PERINGATAN 19 TAHUN TEROR WTC, INTELIJEN AS KECOLONGAN, KINI DISERANG BIOWEAPON?

11 September 2020 | 1:27 pm | Dilihat : 191

download (2)

Tower ke-2 WTC setelah di tabrak pesawat yang dibajak teroris pada serangan 11 September 2001 (foto :Reuter)

Hari ini adalah peringatan 19 tahun aksi teror spektakuler 9/11 yang dilakukan 19 orang dari kelompok pelaku bunuh diri dengan membajak empat pesawat AS.

Teror yang dilakukan pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai peristiwa 911, dimana pembajak menabrakkan dan mampu meruntuhkan menara kembar World Trade Center di New York yang merupakan simbol keperkasaan ekonomi AS, selain itu juga Pentagon sebagai Markas Pertahanan juga diserang, ditubruk pesawat.

Warga dan pemerintah AS menangis dan marah, dan dimulailah operasi kontra teror untuk mengejar siapa dibalik itu semua. Dalam mengikuti pembacaan aksi teror maupun kontra teror, hanya bisa dilakukan dengan disiplin ilmu intelijen, karena disitulah teror sebagai sebuah mazhab ideologis bermukim merupakan bagian (sarana) dari fungsi intelijen penggalangan (conditioning).

Teroris Al-Qaeda dan ISIS

Ayman al-Zawahiri pengganti Osama bin-Laden yang telah tewas disergap NavySEALs di Pakistan mengatakan Amerika bukanlah "kekuatan mistis " dan bahwa para mujahidin, pejuang suci Islam itu di tanahnya sendiri bisa mengalahkannya dengan serangan.

Zawahiri (biasa dipanggil juga Zawahri) sebagai pucuk pimpinan Al-Qaeda, yang kepalanya dihargai USD 25 juta oleh pemerintah AS, diperkirakan bersembunyi di wilayah perbatasan Pakistan - Afghanistan, atau di Afrika Utara. Karena lama tidak bersuara diperkirakan sudah Zawahiri tewas.

Al-Qaeda kini semakin lemah, di Suriah, Al-Qaeda, diwakili oleh cabang mereka Hurras al-Din tisak kuat, di Yaman, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) lemah, banyak penimpinnya tewas ditembak drone . Di Mali, kelompok Al-Qaeda di Islamik Maghreb (AQIM) tokohnya terbunuh. Hanya kelompok Al Shabaab sebagai cel Al-Qaeda yang masih mampu beraksi di Somalia dan Kenya.

Pada tahun 2020 ini, Al-Qaeda fokus ke Yerusalem, akan terus "membebaskan Palestina" dan AS tetap musuh nomor satu. Mereka melempar propaganda bahwa Washington gagal melindungi warganya saat wabah Covid-19 terjadi, dan kelompok kulit berwarna diperlakukan sangat buruk di AS.

Peristiwa 9/11 menjadi studi kasus bahwa sehebat apapun intelijen sebuah negara, tetap ada celah yg bisa ditembus. Terbukti juga Sishanudnas AS yg demikian canggih juga kecolongan. Berbahayanya dari aksi-aksi teror, terutama karena inisiatif di tangan mereka, mereka sukses bila kontra teror lengah. Intelijen sebuah negara harus teratur dan terstruktur dengan benar, tidak lengah.

Selain Al-Qaeda muncul kelompok ISIS yang pernah berjaya di Irak, Syria, Libya, mampu menarik penempur dari banyak negara. ISIS jaya pada 2014 dipimpin Abu Bakr Al-Baghdadi, banyak menguasa ladang minyak. Setelah Baghdadi tewas dalam serangan Komando pasukan AS di provinsi Idlip, Suriah pada Sabtu (26/10/2019) malam, ISIS mulai melemah terus ditekan militer AS dan Rusia. 20 tokohnya tewas sebagian besar terkena serangan drones. Para penempur Luar Negeri kembali ke negaranya karena tidak digaji.

Atas perintah tokoh ISIS, Al-Adnani sebelum tewas, operasi teror ISIS diperintahkan menyerang negara2 Eropa, seperti di Perancis, Inggris, Swedia dan mebyerang negaranya masing-masing. ISIS tidak berhasil menyerang AS, serangan yang terjadi sporadis hanya berupa lone wolf.

Di kawasan Asia Tenggara ISIS berkembang pada kelompok Abu Sayyaf, di Filipina Selatan. Terakhir terjadi suicide bombing di Plaza Sulu pada 26 Agustus 2020. Dilakukan Nanh (Nanah), dan Indah Nay dua janda teroris ISIS yang melakukan bom bunuh diri di Plaza kota Sulu, merenggut 15 nyawa dan 78 orang terluka. Di Indonesia benih ISIS masih ada tetapi surut setelah penyandang dana ISIS, tiga WNI (Bahrun Naim, Abu Jandal, Bachrumsyah) tewas di Syria dalam pertempuran dan diserang drones AS. Selain itu tokoh ISIS Aman Abdurrahman juga ditangkap, dipenjara dan dipidana mati.

Apakah Covid-19 Bagian dari Biological Weapon Negara Super Power?

Negara-negara di dunia sudah enam bulan lebih berperang melawan Coronavirus Disease 19 (covid-19). Sejenis virus SARS yang mampu bermutasi menjadi ganas dan pintar agar survive di inangnya (manusia). Warga dari negara yang terbanyak terinfeksi hingga 10 September 2020 adalah AS, India, Brazil dan Rusia. Korban meninggal terbanyak di negara AS, Brazil, India dan Mexico.

Dari pulbaket, korban terpapar dan meninggal yang cukup banyak adalah dari ras kulit putih (kaukasoid). Istilah "ras Kaukasoid" menunjuk fenotipe umum dari sebagian besar penghuni Eropa, Afrika Utara,TimurTengah, Pakistan dan India Utara.

Keturunan mereka juga menetap di Australia, Amerika Utara, sebagian Amerika Selatan.Ada indikasi kuat, kalau Covid-19 mudah menulari ras kulit putih dan lebih ganas dan mematikan. Virus yang sama, beredar dan nyaman ras di Wuhan, begitu menyerang warga Eropa menjadi jauh lebih ganas dan mematikan, demikian juga saat menyerang warga AS.

Covid-19 serta bakteri adalah patogen yang dapat dirancang menjadi senjata biologi, alat untuk membunuh, melumpuhkan musuh. Virus buatan atau virus yang direkayasa adalah SPM (Senjata Pemusnah Massal) yang paling mengerikan di samping tiga SPM lainnya (nuklir, kimia dan radiologis). Covid-19 ini masih diliputi misteri. Ada kecurigaan ini hasil rekayasa sebagai bagian dari biological weapon, tetapi belum dapat dibuktikan. Kasus saling tuduh antara AS dengan China.

Bukan tidak mungkin, covid dipergunakan sebagai sarana teror. Kita heran, AS sebagai negara maju dan modern belum dapat meredamnya setelah sekian lama. Apakah ada rekayasa serangan senyap? Teknologi pendingin virus dapat diakses dengan bebas, karena virus dapat bertahan seminggu, maka modus operandinya yang disesuaikan untuk serangan. Hal ini bisa dipercaya atau tidak, tidak diperkirakan, seperti saat WTC di luar perkiraan intelijen AS runtuh bukan karena bom, tetapi karena ditubruk pesawat.

Dari sisi intelstrat bisa dibaca biological warfare bila dilakukan akan menarget komponen demografi dan sejarah (ras kaukasoid). Dilengkapi dengan kerusakan komponen ideologi dan politik (sistim demokrasi), dampak kerusakan ekonomi dan sosial budaya, dampak biografi (penurunan kepercayaan publik). Hal ini kini sedang berlangsung di AS, India, Brazil dan Rusia.

Amerika sudah menetapkan bahwa musuh utamanya adalah China dan Rusia. Dalam kasus Covid yang berasal dari Wuhan, dari persepsi intelijen, muncul pertanyaan, "Kasus di China sudah selesai, mengapa di AS semakin parah?".

Bagaimana dengan Covid di Indonesia?

Penelitian genetika membuktikan bahwa tidak ada pemilik gen murni di Nusantara. “Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika, yang pada awalnya berasal dari Afrika,” kata Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Sementara yang dominan di Indonesia adalah ras Melanesoid (Negro Melanesia) dan ras Mongoloid Melayu Jenis ras Indonesia ini terletak di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Barat. Selain itu ada ras Penduduk Keturunan Asing, masuk didalam kelompok ini adalah orang China (Ras Mongoloid Induk) dan keturunan Arab, Pakistan dan India (Ras Kaukasoid)

Covid-19 terbukti akan menyerang dan bisa menulari siapa saja, tidak ada yang bebas. Korban meninggal umumnya kelompok rentan (lansia) dan yang punya komorbid, juga mereka yang imunitasnya rendah. Apabila ditinjau dari sisi ini, ras di Indonesia bukan target, tetapi dengan kondisi rendahnya pendidikan dan keterbatasan pengetahuan. Bahaya covid disepelekan (ada survey mengatakan yang percaya covid 15%, yang tidak percaya 85%). Kini jumlah yang terinfeksi terus naik.

Kesimpulan dan Saran

Teror adalah salah satu sarana intelijen untuk menimbulkan rasa takut, merusak, memengaruhi, mengganti rezim dan menghancurkan negara sasaran. Covid yang diperkirakan belum alan usai pada bulan November jelas akan memengaruhi opini rakyat AS terhadap calon presidennya saat pemilu bulan November.

Khusus untuk Indonesia, disarankan Aparat Keamanan, Badan intelijen dan BNPT sebaiknya juga meneliti dengan cermat kemungkinan digunakannya Covid sebagai sarana teror. Ini pekerjaan rumah intelijen, mengapa dalam dua minggu kasus Covid di DKI Jakarta naik pesat? Penduduk Jakarta paling sedikit dibandingkan 4 daerah penyumbang kasus covid.

Lima daerah penyumbang kasus total covid, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan menyumbang 60 persen kasus covid dari 34 provinsi, dimana DKI Jakarta menyumbang sekitar 24 persen kasus nasional.

Jakarta adalah ibukota negara dan sebagai barometer Indonesia. Apabila akan menyerang Indonesia cukup merusak Jakarta, maka image Indonesia akan turun, kepercayaan negara lain turun. Citra dan kapabilitas pimpinan nasional juga akan turun. Jadi langkah penerapan PSBB ketat di DKI dapat dinilai tepat. Jakarta harus segera diratakan kurcanya.

Oleh karena itu, agar tetap diselidiki ada apa dibalik ini? Covid berbahaya karena tidak kasat mata, tetapi operasi senyap menggunakan covid sangat-sangat berbahaya. Semoga bermanfaat, Pray Old Soldier.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan (Pengamat Intelijen), www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.