PRESIDEN JOKOWI MINTA DATA ODP DAN PDP DIBUKA, KITA SIKAPI POSITIF

15 April 2020 | 9:02 am | Dilihat : 42

Setelah 45 hari berjalan, data real Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dari kasus Covid-19 atas permintaan Presiden Jokowi hari Senin (13/4) akhirnya dibuka oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

"ODP sampai sekarang tercatat 139.137 orang," kata jubir pemerintah soal penanganan corona di Indonesia, Achmad Yurianto, di Gedung BNPB, Selasa (14/4).

Keberadaan ODP ini harus menjadi perhatian dari masyarakat. Sebab, kebanyakan dari mereka tidak menunjukkan gejala corona.Seseorang bisa masuk ODP dalam kondisi sakit ringan sehingga bisa dirasakan tidak sakit. "Berpotensi jadi sumber penularan kalau enggak dirawat dengan baik, enggak isolasi mandiri dengan baik," ungkap Yurianto.

Jumlah PDP corona terhitung cukup besar. Mereka yang masih menunggu hasil tes PCR ini ada 10.482 orang. "PDP ada 10.482 orang, terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan PCR sebanyak 4.839 orang," jelas Yurianto.

Perintah Presiden Jokowi

 Sebelumnya, dalam rapat terbatas, Presiden Jokowi meminta agar data-data terkait kasus corona tersebut diumumkan. "Harusnya ini setiap hari bisa di-update dan lebih terpadu. Data terpadu menyangkut PDP, ODP, positif, yang sembuh, meninggal, jumlah yang sudah PCR berapa dan semuanya. Dan terbuka hasilnya sehingga semua orang bisa akses dengan baik," ucap Jokowi membuka rapat, Senin (13/4).

Jokowi berharap data itu terintegrasi antara semua kementerian dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 .

Pengertian ODP dan PDP

Dikutip dari situs Posko Tanggap Virus Corona Pemprov DKI Jakarta, "ODP" adalah Orang Dalam Pemantauan virus corona. Yang masuk kategori ODP yakni orang yang mengalami gejala demam lebih dari 38 derajat celcius atau ada riwayat demam atau ISPA tanpa pneumonia. Serta memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Sementara "PDP" adalah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona. Syarat PDP yakni orang mengalami gejala demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius atau ada riwayat demam, ISPA, pneumonia ringan hingga berat. Selain itu memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terjangkit atau kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif virus corona.

Positif Thinking

Dari data PDP tanggal 14 April 2020, 10.482 orang, yg terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan pcr sebanyak 4.839 orang, 3.954 dirawat, 426 sembuh dan 459 meninggal. Dengan data ini maka death rate Indonesia adalah 459 : 4.839 X 100% = 9,48%. Dari yang positif melalui PCR 4.839, sejumlah 2.349 adalah kasus positif di Jakarta, 1.385 dirawat, 163 sembuh, 243meninggal dan 558 isolasi mandiri.

Nah, dari data PDP 10.483 , memang akan lebih baik apabila dapat dipastikan sisa yang menunggu hasil PCR bisa cepat terlaksana. Jumlah Kasus positif nasional akan berpengaruh terhadap death rate, yaitu prosentase kematian kasus positif corona. Lebih baik bila diumumkan data yg meninggal (diberitakan oleh Gubernur DKI 60 persen Lansia).

Kita tidak perlu risau tentang jumlah PDP yg diatas 10.000, kalau misalnya jumlah 10.483 semua hasilnya PCR positif, berarti akan dapat dilakukan penyesuaian strategi penanganan. Ini bisa juga mengingatkan kita bahwa yg terinfeksi tanpa gejala cukup banyak, karena itu kita harus pakai masker. Warga DKI harus waspada Jakarta masih pusat epicenter 1.385 dirawat, 163 sembuh, 243meninggal dan 558 isolasi mandiri. Jadi imbauan pemerintah "jangan mudik" sebaiknya di taati demi kebaikan bersama, khususnya keluarga.

Selain itu secara otomatis prosentase death rate akan turun, yaitu 459 : 10.483 X 100% = 4,37 %.

Sebagai pembanding Death Rate (DR) dunia 6,25%, DR China 4,06% (3.341 : 82.249 X 10p%), DR AS 4,08% (23.712 : 588.465 X 100%), DR Italia 12,82%, DR Spanyol 10,46%, DR Malaysia 1,64%, DR Singapore 0,3%.

Penutup

Demikian menanggapi diumumkannya data PDO dan ODP. Dalam kondisi under pressure dibawah ancaman Virus Corona saat ini, kita semua sebaiknya berfikir positif, jauhi negative thinking.

Memang berat tugas pemerintah dimanapun, tidak hanya di sini. Kita dukung dengan disiplin, cerdas, hati bersih. Gerakan gotong royong mulai terlihat bahu membahu. Efek Covid memang melebar ke sisi politik, ekonomi, sosial, dan mulai menyerempet keamanan. Berat apabila semua dipasrahkan ke pemerintah. Negara ini kan punya kita bersama, rakyat sebaiknya berperan sbg "early warning".

Terakhir jangan ada yang "jail" mikir macam-macam, memang mau dikerubungi mahluk yg tidak kasat mata itu?Amit-amit deh, ada pejabat yg kemarin2nya galak, bicara sak maunya karena berkuasa, mendadak sakit tidak bisa tidur takut kelenggahan lelembut covid, maybe.

Sekali lagi yg perlu diingat, ini ujian dan cobaan dari Allah. InsyaAllah kita bisa dan mampu mengatasinya mari kita terus tidak putus berdoa. Dukung pemerintah, jangan malah dimusuhi, tidak barokah. Salam tabah, PRAY OLD SOLDIER.

Penulis  : Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam, Sosbud, Umum. Bookmark the permalink.