SEPERCIK KISAH DENGAN MANTAN KASAU MARSEKAL SUKARDI DI TEMINABUAN

19 June 2020 | 2:30 pm | Dilihat : 48

Innalillahi wa innailaihi rojiun....Pada hari Jumat 19 Juni 2020, jam 19 50, penulis mendapat kiriman WA dari Marsekal Pur Djoko Suyanto, kiriman berantai, berita keluarga, bahwa mantan Kasau Marsekal Pur Sukardi telah meninggal dunia di RS Mayapada Lebak Bulus pada pukul 19.50 WIB.

Marsekal Sukardi yang lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 30 Desember 1931, adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (26 November 1982 - 11 April 1986). Setelah purna tugas di TNI, Pak Soekardi pernah menjadi Dubes RI untuk Republik Federal Jerman (1986 -1990) dan menjadi anggota DPA (1998-2003).

Sekilas Kisah di Teminabuan

Antara tahun 1982-1983, penulis saat berpangkat Mayor mendapat tugas penempatan sebagai Perwira Urusan Kontra Subversi, Staf Pengamanan di  Kodau VII Biak, setelah bertugas empat tahun di Lanud Patimura Ambon. Secara tertutup penulis masuk menjadi  anggota team intel Kowilhan II dalam operasi penanganan OPM di Papua, baik di Biak Selatan, Enarorali, serta di Jayapura dan sekitarnya.

Suatu hari sekitar pertengahan Desember 1982, penulis  dipanggil menghadap Panglima Kodau VII yang dijabat oleh Marsda TNI Sudjatio Adi. Keluar perintah, "Yit, kamu saya tugasi ke Sorong dan Teminabuan, persiapkan rencana kunjungan Kasau baru, Marsekal Sukardi untuk meninjau tempat bersejarah penerjunan PGT (Pasukan Gerak Tjepat, kini Korpaskhasau), saat operasi Trikora. Berangkat sendiri segera, persiapkan, agar lancar dan aman". Siap Panglima, laksanakan.

Setelah pulbaket, ternyata data-data Teminabuan sangat sedikit, mengingat waktu pendek langsung berangkat ke Sorong dengan Garuda dan menyeberang dengan ferry ke kota Sorong. Beruntung yang menjadi Dandim Sorong teman satu Angkatan Akabri 1970 dari TNI AD, yang sangat membantu.

Pertama mencari makam di TMP Sorong apa ada anggota PGT yang dimakamkan, ditemukan makam Letnan Suhadi (Komandan penerjunan Teminabuan). Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan utama di komplek perumahan dinas TNI AU Trikora Halim. Penulis membersihkan dan mengecat makam, sekaligus mendoakannya sebagai pahlawan.

Sore hari dengan naik kapal dari Sorong menuju kota Teminabuan, kini masuk Provinsi Papua Barat. Pagi hari kapal sampai di Teminabuan, saat itu masih seperti Desa dengan rumah-rumah sederhana. Oleh kepala desa diterima dengan baik dan ditunjukkan ada makam pahlawan yg isinya kalau tidak salah enam anggota PGT. Saat itu yang istimewa di pintu makam terpasang lambang Swa Bhuwana Paksa. Itu adalah bukti penghormatan warga Teminabuan setelah Irian Barat menjadi provinsi Indonesia.

Mereka yang dimakamkan diabadikan menjadi nama2 jalan di Komplek Trikora, sayang lupa nama-namanya, yg teringat Ngarbingan, Wangko, Tuyu. Makam terlihat kurang terawat dan penulis perbaiki , dibersihkan di cat. Dari Desa Teminabuan, penulis meninjau ada Tugu pembebasan Irian Barat, dengan menyeberangi sungai yang lebar (75-100 m) dengan perahu. Sungainya dalam, kuning, keruh dan berlumpur.

Di lokasi tugu terdapat dermaga darurat dari kayu. Tugu peringatan entah siapa yg buat, ada 51 nama anggota PGT yang gugur, baik bertempur dengan Belanda maupun meninggal tenggelam di sungai (penerjunan malam hari). Pray pernah menuliskannya di majalah Angkasa Desember 1982. Tapi arsipnya tidak ketemu.

Setelah kordinasi keamanan dan rengiat, masalah yang menonjol apabila saat kunjungan sungainya surut, dari perahu ke dermaga agak tinggi, ini yang perlu diwaspadai. Masalah lain yang agak sulit adalah mempersiapkan Helly Pad.Lokasi harus dekat tempat kegiatan, karena semua ditempuh berjalan kaki, maklum saat itu masih desa.

Terpaksa penulis membeli pohon2 kelapa penduduk, dipotong dengan menghitung arah angin secara umum. Dalam satu hari dengan bantuan penduduk helly pad selesai. Sebagai perwira intel pernah dilatih mempersiapkan Hely Pad dan juga dropping zone batas penerjunan.

Hari H jam D, rombongan Kasau tiba, ternyata Kasau bersama Ibu Sukardi didampingi Panglima Kodau beserta Ibu Sudjatio. Pray laporan dan oleh Panglima dikenalkan ke Kasau, selama ini belum pernah menjadi anak buah langsung Kasau, Marsekal Sukardi ini performancenya kenceng, tegas dan agak kaku. Agak seram juga si Mayor. Peninjauan makam lancar, kemudian menuju perahu menyeberang meninjau ke Tugu.

Penulis  memberikan briefing kalau sungai sedang surut dan tingginya dermaga, tapi perintah Kasau, Ibu tetap ikut. Masalah yang diperkirakn muncul, saat akan naik tangga ibu Sukardi (maaf yg agak gemuk) mengalami kesulitan, Pray melakukan pengamanan dan siaga dibawahnya. Betul juga beliau miring dan mau jatuh, dengan refleks Pray menahan agar stabil (mendorong pantat beliau) agar lurus dan kuat naik keatas, sukses dan selamat, ngeri dan deg-degan kalau-kalau Kasau marah, Alhamdulillah tindakan emergency dimaklumi beliau.

Setelah rangkaian acara selesai, kembali ke Helikopter Super Puma. Perintah Kasau, Pray ikut dalam pesawat, Alhamdulillah. Setelah pamitan dengan kepala desa serta masyarakat, happy ikut rombongan Kasau ke Kota Sorong, tidak usah naik kapal semalaman. Kasau dan rombongan bersama Panglima Kodau berangkat. Pray ikut helly ke Biak.

Sesaat sebelum Kasau berangkat, Pray dipanggil Pangkodau, "Bagus semua lancar dan sukses, terima kasih". Panglima memberi apresiasi, diberi hadiah uang, waah senang juga maklum saat itu Mayor gajihnya belum besar seperti sekarang. Sebagian uang dibagi ke pilot hely Puma Mayor Mutanto (pensiun Marsma TNI) dan sebagian ke Co Pilot (pensiun Marsdya TNI).

Penutup

Ini dapat dikatakan hanya sepercik kisah mengenang Almarhum Marsekal Sukardi, yang pada awal jabatannya menyempatkan diri berziarah ke lokasi penting dan bersejarah operasi Trikora dimana PGT diterjunkan di Teminabuan (RPKAD diterjunkan di Merauke).

Kalau kembali teringat cerita warga Teminabuan sast itu, kisah PGT yang tertangkap dan disiksa Belanda, kisah PGT yang tenggelam di sungai, serta kisah dibunuhnya Alm.Ngarbingan oleh penduduk yang pro Belanda, Pray rasanya miris tetapi kagum dengan para pahlawan PGT itu. Mari kita lanjutkan semangat tempur dan perjuangan para pahlawan kita demi mempertahankan dan menyelamatkan Bangsa dan Negara.

Ini hanyalah secuil kisah terkait dengan Almarhum pak Sukardi tentang sejarah kepahlawanan, jelas masih banyak lagi kisah-kisah super hero lainnya bagi tegaknya NKRI. Wabil khusus, Selamat jalan Pak Sukardi, Sang Jatayu, kami doakan semoga husnul khotimah, Aamiin. Hormat, Pray Old Soldier.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen. www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.