LOYALITAS INTELIJEN DAN TEROR CORONA

6 February 2020 | 12:08 pm | Dilihat : 997

internasional_2017_10_18_114510_big

Presiden Trump lolos dari impeache, PresidenChina Xi Jin Ping justru tengah menuai kritik pedas dari seorang sarjana China bernama Xu Zhangrun. Mengaku kecewa terhadap kepemimpinan Xi Jinping dalam menanggulangi wabah virus corona Xu menerbitkan sebuah artikel yang kontroversial, yakni menyalahkan para pemimpin partai komunis karena dianggap telah menempatkan kepentingan politik di atas kepentingan umum. (foto : FBS)

Virus Corona adalah kelompok patogen, dalam persepsi intelijen virus dicermati dengan istilah KiBiRa. Sebelum bicara intelijen KiBiRa (Kimia, Biologi dan Radio Aktif), sebagai penambah sedikit wawasan, bagi yang belum tahu,  sedikit penulis jelaskan pengertian tentang intelijen. Intelijen  sebagai profesi yang sedikit penulis kuasai ini berasal dari bahasa inggris yaitu Intelligence. Bila diterjemahkan sebagai kata benda artinya  adalah inteligensia, sacara harfiah berarti kecerdasan (pengertian umum). Secara khusus tulisan atau analisis  intelijen yang penulis kerjakan berkaitan dengan upaya mengamankan Negara dan Bangsa.

Profesionalisme Intelijen

Secara profesional, dalam mengamankan bangsa dan negara, pengertian  intelijen pertama, sebagai pengetahuan, atau produk. Intelijen, yaitu  informasi/bahan keterangan (baket) mentah yang sudah diolah, dinilai dan di konfirmasikan, bahan matang ini disebut intelijen, disampaikan kepada atasan (user). Pengertian kedua, sebagai organisasi yaitu organisasi intelijen yang diawaki mereka-mereka yang sudah mengikuti pendidika berjenjang sekolah intel dan berpengalaman dalam penugasan di badan intelijen. , Tanpa itu jelas  organisasinya lemah, produknya berkualitas rendah. Ketiga, sebagai fungsi yaitu Penyelidikan, Pengamanan dan Penggalangan.

Untuk intelijen level nasional atau negara, sebaiknya si  pemimpin selain pernah mengikuti pendidikan intelijen strategis,  harus memiliki pengetahuan intelstrat, geopolitik dan geostrategi. Karena bila si pemimpin pengetahuan rendah dan  bukan orang intel, dia tidak akan memiliki "sense", ini adalah rasa, instink intelijen, terkait dengan sudut pandang atau persepsinya sebagai intelijen. Ini terbentuk apabila dia memiliki pengalaman berjenjang, mulai dari agent, support agent, handler. Pimpinan nasional sebaiknya mewaspadai bila akan menunjuk pemimpin inteIijen, jangan karena dukungan politik, tapi utamakan profesionalisme, track record si calon. Intelijen adalah adalah bisnis yang sulit, biasanya ini akan berakhir menjadi sebuah prediksi.

Bagi sebuah negara dimanapun, badan intelijen adalah satu organisasi yang menjadi mata dan telinga dan hidung pimpinan nasional. Badan intel hanya bekerja untuk presiden/PM. Prinsip utamanya single client, semua produk hanya untuk user, tdk boleh diberikan untuk yang lain.

Oleh karena itu loyalitas dan kecepatan informasi yang diutamakan, tiap hari nilai info akan turun 20 persen apabila tidak ditindak lanjuti. Nilai yang lebih penting lagi adalah loyalitas. Sekali pimpinan nasional  mengetahui pimpinan badan intelnya tidak loyal, berbohong atau berbuat diluar arahannya dia langsung harus diganti. Dampaknya bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar, tidak hanya harta, nyawapun bisa menjadi korban.

Studi Kasus Intelijen AS Dalam Perang Irak

Badan2 intelijen kelas dunia melakukan operasi intelijen untuk melindungi negaranya dan mensuport pimpinan nasional  dalam pengambilan keputusan. AS, Rusia, Inggris, Israel, Jerman misalnya punya intelijen yg besar, hebat. Kita pernah mendengan nkata CIA, NSA, Mossad, Mi6.  Anggarannya sangat besar. Demikian juga di Indonesia Intelijen bekerja sesuai dengan organisasi, prinsip single client. Pantang hukumnya apabila terjadi kolaborasi pimpinan intelijen dengan kepentingan lain di luar garis komando dengan presiden. Atau muncul ambisi-ambisi yang tidak sejalan dengan user. Sulit di era transparansi saat ini walau intelijen sekalipun menutupi keburukan demi kepentingan pribadi atau golongan. Studi kasus operasi intel AS dalam perang Irak dibawah ini bagus untuk diketahui.

Kasus penyerbuan Irak oleh AS adalah adalah sebuah studi kasus bukti tidak loyalnya intelijen yang menimbulkan kerugian besar. Presiden AS, George Walter Bush pada 20 Januari 2009, saat pidato perpisahan menyatakan penyesalan karena mempercayai intelijen CIA yang melaporkan adanya SPM (Senjata Pemusnah Masal) di Irak, Info seorang Jenderal Iraq yg menyatakan tidak ada SPM diputar balik pejabat CIA (kisah Green Zone sangat jelas), sehingga Bush percaya dan menyerang Irak.

Penyerbuan ke Irak oleh AS didukung koalisi 20 negara dan suku Kurdi dilakukan pada 20 Maret 2003, bertujuan melucuti SPM Irak, mengakhiri dukungan Saddam Husein kepada terorisme dan memerdekakan rakyat Irak. Pada 1 Mei 2003,  Saddam Hussein dan Partai Baath berhasil digulingkan. Perang sia-sia tersebut telah mengorbankan nyawa lebih dari 4.229 prajurit AS, 6.669 jiwa pasukan Irak era Sadam. Anggaran yang dikeluarkan AS mencapai USD 576 miliar.

Intelijen KIBIRA

Dlm perkembangannya, badan intelijen sebuah negara harus punya sub orgas intel yg khusus menangani KiBiRa. Ini tigas senjata pamungkas yang ditakuti, Racun kimia, akan meracuni orang, kedua patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) . Patogen ini sebagai senjata biologi bila digunakan dalam perang tidak kalah efek mematikannya dibanding nuklir (radio aktif). Dalam kelompok patogen, maka virus masuk sebagai Senjata Pemusnah Massal (SPM). Perang masa kini baru diwarnai ancaman nuklir, yaitu bahaya radio aktif yang sangat merusak.

Ancaman nuklir dibawa oleh rudal ICBM. Di dunia, sementara baru empat negara tergabung dalam ICBM Club yaitu AS, Rusia, Perancis dan China. ICBM (Inter Continental Balistic Missile) adalah peluru kendali berkepala nuklir yang mampu mencapai benua atau negara manapun di dunia, hingga disebut sebagai kekuatan deterrent yang sangat ampuh dan ditakuti.

Korea Utara cepat atau lambat akan masuk dalam ICBM Club. Unha-3 yang diluncurkan Korea Utara pada hari Rabu (12/12) menurut teori apabila dipersamakan dengan ICBM, dapat menjangkau jarak sekitar 8.000 hingga 10.000 kilometer (4.970 sampai 6.210 mil). Unha-3 ini dapat menjangkau Hawaii dan pantai barat laut daratan Amerika.

ICBM umumnya berkepala nuklir, tetapi ada upaya kepala nuklir diganti dengan racun kimia atau biologi. AS masih terikat dengan aliran Neocon, hegemoni dengan kekuatan militer masih ditopang dengan Industrial Military Complex. Arsenal nuklirnya terbanyak dan terkuat, produk alutsistanya kuat dan canggih. Secara umum AS tetap mengontrol infrastruktur, polik, ekonomi dan keamanan dunia.

Nah, intelijen  Amerika  jelas memiliki data lengkap kekuatan ICBM Club nuklir negara lain yang bisa mengancam main land-nya. Presiden Donald Trump pada 2017 menyatakan ada empat negara kompetitor Amerika  yaitu Rusia, China, Iran dan Korea Utara. Jenderal Qasem Soleimani, pemimpin pasukan elite Quds yang menjadi bagian Garda Revolusi Iran, tewas dalam serangan drone di Bandara Baghdad, pada Jumat (03/01). Kini AS lebih fokus menangani China dan Korea Utara, yang memiliki ICBM dan jarak jangkaunya sudah sangat jauh. karena itu AS lebih fokus ke Asia Pasifik, mengganti Pacom dengan IndoPac.

Dalam beberapa tahun terakhir perhatian dunia, khususnya intelijen  Amerika mulai fokus mengawasi senjata racun kimia dan biologi. Tidak rumit seperti senjata nullir, tetapi daya rusaknya tetap mengerikan. Nah, SPM yg dimiliki sebuah negara yang pemimpinnya berbahaya bisa dijadikan alasan negara itu diserbu, diduduki. Contoh, Irak, diserbu, Sadam Husein dijatuhkan oleh operasi intelijen dengan alasan memiliki SPM.

Kini, negara yang dianggap sebagai ancaman potensial karena memiliki SPM (racun VX) adalah Korea Utara. Racun VX dibocorkan saat pembunuhan Kim Jong Nam di Badara Sepang, KL. Korut mengembangkan ICBM berkepala nuklir dan bukan tidak mungkin berkepala racun VX, diberitakan jumlah VX Korut sebanyak 5.000 ton.

Virus Corona, Bocor atau Dibocorkan?

Selain racun VX, AS kini mengawasi China karena selain nuklir, China sudah cukup lama mengembangkan virus, dicurigai akan dijadikan senjata biologi. Kini dunia gempar karena terjadinya kasus kebocoran Virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China, pada akhir Desember 2019. Pada awal Januari Virus Corona dilaporkan ke WHO dan dianggap virus yangVirus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di China dan ke-28 negara lainnya.

Status PHEIC didefinisikan oleh WHO terhadap Virus Corona sebagai peristiwa luar biasa yang "menjadi risiko kesehatan masyarakat bagi negara-negara lain melalui penyebaran penyakit secara internasional" dan membutuhkan "respons internasional yang terkoordinasi".

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernafasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernafasan berat, seperti pneumonia Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah bocor juga di China. Update hingga Kamis 6 Februari 2020, Kasus Coronavirus sebanyak : 28.276 kasus, dimana 3,863 (14%) dalam kondisi kritis. Jumlah kematian: 565 orang, dan jumlah yg disembuhkan 1.173 orang.

Corona Virus yg terbaru ini apabila dijadikan senjata, tidak terbayangkan daya pemusnahnya. Pada awal kebocoran virus di kota Wuhan, polisi mencoba menutupi fakta, tetapi virus berkembang selain Wuhan di Provinsi Hubei juga ke kota-kota lain di China dan ke luar China. Kini ada 5 juta penduduk Wuhan exodus meninggalkan kotanya. Fakta menarik Virus Corona merebak akhir Desember 2019 menjelang Tahun Baru China, hingga pemerintah China mengunci 50 juta penduduknya yang akan bepergian merayakan Imlek. Wuhan sebagai sumber Corona diisolasi.

Presiden China, Xi Jinping, mengatakan kepada para pejabat negaranya bahwa negara itu menghadapi "situasi yang sulit" karena coronavirus baru "demikian cepat penyebarannya". Corona menyebabkan bursa China berjatuhan, pariwisata melemah, industri mulai ditutup. Perusahaan- perusahaan manufaktur di China juga mulai meliburkan operasi dan menyetop produksi.

Nah, disinilah peran intelijen KiBiRa, pada kasus Corona ini apa dampak dan pengaruh ancaman serangan virus  kesehatan ini kepada komponen intelijen politik, ekonomi, pertahanan . Bagi intelijen Indonesia, sebaiknya memonitor dan lebih mendalami, bagaimana virus bisa bocor, apakah mungkin bisa menjadi ancaman di sini? Apa dampaknya selain bidang kesehatan? China kini salah satu mitra dagang dan investasi paling penting bagi Indonesi, 16% dari total investasi asing yang masuk ke Indonedia berasal dari China, juga sektor pariwisata , China negara kedua terbanyak mengirim turis ke indonesia. Ekonomi China akan melambat 1-2 persen, dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen

Secara umum, gara-gara korona, ekonomi Tiongkok tahun ini diperkirakan melambat 1-2 persen. Jika ditarik ke Indonesia, itu bakal menyurutkan pertumbuhan ekonomi kita sekitar 0,3 persen

AS Versus China, Dimana Posisi Indonesia?

Dalam persaingan  global antara AS versus China, China mengeluarkan konsep nine dash line, sementara AS mengeluarkan konsep high road.  Sejak awal Januari 2020, kasus virus corona ini di satu sisi jelas menguntungkan fihak AS, karena virus ini menyebabkan temporary weakness bagi China. Ternyata terserangnya China oleh virus membuatnya menjadi gagap. Ini semacam serangan teror kesehatan  tapi mereka yang terkontaminasi virus bukan teroris, siapapun bisa menjadi agen penyebar virus. Kini puluhan juta warga China terisolasi. Warga China sulit keluar negaranya dan ditolak  masuk ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Dampak teror kesehatan ini jelas memengaruhi psikologis baik bagi warga China maupun warga negara lainnya.

Saat ini AS tengah  melakukan relation reset di kawasan Asia Pasifik, meninjau ulang, memperbaharui hubungan bilateral, posisi politik dan diplomasi serta kerjasama dengan Jepang, Korea Selatan dan Indonesia. Mengapa dilakukan 'reset' ?

Di kawasan Laut China Selatan, dua negara yg dinilai potensinya besar sebagai musuh AS yaitu Korea Utara dan China. Korea Utara dan China langsung berhadapan dengan Jepang dan Korea Selatan. Karena itu sebagai sekutu AS kedua negara ini harus lebih kuat dan tegas dalam menghadapi Korut dan China. Dilain sisi, AS me-reset Indonesia dinilai sebagai centre of gravity kawasan regional Asean dalam menghadapi China. AS sejak tahun 2009 ingin Indonesia menjadi mitranya, selama ini tidak suka Indonesia  berhubungan terlalu dekat dengan China. AS berpendapat Indonesia akan masuk depth trap China, akan mempunyai nilai ketergantungan, China memiliki nilai investasi 16 persen dari total investasi di Indonesia.

Kini, dengan kasus Corona, tanpa diminta Indonesia sementara melakukan pembatasan hubungan dengan China. Misalnya WN China tidak boleh masuk ke Indonesia, demikian juga sebaliknya. penerbangan ke China dihentikan, keran impor dari China di setop.Pemerintah menghentikan sementara impor bahan pangan, produk makanan, dan minuman dari China demi menghadang penyebaran virus Corona ke Indonesia. Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian mengaku keberatan atas keputusan itu. "Menurut kami, dalam situasi ini kita harus tenang, tidak perlu terlalu overreact (bereaksi berlebihan) dan memberikan dampak negatif terhadap perdagangan, investasi dan pergerakan orang," kata Dubes Xiao Selasa (4/2/2020)

Conditioning terjadi karena manusia terteror dengan ancaman virus. Terbersit sense of intelligence pada penulis, ada UUK yg belum terjawab dan kecil kemungkinan akan terjawab. Ini kebocoran, atau dibocorkan, tapi jelas melibatkan dua negara besar yang berseteru itu. Nah, kini intelijen Indonesia disarankan mencari peluang, menganalisis .  Teorinya sederhana, apabila tangan kanan terhambat karena takut virus, bukankah masih ada tangan kiri untuk berjabatan tangan.

AS tetap  ingin Indonesia menjadi mitranya, reset yang ditetapkan AS mungkin bisa menjadi jalan keluar khususnya masalah perekonomian Indonesia. Dari analisis terdahulu,  Malaysia diminta jadi mitra, karena Najib menolak, dia terdelete, mengapa, karena dia sudah masuk depth trap. Persoalannya apakah sense dari kondisi ini sudah masuk dalam analisis intelstrat  sampai ke Pak Jokowi sebagai decesion maker, Semoga.

Kesimpulan

Dari persepsi intelijen, disimpulkan bahwa kasus virus corona membuktikan bahwa virus  menjadi senjata yang ampuh dan mampu mengganggu soliditas beberapa komponen intelstrat China. Sebagai senjata biologis, virus di masa mendatang akan menjadi SPM yg paling berbahaya, dengan cost termurah. Inilah sarana teror yang mampu menimbulkan rasa takut  amat sangat, tidak ada seorangpun yang tidak takut di dunia manapun. Siapa dalangnya? media arus utama, media elektronik dan medsos. Lantas siapa yang memainkan? Wallahualam. Semoga bermanfaat. Pray Old Soldier

Penulis : Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam, Politik. Bookmark the permalink.