Mengapa Menhan AS Chuck Hagel Mengundurkan Diri ?

4 December 2014 | 2:44 pm | Dilihat : 620

120921-A-TT930-028

Ashton Carter (kiri) dan Chuck Hagel (tiga dari kiri), sumber : redstate.com

Pada hari Senin, 24 November 2014 Presiden AS, Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden mendampingi pernyataan  Menteri Pertahanan Chuck Hagel selama konferensi pers tentang pengunduran dirinya sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat. Hagel tetap akan berada di posnya hingga presiden mengumumkan penggantinya.

Pengunduran diri Chuck Hagel dinilai beberapa pihak cukup mengejutkan, sehingga kini menjadi berita menarik di seantero dunia. Menhan AS yang biasa disebut sebagai Secretary of Defence adalah sebuah jabatan yag kuat dan prestisius disamping Menteri Luar Negeri. Hagel diberitakan mundur setelah dua tahun menjabat sebagai Menhan, sebagai akibat atau korban dari pertikaian diantara pemerintahan Obama atas kebijakan keamanan nasional, terutama mengenai isu di Timur Tengah.

Dari beberapa informasi,  Presiden Barack Obama nampaknya telah memilih mantan Wakil Menteri Pertahanan Ashton Carter untuk menggantikan Chuck Hagel di Pentagon, seperti yang disebutkan oleh majalah Politico  Selasa (2/12/2014). Pemerintahan Obama memilih Carter, tetapi presiden belum siap untuk mengumumkannya karena proses pemeriksaan untuk mendapatkan persetujuan  sedang berlangsung. Hingga kini Gedung Putih masih menolak berkomentar. Sebuah pengumuman resmi bisa datang pada akhir pekan ini atau berikutnya. Jika dikonfirmasi oleh Senat, maka Carter akan kembali resmi ke Pentagon mengantikan Chuck Hagel.

Presiden Obama secara resmi mengumumkan rencana pengunduran diri tersebut di Gedung Putih. Dia mengatakan Hagel mendekatinya bulan lalu dan menyimpulkan bahwa "Itu adalah waktu yang tepat baginya untuk menyelesaikan penugasannya." Baik Hagel maupun presiden memberikan alasan spesifik untuk keputusan tersebut.

Sementara itu para pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden  Obama telah kehilangan kepercayaannya  terhadap kemampuan Hagel untuk mengawasi kemampuan  operasi militer AS dalam menghadapi  ancaman musuh di Irak dan Suriah.

Diberitakan oleh Washington Post bahwa pada akhir Oktober lalu, pejabat pemerintah membocorkan fakta bahwa Hagel telah menulis sebuah memo  kepada penasehat keamanan nasional Susan E. Rice tentang  strategi Gedung Putih untuk Suriah yang membuatnya menjadi sulit. Perbedaan persepsi terjadi satu bulan setelah Obama menunjuk seorang jenderal purnawirawan, John R. Allen, sebagai utusan khusus untuk merakit koalisi dengan Negara-negara  Islam . Beberapa pejabat di Pentagon melihatnya sebagai suatu hal yang telah mengurangi peran Hagel.

Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengatakan kepada wartawan bahwa pada awalnya Hagel dipilih sebagian besar untuk mengelola pemotongan belanja pertahanan dan perubahan birokrasi lainnya di Pentagon. Akan  tetapi dengan munculnya gejolak ISIS (Islamic State)  dan krisis lainnya, Obama memutuskan bahwa "menteri lainnya mungkin lebih tepat untuk memenuhi tantangan tersebut."

Senator John McCain mengatakan bahwa ia tidak selalu sependapat dengan Hagel dan dahulu dia menentang pencalonannya. Namun McCain mengatakan bahwa Hagel "frustrasi dengan aspek kebijakan keamanan nasional pemerintahan dan proses pengambilan keputusan." Disebutnya sebagai micromanagement yang berlebihan dari sebagian pejabat di Gedung Putih.

Ditegaskan oleh McCain, bahwa "Pada akhirnya, presiden perlu menyadari bahwa sumber  kegagalannya saat ini terkait dengan  keamanan nasional lebih disebabkan dengan   kebijakan yang salah arah dari pemerintahannya, serta peran yang dimainkan oleh Gedung Putih dalam merancang dan mengimplementasikannya," katanya.

Beberapa pengamat militer mengatakan, ketika Obama menominasikan Hagel pada Januari 2013, Presiden berniat membatasi pengeluaran pertahanan, mereda perang di Afghanistan dan menjaga militer AS kembali terlibat dalam konflik di Timur Tengah. Presiden memilihnya dengan pengalaman tempur di Vietnam, dan yakin bahwa  Hagel mengerti pemikirannya, "Bahwa pengiriman pemuda Amerika untuk berperang dan kembali berdarah-darah serta  berkubang di kotoran dan lumpur adalah sesuatu yang hanya dilakukan ketika  benar-benar diperlukan."

Presiden Obama menyatakan enggan kembali diseret  ke Timur Tengah untuk berperang, ia hanya menandatangani perintah penyebaran untuk mengirim sebanyak 2.900 tentara ke Irak untuk bertugas sebagai penasihat dan pelatih dalam memerangi Negara Islam (IS). Nampaknya disinilah perbedaan prinsip antara Menteri Pertahanan dengan kebijakan presiden serta penasihat keamanannya.

Seperti diberitakan bahwa calon kuat pengganti Menhan Chuck Hagel adalah mantan Wamenhan Ashton Carter. Berbeda dengan Hagel, Carter bukanlah seorang militer.  Carter, 60, sedikit dikenal di luar Washington, tapi terkenal karena kecerdasannya. Seorang sarjana Rhodes,  meraih gelar doktor dalam teori fisika dari Universitas Oxford dan memperoleh gelar dalam ilmu fisika dan sejarah abad pertengahan dari Yale. Carter adalah seorang anggota dari Harvard, ia mulai mengajar di Stanford musim gugur ini.

Carter pernah menjabat selama  satu tahun sebagai wakil menteri pertahanan, yang  pada dasarnya jabatan tersebut sebagai kepala eksekutif birokrasi Pentagon. Tetapi diberitakan hubungannya dengan Menhan Hagel dnilai kurang baik. Ketika ia mengundurkan diri, Carter hanya menyatakan dalam surat pengunduran dirinya bahwa itu adalah "waktu bagi saya untuk pergi."

Carter mulai  bergabung dan masuk ke  Pentagon pada tahun 1981 sebagai analis sipil, ia bekerja pada pertahanan rudal, senjata nuklir dan program untuk menjaminkelangsungan  pemerintah dalam hal perang nuklir. Sebagai wakil menteri pertahanan 2011-2013, keberhasilan yang berhasil diatasi oleh  Carter ditandai dengan ketidakpastian fiskal di Pentagon. Dia berhasil melakukan pemotongan tajam dalam pengeluaran pertahanan, sebuah penghematan yang diperkirakan akan terus berlanjut untuk setidaknya dua tahun ke depan.

Carter dikenal juga sebagai pejabat yang bisa memaki bak seorang sersan, dia pekerja keras yang tidak menyukai kerja lambat. Dia terkenal energik, teliti dan memiliki disiplin tinggi. Dengan demikian maka di Pentagon akan terjadi perubahan kebijakan, karena karakter Hagel dan Carter yang berbeda.

Para analis militer menyangsikan penggantian Menteri Pertahanan akan mampu meningkatkan citra serta keberhasilan pemerintahannya. Obama dikatakan para pengamat telah mengalami masalah dalam panggung politik keamanan di dunia, lambatnya dalam kebijakan pengambilan keputusan tentang konflik di Syria menyebabkan pengaruh Islamic State dengan cepat telah membesar dan semakin berbahaya.

Dikatakan, bahwa pemerintahan Obama tidak akan dapat berbuat banyak  jika pejabat yang dipilihnya tidak dapat menembus lingkaran presiden (inner crcle) dan tidak diberi kebebasan dan kewenangan untuk menerapkan ide-ide baru. Masalah ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintahan Presiden Jokowi yang akan membentuk organisasi semacam west wing pada bulan Februari 2015.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-Apabila Baghdad Jatuh Seperti Saigon, Apa Tindakan Amerika?, http://ramalanintelijen.net/?p=9195

-Awas ; ISIS Akan Menyerang dengan Senjata Teror Ebola, Target Utama Warga AS Dimanapun, http://ramalanintelijen.net/?p=9174

-“The Siege of Kobane,” Islamic State Menggabungkan Antara Terorisme, Perang Gerilya dan Perang Konvensional, http://ramalanintelijen.net/?p=9165

-Teroris Khorasan Grup, Elit Al-Qaeda Akan Menyerang Maskapai Penerbangan AS, http://ramalanintelijen.net/?p=9135

-Presiden Obama; Intelijen AS Meremehkan ISIS. Mengapa?,  http://ramalanintelijen.net/?p=9127

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.