Operasi SAR, Pencarian Black Box dan Dugaan Pembajakan Pada QZ8501

5 January 2015 | 9:42 am | Dilihat : 1128

melacak-hilangnya-air-asia

Ilustrasi AirAsia di Wilayah Indonesia (Gambar: palembang.tribunnews.com)

Kecelakaan pesawat AirAsia flight QZ8501 merupakan ujian bagi para pemangku jabatan yang bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan di Indonesia. Jelas tidak ada satupun operator yang bisa menjamin pesawatnya akan terus selamat dalam melayani penumpang. AirAsia selama ini selalu bangga tentang keamanan dan keselamatan penerbangan, tetapi kini juga mengalami musibah kecelakaan. Upaya hingga titik zero accident memang terus diupayakan, baik oleh  operator maupun regulator.

Nah dalam kecelakaan (jatuhnya) Air Asia QZ8501, ada dua badan yang langsung memikul tanggung jawab terkait menyelamatkan penumpang dan mencari penyebab kecelakaan. Basarnas inti  fokusnya mencari dan menyelamatkan penumpang, sementara KNKT bertugas mencari dan membuktikan sebab terjadinya kecelakaan, mencari Black Box sebagai sarana pembuktian sahih.

Kini Basarnas dibawah kepemimpinan Marsdya TNI FHB Sulistyo nampak berhasil mengordinasikan semua kekuatan yang membantu mencari korban di laut yang bergelombang tinggi. Disamping operasi penyelamatan oleh team SAR, TNI dan Polri, dua negara adi daya AS dan Rusia juga mengerahkan peralatan  militer dan team ahli SAR dalam membantu.  Selain itu beberapa negara lain seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Australia juga turut berpartisipasi dalam operasi SAR.

Operasi Basarnas dan KNKT

Operasi Search and Rescue yang dilakukan oleh Basarnas patut diacungi jempol, kini banyak negara yang membantu baik dalam operasi SAR maupun pencarian black box pesawat. Laut yang bergelombang cukup tinggi serta cuaca yang lebih sering tidak bersahabat membuat hingga hari Minggu (4/1/2015) baru 34 jenazah yang berhasil ditemukan dari total keseluruhan 162 orang yang berada di dalam pesawat (crew dan passanger). Basarnas berhasil menemukan serpihan pesawat, dan kini berhasil mendeteksi empat obyek reruntuhan pesawat yang agak besar pada kedalaman sekitar 30-50 meter. Upaya para penyelam masih belum berhasil mendekati target karena kuatnya arus serta tingginya gelombang, disamping jarak pandang bawah laut sangat rendah.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi, menyampaikan pihaknya telah memulai proses investigasi terkait jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 sejak kecelakaan itu terjadi pada Minggu (28/12). Dari proses itu, ia mengklaim sudah mengantongi banyak dokumen. Dokumen-dokumen yang telah dikumpulkan, kata Tatang (3/1/20150, antara lain rekaman pembicaraan pilot, daftar penumpang, daftar kargo, serta catatan maintenance pesawat.

Laporan resmi dari KNKT ini menurut Tatang akan dikirimkan setidaknya kepada negara yang terkait dengan insiden ini, yaitu Perancis sebagai negara pembuat pesawat berjenis Airbus, dan negara-negara asal korban (Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan Inggris). Hal ini sesuai dengan aturan dari International Civil Aviaton Organization, organisasi yang membawahi penerbangan sipil sedunia.

Dikatakan juga oleh Tatang  dalam insiden jatuhnya AirAsia QZ8501, ada enam negara yang berhak mengirimkan investigatornya ke Indonesia. Keenam negara itu adalah negara yang dinyatakan terkait dengan peristiwa tragis yang terjadi pada Ahad lalu.

Tatang menyampaikan kepada media bahwa pencarian black box karena terkendala cuaca, disamping tidak jelasnya koordinat impact point pesawat di laut, juga peralatan pencari sangat sensitif terhadap gelombang. Apabila black box ditemukan maka KNKT dapat melakukan pembacaan, disamping berkordinasi dan meminta saran kepada NTSB (National Transportation Safety Board) yang memiliki peralatan lengkap. NTSB adalah lembaga independen federal dari AS yang menyelidiki setiap kecelakaan pesawat sipil AS serta moda transportasi lainnya. Waktu pembacaan sekitar tiga bulan.

Pelajaran dari Kasus MH370

Menarik pelajaran dari kasus MH370 Malaysia Airlines yang raib sejak tanggal 8 Maret 2014, kecepatan penyelidikan aparat keamanan serta pengambilan keputusan otoritas penerbangan sangat menentukan dalam upayanya menemukan dimana pesawat tersebut berada. Mereka yang terlibat dalam SAR dan penanggung jawab keamanan sangat tekejut sehingga terjadi simpang siur pemberitaan. Dibutuhkan beberapa waktu dalam menentukan wilayah pencarian, diawali dari kawasan Laut China Selatan dan akhirnya pindah ke Samudera Hindia.

Dibalik proses menghilangnya pesawat, ditemukan fakta,  ATD MH370 (Actual Time of Departure) KUL  00.42.05 waktu Malaysia, pada pukul Pukul 01.21 pesawat menghilang dari layar kontrol lalu lintas udara saat transponder di pesawat dimatikan. Radar militer Malaysia (Air Defence Radar) pada pukul 02.15 berhasil memantau  MH370 berada di selatan  Phuket, Thailand, di Selat Malaka. Pesawat terus bergerak ke Barat Daya dan akhirnya menghilang dari jangkauan ADR TUDM. Satelit Inmarsat mencatat adanya komunikasi berupa "ping" yang terakhir pada pukul 08.11 kearah Samudera Hindia.

Apa yang terjadi setelah pesawat dinyatakan hilang? Yang muncul adalah keresahan, karena tidak muncul kejelasan terhadap peristiwa. Nampak para pejabat di Malaysia sangat terkejut dan menjadi gagap menghadapi minimnya informasi yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan informasi militerpun tidak menjadi suatu kepastian bahwa yang terlacak (Lasa 'X') adalah MH370. Pernyataan dari berbagai pejabat membuat sekitar 13 negara yang warganya on board pada pesawat itu menjadi resah, khususnya pihak keluarga.

Dalam kondisi ketidak jelasan tersebut, Malaysia jelas menjadi negara yang paling ditekan sebagai operator MAS, MH370. Terlebih ada kecenderungan keterlibatan awak pesawat dalam tragedi dimatikannya peralatan vital transponder dan ACARS, seperti yang disebutkan oleh PM Najib. Para keluarga korban di Tiongkok, dimana 153 diantara 227 penumpangnya ikut hilang menjadi emosional. Tekanan psikologis kepada Malaysia sebagai pihak yang paling disalahkan dan harus bertanggung jawab, jelas membawa konsekwensi pada berbagai bidang.

Kesimpulan awal pesawat masih terbang dengan kondisi peralatan (transponder dan ACARS) ada yang sengaja mematikan, sehingga jejak pesawat menjadi hilang dari radar sipil. Sejak itulah kepolisian Malaysia melakukan penyelidikan data para penumpang dan crew, karena adanya keganjilan dalam kasus tersebut. Ada beberapa fakta yang kemudian menjurus keterlibatan capt Pilot Zaharie sebagai sosok yang menguasai pesawat dan membawa terbang keluar jalur dengan kesengajaan. Hingga kini motif belum ditetapkan oleh pemerintah Malaysia, disebabkan karena black box belum ditemukan. Penulis menyebutkan dalam beberapa artikel bahwa aksi pembajakan MH370 oleh crewnya sendiri sengaja dalam rangka menghilangkan black box agar motif tidak terungkap.

Kasus Kecelakaan AirAsia QZ8501

Dalam kasus kecelakaan pesawat Airbus 320-200, flight QZ8501, kini terjadi polemik yang memang harus dibuka secara transparan. Menhub Ignasius Jonan saat melakukan sidak ke kantor AirAsia Cengkareng menemukan bukti bahwa para pilot tidak mendapat briefing dari FOO sebelum terbang. Dengan kemajuan internet, para pilot dapat mengakses data-data pendukung penerbangan tanpa briefing. Briefing tersebut jelas sangat penting, karena seperti kasus MH17, semua berjalan normal tetapi diatas wilayah Ukraina ternyata MH17 jatuh karena ditembak rudal. FOO semestinya yang mempersiapkan segala sesuatu menyangkut flight plan baik keamanan dari rute, termasuk cuaca, kondisi apabila melalui wilayah konflik militer dan lain-lainnya.

Disamping itu kini dilakukan pembekuan sementara rute Juanda-Changi, karena menurut Kemenhub, Air Asia telah melakukan pelanggaran dalam penerbangan QZ8501 yang dikatakan tanpa ijin. Kasus ini jelas menyerempet sisi pengamanan, karena pelanggaran ijin terbang merupakan suatu hal yang sangat prinsip.

Dari sisi tehnis penerbangan, banyak peneliti dan pakar penerbangan kini bingung dan mempertanyakan bagaimana bisa sebuah pesawat sebesar Airbus 320-200 itu mendadak lenyap dari layar radar tanpa meninggalkan jejak virtual. Ini adalah sebuah misteri nyata, karena tidak ada petunjuk lebih lanjut yang dapat memeberikan petujuk apa yang terjadi pada pesawat. Radar hanya menunjukkan bahwa pada ketinggian 32.000 kaki pesawat menghilang begitu saja.

Mantan pilot pesawat tempur Korps Marinir dan konsultan ABC News Kolonel Stephen Ganyard mengatakan pada acara Good Morning America, ""You would think if the crew had lost control, maybe as they'd come down there would have been some additional [radar] hits there to say 'Hey, the aircraft is descending' but it just disappeared at 32,000 feet. There's very few things that could do that. It could be weather-related, but highly unlikely. Or a bomb, but it just doesn't make sense that an airplane would disappear at 32,000 feet."  Inilah menurut penulis yang menjadi titik awal kecurigaan telah terjadi sesuatu yang sangat khusus dalam penerbangan tersebut.

Kecelakaan Pesawat di Indonesia karena Cuaca  20 Tahun Terakhir

Dalam dua dekade terakhir telah terjadi 20 kecelakaan menyangkut pesawat terbang komersial di Indonesia. Dari 15 kasus, kecelakaan yang menonjol terkait dengan cuaca tercatat ada tiga.

Pertama. Pada 16 Januari 2002, sekitar 09:20 UTC, Garuda Indonesia Airlines dengan nomor penerbangan 421, sebuah Boeing 737-300 dengan registrasi PK-GWA menggunakan dua mesin turbofan CFM56-3B1 , mengalami dual-engine flameout (power loss) dalam pendekatan menuju kota Yogyakarta di pulau Jawa, Indonesia. Crew pesawat melakukan pendaratan darurat di sungai Bengawan Solo dekat dengan kota Solo di pulau Jawa. Dari total 60 orang di atas pesawat, satu awak kabin tewas dan 12 penumpang mengalami luka fatal dan 10 penumpang mengalami luka ringan.

Data dari pencitraan satelit, CVR dan FDR serta pernyataan pilot menunjukan sebelum pesawat memasuki kawasan badai, pesawat menuju selatan dan terbang menuju ke celah antara dua badai. Pilot melaporkan bahwa mereka mencoba terbang di celah antara dua badai yang dapat dilihat dari radar cuaca pesawat. Setelah 90 detik memasuki badai, kedua mesin pesawat mati, CVR dan FDR berhenti merekam karena kehilangan listrik dari generator yang berada di kedua mesin pesawat. Pilot mencoba tiga kali menghidupkan kembali mesin pesawat namun gagal dan memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di sungai Bengawan Solo.

Kedua. Kasus jatuhnya pesawat Adam Air jenis Boeing 737-4Q8, Flight DHI574, Capt Pilot Refri Agustian Widodo dan co-pilot Yoga Susanto. Pesawat lepas landas pada pukul 12.55 WIB dari Bandara Juanda (SUB), Surabaya, Indonesia  tanggal 1 Januari 2007. Seharusnya pesawat tiba di Bandara Sam Ratulangi (MDC), Manado pukul 16.14 WITA. Tercatat 102 penumpang tewas, karena pesawat masuk laut. Black box ditemukan tujuh bulan kemudian dari kedalaman 2.000 m pada 28 Agustus 2007.

Pesawat  dilaporkan putus kontak dengan Pengatur lalu-lintas udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makasar setelah kontak terakhir pada 14:53 WITA. Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35.000 kaki.

Cuaca di daerah itu sedang badai, BMKG mencatat  ketebalan awan naik sampai 30.000 kaki (9.140 m), kecepatan angin rata-rata 30 knot (56 km / jam). Meskipun operator Bandara Juanda, PT Angkasa Pura I, telah memberikan peringatan kepada pilot mengenai kondisi cuaca, pesawat itu berangkat sesuai jadwal. Pesawat menabrak angin lebih dari 70 knot (130 km/jam) di atas Selat Makassar di mana pilot kemudian mengubah arah Timur, ke arah daratan sebelum kehilangan kontak. Dalam transmisi radio terakhirnya, pilot melaporkan angin yang akan datang dari kiri, tapi kontrol lalu lintas udara menyatakan bahwa angin harus datang dari kanan.

Penyebab kecelakaan pesawat tersebut seperti yang diumumkan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) disebabkan karena cuaca buruk, terjadi kerusakan pada alat bantu navigasi Inertial Reference System (IRS) dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat (disorientasi spasial).

Ketiga. Kasus ketiga adalah AirAsia QZ8501, yang jatuh di laut selat Karimata belum selesai dilakukan operasi SAR dan belum ditemukannya black box masih menyisakan belum ditemukannya  penyebab kecelakaan. Kronologis penerbangan seperti dijelaskan Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo menyatakan di Jakarta, Minggu (28/12/2014), pesawat take off dari Surabaya, Pkl. 05.36 WIB menuju Singapura, terbang dengan ketinggian 32.000 kaki (Flight Level 320). Pesawat mengikuti jalur penerbangan: M-635. Pesawat contact ATC Jakarta pada pukul 06.12 WIB pada  FL 320 (frekuensi 125.7 MHz).

Pada saat contact, ATC Radar Jakarta mampu mengidentifikasi pesawat pada layar radar. Saat contact, pesawat (pilot)  menyatakan menghindari awan ke arah kiri dari M-635 dan meminta naik ke ketinggian 38.000 ft (FL380). Pukul 06.16 WIB pesawat masih terlihat di layar radar,  pukul 06.17 WIB pesawat hanya tampak signal ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast). Menurut Pangkohanudnas, radar Kohanudnas melaporkan pada pukul 06.17 WIB data pesawat (Flight Number QZ8501, FL320 dan Transponder 7001) mendadak lenyap dari layar radar.   Pesawat sekaligus hilang kontak dengan ATC Pukul 06.18 WIB, target hilang dari radar sipil, hanya tampak flight plan track saja. ATC membuat pernyataan resmi QZ8501 hilang pada pukul 07.55 WIB.

Analisis Sense of Intelligence

Mengapa penulis menggunakan kata sense of intelligence? Dalam pengertiannya sense adalah sebuah rasa, yang dalam kehidupan, rasa akan didapat atau dimiliki seseorang karena dia telah melalui pendidikan dan melakukan pekerjaan sesuai pendidikannya dalam waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, bagaimana kita bisa berbicara masalah ekonomi kalau kita tidak pernah mengenyam pendidikan bidang ekonomi, itupun  saja tidak cukup, dia harus pernah bergelut dibidang ekonomi, nah secara perlahan baru seseorang akan mampu memiliki sense serupa. Instiknya akan bekerja dalam melihat perekonomian negara misalnya, akan membaik, memburuk.

Dia faham dan mampu meramal apabila terjadi manipulasi  yang ditutupi terhadap perekonomian negara. Demikian juga yang terjadi di dunia intelijen, sense akan dimiliki apabila seseorang pernah mengikuti pendidikan intelijen dan bertugas di badan intelijen, menempuh karir sebagai agent action, agent handler, analist dan master spy.

Nah, penulis mencoba membuat analisis kasus QZ8501 dengan bermodalkan sense tadi. Sense bisa mengamati dan mendalami  fakta ataupun indikasi.  Dari beberapa fakta diatas, terlihat bahwa dalam dua dekade terakhir dari 20 kasus kecelakaan pesawat di Indonesia, hanya terjadi tiga kasus signifikan kecelakaan yang disebabkan karena faktor cuaca sebagai penyebab utama. Pada kasus GA421, dengan kondisi dual engine flame out (dua mesin mati), penerbang masih mampu menerbangkan pesawat (gliding) dan melakukan emergency landing di sungai Bengawan Solo dengan selamat. Satu korban dinyatakan tewas. Disini peran pilot sangat menentukan, dia mampu mendaratkan pesawat ke sungai (selamat) dengan kondisi engine mati.

Dalam kasus Adam Air, masalah buruknya cuaca juga menjadi penyebab. Yang menjadi pendukung kecelakaan adalah terjadinya kerusakan alat bantu navigasi IRS. Pada kesimpulan terakhirnya KNKT menyimpulkan  penyebab kecelakaan adalah  kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat (disorientasi spasial). Disini menunjukan bahwa kehandalan pilot dalam menghadapi keadaan emergency akan sangat menentukan.

Dari pengalaman selama 33 tahun bertugas, terutama saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi TNI AU, jajaran penulis yang mengutamakan fungsi intelijen udara terlibat dalam kasus-kasus terjadinya kecelakaan pesawat TNI AU untuk melihat dari sisi intelijen dari sisi ancaman keamanan (sabotase, manipulasi dan lain-lain). Mayoritas kecelakaan pada umumnya terjadi saat take off dan landing, dimana dalam menghadapi cuaca buruk pada umumnya penerbang mampu mengatasi atau menghindari CB. Pernah terjadi sebuah pesawat tempur F-86 Sabre dalam penerbangan Halim-Medan terkena bad weather (CB) di atas Palembang dan penerbang berhasil landing di Palembang dengan kondisi badan pesawat mengalami keriting.

Nampaknya kasus pada penerbangan komersial, dari hasil diskusi dengan teman di KNKT, penyebab kecelakaan yang disebabkan karena weather pada pesawat komersial rata-rata hanya dibawah 5 persen (less than 5 percent). Dari data dua dekade, dari 20 kasus,  kecelakaan yang disebabkan karena cuaca yang signifikan hanya terjadi tiga kali.

Nah, dalam kasus QZ8501, seperti yang disebutkan oleh beberapa pakar penerbangan serta peneliti, yang mengherankan adalah pesawat sangat mendadak menghilang dari radar pada ketinggian 32.000 kaki tanpa jejak virtual. Menurut penulis menghilangnya data pesawat dari radar apabila transponder mati atau dimatikan. Apabila pesawat mengalami stall, maka jejaknya tetap akan terlihat di radar selama transponder hidup. Ini yang perlu menjadi perhatian aparat keamanan. Penulis kurang percaya Iriyanto sebagai pilot senior dengan jam terbang diatas 20.000 jam gagal saat menghadapi awan CB saat menerbangkan pesawat yang modern.

Memang sulit berbicara masalah teror, sabotase, pembajakan dalam sebuah kasus kecelakaan. Disadari bahwa publik umumnya terfokus pada pencarian korban, kondisi kesedihan dan semua sangat mengharapkan ditemukannya black box membuat pembicaraan menjadi sensitif. Semua terpateri kepada black box belaka. Menurut penulis, apabila kita melihat sebuah keganjilan terkait kecelakaan, segera dilakukan penyelidikan. Apabila penyelidikan ditunda dan kecelakaan disebabkan faktor eksternal, semakin lama diselidiki, pelaku bisa melakukan desepsi, bahkan menghilangkan jejak.

Menurut penulis, dapat diperkirakan di pesawat tersebut ada seseorang yang sengaja mematikan transponder sehingga data pesawat langsung hilang dari radar. Pertanyaannya siapa yang mematikannya dan apa yang terjadi selanjutnya? Yang bisa masuk cockpit hanya air crew, captain pilot, copilot dan FE (flight enginer). Didalam cockpit hanya dua orang Captain dan Co, FE duduk sebagai penumpang. Kemungkinan pesawat diambil alih, transponder dimatikan dan pelaku melakukan bunuh diri dengan menukikkan pesawat (apakah demikian?).

Dalam teori teror, membina awak pesawat untuk aksi teror jauh lebih mudah dan efisien dibandingkan menyusupkan pelaku teror sebagai penumpang. Dalam hal ini, kalau benar, pelaku bisa lone wolf (tidak terkait sebuah organisasi) atau seseorang yang dibina menjadi teroris. Tentang motifnya, ini yang perlu diselidiki. Bisa merupakan pesan, tekanan psikologis, dendam misalnya. Tetapi bila itu sebuah aksi bunuh diri, pada umumnya dilakukan karena kepercayaan serta keyakinan tertentu, pelaku sudah di brain wash, bisa juga bomber bunuh diri (suicide bomber), dia melakukan karena bunuh diri sebagai tugas suci, berjihad, dan percaya akan masuk surga, bisa banyak lagi kemungkinan motif.

Kemungkinan terjadinya ledakan bom di pesawat menurut penulis agak kecil, karena seperti kasus MH17, dalam kasus pesawat meledak di udara, pecahan pesawat serta jasad manusia tersebar di area sekitar 12 mil luasnya. Untuk QZ8501, debris serta korban manusia ditemukan dalam area yang bisa diperkirakan terpencar karena arus. Umumnya beberapa bagian pesawat diperkirakan terkumpul. Jadi kemungkinan besar pesawat jatuh menukik dan pecah setelah menghantam laut. Apabila pesawat ditching, jejaknya akan tetap ada dan kemungkinan pesawat hanya terbelah dua, tidak tercerai berai.

Seperti kasus MH370, yang meminta negara lain data-data penumpang, sudah saatnya aparat keamanan melakukan penyelidikan siapa dan apa latar belakang crew serta penumpang. Kita perlu menyelidiki kasus ini dengan sense of intelligence. Memang nampaknya terlalu cepat, tetapi effortnya tidak terlalu sulit. Fokus utama kepada siapa Co Pilot dan FE yang bisa masuk cockpit, disamping latar belakang penumpang, apakah ada yang terkait atau ahli dalam bidang penerbangan?.  Untuk Captain Iriyanto nampaknya menjadi korban, penulis banyak mengumpulkan informasi Iriyanto sebagai junior, walaupun dari standard lid tetap harus diselidiki. Memang langkah ini akan terasa kurang menyenangkan beberapa pihak, tetapi demi kelengkapan sebuah penyelidikan dan masa depan keselamatan penerbangan sebaiknya dilakukan.

Dikaitkan dengan jalannya penyelidikan terkait terorisme, tidak ada hujan atau angin, mendadak pemerintah Amerika mengeluarkan warning soal kemungkina serangan teror, travel ban kepada warganya agar hati-hati terhadap ancaman  di hotel atau di bank di Surabaya. Nampaknya ada sebuah perkembangan ancaman yang berasal dari kota Surabaya dimana AirAsia ini berangkat, apakah demikian? Apakah ancaman dari perkembangan ISIS atau justru sebuah desepsi?

Analisa serta kesimpulan yang penulis buat mungkin sulit diterima beberapa pihak, ini hanya upaya menjawab keganjilan yang ada. Yang jelas sebuah kejahatan tidak selamanya sempurna, dipastikan akan meninggalkan jejak. Jangan ditunda, tetapi dikerjakan saja secara silent, penulis perkirakan aparat akan menemukan bukti keterkaitannya dalam kasus ini.

Apabila nanti dibuktikan bahwa ini adalah sebuah kecelakaan murni karena cuaca, paling tidak unsur terkait sudah melakukan tugasnya. Penyelidikan sudah dilakukan secara komprehensif.  Kita terima dengan besar hati. Mohon maaf kalau ada yang tidak setuju, ini hanya sebuah sumbang pikiran. Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Dalami Keganjilan Air Asia di Juanda Disitu Awal Musibah QZ8501,  http://ramalanintelijen.net/?p=9404

-Hilangnya Air Asia QZ 8501 Dari Sudut Pandang Intelijen, http://ramalanintelijen.net/?p=9394

-MH370 dan MH17 Adalah Dua Pesan Teror Terhadap Malaysia, Adakah Pesan Ketiga?  http://ramalanintelijen.net/?p=9261

-Apakah Malaysia Airlines MH17 Memang Sudah Ditarget? http://ramalanintelijen.net/?p=8660

-Skenario Desepsi MH370 dan Alasan Ke Samudera Hindia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8264

-Boeing 777 Malaysia Airlines Flight MH17 Jatuh Ditembak di Udara Ukraina,  http://ramalanintelijen.net/?p=8550              
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.