SURVEI PERSEPSI PUBLIK, 17 PERSEN RESPONDEN, SANGAT DAN TIDAK MUNGKIN TERTULAR COVID

30 September 2020 | 4:45 pm | Dilihat : 124

Dalam beberapa artikel, penulis mengemukakan saran, untuk meredam terus meningkatnya kasus positif Covid19, selain melibatkan pakar antropologi dan sosiologi sebaiknya juga melibatkan pakar psikologi dan pakar intelijen, khususnya spesialis penggalangan (conditioning).

Covid menular terutama karena masalah perilaku manusia, secara umum karena terjadinya kontaminasi terhadap norma, adat istiadat, budaya kita yang berlaku (baca penerapan demokrasi kebablasan).

Oleh karena itu telah terjadi degradasi kepercayaan, rasa hormat dan kurang menghargai terhadap orang tua, orang yang lebih tua, dan bahkan terhadap pemerintah. Kita sadari bahwa kita masih berproses untuk taat kepada hukum danaturan yang berlaku secara penuh, serta mendisiplinkan diri tanpa tekanan.

Dari update kasus covid sampai hari Selasa (29/9/2020), terhitung sebagai hari ke-212 didapat data nasional sebagai berikut ;

Kasus positif total 282.724, positif baru (1 hari) 4.002, total meninggal 10.601, meninggal baru (1 hari) 128 jiwa, prosentase meninggal 3,75%, Total sembuh 210.437, sembuh baru satu hari 3.567, prosentase sembuh 74,43 % , madih sakit 61.686, positif per satu juta penduduk 1.049, meninggal per-satu juta penduduk 39, Jumlah penduduk 269,6 Jt.

Pada sore hari di media CNN Indonesia, ditayangkan survey BPS tentang Persepsi Kemungkinan terinfeksi/ tertular Covid19. Hasil yang memprihatinkan dari survei tersebut (lihat data) terkait Covid19, ada 17% responden Indonesia yg menyatakan sangat tidak mungkin dan tidak mungkin terinfeksi/tertular Covid19. Kalau jumlah penduduk Indonesia kini 269,6 juta, maka dari hasil survei tersebut ada 45,8 juta warga yang yakin dan sangat yakin tidak mungkin akan tertular.

Melihat fakta survei BPS tesebut, memang sepertinya upaya pembuatan vaksin Sinovac yang bekerjasama dengan Bio Farma (saat ini sedang uji klinis tahap-3 di Unpad, Bandung) sepertinya akan menjadi kunci dan way out untuk mengatasi ancaman Covid19. Kita sudah 212 hari diserang Covid19, terlihat kondisi psikologis publik dalam memahami bahaya virus corona ini masih tidak seperti yang diharapkan.

Merubah persepsi sekelompok orang menurut ilmu psikologi sosial (intelligence conditioning) sangat sulit, karena banyak variabel dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Pressure apabila dikerjakan ditabukan karena dianggap melanggar HAM. Oleh karena itu mari kita dukung pemerintah dan Presiden Jokowi sambil berdoa menunggu uji klinis tahap-3 vaksin tersebut sukses dan dapat di produksi secara masal.

Sambil menunggu kesiapan vaksin , para petugas sebaiknya tetap mengawasi perapan protokol kesehatan Covid di masyarakat dengan tegas. Paling tidak diharapkan bisa mengurangi jumlah penularan dari kelompok yang 17% tadi.

Sebagai informasi yang menggembirakan, info dari koordinator team uji klinis, Prof.Kusnandi Rusmil, kapasitas mesin PT Bio Farma untuk memproduksi vaksin sudah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 240 juta.

Semoga Allah melindungi bangsa Indonesia dibawah pimpinan Presiden Jokowi, dengan barokahNya, Aamiin, Ya Rabb. Salam sehat.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.