Siapakah Sesungguhnya Target Operasi Saat Ini?

16 March 2015 | 10:48 pm | Dilihat : 1493

surefire-RTS

45 Degree Offset Sight (Foto : lapakairsoft.com)

Perjalanan reformasi bangsa Indonesia  telah berlangsung selama 17 tahun. Proses dimulai setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto dan digantikan era pemerintahan Presiden Habibie, dilanjutkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati, Presiden SBY dan kini Presiden Jokowi. Indonesia  dapat dikatakan  telah selamat melewati era transisi demokrasi. Konsolidasi demokrasi terus  ditingkatkan melalui penguatan sistem, kelembagaan, dan budaya demokrasi.

Apabila ditelisik dengan ilmu intelijen, sangat terasa adanya sebuah upaya clandestine operation (conditioning) yang memanfaatkan perkembangan situasi dan kondisi yang berlaku. Hantaman demi hantaman pada beberapa lini sembilan komponen intelijen strategis semakin mengkhawatirkan karena dapat menyentuh stabilitas keamanan. Apakah terdapat indikasi akan muncul konflik vertikal? Mari kita bahas berdasarkan indikasi dan fakta yang berlaku.

Perebutan kekuasaan disetiap negara, seringkali di-identikan dengan permainan catur. Dalam permainan catur, hanya ada dua pihak yang berkonflik, bidak putih dan hitam. Pemain catur pada kedua sisi yang berlawanan memegang “kendali penuh” memainkan bidak-bidaknya, mengamputasi pion demi pion untuk melemahkan posisi lawan, dengan Target Operasi (TO) akhir, tentunya sang raja.

Apakah konflik dan carut marut politik, ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini mirip permainan catur? Untuk menjawab, sebaiknya kita menelaah sejarah. Perjalanan sejarah Indonesia selalu ditandai dengan berbagai konflik, dari ideologi, agama, politik, ekonomi sampai sosial. Ini sudah berlangsung ratusan tahun sejak era Mataram Hindu, Demak, Mataram Islam, penjajahan Belanda, Jepang, awal kemerdekaan, orde lama, orde baru sampai ke orde reformasi.

Jadi penulis melihat apa yang terjadi saat ini adalah sebuah hal yang lumrah. Seorang teman diplomat asing mengatakan, konflik merupakan DNA Bangsa Indonesia. Tanpa konflik, Indonesia tidak akan menarik bagi pos diplomat. Teman tsb mengatakan, seringkali di negara-negara kawasan Skandinavia, nenek-nenek tergelincir  dari kursi roda bisa menjadi “news head line” karena minimnya berita.

Di Indonesia, kondisinya 180 derajat berbeda. Tiap detik selalu ada berita yang bisa menjadi bola liar. Dari pengalaman yang sudah-sudah, Indonesia selama ratusan tahun, berhasil selamat melalui berbagai prahara. Demikian pula, sikon carut marut saat ini hanyalah sekedar bagian dari riak perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Meskipun sekedar riak, namun, era “digital society”, mudah meningkatkan intensitas riak ini menjadi tinggi dan berbahaya bila lengah.

Tetapi dilain sisi, riak juga memberi manfaat.  Peribahasa Inggris mengatakan “in the case of adversity, there is always an opportunity” (ditengah kekacauan selalu terdapat peluang). Seorang kyai mengatakan bahwa peribahasa ini dikutip orang Inggris dari Al Qur'an, yaitu surat Al Insyiraah, ayat 5 dan 6 yang maknanya berbunyi sama yaitu:” Fa inna ma’al ‘usri yusraa.. Inaa ma’al usri yusraa”.

Nah siapakah yang bisa memanfaatkan peluang carut marutnya Indonesia saat ini? Tentunya, para cerdik cendekia yang memiliki dukungan masif, baik dukungan dana, dukungan jaringan dan dukungan politik. Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa kini terjadi persaingan hidup di dunia ini. Persaingan yang mulai terasa karena akan semakin berkurangnya sumber energy dunia, sumber makanan, sementara jumlah penduduk semakin bertambah. Nah, Negara-negara lain kini berlomba-lomba mencari peluang ke negara lain termasuk ke Indonesia.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kondisi Indonesia saat ini mirip permainan catur, dengan hanya terdapat dua pengendali permainan? Sikon yang berkembang secara vertikal dan horizontal, di banyak sektor bagaikan bola liar.  Penulis rasanya kurang sreg bila dikatakan hanya ada dua sumber pengendali permainan.

Bisa jadi pada tahap awal, hanya ada dua pengendali yang masing-masing punya TO tersendiri. Namun kondisi aktual dilapangan bergerak liar mirip satuan tanpa komando. Peta konflik menyebar bagai kanker stadium akhir. Mungkin karena keterbatasan opsi, sang pengedali menjadi puyeng dan kehilangan kendali.

Sikon seperti inilah yang penulis khawatirkan. Penulis tidak khawatir tentang sejarah Bangsa Indonesia kedepan. Insya Allah kita akan selamat. Tetapi seperti bukti-bukti sejarah, penulis khawatir akan munculnya tumbal-tumbal yang sia-sia dan menghambat kemajuan Indonesa yang sudah kita nikmati selama ini.

Menjawab judul artikel ini, nampaknya TO sudah berkembang liar. Umumnya disetiap konflik, kubu yang berseteru dipastikan memiliki TO. Dilain sisi, setiap konflik akan menciptakan kemungkinan manfaat bagi  empat pihak, yatu dua  kubu yang terjun langsung dan dua kubu bantuan pendukung. Media telah mengulas secara transaparan keseluruhan TO yang disasar. Dalam bidang politik misalnya, pada awalnya mungkin hanya dua kubu yang masing-masing memiliki TO dan kepentingan, yaitu KIH dan KMP. Kedua faksi inipun dipecah dimana PPP dan Partai Golkar menjadi TO. Penunjukan Komjen BG menjadikannya seorang TO dan kemudian berkembang cepat dari sekedar pribadi seorang calon Kapolri ke Polri sebagai institusi.

Dilain sisi, KPK juga menjadi TO, dimulai dari pimpinan kemudian institusi. Seakan tak mau kalah, lembaga yudikatif dijadikan TO karena keputusan hakim Sarpin. Presiden Jokowi yang terpojok, juga dijadikan TO, meskipun tidak langsung, tetapi diserang melalui jalur Trio Macan, serta serangan terhadap kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan.

Hukuman mati bagi napi asing pengedar narkoba berkembang menjadi gerakan asing dimana Presiden jelas dijadikan TO. Belum lagi kasus-kasus ini selesai, muncul begal-begal misterius dibeberapa provinsi yang bisa membuat begal tersebut dan Polri sekaligus menjadi TO.

Disisi eksekutif dan legislatif, Ahok, DPRD dan beberapa parpol di DPRD masing-masing memiliki TO. Bisa dikatakan kita tinggal menunggu hari untuk muncul beberapa seri TO seperti Free Port, Kementerian ESDM, BI dan Kemenkeu karena anjloknya nilai rupiah, Kementerian Perhubungan karena rentannya Lion Air, kebijakan perhubungan, open sky policy dan lain-lain. Polri akan menjadi target masalah terorisme, termasuk para terorisme (ISIS) juga akan menjadi TO.

Yang perlu diwaspadai bersama, kini rakyat akan dibuat susah,  konflik akan diciptakan baik dikalangan elit, midle class dan grass root, dan rakyat akan dibuat berfikir dan memutuskan apabila sudah makin kepepet. Dari berbagai kejadian pada beberapa bulan ini, kita hanya berharap bahwa duet pimpinan nasional tetap solid dan tidak saling menjadikan TO. Begitu?

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen  www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.