Analisa dan Prediksi Pilkada DKI Putaran Pertama

13 February 2017 | 8:42 am | Dilihat : 1729

pilkada-dki-2017 (2)

Tanggal Pemilihan Pilkada DKI Jakarta Rabu 15 Februari 2017 (Foto:Dakwatuna)

Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada 15 Februari 2017 memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia, dimana resiko terbesarnya adalah sisi keamanan. Bagi masyarakat yang sudah tertata apik sistem demokrasinya saja, seperti AS, setelah Donald Trump terpilih masih menyisakan kerusuhan akibat rasa tidak puas masyarakat dan kecurigaan keterlibatan intelijen asing (Rusia). Kini, Indonesia berani melakukan pilkada serentak, jelas dengan resiko cukup besar. mengingat pembelajaran demokrasi dapat dikatakan belum mapan dan difahami dengan benar.

Dalam sebuah pemilihan langsung, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ukuran peluang siapa pemenangnya bisa tergambar dari sebuah kegiatan survei, walaupun aksi atau operasi bawah tanah lainnya bisa memengaruhi hasilnya. Sebagai contoh, pilpres di AS, dicurigai adanya aksi pembobolan dari intelijen Rusia yang menguntungkan Trumph. Hasil survey lebih cenderung menyatakan Hillary yang lebih kuat, tetapi pada kenyataannya Trumph yang menjadi presiden.

Di Indonesia, pemilu langsung menjadi cukup rentan, karena menjadi ajang persaingan dari kubu-kubu politik, yang masih dicurigai kadang melakukan aksi kotor agar jagonya menang. Tindakan tak terpuji terjadi seperti serangan fajar, konstituen palsu, penggatian surat suara, dan bahkan pembobolan sistem (IT), walaupun kemudian tidak memengaruhi hasil akhir. Nampaknya KPU sebagai penangung jawabnya kini  lebih canggih dan waspada, termasuk parpol pendukung juga makin waspada terhadap operasi pemenangan dengan aksi meniru intelijen.

pasangan-calon-gubernur-wagub-dki-jakarta_20161127_192735

Tiga pasangan, Paslon-1 (Agus-Sylvi), Paslon-2 (Ahok-Djarot), Paslon-3 (Anies-Sandi), foto : Tribunnews.Menado)

Penulis dalam kaitan ini hanya mencoba menganalisis dan memprediksi peluang mana diantara tiga pasangan calon (Paslon) DKI Jakarta yang memiliki peluang yang lebih besar menang satu putaran, atau sesuai UU berpeluang ke putaran kedua.  Referensi yang dipergunakan adalah  beberapa sumber hasil survei dari beberapa lembaga. Tidak dipungkiri bahwa bisa saja lembaga yang menjadi konsultan akan meningkatkan hasil survei paslon yang menyewa mereka. Tetapi semua akan terlihat apabila kemudian dibandingkan satu dengan lainnya. Konstituen jangan terpengaruh dalam kampanye terbuka walaupun yang hadir demikian banyak, semua bisa di rekayasa melalui PT Demo misalnya (mengerahkan masa dengan imbalan).

Penentuan Kemenangan Paslon

Kemenangan dari pasangan calon di DKI Jakarta dalam pilkada 15 Februari 2017 telah diatur dalam Undang-Undang Nomor : 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu:

Pasal 11 ayat 1 ("Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.)

Pasal 11 ayat 2 ("Dalam hal tidak ada pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang memperoleh suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diadakan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur putaran kedua yang diikuti oleh pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua pada putaran pertama.")

Faktor-faktor Yang Memengaruhi

Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi adalah tiga kali debat ketiga paslon yang dilakukan secara terbuka dan menarik. Debat dilaksanakan pada:

Tina-Talisa---039-Kalah-Greget--039--dengan-Ira-Koesno-Pimpin-Debat-Pilgub-DKI

Dua Anchor Debat Paslon Gub/Wagub DKI Jakarta, Ira Koesno dan Tina Talisa (Foto :NauOne)

-Jumat, 13 Januari 2017, Cagub-Cawagub, Pembangunan Sosial Ekonomi untuk Jakarta -Jumat, 27 Januari 2017 Cagub-Cawagub, Reformasi Birokrasi, Pelayanan Publik, dan Pengelolaan Kawasan Perkotaan. -Jumat, 10 Februari 2017, Cagub-Cawagub, Kependudukan dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Jakarta.

 Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun mengatakan range undecided voters yang menonton acara debat sekitar 45 sampai 54 persen. Artinya ada separuh dari swing voters yang berpotensi bisa terpengaruh oleh penampilan tiga pasang kandidat dalam debat tersebut. Menurut Rico, jika undecided voters berkisar 15 sampai 20 persen, artinya ada sekitar 8 sampai 10 persen suara tambahan yang diperebutkan ketiga kandidat. Sisanya yakni sekitar 10 persen calon pemilih akan menunggu hari pencoblosan (menunggu manuver hingga hari H.)

"Contohnya,  aksi damai di Istiqlal (112) dan dinamika rangkaian isu identitas yang masih bergulir di luar. Atau bila ada peningkatan ekskalasi isu skandal korupsi yang menerpa siapa saja dari ketiga calon," ujar Rico. Debat pamungkas Pilgub DKI 2017 mengusung tema 'Kependudukan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Perempuan, Antinarkoba, dan Kebijakan terhadap Penyandang Disabilitas'. Debat yang dipandu oleh Alfito Deannova berjalan seru dengan adu gagasan hingga saling 'serang' kepribadian antarcalon, ini akanmemengaruhi oleh karena itu disebut sebagai debat pamungkas.

habib-rizi_1482753944zieq

Sedikit banyak Tokoh ini Rizieq Shihab) yang disebut sebagai Imam Besar FPI menjadi tokoh perlawanan Petahana (Ahok), mampu melakukan tekanan dan menyentuh solidaritas umat Muslim, sehingga gerakan kaum Muslim menjadi besar di Jakarta 

Litbang Kompas mengeluarkan polling terkait penampilan Paslon pada debat terakhir Pilkada DKI 2017 di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (10/2/2017). Ahok-Djarot dianggap paling menguasai masalah. Dari skala 1 hingga 10, paslon dua ini mendapatkan skor 7,47. Anies-Sandi, skor 7,02, Agus –Sylvi skor 6,25. Terkait program kerja, Ahok-Djarot mendapat skor 8,07, Anies-Sandi 7,41, dan terakhir  Agus-Sylvi 6. Terkait cara penyampaian, Anies-Sandi dianggap paling baik, skor 7,68, Ahok-Djarot 7,52, dan terakhir Agus-Sylvi 6,49.

Ketika para responden ditanyai apakah mungkin berubah pilihan, 17,1 persen menyatakan masih mungkin (bisa berubah pilihan), 4,0 persen ragu-ragu, dan 77,1 persen menyatakan sudah mantap dengan pilihannya. Sebanyak 1,1 persen menyatakan rahasia/tidak tahu/tidak menjawab.

CEO Alvara Hasanuddin  mengatakan bahwa hasil survey menyebutkan terjadi kejutan tentang pergeseran dan penurunan suara pada pasangan nomor urut satu (Agus-Sylvi) dan diikuti oleh kenaikan yang dialami paslon nomor urut tiga (Anies-Sandi), paslon dua konsisten. Hasanuddin menambahkan, kendati pasangan Ahok-Djarot ada di posisi pertama, namun diakui terjadi sedikit penurunan elektabilitas yang disebabkan oleh polemik dengan Ketum MUI Ma'ruf Amin.

"Penurunan ini tidak signifikan, karena justru yang terkena banyak imbas penurunan adalah pasangan nomor urut satu (Agus-Sylvi). Ahok agak turun cuma nggak terlalu signifikan dan ternyata suara pasangan nomor urut satu di kalangan Nahdliyin juga turun. Ini menunjukkan respon yang dilakukan oleh Pak SBY yang dilakukan di medsos ternyata berpengaruh di kalangan Nahdliyin juga," jelas Hasanuddin.

"Jadi dalam analisa kami, pengaruh dari performance debat dan tidak ikutnya paslon tiga  dalam merespon perselisihan antara Ahok dan Ma'ruf Amin ternyata positif bagi pasangan Anies-Sandiaga," kata Hasanuddin.

Menurut survei Populi Center debat memengaruhi perilaku pemilih. yang dapat melihat program kerja calon gubernur realistis atau tidak. "Beberapa janji-janji atau kata-kata tidak sesuai dengan yang dikerjakan," tutur Usep dari Populi. Pasca debat pertama, Ahok-Djarot menempati posisi pertama diikuti Anies-Sandi, sedangkan Agus-Sylvi melorot ke urutan ketiga. "Temuan survei kami menunjukkan bahwa elektabilitas Ahok-Djarot meningkat pasca-debat dengan 36,7 persen di posisi pertama. Posisi kedua Anies-Sandi meningkat dengan persentase 28.5 persen," tutur Evita di Kantor Populi Center,  Minggu (22/1/2017).

Kenaikan itu dilihat dari survei elektabilitas sebelumnya yang merinci bahwa pada Desember 2016 lalu, persentase Ahok-Djarot berada di 34,2 persen dan Anies-Sandi di 25,0 persen,   Agus -Sylvi mengalami penurunan drastis, dari 32.2 persen pada  Desember 2016 menjadi 25 persen pasca-debat. Survei dilakukan pada 14 hingga 19 Januari 2017.

Pengaruh SBY, Megawati, dan Prabowo pada Pilkada DKI 2017

Lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) melakukan survei opini dan pengaruh Ketua Umum Partai Demokrat SBY, Ketua Umum PDI-P Megawati, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo terhadap masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI pada Pilkada DKI 2017.

Survei dilakukan antara tanggal  19-24 Oktober 2016 dengan melibatkan 694 responden yang tersebar di 5 kota dan satu kabupaten di DKI Jakarta. Survei dilakukan secara face to face dengan metode multistage random sampling. Margin of error tersebut sebesar 4 persen. Survei tersebut menggunakan dana internal KedaiKOPI.

Pertama, ditanyakan apakah sosok SBY membuat responden memilih pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana. SBY merupakan ayah Agus sekaligus ketua umum parpol pengusung Agus-Sylviana. Hasilnya, 29,8 persen responden memilih Agus-Sylvi karena faktor SBY, sementara 53,5 persen menyatakan faktor SBY tidak mempengaruhi pilihan mereka pada Agus-Sylvi dan 16,7 persen tidak menjawab.

Kedua saat ditanyakan apakah sosok Megawati membuat responden memilih pasangan Ahok-Djarot, hasilnya, 24,5 persen menyatakan iya, 58,6 persen menyatakan tidak, dan 16,9 menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Ketiga ditanyakan  apakah sosok Prabowo membuat responden memilih pasangan Anies -Sandi, hasilnya, 22,9 persen menyatakan iya, 56,3 persen menjawab tidak, dan 20,8 persen tidak menjawab.

survei-spin-didukung-pemilih-prabowo-anies-sandi-unggul-jauh_m_108185

Survei Kedai KOPI : Sosok Prabowo membuat responden memilih pasangan Anies -Sandi, hasilnya, 22,9 persen menyatakan iya, 56,3 persen menjawab tidak, dan 20,8 persen tidak menjawab.

Beberapa Hasil Survei 

Penulis mencoba pulbaket beberapa hasil survei lembaga-lembaga, dimana menurut pakem intelijen ada dua yang dinilai yaitu lembaga sebagai sumber (independensi) serta isi informasinya. Dari hasil keduanya, kemudian setelah dilakukan konfirmasi akan didapat gambaran kasar intelijen potensi serta peluang paslon apakah akan menang satu putaran atau maju ke putaran kedua. Inilah beberapa hasil survei sebagai referensi.

Charta Politika Ahok-Djarot 36,8 persen, Anies-Sandiaga 27 persen, Agus-Sylviana 25,9 persen, tidak menjawab 10,3 persen. Periode 17-24 Januari 2017, metode multistage random sampling dengan margin of error 3,5 persen

Poltracking Indonesia Anies-Sandiaga 31,5 persen, Ahok-Djarot 30,13 persen, Agus-Sylviana 25,75 persen, tidak menjawab 12,62 persen. Periode 24-29 Januari 2017. 800 responden, metode multistage random sampling dan wawancara kuesioner dengan margin of error 3,46 persen.

Lembaga Konsultan Politik Indonesia (LKPI) Agus-Sylviana 26,8 persen, Anies-Sandiaga 26,2 persen, Ahok-Djarot 25,8 perse, tidak menjawab 21,2 persen, Periode 13-26 Januari 2017, 600 responden, metode multistage random sampling dan wawancara dilakukan secara tatap muka yang dipandu dengan kuesioner dengan margin of error 3,9 persen.

KOMPAS.com Litbang Kompas pada 28 Januari-4 Februari 2017 dengan melibatkan 804 responden di 237 kelurahan dan 402 Rukun Tetangga. Hasil survei yang dilakukan oleh 27 koordinator lapangan dan 133 interviewer tersebut menunjukkan Ahok-Djarot unggul dengan angka 36,2 persen disusul Anies-Sandi dengan angka 28,5 persen. Agus-Sylvi ada di posisi buncit dengan 28,2 persen.

mega paslon 2

Survei Kedai KOPI : Sebanyak 24,5 persen sosok Megawati membuat responden memilih pasangan Ahok-Djarot, 58,6 persen menyatakan tidak, dan 16,9 menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab (Foto : Megapolitan.Kompas)

Alvara Research Center Elektabilitas Ahok-Djarot 38,3 persen, Anies -Sandi 32,6 persen, Agus-Sylvi 20,1 persen. Survei yang dilakukan 6-8 Februari 2017 ini memakai metodologi multistage random sampling dengan 811 responden yang di survei di 105 kelurahan. Sebaran sampel sendiri dibagi dalam lima wilayah, yakni Jakarta Barat sebanyak 185, Jakarta Pusat 85, Jakarta Selatan 192, Jakarta Timur 225, dan Jakarta Utara sebanyak 124. Margin of error kurang lebih 3,4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden yang disurvei mayoritas mengaku bukan anggota ormas, yakni sebanyak 60,4 persen. Sedangkan yang mengaku anggota ormas NU sebanyak 30,8 persen, Muhammadiyah 6,9 persen, dan ormas lain-lain di bawah 1 persen. Dalam top of mind publik sangat mengingat pasangan Ahok-Djarot, sebanyak 55,4 persen, Anies-Sandi 27,5 persen, dan Agus-Sylvy 17,1 persen.

Hasil survey menyebutkan kejutan terutama tentang pergeseran dan penurunan suara pada pasangan nomor urut satu (Agus-Sylvi) dan diikuti oleh kenaikan yang dialami paslon nomor urut tiga (Anies-Sandiaga), paslon dua konsisten. CEO Alvara Hasanuddin menambahkan, kendati pasangan Ahok-Djarot ada di posisi pertama, namun diakui terjadi sedikit penurunan elektabilitas yang disebabkan oleh polemik dengan Ketum MUI Maruf Amin.

SBY Agus

Survei KedaiKOPI :  29,8 persen responden memilih Agus-Sylvi karena faktor SBY, sementara 53,5 persen menyatakan faktor SBY tidak mempengaruhi pilihan mereka pada Agus-Sylvi dan 16,7 persen tidak menjawab (Foto :PageNews)

"Penurunan ini tidak signifikan, karena justru yang terkena banyak imbas penurunan adalah pasangan nomor urut 1 (Agus-Sylvi). Ahok agak turun cuma nggak terlalu signifikan dan ternyata suara pasangan nomor urut satu di kalangan Nahdliyin juga turun. Ini menunjukkan respon yang dilakukan oleh Pak SBY yang dilakukan di medsos ternyata berpengaruh di kalangan Nahdliyin juga," jelas Hasanuddin.

"Jadi dalam analisa kami, pengaruh dari performance debat dan tidak ikut dalam merespon perselisihan antara Ahok dan Maruf Amin ternyata positif bagi pasangan Anies-Sandiaga," lanjut Hasanuddin.

Populi Center Menilai debat ketiga Calon Gubernur DKI-Wakil Gubernur DKI Jakarta di Pilkada DKI tidak terlalu banyak memengaruhi elektabilitas. Hasil survei yang dilakukan Populi Center memperlihatkan elektabilitas Agus -Sylvi,  25,0 persen. Ahok-Djarot 36,7 persen, Anies-Sandi 28,5 persen. Survei dilakukan pasca-debat pertama antara tanggal 14-19 Januari 2017. Usep menuturkan debat dapat mempengaruhi perilaku pemilih. Contohnya, pemilih dapat melihat program kerja calon gubernur realistis atau tidak. "Beberapa janji-janji atau kata-kata tidak sesuai dengan yang dikerjakan," tutur Usep dari Populi.

Pascadebat pertama, Ahok-Djarot menempati posisi pertama diikuti Anies-Sandi, sedangkan Agus-Sylvi melorot ke urutan ketiga. "Temuan survei kami menunjukkan bahwa elektabilitas Ahok-Djarot meningkat pasca-debat dengan 36,7 persen di posisi pertama. Posisi kedua Anies-Sandi meningkat dengan persentase 28.5 persen," tutur Evita di Kantor Populi Center, Jalan Letjen S Parman, Slipi, Jakarta Barat, Minggu (22/1/2017).

Kenaikan itu dilihat dari survei elektabilitas sebelumnya yang merinci bahwa pada Desember 2016 lalu, persentase Ahok-Djarot berada di 34,2 persen dan Anies-Sandi di 25,0 persen. Sementara pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni malah mengalami penurunan drastis. Cagub-cawagub DKI nomor urut satu itu mengalami trend penurunan elektabilitas dari 32.2 persen pada bulan Desember 2016 menjadi 25 persen pasca-debat.

Menarik diperhatikan adalah angka undecided voters meningkat dari 8.5 persen pada Desember 2016 menjadj 9.8 persen pasca-debat pertama. Ini menunjukkan debat pertama memberikan sinyal positif karena membuat pemilih menjadi rasional dan cenderung wait and see terhadap performa ketiga paslon yang ada di debat kedua dan ketiga nanti.

Survei dilakukan dengan menggunakan wawancara terhadap 600 responden di enam wilayah DKI Jakarta termasuk Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah acak bertingkat atau multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Indikator Politik Indonesia Agus-Sylvi : 23,6%,  Ahok-Djarot 38,2%, Anies - Sandi: 23,8%, belum menentukan pilihan: 14,5%. Survei dilakukan tanggal 12-20 Januari 2017. Responden sebanyak 808 orang, metode survei menggunakan stratified multistage random sampling. Adapun data yang dianalisis hanya responden asli sebanyak 697 dengan margin of error kurang lebih 3,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Elektabilitas Agus-Sylvi 22,5% , Ahok-Djarot 34,8% , Anies - Sandi: 26,4%, belum menentukan pilihan: 16,4%. Survey dilakukan pada 14-22 Januari 2017. Berdasarkan hasil survei ini, pilihan para pemilih dilandasi beberapa faktor, di antaranya sudah ada bukti nyata hasil kerja sebanyak 20,9 persen, tegas dan berwibawa sebanyak 15,4 persen, berpengalamanan di pemerintahan sebanyak 14,5 persen, dan pintar atau berpendidikan sebanyak 10,3 persen. Responden, 800 orang. metode survei stratified multistage random sampling. Margin of error kurang lebih 3,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dibiayai sendiri oleh SMRC.

LSI Denny JA                                                                                                                 Agus-Sylvi 30,9 persen, Ahok-Djarot 30,7 persen, Anies-Sandi 29.9 persen ,dan yang belum menentukan pilihan 8,5 persen," kata Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, dalam paparan survei Jalan Pemuda Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/2). Survei dilakukan antara tanggal 8-9 Februari 2017 dengan metode multistage random sampling. Responden sebanyak 1.200 orang melalui proses wawancara. Margin of error 2,9 persen.

Poltracking

Survei yang dilaksanakan tanggal 24-29 Januari 2017 dengan menggunakan metode stratified-multi stage random sampling yang melibatkan 800 responden. Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR mengatakan elektabilitas tiga  pasangan.  Anies-Sandi mendapatkan dukungan  31,5 persen, Ahok-Djarot sebanyak 30,13 persen dan pasangan nomor satu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada peringkat ketiga dengan elektabilitas sebesar 25,75 persen.

Analisis

Dari data-data yang berlaku, penulis melihat rentang hasil survei sejak bulan Januari dimana walau debat tidak mempengaruhi secara siknifikan, konstituen akan bisa melihat langsung para pasangan calon tersebut. Dari data survei, dengan mengandalkan fakta yang mereka keluarkan (berbeda tetapi tidak terlalu ekstrem), dengan referensi waktu debat, penulis mendapatkan hasil sebagai berikut :

Hasil beberapa lembaga survei tersebut rentang antara 12 Januari-26 Januari : Agus-Sylvi berada pada prosentase elektabilitas  (22,5-26,8), Ahok-Djarot (25,8-38,2), Anis-Sandi (23,8-28,5).

Hasil survei antara tanggal 28 Januari -9 Februari, prosentase elektabilitas   : Agus-Sylvi diantara (20,1- 30,9), Ahok-Djarot (30,7-38,3), Anis-Sandi  (29,9-32,6).

Setelah debat ketiga yang dinilai sebagai pamungkas, sayangnya tidak dimunculkan hasil surveinya. Debat jelas mempengaruhi konstituen, walau tidak signifikan. Menurut Alvara Research Center, paslon Agus-Sylvi setelah mengikuti debat kedua mengalami penurunan drastis yang mana konteks Nahdliyin kurang mengapresiasi sikap serta statement Pak SBY terkait kemelut antara Ahok dengan Ketua MUI yang juga Rais Aam NU. Alvara mendapat angka elektabilitas Agu-Sylvi hanya 20,1 persen. Dari survei pula terlihat bahwa pengaruh SBY terhadap konstituen dalam mendukung Agus sebagai anaknya sangat kuat. Karena itu begitu pemilih asal NU di DKI kecewa kepada SBY maka, otomatis elektabilitas Agus merosot. Ahok juga mengalami penurunan sedikit, justru Anis-Sandi mendapat keuntungan elektabilitas.

Melihat range undecided voters, ada 10 persen yang akan menunggu waktu pencoblosan, maka survei menunjukkan bahwa faktor external lain seperti aksi damai 112  akan banyak menuntungkan paslon Anis-Sandi yang dinilai paling mendekati keinginan selain Ahok. Juga menurut survei, dipanggilnya Sylviani sebagai cawagub dengan sangkaan korupsi pembangunan Masjid saat menjabat sebagai walikota akan berpengaruh.

Debat terakhir Paslon dua jelas akan mempengaruhi keputusan konstituen. Menurt hasil survei disebutkan bahwa paslon dua Ahok-Djarot dinilai responden menguasai program kerja dan penguasaan masalah, paslon tiga  (Anis-Sandi) dinilai  terbaik dalam penyampaian.   Debat edisi terakhir Pilkada Jakarta diakhiri dengan sejumlah perubahan dari ketiga pasangan calon. Jika dalam debat sebelumnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang tampil menyerang, posisi itu digantikan oleh Agus-Sylvi. Sementara itu, menurut pengamat politik, Ahok-Djarot, dinilai sangat kuat dalam closing statement dan penguasaan masalah serta data.

Nah, kini bagaimana perkiraan hasil Pilkada DKI Jakarta tersebut, setelah didapatkan fakta-fakta tersebut diatas? Penulis sangat terkesan dengan pernyataan juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest di era kepemimpinan Presiden Barack Obama menanggapi kritik Obama saat berbeda pendapat dengan Direktur Intelijen Nasional AS. Ia mengatakan, Senin (29/9/2014) bahwa Presiden Obama tidak menyalahkan pejabat intelijen yang dinilainya telah meremehkan ancaman Negara Islam dan melebih-lebihkan kemampuan pasukan keamanan Irak untuk melawan mereka.

Earnest mengatakan, "Analisis Intelijen adalah bisnis yang sulit, dan pada akhirnya, akan menjadi prediksi," katanya. Kemudian terbukti bahwa Direktur tersebut yang purnawirawan AU yang benar prediksinya, yang mengalahkan ISIS di MOsul adalah militer Irak yang dilatih AS.

Oleh karena itu, analisis intelijen yang penulis buat kini merupakan sebuah prediksi, bahwa Pilkada di DKI Jakarta akan melalui dua babak (dua putaran). Sulit apabila ada paslon yang mengharapkan satu putaran. Saran penulis, jangan mencoba bermain api dengan permainan kotor, karena kini rakyat semakin terbuka dan melek demokrasi, sangat berbahaya, anda bisa di diskwalifikasi.

Sementara ini menurut penulis, pasangan calon nomor urut dua sangat kuat untuk maju ke putaran dua, bahkan dari data yang ada perolehan suaranya bisa diatas hasil survei tertingginya 38,3 persen, bahkan kemungkinan bisa mencapai antara 40-45 persen. Kemudian untuk paslon kedua yang berpeluang masuk adalah paslon nomor urut tiga (Anis-Sandi), dari rentang elektabilitasnya paslon satu (Agus-Sylvi) lebih rendah dibandingkan paslon tiga. Selain itu aksi damai umat Islam dinilai lebih nyaman dengan Anis. Survei menyebutkan faktor masalah SBY yang masuk ke wilayah konflik Ahok-Ketua MUI justru dinilai negatif oleh kaum Nahdliyin. Juga citra Cawagub Sylviana turun karena sangkaan penyelewengan anggaran di DKI.

Apakah kesempatan Agus-Sylvi habis, menurut penulis masih ada walaupun lebih kecil dibandingkan dua lainnya. Memang bisnis analisis intelijen, terlebih politik sangat sulit, dibalik kemegahan kedua cabang ilmu ini terdapat korelasi kesamaan yaitu kemampuan mengondisikan. Tetapi inilah prediksi yang penulis coba buat, semoga menambah wawasan kita bersama, dan ada manfaatnya, salam.PRAY.

Pemulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.