Apabila Baghdad Jatuh Seperti Saigon, Apa Tindakan Amerika?

18 October 2014 | 1:45 pm | Dilihat : 1120
 [google-translator]

ktt NATO di Wales

Presiden Obama dan Para Pemimpin NATO  (Foto : voanews.com)

Dari perkembangan medan tempur di Suriah dan Irak, walaupun dihujani dengan roket serta bom oleh koalisi pimpinan Amerika, nampaknya para penempur ISIS atau Islamic State (IS) tetap mampu melebarkan sayap serangan dibeberapa medan tempur. Saat ini penempur IS harus menembus dan menghadapi  pertahanan perlawanan pasukan Peshmerga dari suku Kurdi di kota Kobane.

Kota ini bernilai sangat strategis bagi IS karena merupakan kota paling dekat dengan perbatasan Suriah dan Turki. Lalulintas pokok antara Suriah dan Turki akan melalui Kobane yang mayoritas di huni oleh suku Kurdi.  Pertempuran berkobar di daerah-daerah Timur, Barat dan Selatan Kobane, yang merupakan kota Kurdi terbesar ketiga di Suriah. Penempur Islamic State sejak memulai gerak maju mereka di Kobane pada 16 September. Pesawat tempur AS dan koalisi melakukan serangan udara sejak 27 September 2014.

Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris menyampaikan kepada AFP minggu lalu dalam pertempuran selama tiga pekan sedikitnya 412 orang, termasuk 219 penempur IS, 173 penempur Kurdi dan pasukan afiliasi serta 20 warga sipil telah tewas sejak  dimulainya pengepungan Kobane oleh IS. Beberapa warga melaporkan bahwa penempur IS melakukan pemenggalan kepala bagi pasukan Kurdi yang tertangkap atau tewas, juga ada pemotongan tangan dan kaki. Kondisi mengerikan, di sebagian kota dimana demikian banyak mayat yang membusuk dibiarkan tergeletak di jalan.

Dalam pertempuran di Kobane, koalisi memberikan bantuan tembakan udara serta beberapa serangan udara langsung terhadap posisi penempur IS. Serangan udara koalisi AS mendapat kritikan, seperti yang disampaikan oleh Anthony Cordesman, dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, yang menyatakan bahwa serangan di Kobane dan lokasi lainnya di Irak dan Suriah dihitungnya 1.700 sorti (sejak Agustus 2014), jumlahnya kurang dari 5 persen dibandingkan serangan udara saat koalisi menyerang Irak pada tahun 2003 yang dalam waktu 26 hari sebanyak 41.000 sorti.

Dalam dukungan serangan udara di Kobane menurut laporan itu dari tanggal 1-12 Oktober 2014 hanya 39 hits, dimana rata-rata hanya 3 sorti sehari. Pusat Strategi itu mengatakan, bahwa kondisi bahaya terhadap penduduk, mengingat kurangnya tekanan udara koalisi, dimana situasi Kobane sangat kritis, karena demikian banyak korban, mengalirnya 200.000 pengungsi dan masih adanya penduduk yang terjepit di Kobane. Dikhawatirkan akan  terulang seperti kasus pembantaian ribuan umat muslim di Srebrenica tahun 1995 oleh pasukan Serbia Bosnia.

Juru bicara Pentagon Laksamana John Kirby, mengatakan kepada wartawan Rabu (8/10),  "Serangan udara saja tidak akan mampu melaksanakan hal itu, dan  mereka tidak akan mampu memperbaikinya, mereka tidak akan dapat menyelamatkan kota Kobane," katanya. Sementara Ketua Gabungan Kepala Staf, Angkatan Darat Jenderal Martin Dempsey, menyatakan, "Saya takut bahwa Kobane akan jatuh dan tidak diragukan lagi Islamic State akan menimbulkan kekejaman yang mengerikan kepada ribuan penduduk yang masih tinggal di Kobane.

Selain penilaian terhadap Kobane, Jenderal Martin Dempsey juga menyatakan kekhawatirannya tentang keamanan Kedutaan Besar AS dan keamanan bandara internasional di Baghdad Irak. Kini penempur Islamic State hanya melakukan serangan mortir ke sekitar Baghdad dan beberapa anggotanya menyerang dengan bom bunuh diri terutama di daerah yang berpenduduk muslim Syiah. Sementara beberapa helikopter tempur Apache melakukan serangan terhadap konsentrasi IS di sekitar Baghdad.

Bagaimana kalau Kobane dan Baghdad jatuh ketangan IS? Hal ini yang kini dikhawatirkan petinggi di AS itu. Dalam kasus Kobane, pemerintah dan tentara Turki tidak mau terlibat dalam konflik dan hanya berjaga sepanjang perbatasannya, menyiagakan tank tempur. Jatuhnya Kobane akan menaikkan citra penempur IS.  Dari komponen sejarah intelijen strategis, Turki sudah lama berseteru dengan minoritas Kurdi yang kini mempertahankan Kobane. Turki mendukung pejuang anti pemerintah Basar al-Assad kecuali IS. Dan Turki menginginkan Amerika menjatuhkan pemerintahan Assad. Sementara AS menginginkan Turki mengirimkan pasukannya terlibat di Kobane. Tidak ditemukan jalan keluar, akibatnya penempur Kurdi harus bertempur sendiri di darat melawan penempur IS hanya dengan bantuan tembakan udara terbatas dari AS dan koalisi.

Penulis setuju dengan pendapat beberapa pengamat, bahwa kondisi Kobane justru akan menguntungkan Islamic State. Mereka kuat, militan, dan kejam, tetapi mampu memberikan harapan sesuatu yang lebih baik dari penguasa yang korup dan mentalnya lemah. Pada akhirnya masyarakat Sunni dari Suriah dan Irak akan tidak mempunyai pegangan, dan tidak akan menentang jihad yang terus disuarakan oleh IS. Keberpihakannya hanya menunggu waktu, karena pemerintahan dari Syiah  kinerjanya dinilai buruk. Inilah strategi IS yang terus menggabungkan aksi terorisme, perang gerilya dan perang konvensional.

Lantas bagaimana apabila Baghdad jatuh ketangan penempur Islamic State? Kasus Baghdad mirip dengan kasus Saigon dalam perang Vietnam yang berlangsung antara 1 November 1955 - 30 April 1975. Dalam perang panjang keterlibatan AS di Vietnam, akhirnya dibawah tekanan politik dalam negeri, AS terpaksa angkat kaki dari Vietnam. Saigon jatuh di tangan pasukan Vietnam Utara dan Vietkong.

 Perang ini merupakan kelanjutan dari  perang Indochina Pertama (1946-1954) dan terjadi antara Vietnam Utara didukung oleh Uni Soviet, sekutu-dan komunis China dan lainnya pemerintah Vietnam Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutu anti-komunis lainnya.  Viet Cong (juga dikenal sebagai Front Pembebasan Nasional, atau NLF), terlibat perang gerilya melawan pasukan gabungan koalisi pimpinan AS, termasuk Vietnam Selatan.

Dalam perjalanan perang, AS melakukan kampanye pengeboman strategis besar-besaran terhadap Vietnam Utara. Pemerintah Vietnam Utara dan Viet Cong berjuang untuk menyatukan kembali Vietnam di bawah pemerintahan komunis. Mereka memandang konflik sebagai perang kolonial, berjuang pada awalnya melawan pasukan dari Perancis dan kemudian Amerika, Perancis didukung oleh AS. Kemudian pasukan Vietnam Utara dan Viet Cong melawan Vietnam Selatan, yang dianggap sebagai negara boneka AS.

Dalam perjalanannya, kekecewaan terhadap perang oleh AS menyebabkan penarikan bertahap pasukan darat AS sebagai bagian dari kebijakan yang dikenal sebagai Vietnamisasi, yang bertujuan untuk mengakhiri keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam. Setelah Saigon jatuh ke tangan Tentara Vietnam Utara pada bulan April 1975 menandai akhir perang, Vietnam Utara dan Selatan kemudian bersatu pada tahun berikutnya.

Perang Vietnam ini menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Perkiraan anggota militer  Vietnam dan warga sipil yang tewas bervariasi jumlahnya antara  800.000- 3,1 juta jiwa.  Korban dari warga Kamboja antara  200,000-300,000 jiwa, Laos antara 20,000-200,000 jiwa.  Dalam perang panjang itu sebanyak  58.220 anggota militer AS juga tewas.

Pertanyaannya, apa yang didapat oleh Amerika? Dalam perang Vietnam itu, Pemerintah AS melihat keterlibatannya dalam perang Vietnam sebagai sebuah  cara untuk mencegah pengambilalihan Vietnam Selatan oleh kekuatan komunis. Ini adalah bagian dari containment strategy  dengan tujuan untuk  menghambat  dan menghentikan penyebaran komunisme. Menurut domino theory dari pemerintah AS,  menilai perkembangan situasi dan kondisi wilayah di Asia Tenggara saat itu, jika satu negara menjadi negara komunis, maka negara lainnya akan mengikuti, seperti jatuhnya kartu domino. Karena itu kebijakan AS menyatakan pemerintahan komunis untuk seluruh Vietnam tidak dapat diterima.

Setelah Saigon jatuh ketangan gabungan pasukan Vietnam Utara dan Viet Cong, maka Vietnam bersatu dibawah pemerintahan komunis dengan nama negara Republik Sosialis Vietnam.   Kota Saigon berganti nama menjadi Ho Chi Minh City. Setelah menarik diri, AS melakukan operasi intelijen untuk menjaga jatuhnya kartu domino komunis di negara-negara tetangga Vietnam yaitu Laos, Thailand, Myanmar, Kamboja, Malaysia, Singapore dan Indonesia dimana terdapat gerilya komunis. Semua negara tersebut dikondisikan menolak dan memerangi faham komunis. Langkah dengan meminimalisir korban jiwa kemudian menjadi salah satu pengalaman dan sejarah bagi AS.

Nah, kini situasi dan kondisi yang terjadi di Suriah dan Irak agak mirip dengan yang terjadi di Vietnam, perbedaannya, kalau dahulu faham komunis, kini terorisme. Lawan AS kini jauh lebih berbahaya dibandingkan lawan masa lalunya. Komunis tidak pernah mencapai negara atau daratan Amerika, tetapi kalau terorisme mampu menghancurkan simbol perekonomian AS, meruntuhkan gedung kembar World Trade Center. Sementara perang Vietnam hanya berkecamuk di Vietnam dan sekitarnya.

Sementara ancaman masa kini, AS sangat waspada dan alergi terhadap musuh utamanya yaitu terorisme. Al-Qaeda mampu membuat sejarah menyerang kepentingan AS di negara ketiga dan di mainland AS, kini badan intelijen AS memonitor bahwa ada ancaman serius dari unit inti Al-Qaeda (Khorasan) dan penempur Islamic State yang mengancam akan menyerang langsung ke AS.  Baik berupa aksi teror membom pesawat komersial AS maupun ancaman berupa senjata biologi virus Ebola seperti yang disampaikan melalui buletin Homeland Security dan FBI.

Dari perkembangan di Suriah dan Irak, terlihat bahwa militan Islamic State terus menggempur beberapa kota dan menguasainya. Yang jauh lebih rawan adalah di Irak, dimana mental pasukan Irak banyak yang sudah jatuh dan meninggalkan peralatan perangnya. Dalam perang di Irak, pasukan IS mampu merebut pangkalan udara di Irak Barat minggu lalu. IS terus bergerilya dan mengepung kota-kota di propinsi Anbar yang hanya berjarak sekitar 115 km dari Baghdad.

Walau Amerika serta sekutu melancarkan serangan sporadis terhadap penempur IS, baik AS maupun Inggris tetap menolak mengirimkan pasukan darat ke Irak. Kedua negara menginginkan agar warga Irak, pemerintah serta pasukan keamanan Irak yang memimpin di lapangan menghadapi IS. Perdana Menteri Irak yang baru, Haider al-Abadi berupaya untuk menjangkau para pemimpin suku Sunni untuk melibatkan mereka dalam perjuangan melawan IS, tetapi ia menghadapi hambatan ketidak percayaan mereka terhadap pemerintahan Syiah yang dipimpinnya.

Melihat perkembangan di kawasan medan tempur Suriah dan Irak, nampaknya target Islamic State untuk mengepung Baghdad akan terlaksana. Jenderal Martin Dempsey sangat mengkhawatirkan keamanan Baghdad sebagai kota terpenting di Irak, dimana terdapat kedutaan besar AS. Jatuhnya Baghdad dapat diperkirakan akan terjadi, karena kini dengan aksi serangan IS di perbatasan kota, rasa tidak aman mulai menyelimuti warga Baghdad. Bukan tidak mungkin suatu waktu Baghdad akan jatuh.

Apabila Baghdad jatuh, kemungkinan wilayah Irak lainnya akan ikut jatuh, dan kelompok serta pemimpin suku Sunni justru akan berfihak ke IS. Nah pada saat itu situasi yang sangat berbahaya akan mengarah ke muslim Syiah di Baghdad. Akan terjadi pembantaian besar-besaran di Baghdad dan kota-kota lainnya di Irak. Apakah AS akan menurunkan pasukan? Nampaknya kecil kemungkinannya, tidak ada yang dipertaruhkan di  Irak masa kini. Oleh karena itu nampaknya nasib Baghdad akan mirip dengan Saigon, apabila jatuh akan dilebur oleh kekuatan Islamic State yang merupakan muslim Sunni. AS akan angkat kaki dari Irak, mungkin seperti itu skenarionya.

Skenario lainnya,  apabila informasi Edward Snowden tentang "the hornet' nest" benar, maka saat itulah koalisi pimpinan AS serta sekutu akan menghancur leburkan penempur Islamic State, dengan menerjunkan kembali pasukannya. Pada saatnya, AS telah memperhitungkan bahwa para jihadis radikal seluruh dunia telah berkumpul di bawah kendali Abu Bakr al-Baghdadi. Paling tidak badan intelijen AS akan mendapatkan data akurat para tawon teroris dunia yang kini berkumpul di Irak dan Suriah. Apakah demikian? Ini sebuah ramalan intelijen yang akan dibuktikan pada saatnya nanti.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.