Apapun Nantinya Keputusan Hakim, Jessica Tetap Menerima Hukuman

4 February 2016 | 12:59 am | Dilihat : 1561

face killer

Ilustrasi The Smiley Face Killers (Foto : Youtube)

Dalam beberapa hari terakhir, perhatian publik terus terarah kepada jalannya pengusutan kasus terbunuhnya  Mirna  karena minum kopi yang dicampur sianida. Jessica, teman kuliah Mirna  di Australia kini dijadikan tersangka pembunuhan oleh penyidik Polda Metro Jaya.

Kalau diperhatikan, dalam kasus ini yang sangat diuntungkan adalah media yang kemudian berlomba-lomba mencari dan menyiarkan berita untuk menjawab pembenaran bahwa Jessica memang pembunuhnya. Tidak kurang, talk show setiap saat dengan para bintang ahli disegala macam ilmu pengetahuan, ada Dokter, Psikiater, Victimologi, Komunikasi, Hukum Pidana, Hipnotis, Penyidik, dan lain-lainnya.  Hanya intelijen yang belum diundang barangkali. Sebenarnya penyelidikan kasus yang dilakukan oleh polisi tidak jauh berbeda dengan penyelidikan intelijen.

ILC Jessica

Darmawan Salihin (kiri),Ayah Korban, sebagai Bintang ILC (Foto : Youtube)

Dari semua talk show kasus ini, yang menempati rating tertinggi nampaknya Indonesia Lawyer Club, dengan host sang Presiden ILC, Pak Karni Ilyas, tetangga penulis. ILC kemarin dikemas dengan apik, dimunculkan para ahli yang menyampaikan keahliannya, termasuk Yudi sang pengacara Jessica yang lugu. Menurut penulis, bintang utama diantara semua ahli-ahli tersebut adalah ayah korban yaitu Darmawan Salihin. Pada acara ILC, hari Selasa (2/2/2016) itu, Darmawan membuat pemirsa terkesima, setelah dia mengungkapkan beberapa fakta tentang anaknya serta keterkaitan Jessica yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Memang Darmawan yang paling tahu apa hubungan antara Mirna dengan Jessica serta kemungkinan motif.

Para ahli menjadi terdiam dan justru menyimak penjelasan Darmawan yang tampil tegas, antara sedih dan marah, tetapi dia tegar dan menyampaikan secara runut rangkaian dan fakta yang dijumpainya. Darmawan jelas sangat kuat informasinya, menurut penulis sudah menjadi bahan keterangan yang disebut intelijen. Yaitu informasi yang sudah dikonfirmasi dan dilakukan penilaian olehnya. Informasinya dapat dikatakan sahih, karena dia mencari penyebab kematian sang anak yang dia cintai.

Kekuatan penyidikan dalam kasus ini berada di penyidik Polda Metro Jaya yang terus melengkapi bukti-bukti, diperkuat pendapat para ahli serta rangkaian fakta-fakta yang sebagian dibeberkan oleh Darmawan, akan sulit nampaknya bagi Jessica bisa lolos dari pasal jeratan tuduhan pembunuhan berencana. Terlebih Darmawan pada akhir sessi menyatakan mendapat tambahan informasi dari Australia. Kehancuran pertahanan nama Jessica serta penasihat hukumnya menjadi porak poranda denga dimunculkannya Darmawan di ILC.

Nah, menurut penulis kini persoalannya, walau Jessica sudah ditetapkan sebagai tersangka, memang sebaiknya tetap ada keadilan terhadapnya. Dalam usaha melindungi dirinya, Jessica bersama tim kuasa hukumnya pernah mendatangi Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) hari Rabu (27/1) sekitar pukul 13.25 WIB. Lebih dari satu jam Jessica mencurahkan isi hatinya kepada anggota Komnas HAM, Siane Indriani. "Dia mengeluhkan dirinya seolah-olah diperlakukan sebagai tersangka baik oleh polisi maupun media," kata Siane kepada awak media setelah Jessica pulang.

Talk show di media kini menunjukkan publik lebih berfihak kepada korban, suatu hal yang wajar, karena secara psikologis orang akan berfihak kepada pihak yang lemah atau yang menjadi korban. Sebelum melalui proses pengadilan, mayoritas dari kita yang mengikuti berita Mirna nampaknya dalam hati setuju kalau Jessica pembunuhnya dengan racun sianida. Menurut para pakar hukum, hukuman pembunuhan berencana adalah lima tahun dan maksimal adalah hukuman mati.

Senyum-Jessica-Kumala-Wongso_-Si-Saksi-Kunci-Kasus-Kematian-Mirna-Antonius-5 (1)

Jessica Kumala Wongso menyunggingkan senyum lebar seusai melakukan wawancara di SCTV Tower, Jakarta, 28 Januari 2016 (Foto : news.liputan6)

Dalam perjalanan kasus, menurut penulis, kemunculan Jessica di beberapa talk show media elektronik justru merugikan dan akan memberatkan dirinya. Mengapa penasihat hukumnya tidak memikirkan pengaruh psikologis tersebut kepada penonton. Apa untungnya bagi Jessica? Bagi media, inilah makanan empuk yang bisa menaikkan rating. Tetapi bagi Jessica talk show itu justru bisa menaikkan hukuman yang akan diterimanya, apabila nanti dia ditetapkan bersalah. Bayangkan kebencian yang akan muncul apabila dia ditetapkan bersalah atau mengaku membunuh, sedang selama ini dia terus tersenyum.

Penulis hanya ingin mengatakan bahwa apabila dinyatakan bersalah, maka dia akan menjalani hukuman yang akan lama sekali, atau dia berpeluang akan menghadapi regu tembak. Akan tetapi apabila Jessica dinyatakan bebas (walau peluangnya sangat kecil), kini saja dia sudah mulai menerima hukuman dari masyarakat. Dia sudah mendapat cap sebagai pembunuh berdarah dingin. Hidupnya akan sangat tidak nyaman, belum tentu semua orang bisa menerima kehadirannya. Publik sudah mengambil keputusan.

Inilah bukti pameran kekuatan media  masa kini, yang mampu memengaruhi emosional pemirsa. Karena ingin tahu ending story, maka kita rajin nonton televisi, kira-kira begitu arahnya. Pemberitaan kasus ini lebih lama bila dibandingkan berita serangan teror Thamrin. Sebagai penutup, menurut penulis, bagian pentingnya penyidik tetap harus menemukan motif pembunuhan tersebut. Membunuh membutuhkan motif yang kuat dan keberanian, ini harus diungkap.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Intelligence Analyst www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.