SIAPA MENTERI YANG BISA DICOPOT DITENGAH JALAN?

29 November 2019 | 9:42 pm | Dilihat : 176

presiden-joko-widodo-bersama-wakil-presiden-kh-maruf-amin

Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin (foto : TribunNews).
Pada term kedua ini, Presiden Jokowi akan membuktikan bahwa dalam memimpin Indonesia dirinya akan lebih tegas. Pada term pertama, yang menjadi masalah adalah lemahnya kordinasi antar pejabat dan berbelitnya birokrasi, tidak lancarnya ngurus perijinan usaha serta kurang efektif dan efisiennya cara kerja kabinet.

Dalam menyusun Kabinet Indonesia Maju, Presiden memilih menterinya dengan orientasi sebagai problem solver, pengabdi agar Indonesia bisa lebih maju. Mampu meningkatkan kinerja kementerian yang dipimpinnya dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman dimana ruang pembatas lenyap sebagai dampak kemajuan teknologi dan komunikasi internet. Teknologi terus berkembang semakin maju bahkan kini memasuki generasi ke lima (G-5). Pejabat harus faham dan menyesuaikan ke era digital, bukan hanya orang yang terkenal dan top saja, tapi gaptek.

Falsafah dan Fokus Presiden

Presiden Jokowi berasal dari Jawa, dan umumnya suku Jawa itu mempunyai falsafah sebagai pegangan hidup. Nah dalam sebuah wawancara, saat presenter Retno Pinasti menanyakan apa pegangan hidup Pak Jokowi disebutkan ada tiga yaitu :

"Lamun Siro Sekti Ojo Mateni". (Meskipun kamu sakti atau kuat, jangan suka menjatuhkan).

"Lamun Siro banter, Ojo Ndhisiki": Meskipun Kamu Cepat Jangan Suka Mendahului."

"Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri" Meskipun Kamu Pandai Jangan Sok Pintar' itu aja, ungkap Jokowi.

Selain falsafah yang demikian penting, Presiden Jokowi juga memberikan penekanan untuk para menterinya. Inti stressing adalah; Jangan korupsi, ciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi. Tidak ada visi menteri, tetapi yang ada adalah visi misi presiden dan wakil presiden. Para pembantu beserta jajaran agar bekerja cepat, keras, dan produktif.

Jangan terjebak rutinitas yang monoton, bekerja harus berorientasi pada hasil nyata. Selalu cek masalah di lapangan dan temukan solusinya . Semua harus serius dalam bekerja.

Presiden Jokowi menegaskan dan memastikan bagi para pembantunya yang tidak bersungguh-sungguh, tidak serius, bisa di copot di tengah jalan, itulah janjinya. Pray percaya ini kata orang Jawa, Sabdo Pandito Ratu.

Siapa Berpeluang Dicopot?

Sebenarnya kalau ditanya siapa yg berpeluang dicopot, ukuran utamanya apakah mereka yang tidak melaksanakan dan bahkan melanggar perintah presiden. Menteri akan dicopot kapanpun apabila dia ketahuan korupsi, ataupun ada stafnya yang korupsi, ini masalah fatal dan mematikan karier siapapun dia.

Soal visi dan misi, kalau sang menteri semaunya sendiri, tidak ikut alur yang ditetapkan pimpinan nasional bisa terancam jabatannya. Menurut penulis, pejabat yang berasal dari TNI dan Polri harus hati-hati, bisa-bisa karena pangkatnya tinggi, walau purn, bisa tanpa terasa memandang enteng presiden, saat berada di wilayah kekuasaannya.

Bagi pejabat yang lelet, tidak produktif, monoton, malas turun ke lapangan, hasil tidak nyata, ya siap-siap dicopot. Presiden Jokowi menurut penulis akan melakukan penilaian tiap tiga bulan, karena situasi dan kondisi perkembangan dunia sangat dinamis, kurang baik saat ini, terutama menghadapi ancaman resesi ekokomi.

Presiden faham, kedepan akan terjadi perebutan ruang hidup di dunia. Mereka mengincar Indonesia sebagai gadis cantik untuk dikuasai atau paling tidak di bawah pengaruhnya. Karena itu masalah integritas, kapabilitas dan kompetensi pejabat akan terus dimonitor presiden.

Presiden mengambil langkah berani, menempatkan beberapa tokoh yang relatif muda sebagai Menteri. Ada pandangan sinis, mereka belum berpengalaman di birokrasi. Justru penulis menilai ini tantangan bagi yang muda untuk membuktikan mereka bisa. Meneg BUMN Erick Tohir mulai melakukan reformasi, berani mengganti pejabat lama, membentuk kekuatan agar mesin perusahaan negara bekerja lebih efektif.

Mendikbud Nadiem juga melakukan inovasi, walau hambatan pasti ada, kita percaya akan ada gebrakan dan jalan keluar dari kebodohan. Selain itu presiden mengangkat staf khusus milenial. Arah presiden jelas, kita harus berani memanfaatkan para pemikir muda yg terdidik menyongsong persaingan tingkat dunia. Mereka sudah di era G-5 kalau kita masih di G-3 ya jelas akan terseok- seok.

Nah, yg fatal lainnya dalam beberapa bulan mendatang, apabila pejabat tidak memahami falsafah itu, kemudian menjadi ceroboh, tidak loyal bisa saja dicopot. Umumnya mereka yang sudah senior, sudah di usia senja, kemudian bak lalat, teman2 lama, pendukung di parpol, keluarga ikutan ngatur2. Maka siap2 puting beliung akan mengangkatnya dari rumah jabatan, bablas bersama koper2nya. Orang Jawa bilang "kintir", kira-kira begitu.

Bagi mereka yg merasa super, merasa lebih hebat dari pak Jokowi, bisa saja tanpa disadari arogansinya cepat atau lambat bisa keluar . Terlebih lagi apabila di LN dia merasa dihormati, disanjung. Umumnya orang akan lupa bahwa jabatan itu seperti memakai baju, mudah dipakaikan tapi juga mudah dilepas. Baju itu dipakaikan oleh dan bisa dilepas juga oleh hak prerogatif presiden, bukan oleh siapa-siapa.

Jangan sekali-kali mencoba menjatuhkan nama presiden. Jangan ambil keputusan prinsip yang bisa berdampak besar dan merugikan negara tanpa lapor presiden. Jangan keminter, merasa paling pintar dan jangan mendahului pimpinan nasional.

Dengan demikian, sebenarnya para pejabat itu duduk di kursi panas, tiap saat anda bisa terbakar karena ulah sendiri. Penulis berani menyatakan bahwa Presiden dengan hak prerogatifnya akan mencopot mereka yang dinilainya tidak mencapai target dan tidak memenuhi syarat. Tidak ada satupun menteri yang mempunyai pelindung yang namanya manusia atau partai sekalipun. Tidak ada yang kebal.

Pada term lima tahun pertama saja, Menko Polhukam hingga tiga kali diganti. Kita lihat juga dahulu Rizal Ramli dicopot dari Menko Maritim ke TAA (Tidak ada apa2nya), posisinya diganti LBP, Andi Wijayanto juga dilepas dari Mensekab Dengan demikian, maka para menteri Kabinet Indonesia Maju harus giat bekerja dengan jujur.

Jangan belum apa-apa  sudah gegeran dengan Wamennya, lebih2 kalau berebut proyek, orang Jawa mengatakan "asor". Jangan berfikir dengan pola lama dan yang paling penting jangan sekali-sekali ingin jadi matahari kembar di Galaxy Tata Surya Indonesia yang kita cintai bersama.

Presiden hanya ingin pembantu-pembantunya bekerja dengan giat dalam memangku amanah, dan dengan niat yang baik, jujur demi bangsa dan negara. Hati2, siapapun itu menteri, bisa hangus terbakar oleh matahari JKW dan anda akan back to basic jadi TAA. Salam Pray.

Penulis : Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.