Ada Yang Menggoreng Papua?

2 November 2011 | 11:35 am | Dilihat : 909

Pada tahun 1981-1983 penulis pernah bertugas di Biak, saat itu namanya masih Irian Jaya, kemudian dirubah menjadi Papua. Penulis yang saat itu masih berpangkat Mayor bertugas sebagai Pa Kontra Subversi, staf dari Asisten Pengamanan di Komando Daerah Udara VII. Kota Biak umumnya aman tenteram, walau di Biak Utara diketahui ada kelompok kecil separatis yang dipimpin oleh tokohnya yang bernama Richard Awom.

Beberapa kali penulis dilibatkan dalam operasi pengamanan baik ke Jayapura, Nabire dan Enarotali yang kadang terjadi pergolakan dari mereka yang menamakan dirinya OPM (Oprganisasi Papua Merdeka). Beberapa orang diketahui memiliki senjata api tetapi pada umumnya mereka menggunakan panah yang bergerigi.

Dengan berjalannya waktu, dimana negara Indonesia menerapkan sistem demokrasi,  masyarakat Papua terlihat menjadi lebih bebas menyampaikan pendapat dan berbuat. Kekerasan demi kekerasan sejak awal tahun 2000-an kerap terjadi. Dikalangan masyarakat Papua sendiri terjadi bentrok kekerasan, seperti bentrok yang terjadi antar  warga di Kampung Kimak, Distrik Ilaga, kabupaten Puncak Jaya, dalam proses pilkada antara masa pendukung Simon Alom dan Elvis Tabuni yang menewaskan 19  warga sipil.

Situasi Papua memanas pada dua bulan terakhir, dimana tercatat selama bulan Oktober saja eskalasi kekerasan meningkat di tiga daerah di Papua yaitu di wilayah pertambangan Freeport, Timika, Padang Bulan, Abepura dan di Mulia, Puncak Jaya. Di tiga wilayah itu, tercatat sebanyak 14 orang menjadi korban tewas.

Dalam insiden di PT Freeport jatuh korban tewas, Petrus Ayamiseba, Briptu Jamil, Risza Rahman, Aloysius Margono, Albertus Laitawono dan Yunus.  Yang memprihatinkan, terjadinya penyergapan dan penembakan di Airport Mulia Puncak Jaya, hingga  menewaskan anggota Polri AKP Dominggus Oktavianus Awes. Selain itu terjadi kekerasan saat  kasus pasca pembubaran Kongres Rakyat Papua III, korban tewas adalah James Gobay (25), Yosaphat Yogi (28), Daniel Kadepa (25), Maxsasa Yewi (35), Yacob Samonsabra (53), dan Pilatus Wetipo (40). Satu jenazah lainya ditemukan pada Rabu 26 Oktober di Perumnas III Waena-Abepura. Penyebab kematian masih dalam penyelidikan.

Selain korban diatas, tiga personil TNI AD juga mengalami luka tembak pada bulan Juli 2011. Tiga personel tersebut, yaitu Sertu Kopassus Kamaru Zamal, Pratu Herber dari kesatuan Yonif 753 yang bertugas di Papua, dan Pratu I Kadek Widana dari kesatuan Yonif 751 BS. KASAD, Jenderal Pramono Edhie Wibowo  mengatakan, serangan itu dilakukan kepada prajurit TNI yang tengah membangun kawasan permukiman warga. “Kita tengah melakukan program pembangunan wilayah. Di daerah itu memang jarang dijamah,” katanya.

Selain itu juga terjadi penyerangan terhadap anggota TNI lainnya, Pratu Herber dari kesatuan Yonif 753 yang bertugas di Papua juga korban penembakan kelompok separatis ketika dia bersama empat prajurit lainnya melakukan Patroli di puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya pada 12 Juli.

Dalam menyikapi perkembangan kekerasan bersenjata di Papua, Kasad menyatakan “Dengan meningkatnya aksi kekerasan, TNI akan meningkatkan pengamanan di Papua, khususnya, di Puncak Jaya. TNI tidak bisa tinggal diam,” katanya. Selanjutnya ditegaskannya, "TNI tidak akan mentolelir aksi-aksi separatis yang hendak mengganggu NKRI. Saya tegaskan NKRI harga mati. Tidak bisa ditawar,” katanya. Tetapi TNI tidak akan melakukan operasi militer hanya menggunakan satuan yang ada di wilayah.

Menteri Pertahanan  Purnomo Yusgiantoro mengatakan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak mewakili mayoritas masyarakat Papua. Namun, dia mengakui terdapat embrio separatis dari sejumlah wilayah di daerah ini. Hal ini tidak menjadi masalah. "Di Papua organ kehidupan berjalan baik. Tidak ada yang berkeinginan macam-macam. Memang ada embrio separatis, tetapi kecil."

Dikatakannya, terkait kesejahteraan masyarakat Papua, sekitar 80 persen pendapatan dari daerah itu dikembalikan lagi ke Papua, mencapai Rp28 triliun per tahun. Menurutnya, jumlah nilai tersebut sangat besar dengan jumlah penduduk sebanyak tiga juta orang. Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebutkan ada sejumlah dana di daerah itu yang "mengendap" tidak terpakai. Hal ini seharusnya ditindaklanjuti  instansi terkait.

Dalam kasus penyerangan PT Freeport, milik perusahaan dari Amerika. Hingga kini proyek raksasa tersebut terus mendapat gangguan serangan bersenjata. Untuk sementara ini para penyerang ditengarai sebagai anggota TPN-OPM yang berhasil dipengaruhi oleh kelompok adat untuk bersama memperjuangkan hak atas dana satu persen dari PT. Freeport Indonesia.

Saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Juwono Sudarsono menengarai kemungkinan persaingan bisnis industri komoditi penyebab serangan di Papua. Dikatakannya, "Ada pihak yang tidak senang dengan daya kompetisi PT Freeport dalam kondisi global dimana harga komoditi sudah mulai naik lagi setelah krisis selama enam bulan terakhir."  Juwono mengatakan kemungkinan ini tidak bisa diabaikan karena dalam sejarah kompetisi global komoditi, antara lain tembaga, emas atau gas, masalah antara keamanan dan stabilisasi seringkali terkait dengan masalah persaingan.

Jadi dalam kasus di Papua, sebenarnya apa yang terjadi? Dalam status sosisl, memang terlihat masyarakat masih demikian terbelakang cara hidupnya, sementara dengan uang yang Rp28 triliun dan penduduk tiga juta, apabila dikelola dengan benar, bukankan sudah mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dalam hal ini, apakah indikasi yang disampaikan mantan Menhan Pak Juwono demikian adanya?

Bukan tidak mungkin keterlibatan asing dalam memanasi dan menggoreng kondisi masyarakat yang sangat rentan menerima masukan luar "lebih baik merdeka," sasaran utamanya adalah Freeport?. Dalam hal ini nampaknya Amerika dengan daya endusnya yang demikian maju, harusnya tidak tinggal diam apabila mengetahui ada unsur-unsur asing tertentu yang ikut main dan bersaing disana. Mereka punya kepentingan besar di Papua. Dengan kasus pemogokan, serangan senjata, Freeport AS jelas mengalami kerugian besar dan apabila tidak segera ditangani semuanya jelas akan merugi.

Kita jangan kalah dengan kelompok separatis, penyokongnya masih sungkan membesarkan kelompok tersebut. Kita harus waspada, apabila ada yang men-suply senjata dalam jumlah besar disana, masyarakat yang sangat sederhana itu dengan ringan akan menyerang siapapun tanpa berfikir panjang.  Kini  teror yang mereka lakukan harus ditangani lebih serius, karena sekecil apapun duri, bisa menyebabkan infeksi dan membuat seluruh tubuh meriang. Separatis di Philipina Selatan dan Thailand Selatan adalah contoh kasus serupa yang hingga kini sangat sulit diatasi pemerintahnya masing-masing. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : faktapos.com        
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.