ANTARA TEROR DI LONDON BRIDGE DAN TEROR DI INDONESIA

1 December 2019 | 11:29 pm | Dilihat : 303

https___cdn.cnn.com_cnnnext_dam_assets_191129163025-20-london-bridge-incident-1129

Polisi melakukan pengamanan di London Bridge setelah serangan teror (foto : CDN.CNN)

Aksi teror di London Bridge berupa penusukan yang menewaskan dua orang dan melukai lima orang pada Jumat (29/11/2019) sekitar pukul 14.00 waktu setempat menjadi berita dunia. Serangan dilakukan oleh Usman Khan (28), disebut polisi Inggris sebagai teroris. "Pelaku yang ditembak mati oleh polisi pernah dihukum pada 2012 karena pelanggaran terorisme. Dia dibebaskan dari penjara pada Desember 2018 dengan beberapa persyaratan,” kata Asisten Komisaris Neil Basu.

Peristiwa berdarah dan mematikan di London Bridge juga pernah terjadi dua tahun lalu, pada Juni 2017. Tiga orang menggunakan mobil van menabrak pejalan kaki di London Bridge dan kemudian menikam orang-orang yang berada di dekat jembatan. Delapan orang tewas dan sekitar 48 orang terluka. Organisasi teroris ISIS mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa itu dan menyebut ketiga orang pelaku sebagai milisinya.

PRC_103103186

Pelaku Usman Khan (28) setelah ditembak mati, pihak ISIS mengakui bertanggung jawab atas serangan itu (Foto : PA)

Kasus penusukan serupa terjadi di Indonesia terhadap Menko Polhukam Wiranto di Banten pada Kamis (10/10) di wilayah Menes, Pandeglang, Banten. Ia diserang oleh dua orang pelaku masing-masing berinisial SA dan FA menggunakan senjata tajam kunai, sejenis pisau kecil. Akibat serangan itu, Wiranto mengalami luka tusuk yang cukup serius hingga harus dirujuk ke RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) .

Serangan dengan pisau merupakan variasi teror yang dilakukan perorangan, disamping bom bunuh diri. Serangan pisau lebih sulit diperkirakan, tetapi tetap memunculkan efek rasa takut yang besar. Selain aksi teror pisau di Indonesia, pada bulan November 2019, terjadi aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Perbedaannya, teror di Indonesia target dipilih pejabat pemerintah dan kantor polisi, sementara di Inggris target masyarakat tetapi lokasi terkenal dipilih seperti London Bridge, menjadikan aksi teror viral.

Menurut sumber tertutup, setelah pentolan teroris asal Indonesia Bahrun Naim beberapa bulan lalu tewas diserang drones AS (USAF), disusul tewasnya Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tanggal 26 Oktober 2019 diserang pasukan khusus AD AS (Delta Force).  Abdullah Qardash yang dikenal juga sebagai Haji Abdullah al-Afari, disebut ditunjuk Al-Baghdadi sendiri pada Agustus 2019, sebagai penggantinya sebelum dirinya sendiri tewas dan berita tersebut disebar luaskan media ISIS, Amaq.

Antara bulan Oktober-November 2019 terjadi penangkapan beberapa terduga teroris di Sumateta dan Jawa, dan disusul aksi serangan ke Menko Polhukam Wiranto serta terjadinya suicide bombing di Polres Medan, ini memunculkan pertanyaan intelijen (UUK), apakah teroris mulai menggeliat dan akan kembali beraksi?

images (12)

Pelaku tertangkap kamera sebelum meledakkan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan (Foto : TribunNews)

Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

Bom bunuh diri meledak di Polrestabes Medan pada Rabu (13/11) sekitar pukul 08.45 WIB, dilakukan oleh RMN (Rabbial Muslim Nasution),melukai empat orang anggota polisi, satu PHL, dan satu masyarakat dan menewaskanpelaku. Bom yg dililitkan di ppinggang diledakkan di tempat pengurusan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (13/11), menyatakan pelaku berstatus sebagai pelajar/mahasiswa berusia 24 tahun, memakai jaket driver ojek online untuk penyamaran.

Densus 88 melakukan penggeledahan rumah RMN di Jalan Jangka, dan memeriksa isterinta, Dewi Anggraini. Dewi terbukti memiliki jaringan terstruktur di media sosial, mempelajari paham radikal dan memengaruhi pelaku, bahkan berencana membuat aksi teror di Bali.

Kapolda Sumatera Utara Inspektur Jenderal Agus Andrianto mengatakan, dalam pengembangan bom bunuh diri tersebut Dendus 88 telah menangkap 10 terduga teroris. Saat pengerebekaan terjadi baku tembak dengan teroris, dua terduga teroris ditembak mati oleh Densus 88 di kawasan Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu, 16 November 2019, satu anggota Densus mengalami luka tembak. Menurutnya, ada beberapa lokasi yang sudah digeledah dan beberapa tempat juga ditemukan racikan bahan bom berdaya low explosive.

Penggerebekan Terduga Teroris

Disebutkan juga Densus 88 telah meringkus 10 terduga teroris. "Total mulai dari 9 sampai 13 November 2019, ada 10 orang yang diamankan",kata Brigjen Dedi. Kesepuluh terduga teroris yang ditangkap tersebut yakni, satu di Bekasi, tiga di Banten, satu di Jawa Tengah, dan lima di Riau. Tiga terduga teroris yang ditangkap di Banten  dipastikan tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Banten. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan ketiganya pernah mengikuti latihan militer dan perang bersama ISIS di Suriah. Dalam penggerebelan di Jawa Tengah, satu orang ditangkap. "Sudah mengikuti perang bersama ISIS di Suriah," kata Dedi di Mako Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Kamis, (14/11/2019).

Lima terduga teroris juga ditangkap di Riau dengan inisial S, WN, MF, S, dan Y. Kelimanya masuk dalam jaringan terduga teroris WN yang sudah ditangkap lebih dahulu. Densus 88 Mabes Polri hari Kamis (14/11/2019) menangkap dua terduga teroris di Kampung Cibodas, RT 003/001 Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Keduanya merupakan pasangan suami istri berinisial DS (24) dan DK (25).

Tim Densus 88 mengamankan seorang terduga teroris bernama Markino alias Abu Umar di RT 12 Dusun Ngunut, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (20/11/2019). Selain terduga teroris, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa bahan pembuat bom dari dalam rumah berupa bom panci.

Perkembangan dan Aksi Teror

Dari data yang ada, dalam kurun 17 tahun terakhir, jaringan teroris yg berafiliasi ke ISIS semakin efektif mengembangkan pengaruhnya melalui media sosial (digital) instragram dan twitter. Pada tahun 1998 terdapat 12 situs, tahun 2003, 2650 situs dan  pada 2015, (9.800 situs, ( Sumber : MetroTV). Propaganda jaringan teroris dilakukan melalui pengajian serta seminar. Bentuknya berupa pendidikan non formal dan rekrutmen tertutup. Kegiatan propaganda lain dilakulan oleh motivator atau tokoh-tokoh yang disegani

Lima bulan sebelum peristiwa bom di Polrestabes Medan, pada tanggal 3/6/2019 sekitar pukul 23.00 WIB juga terjadi aksi bom bunuh diri di pos pengamanan (Pospam) lebaran 2019 di Jl.Ahmad Yani Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pada 15 April 2011 pukul 11.45 WIB terjadi aksi bom bunuh diri di Masjid Atl-Taqwa, kantor Polresta Cirebon, Jawa Barat. Bom meledak sesaat sebelum jemaah masjid melaksanakan salat Jumat. Tercatat 26 orang terluka akibat peristiwa tersebut. Jemaah masjid sebagian besar merupakan anggota kepolisian.

Ledakan bom bunuh diri terjadi di pos polisi perempatan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Bom meledak sekitar pukul 10.55 WIB, pada 14 Januari 2016. Lima orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Bom ini merupakan rangkaian dari peristiwa teror di Sarinah. Sebelum bom meledak di pos polisi, telah terjadi ledakan bom di kedai kopi yang jaraknya tak jauh dari pos polisi

Teror juga terjadi di Mapolda Riau pada 16 Mei 2018 usai tabligh akbar yang diadakan di halaman kantor Gubernur Riau. Pelaku diduga mengendarai mobil dan datang sekitar pukul 09.00 WIB. Mobil menabrak gerbang Mapolda Riau. Tercatat lima orang meninggal dalam peristiwa tersebut. Empat orang pelaku, serta anggota polisi yang sedang bertugas, dua polisi luka-luka.

Pada hari Senin 14 Mei pukul 08.50 WIB terjadi serangan bom di Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur. Pada hari Senin 14 Mei pukul 08.50 WIB. Peristiwa ini sempat membuat geger Tanah Air, karena waktunya berdekatan dengan kerusuhan yang terjadi di Lapas Mako Brimob Kelapa Dua. Ledakan bom berasal dari sebuah motor yang meledak dekat polisi. Tercatat sepuluh orang menjadi korban, empat di antaranya aparat kepolisian, sedang enam lainnya warga sipil.

Ledakan bom bunuh diri  terjadi di Pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah pada Senin, 3 Juni sekitar pukul 22.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam aksi teror ini, pelaku bom bunuh diri mengalami luka parah di bagian perutnya. Pelaku melakukan aksinya seorang diri, dan tidak terbukti tergabung dalam organisasi atau jaringan teroris tertentu.

Sabtu, 16 November 2019, Densus 88 menembak mati dua terduga teroris di kawasan Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. "Dua terduga teroris tewas. Dari pihak petugas satu tertembak," kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto di Medan,Sabtu (16/11/ 2019).

Serangan teroris menggunakan senjata serbu dan pistol pernah terjadi di Hamparan Perak pada Rabu, (22/9/2010), Polsek Hamparan Perak, pada dinihari diserang oleh kelompok teroris. Pelakunya menembak empat polisi yang sedang berjaga di dalam kantor. Tiga polisi meninggal ditembak, sedang seorang lagi menderita luka serius.

AB (44), seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) ditangkap polisi di Tangerang, Jumat (27/9/2019).AB diduga terlibat merencanakan kerusuhan di tengah demonstrasi. Sebanyak 29 bom ikan berdaya ledak tinggi yang dibuat dan disimpan di rumahnya di Bogor siap diledakan tanggal 28 September 2019. AB adalah penyandang dana dan perekrut.

Satu petinggi BUMN yang berada di Kota Cilegon, diduga termasuk dalam empat orang yang ditangkap Densus 88 Anti Teror terkait jaringan terorisme pada Rabu (13/11/2019). Pihak kepolisian belum membuka identitas dan perusahaan BUMN yang dimaksud tersebut. Kekinian, empat terduga teroris berhasil ditangkap di Banten berinisial DA (28), QK (54), AP (45) dan MA (45).

Catatan Dari Persepsi Intelijen

Dari fakta-fakta tersebut diatas yang menjadi fokus persepsi intelijen, teroris yang beroperasi adalah sel ISIS. Di Indonesia tergabung dalam JAD (Jamaah Ansharut Daulah) binaan Amman Abdurahman yang sudah dijatuhi hukuman mati. Tertangkapnya dosen dalam aksi teror menunjukkan pengaruh ideologi teror sudah lebih jauh menyentuh lembaga pendidikan.

Sel teroris Inggris memilih area publik terkenal dan target sebagai korban adalah masyarakat umum, serangan di London Bridge adalah contoh jelas. Tidak terjadi penangkapan anggota teroris ISIS secara spesifik.

Sementara di Indonesia target serangan tetap polisi seperti beberapa kasus sebelumnya dan pejabat pemerintah, target publik bukan fokus. Terjadinya penangkapan sebelum bom di Medan dan setelahnya, menunjukkan sel-sel ISIS di Indonesia tetap aktif. Ada bukti mereka yang pernah ke Timur Tengah (Suriah)  mulai terlibat. Level serangan bukan tingkat tinggi dengan dana yang besar, kemungkinan besar setelah Bahrum Naim tewas aliran dana terputus.

Terbunuhnya pimpinan ISIS Abubakar Al-Baghdadi tidak akan berpengaruh besar mengurangi  aksi teror di Indonesia, karena pernah dikeluarkannya instruksi bagi sel yang kembali dari Suriah ke negara masing-masing untuk melakukan teror di mana mereka berasal. Oleh karena itu, baik aparat intelijen, Densus 88 serta Koopsus harus tetap siaga, agar tidak kecolongan dari serangan teror. Semoga bermanfaat. PRAY.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen,  https://www. ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.