuh tersangka tersebut, yakni Muhammad Maulana Sani alias Maulana alias Alan alias Asaf, Watono alias Tono alias Anton alias Jafar, Ade Guntur alias Sagod, Mugianto alias Mugi, Febri Hermawan alias Awi alias Toge, Juhanda alias Jo, dan Darto (Baca : http://ramalanintelijen.net/teroris-bom-buku-mulai-disidang ).

Juhana yang pernah ditahan di Nusakambangan diketahui  bergabung dengan kelompok Jemaah Ansyarut Tauhid (JAT) yang didirikan Abubakar Baasyir, terpidana kasus terorisme yang sudah berbaiat kepada pimpinan Islamic State (sebelumnya ISIS), Abu Bakr al-Baghdadi. Dukungan Abu Bakar Ba’asyir terhadap IS banyak dipengaruhi oleh Aman Abdurrahman (Tauhid Wal Jihad). Sikap Abu Bakar Ba’asyir tersebut menimbulkan perpecahan di JAT yang tokoh-tokohnya menentang IS dan condong ke Jabhat al-Nusra (Afiliasi Al Qaeda). Tokoh JAT adalah  M. Achwan. Sementara  Fuad Al Hazimi dan Iim Ba’asyir memisahkan diri dan membentuk Jamaah Ansharut Syariah yang condong ke Al Qaeda.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengakui ada 500 WNI yang bergabung dan berperang bersama Islamic State di Suriah. Sebanyak 70 orang meninggal dan 53 orang kembali ke Indonesia. "Sekarang ini ada 500 orang di Suriah sana dan ada sekitar ada 70-an orang yang meninggal dan ada 53 orang yang kembali ke indonesia. Ini akan jadi permasalahan juga buat kita," ujar Suhardi di kantor Kepala Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (26/10/2016). Suhardi mengatakan, ke-53 orang yang baru kembali dari Suriah tentu akan membawa masalah jika tidak ditangani oleh pemerintah.

bahrun-naim-bahrumsyah-abu-jandal_20160121_175349

Tiga WNI tokoh Islamic State di Suriah yang masih mengendalikan sel Teror di Indonesia, Bahrun Naim, Bahrumsyah dan Abu Jandal, jelas memonitor kondisi politik di Indonesia (Foto : serambi Indonesia)

GNPF Sebaiknya Waspada Kemungkinan Disusupi Teroris

Seperti kita ketahui dalam sebulan terakhir  di DKI Jakarta telah terjadi aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Gerakan Nasional Pembela Fatwa-MUI (GNPF-MUI) dengan ujung tombak Front Pembela Islam (FPI). Unjuk rasa dengan nama Aksi Bela Islam-I dan II telah dilaksanakan di Jakarta dengan pengerahan massa umat muslim yang menuntut agar Cagub Ahok ditangkap karena dituduh menista agama Islam, Ulama dan Al Quran.

Ahok kini sedang diperiksa oleh penyidik Polri dan para pengunjuk rasa masih menunggu keputusan penyidikan tersebut. GNPF nampaknya mulai menyuarakan akan melakukan aksi Bela Islam III pada 25 November 2016. Misalnya, Tokoh FMM (Forum Masyarakat Minang), Dr H Irfianda Abidin Datuak Panghulu Basa menyatakan, karena aksi damai yang telah dilakukan sebe­lumnya tidak membuahkan hasil, hingga sekarang presiden maupun pihak kepolisian belum juga bertin­dak tegas untuk mem­berikan hu­kuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukan Ahok, maka mereka membuka pendaftaran untuk aksi Bela Islam III.

Dengan demikian maka apabila keputusan penyelidikan terhadap Ahok tidak ditingkatkan menjadi penyidikan, maka kemungkinan unjuk rasa Aksi Bela Islam III akan berlangsung. Mengingat aksi kedua jauh lebih besar dari aksi pertama, maka besar kemungkinan aksi ke tiga juga akan jauh lebih besar. Mereka merencanakan akan membagi sasaran ke Istana dan DPR dengan titik kumpul seputaran HI.

Analisis

Sementara itu beberapa pihak percaya bahwa unjuk rasa yang kemudian menjadi sangat high politicking tersebut sangat terkait dengan agenda Pilkada DKI Jakarta. Solidaritas muslim bela Islam kemudian terus bergulir bak bola salju menjadi isu nasional, dan berkembang ke daerah-daerah lainnya.

jumpa-pers-puluhan-tokoh-nasionalis-dan-Islamis-bersatu-mendukung-Aksi-Bela-Islam-di-bawah-GNPF-MUI-di-Jakarta_by-Syakur_2342

Jumpa pers GNPF sebelum melaksanakan aksi Bela Islam II ( Foto : hidayatullah)

Aksi Bela Islam II yang diperkirakan mencapai jumlah diatas satu juta menurut informasi hanya diikuti sedikit pendukung dari kelompok moderat Islam, terbesar dari kelompok konservatif dan radikal. Dari beberapa informasi tokoh yang muncul, mayoritas peserta demontrasi nampak dari lembaga atau ormas yang konservatif. GNPF embrionya berasal dari Forum Umat Islam (FUI) organisasi payung konservatif dengan tokoh Habib Rizieq Syihab sebagai pembina, sebagai ketua adalah KH.Bachtiar Nasir. Para tokoh agama Islam yang muncul terlihat dan tercatat jelas, ditambah beberapa artis dan politisi serta tokoh nasionalis.

Langkah Presiden yang melakukan pendekatan ke PBNU, Pengurus Pusat Muhamaddiyah, LDII serta mengun­dang 17 pimpinan organisasi massa Islam ke istana Negara bertujuan untuk me­nenangkan umat Islam. Selain itu  juga untuk langkah pengamanan agar Islam moderat tidak ikut bergabung dalam aksi Bela Islam selanjutnya, mereka sudah sepakat mendinginkan suhu politik. Presiden juga melakukan road show ke satuan-satuan TNI dan Polri dalam menjaga soliditas persatuan dan kesatuan.

Tidak terbayangkan apabila kelompok moderat ikut bergabung, jumlah pengunjuk rasa akan sangat besar, dapat mengakibatkan citra serta kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Jokowi akan turun dengan drastis. Informasi menyebutkan, ada yang menyarankan menggeser isu dari tangkap dan periksa Ahok kemudian menjadi turunkan presiden. Ini jelas berbahaya karena akan mengarahkan massa menjadi lebih militan dalam melakukan penekanan.

Nah, walaupun belum didapat informasi keterkaitan antara bom Samarinda dengan aksi unjuk rasa di Jakarta serta beberapa daerah lainnya, para korlap demo sebaiknya memahami bahwa kini jaringan terorisme tidur masih ada dan aktif tetapi belum beraksi. mereka yang ex Suriah itu dapat dinilai ahli dan mampu berbaur dengan massa untuk melakukan aksinya. Umumnya mereka menunggu momentum dan memanfaatkan peristiwa demi kepentingan mereka serta menungu arahan dari pemain utamanya (handler) yang di Suriah.

idlib

Jaysh al-Fatah, adalah pasukan gabungan yang dibentuk dua bulan lalu oleh Jabhat al-Nusra, cabang Al Qaeda lokal, dan Ahrar al-Sham, kelompok pemberontak Islamis yang lain, serta faksi pemberontak yang lebih kecil . Kekuatan baru telah cepat menjadi salah satu aktor militer paling sukses dalam perang Suriah setelah mengalahkan rezim Assad dalam pertempuran kunci bulan ini (Foto : International BT)

Beberapa waktu lalu    muncul tayangan  video dari kelompok Jaysh al Fatah yang melakukan ancaman terhadap Ahok. Kelompok ini merupakan organisasi yang berafiliasi ke Al Qaeda. Seperti dijelaskan oleh Kepala BNPT ada 53 WNI yang pernah bergabung di Suriah sudah kembali, mereka kini kembali menyebar ke tempat asal masing-masing. Nampaknya sulit merubah ideologis yang jelas sudah terpatri berupa kepercayaan berjihad dan mati syahid.

Arahan dari Abu Muhammed al-Adnani, Juru Bicara Islamic State (kini tewas), "Sementara struktur inti kami di Irak dan Suriah diserang, kami telah mampu memperluas dan telah menggeser beberapa perintah melalui media dan struktur kekayaan ke negara-negara yang berbeda. Dari sanalah akan dilakukan serangan." Perintah ini bagi sel IS adalah fatwa yang harus dilaksanakan. Karena itu penulis agak khawatir dengan perkembangan yang terjadi.

Dari kasus Juhanda yang dua kali terlibat dalam pemboman, menurut penulis, apabila unjuk rasa Aksi Bela Islam III akan tetap dilaksanakan, para korlap harus betul-betul memonitor kemungkinan akan adanya penyusupan. Juhanda seperti dikatakan Kapolri kini sudah bergabung dengan JAT yang telah berba'iat ke Abu Bakr al Baghdadi (IS).  Pertanyaan intelijen, mengapa mendadak dia  melakukan aksi pemboman ke Gereja?. Dalam sebuah proxy war, terorispun bisa dimanfaatkan dalam sebuah konspirasi (UUK bagi badan intelijen). Setiap aksi terorisme bisa dibaca sebagai pesan bahwa mereka masih eksis dan bisa menginspirasi lainnya. Sebuah konspirasi ataupun insurgency umumnya bersembunyi dalam kompartmentasi.

Penutup

Eksistensi Daulah Islamiyyah/Islamic State (IS)  telah membawa dampak signifikan terhadap konstelasi politik dan pergerakan jaringan radikal kanan di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan ideologi yang sangat radikal, IS telah memicu berbagai gangguan keamanan berupa konflik/perang terbuka, tidak hanya melawan Rezim Syi’ah di Suriah-Irak, namun juga pemerintahan negara-negara yang dianggap thogut hingga sesama muslimin yang dianggap murtad. Instabilitas keamanan dan politik  di Jakarta apabila terganggu merupakan keuntungan bagi kelompok – kelompok terorisme. Apabila unjuk rasa kemudian dilarikan ke chaos, atau mereka yang meng-chaos-kannya, maka yang akan merugi adalah umat muslim di Indonesia secara umum tidak dilihat dari kelompok manapun.

isis remaja

 Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) “Potensi dukungan ada di kalangan muda, terdapat 4 persen warga berusia 22-25 tahun dan 5 persen yang masih sekolah yang mengenal ISIS menyatakan setuju dengan perjuangan ISIS,” kata Djayadi di Kantor SMRC, Jl. Cisadane No. 8, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (22/1) Foto : SerambiMata.

Ketidak pastian dan ketidak jelasan sikon di Indonesia akan memberikan ruang gerak bebas bahkan wilayah bagi kelompok terorisme. Jamaah asal Indonesia yang bergabung dengan IS dan kini (53 orang) yang kembali telah dibekali kemampuan kemiliteran mumpuni disertai pengalaman langsung di medan perang. Dengan kemampuan tersebut, maka perlu menjadi atensi bagi Pemerintah Indonesia sebagaimana ancaman yang pernah mereka sampaikan, yakni akan kembali ke Indonesia untuk memerangi pemerintah dan aparatnya (Polisi) yang dianggap sebagai thogut.

Propaganda cyber media menjadi salah satu senjata Islamic State untuk menghimpun dukungan dan merekrut anggota, menyebarkan pengaruh, hingga publikasi pola-pola aksi/teror. Hal tersebut menjadi salah satu potensi ancaman mengingat penyebarannya yang sangat masif dan sulit dibendung. Propaganda hitam kini banyak bertebaran di sosial media dan tidak jelas siapa yang memosting terkait kasus penistaan agama Islam, tujuan penyebaran isu untuk mengeruhkan suasana dan mengadu domba.

Oleh karena itu penulis mengingatkan agar umat Muslim yang akan melakukan unjuk rasa pada waktu-waktu  mendatang, sepanas apapun hati ini, tetapi sebaiknya dipikirkan keamanan unjuk rasa, jangan sampai ditunggangi oleh kelompok kepentingan dengan memancing emosi. Para teroris terlatih, mahir memanfaatkan segala sesuatu yang terkait dengan simbol Islam. Waspada!

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.