Awasi Kemungkinan Sabotase Pesawat Pengangkut Chan dan Sukumaran

1 March 2015 | 7:26 am | Dilihat : 933

pesawat terbakar

Ilustrasi Pesawat Terbakar (foto : youtube.com)

Keputusan bulat Pemerintah Indonesia yang akan melakukan eksekusi mati terhadap gembong narkoba, walau sempat ditunda, tetap akan dilaksanakan. Alasan penundaan disebutkan hanya karena masalah teknis di Nusakambangan. Kesepuluh orang tadi akan dipindahkan menjadi satu ke Lapas Nusakambangan. Jaksa Agung Prasetyo menegaskan di Istana, Rabu (25/2/2015), bahwa  sepuluh narapidana akan dihukum mati di Nusakambangan.

Pemberitaan eksekusi mati itu kini memang agak tertutup dengan berita maraknya begal dan berita perseteruan antara Gubernur DKI Jakarta Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) dengan DPRD DKI Jakarta soal APBD 2015. Soal eksekusi mati ini harus tetap diwaspadai, karena mempunyai dampak internasional yang mengganggu.

Dari 10 calon yang akan ditembak mati, terdapat 9 orang berasal dari negara lain. Daftar tunggu ditembak tersebut adalah; Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina), Myuran Sukumaran alias Mark (WN Australia), Serge Areski Atlaoui (WN Perancis), Martin Anderson alias Belo (WN Ghana), Zainal Abidin (WN Indonesia), Raheem Agbaje Salami (WN Spanyol), Rodrigo Gularte (WN Brasil), Andrew Chan (WN Australia), Silvester Obiekwe Nwolise (WN Nigeria) dan Okwudili Oyatanze (WN Nigeria).

Kasus ini kalau diukur sebenarnya sederhana, ada penyelundup (gembong narkoba) tertangkap di wilayah Indonesia, terkena hukum Indonesia dan divonis  mati. Seharusnya selesai hingga disitu. Tetapi mengapa dua negara sahabat Indonesia kini memperjuangkan keselamatan gembong narkoba tadi mati-matian? Maksudnya agar tidak dihukum mati? Negara yang "ngeyel" dengan segala cara atau usahanya  tadi hanyalah Australia dan Brazil.

Dari sembilan WN asing yang berasal  dari tujuh negara, enam diantaranya kini sudah berada di Lapas Nusakambangan, dua berada di Bojonegoro dan dua masih berada di Lapas Kerobokan Bali. Nampaknya eksekusi akan dilakukan pasti terhadap sembilan terpidana mati, karena Rodrigo Gularte (Brasil) batal dihukum mati disebabkan mengalami gangguan jiwa. Kasus ini oleh Brasil dinilai penting, dimana  Presiden Brasil Dilma Rousseff mengambil resiko, bisa  terganggunya hubungan diplomatik dan dagangnya dengan Indonesia.

Rousseff menunda acara penyerahan surat kepercayaan yang akan diserahkan oleh Dubes Indonesia, Marsdya TNI (Pur) Toto Riyanto beberapa waktu lalu. Indonesia yang marah dan terhina, kemudian menarik Toto. Hubungan militer dan dagang Indonesia-Brasil sangat besar, dimana Indonesia  membeli dari Brasil, satu skadron (16 pesawat) pesawat tempur taktis Super Tucano untuk TNI AU, penulis pernah mengulasnya (baca; "Mengenal Super Tucano pengganti OV-10 Bronco TNI AU", http://ramalanintelijen.net/?p=5074), pesawat baru datang delapan buah.  Indonesia juga membeli membeli 36 (9 Baterai) Astros II (baca; "Mengapa Pengadaan Roket MLRS Astros II Untuk TNI AD Diributkan?" , http://ramalanintelijen.net/?p=9385. Rousseff tidak peduli dan tetap menolak Toto Riyanto.

Australia terus berusaha dalam operasi penyelamatan hukuman mati dengan pelbagai cara, mulai dari langkah diplomatik, ancaman boikot turis dan bahkan PM Tony Abbott menyinggung bantuan saat terjadinya bencana Tsunami di Aceh yang membuat rakyat Indonesia tersinggung dan marah. Dia terus menelpon Presiden Jokowi memohon agar Chan dan Sukumaran jangan dihukum mati. Setelah menolak grasi, Presiden RI menyatakan bahwa ini adalah hukum di Indonesia, dan menyatakan Indonesia sudah darurat narkoba.

Tapi tetap saja Australia berusaha keras. Nah, dua terpidana mati asal Australia itu hingga  kini masih di Kerobokan, belum digeser ke Nusakambangan. Masih bisa ditemui sanak keluarga dan pengacaranya. Rencananya mereka akan dipindahkan dengan menggunakan pesawat charter.

Melihat aksi nekat Presiden Brasil Rousseff dan upaya keras PM Australia Tony Abbott, jelas ada sesuatu yang sangat penting dan prinsip dari kedua negara tersebut. Masalah Brasil mungkin akan mereda karena calon tereksekusi (Rodrigo Gularte) dibatalkan/ditunda berhubung jiwanya terganggu. Kemungkinan mereka akan menerima Toto kembali. Ini sebuah solusi bagi Brasil, terlepas mau gila atau apalah, yang penting tidak jadi dieksekusi mati. Jadi dalam hal ini citra Presiden Rousseff dalam membela warganya dalam pandangan hukum yang berbeda dengan Indonesia, warganya terselamatkan. Disinilah nilai kepentingan nasional Brasil nampaknya yang dipertaruhkannya.

Nah, bagaimana dengan Australia? Penulis sebetulnya mencurigai Australia yang menempatkan dirinya sebagai Deputy Sherif AS di kawasan Asia ini. PM Australia kini masih terus berusaha menyelamatkan, paling tidak jangan sampai Chan dan Sukumaran di eksekusi. Penulis membuat artikel dengan judul "Waspadai Kemungkinan Langkah Ekstrem Australia Terkait Eksekusi Mati," http://ramalanintelijen.net/?p=9517. Penulis menyarankan pengamanan dua gembong narkoba itu diperketat terhadap kemungkinan tidak penculikan penyelamatan. Memang banyak yang menilai kecil kemungkinan pasukan khusus Australia melarikan keduanya dengan operasi khusus.

Penulis mengapresiasi langkah Panglima TNI yang meningkatkan pengamanan di Bali, khususnya dalam kaitan eksekusi mati tersebut. TNI menggelar satu flight pesawat tempur Sukhoi 27/30 di Bandara Ngurah Rai dan menempatkan pasukan khusus. Juga TNI menyiagakan kapal perangnya di kawasan Samudera Hindia (Selatan Indonesia). Jelas dalam hal ini Bais TNI juga sudah memonitor gerakan senyap pasukan khusus  Australia yang dikabarkan melakukan latihan penyelamatan sandera di NSW dan Darwin.

Mengapa rencana eksekusi gembong narkoba demikian serius? Ini adalah pertaruhan pemerintah Australia atas keselamatan warganya dari hukuman mati yang tidak diberlakukan di Australia. Yang dipertaruhkan adalah kredibilitas serta citra pemerintah. Disamping itu, popularitas Abbott juga sedang mengalami penurunan, dan baru saja dia selamat dari voting mosi tidak percaya. Berarti kita bisa menilai yang utama adalah kepentingan nasional Australia sebagai negara yang merasa besar di kawasan Asia, ini intinya.

Mengingat Indonesia sudah melakukan pengamanan sangat serius, kini langkah operasi khusus militer jelas dapat ditangkal oleh TNI, jelas Australia tidak berani mengambil resiko apabila harus berhadapan TNI yang sudah siaga. Unsur penggentar TNI sudah siaga di Bali dan sekitarnya. Kemampuan pesawat tempur Australia kini berada dibawah kemampuan pesawat tempur TNI AU (Baca artikel penulis ; "Australia makin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU," http://ramalanintelijen.net/?p=6833 ).

Lantas, apa perkiraan langkah penyelamatan pihak Australia. Pada prinsipnya, pemerintah Australia tidak mengharapkan   tekanan dalam kasus dua warga negaranya ini. Pada intinya eksekusi tidak dilaksanakan. Chan dan Sukumaran tidak ditembak mati di Nusakambangan.

Nah, dalam kaitan ini, dari sudut pandang pengamanan intelijen, Indonesia sebaiknya mewaspadai operasi intelijen pihak Australia. Jelas dengan kemampuannya, mereka akan mampu menyadap jalur komunikasi baik pejabat mulai dari Presiden Jokowi, Wapres JK , Jaksa Agung, Menkum HAM, Pejabat Polri serta pejabat-pejabat terkait lainnya. Mereka mampu memonitor perkembangan nasib Chan dan Sukumaran. Baik didalam selnya maupun saat akan dipindahkan ke Nusakambangan.

Disinilah penulis menyarankan pengetatan pengamanan penggeseran. Kedua terpidana akan digeser dengan pesawat tebang charter. Apakah sudah dipikirkan kemungkinan upaya sabotase saat pemindahan. Pesawat terbang akan sangat mudah di sabot apabila pelaksana tidak di-cover oleh aparat intelijen udara yang terlatih. Dalam pemahaman pengamanan intelijen, harus dilakukan beberapa langkah tindak yaitu, pengamanan personil, marteriil, informasi dan kegiatan.

Pengamanan yang dimaksud adalah bagaimana pelaksana ops geser melakukan pembatasan informasi dalam kegiatan penggunaan pesawat terbang saat menggeser. Pesawat harus  disteril dalam 24 jam, dan para crew harus dicek satu persatu latar belakangnya, demikian juga petugas ground handling, untuk menghindari disusupkannya bom dalam pesawat. Pada dasarnya pengamanan penerbangan Chan dan Sukumaran harus diperlakukan mirip sebagai VVIP.

Pertanyaannya, mengapa sampai sejauh itu? Inilah yang harus kita antisipasi, bagi pemerintah Australia, yang penting kedua warganya jangan sampai berhadapan dengan regu tembak. Apakah mungkin Australia melakukan sabotase pesawat? Semestinya kita jangan lupa, bahwa jaringan narkoba di Indonesia sangat besar dan kuat, bisa saja mereka dimanfaatkan oleh aparat intelijen Australia.

Kesimpulannya, apabila upaya diplomasi, lobi, ancaman gagal dalam upaya penyelamatan, langkah paling ekstrem kini hanyalah sabotase pesawat pengangkut tahanan. Ini yang paling mungkin dan paling kecil dampaknya. Pesawat terbang apabila jatuh sulit dibuktikan penyebabnya. Terlebih apabila peyabot adalah mereka yang ahli dalam bidang penerbangan. Kira-kira demikian, yang penting lakukan counter intelijen apabila tidak mau kecolongan. Bagi Australia yang penting keduanya tewas dalam sebuah kecelakaan lebih baik daripada tewas ditembak mati, masyarakat akan menerimanya lain. Seperti Brasil, warganya lebih baik gila tetapi tidak dihukum tembak. Pemerintahan Rousseff tidak akan menerima resiko dari rakyatnya.

Sepertinya kok mengada-ada soal sabotase ini? Inilah cara berfikir intelijen, melihat, membaca serta membuat perkiraan apa langkah dari lawan. Cara pandang dengan dasar melihat kemungkinan terburuk adalah langkah pengamanan dalam arti yang sebenarnya, maksudnya agar kita tidak terkena unsur pendadakan apabila itu memang terjadi. Kembali dua kata keramat,  "Who knows?".

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

         
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.