Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen Kanada Ottawa

24 October 2014 | 1:53 pm | Dilihat : 409
[google-translator]

14141045901533885770Pelaku penembakan Michael Zehaf-Bibeau ( Sumber : abc.net.au)

Serangan teror berupa penembakan dengan senjata api yang sangat mengejutkan terjadi di Canada War Memorial dan kemudian berlanjut kedalam Gedung Parlemen Kanada di kota Ottawa pada hari Rabu (22/10/2014 pagi. Menurut polisi, penembakan di tugu peringatan perang itu telah menewaskan seorang anggota tentara yang sedang bertugas menjaga tugu peringatan perang tersebut. Korban tewas bernama Kopral Nathan Cirillo (24), seorang tentara cadangan yang bertugas di  Argyll and Sutherland Highlanders of Canada Regiment. Cirillo saat itu sedang bertugas menjaga di Canada War Memorial tersebut, dan ia setelah ditembak di dadanya langsung tewas. Menurut informasi polisi, kejadian pertama terjadi pada pukul 09.52 waktu setempat.

Setelah melakukan penembakan kemudian penembak yang menggunakan baju hitam dan syal penutup wajah kemudian mencegat mobil dan bergegas menuju ke gedung parlemen yang berada diseberang monumen peringatan.  perang tersebut. Dimuka gedung parlemen, penembak melepaskan beberapa tembakan saat berhadapan dengan staf keamanan. Beberapa aparat polisi melakukan pengejaran dan melepaskan tembakan beruntun, tetapi penembak berhasil masuk ke dalam gedung parlemen dan terjadi tembak menembak. Menteri Urusan Veteran Julian Vantino (mantan Polisi) mengatakan bahwa Kepala Keamanan Parlemen Kevin Vickers akhirnya berhasil menembak  penembak itu.

Pada peristiwa penembakan di Gedung Parlemen itu tiga orang kemudian dibawa ke Rumah Sakit dan diantaranya terdapat seorang anggota Satuan Pengamanan.

Dari hasil penyelidikan, dari hasil identifikasi pelaku, penembak diketahui bernama Michael Zehaf-Bibeau (32), seorang mualaf yang dilahirkan dengan nama Michael Joseph Hall. Dalam catatan polisi Kanada yang bekerjasama dengan FBI, pelaku diketahui pernah ikut berjuang dan bergabung dengan pemberontak di Libya selama pemberontakan  yang menggulingkan orang Perdana Menteri Khadafi.

Selain itu dokumen pengadilan di Kanada menyebutkan, Michael Zehaf-Bibeau juga pernah masuk penjara di Quebec 10 tahun yang lalu karena kasus narkotika dan pada tahun 2011 pernah didakwa terlibat kasus perampokan.

Pada saat terjadinya penembakan, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper sedang berada di dalam gedung dan berhasil dievakuasi oleh team pengamanan. Harper menyatakan bahwa bangsa Kanada akan “tidak pernah terintimidasi” dan mengatakan anggota tentara yang sedang bertugas jaga pada  upacara luar peringatan perang di Ottawa itu telah “dibunuh dengan darah dingin”.

PM Harper juga menyatakan kepada ABC News bahwa, ”Pada hari-hari yang akan datang, kita akan belajar lebih banyak tentang teroris dan apa yang mereka bisa lakukan, tapi kejadian pada minggu ini adalah pengingat suram bahwa Kanada tidak kebal terhadap jenis serangan teroris seperti yang telah kita lihat telah terjadi di tempat lain di seluruh dunia,” katanya.

Dalam catatan kasus serangan, kasus penembakan hari Rabu itu terjadi setelah Pemerintah Kanada menaikkan status kewaspadaan terhadap teror. Pada hari Senin (20/10), dua orang anggota militer Kanada telah ditabrak dengan mobil oleh pelaku yang bernama  Martin Rouleau Couture, satu diantara korban diketahui meninggal dunia. Dalam peristiwa itu pelaku kemudian ditembak mati oleh polisi.

Dari hasil penyelidikan polisi Kanada, Couture tercatat pindah agama dan masuk Islam sekitar setahun yang lalu. Pada bulan Juli 2014, yang bersangkutan ditangkap polisi lalu dan paspornya disita, karena diketahui yang bersangkutan akan berangkat ke Timur Tengah. Polisi kemudian melepasnya karena  tidak memiliki cukup bukti untuk menahannya kata Martine Fontaine dari RCMP.  ”Ketika dia ditangkap, ia akan pergi ke Turki,” kata Fontaine. “Kami berhenti saat ia hendak meninggalkan Kanada untuk aksi terorisme. Dia mempertanyakan ketika ia ditangkap. Kami belum dapat menentukan ancaman nyata saat ini.”

Polisi menyatakan bahwa belum ada indikasi peristiwa Senin dan Rabu itu terkait satu sama lainnya. Setelah kejadian di Montreal itu, pemerintah Canada menyatakan kepada media tentang perlunya kewaspadaan terhadap ancaman teror seperti yang telah disuarakan oleh Islamic State dan Al-Qaeda.

Dalam hubungan dua negara antara Kanada dan Amerika Serikat, diketahui bahwa Kanada mendukung langkah Amerika dalam langkah memerangi Islamic State di Irak dan Suriah. Kanada pada bulan September telah mengirimkan 69 anggota pasukan khususnya ke Irak Utara sebagai penasehat militer untuk membantu pasukan keamanan Irak dalam memerangi penempur IS. Selain itu Kanada pada awal Oktober ini menyatakan akan bergabung dalam melakukan serangan udara bersama AS  serta akan membantu USD 10juta untuk pengungsi korban IS.

Aparat keamanan Kanada bersama-sama dengan FBI melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena ada indikasi ada penyerang lain di gedung parlemen yang berhasil melarikan diri. Setelah kejadian, dalam rangka mengantisipasi serangan lanjutan lain misalnya seperti serangan 911, NORAD (North American Aerospace Defense Command) yang merupakan komando pertahanan Udara Amerika Utara yang bekerjasama dengan Kanada telah meningkatkan kesiagaan pesawat tempur dalam rangka mengantisipasi kemungkinan ancaman lainnya.

Dari peristiwa yang terjadi di Montreal dan Ottawa, walaupun belum pasti dikatakan terkait, nampak adanya indikasi kedua pelaku adalah oknum yang terkait dengan kawasan Timur Tengah yang sedang bergolak, khususnya dengan dikeluarkannya ancaman Islamic State dan Al-Qaeda terhadap AS dan sekutunya (koalisi). Sebuah pertanyaan, apakah kasus penembakan termasuk pelaksanaan jihad anggota IS yang telah diberikan fatwa oleh induknya, yaitu Islamic State di Irak dan Suriah? Ancaman penyerangan juga hampir terjadi di Sidney dan Brisbane di Australia, dimana simpatisan IS telah merencanakan penculikan dan pemenggalan kepala tetapi dapat digagalkan oleh aparat keamanan beberapa waktu yang lalu.

Ancaman serangan berbentuk teror mulai muncul di negara-negara Barat yang membantu AS dalam memerangi Islamic State dengan pemboman di Irak dan Suriah, dan ternyata mereka mulai mencoba melakukan serangan balasan kecil tetapi mematikan dan akan menjadi berita besar. Dalam teori terorisme, sebuah serangan teror bersenjata atau pemboman pada target terpilih penting akan menjadi berita besar, dan itulah sebuah pesan kepada lawan teror yang jelas akan menakutkan secara psikologis. Apakah serangan akan berhenti? Menurut penulis, itu adalah serangan-serangan pendahuluan, yang bisa berlanjut. Masyarakat internasional, khususnya negara-negara Barat akan gelisah apabila militan Islamic State mampu melakukan pemenggalan di negara mereka. Ini yang perlu diwaspadai dan dihindari.

Kunci utamanya adalah seberapa jauh dan mampu aparat intelijen melakukan mapping kelompok atau individu yang terlibat  teror. Kegagalan intelijen akan berakibat akan terganggunya stabilitas keamanan nasional masing-masing.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam kasus Islamic State, Indonesia tidak melibatkan diri dalam pasukan koalisi dengan Amerika. Sehingga Indonesia berada diluar daftar negara yang mereka jadikan target terpilih. Tetapi di Indonesia terdapat kelompok teror yang walau kecil tetapi sel-selnya masih aktif. Selain itu beberapa anggota kelompok radikal yang berangkat ke Suriah diketahui telah kembali ke tanah air dan diperkirakan aktif melakukan upaya memotivasi simpatisan IS.

Selain itu juga tercatat ada organisasi yang telah berba’iat kepada pimpinan Islamic State Abu Bakr al-Baghdadi, sehingga kerawanan keamanan mudah mereka munculkan. Sebaiknya pemerintahan baru dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi tetap mewaspadai kelompok ini. Kita jangan mengambil resiko dengan meremehkan mereka, karena di Indonesia pernah terjadi lima serangan besar bom bunuh diri sejak 2002-2009 yang menyerang AS dan sekutunya. Kita jelas tidak suka apabila kembali terjadi serangan negara ketiga di Indonesia.

Kasus serangan terhadap gedung parlemen Kanada, penembakan di monumen War Memorial serta fatwa ancaman pemenggalan kepala di Australia sebaiknya menjadiearly warning aparat intelijen dan keamanan baik Polri maupun TNI. Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan dan kewaspadaan bersama.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen,  www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Apabila Baghdad Jatuh Seperti Saigon, Apa Tindakan Amerika?,  http://ramalanintelijen.net/?p=9195

-Awas ; ISIS Akan Menyerang dengan Senjata Teror Ebola, Target Utama Warga AS Dimanapun, http://ramalanintelijen.net/?p=917

-”The Siege of Kobane,” Islamic State Menggabungkan Antara Terorisme, Perang Gerilya dan Perang Konvensional, http://ramalanintelijen.net/?p=9165

-Teroris Khorasan Grup, Elit Al-Qaeda Akan Menyerang Maskapai Penerbangan AS,  http://ramalanintelijen.net/?p=9135

-Presiden Obama; Intelijen AS Meremehkan ISIS. Mengapa?,  http://ramalanintelijen.net/?p=9127

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.