“The Siege of Kobane,” Islamic State Menggabungkan Antara Terorisme, Perang Gerilya dan Perang Konvensional

11 October 2014 | 11:33 am | Dilihat : 925

 [google-translator]

1412859609596_wps_26_Kobane_map_09_10_2014_jpg

Peta Serangan Penempur Islamic State di Kobane (Sumber : dailymail.co.uk)

Dalam waktu tiga minggu terakhir, di kota Kobane,  sebuah kota di Suriah yang dekat dengan perbatasan Turki terus terjadi pertempuran mati hidup antara para penempur Islamic State dengan penempur Kurdi YPG. Dalam pertempuran sengit tersebut, , Observatorium Suriah yang berbasis di Inggris untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights )  mengatakan para penempur Islamic State telah merebut markas utama otoritas militer dan sipil Kurdi. Dikabarkan IS telah menguasai sekitar 40 persen wilayah kota.

Observatorium Suriah (SOHR) itu  juga menyampaikan kepada AFP bahwa sedikitnya 412 orang, termasuk 219 penempur IS, 173 penempur Kurdi dan pasukan afiliasi serta 20 warga sipil telah tewas sejak  dimulainya pengepungan Kobane oleh IS sekitar tiga pekan yang lalu.  Pertempuran berkobar di daerah-daerah Timur, Barat dan Selatan Kobane, yang merupakan kota Kurdi terbesar ketiga Suriah. Penempur Islamic State sejak memulai gerak maju mereka di Kobane pada 16 September, segera membersihkan seluruh daerah pinggiran dan kemudian mengepung Kobane dengan ketat.

Lawan  Islamic State di Kobane adalah milisi YPG atau Unit Perlindungan Rakyat (Kurdi ; Yekîneyên Parastina Gel- Arab; Wihdat Himayah ash-Sha'ab) yang adalah milisi sayap bersenjata resmi dari the Kurdish Supreme Committee of Syrian Kurdistan, Democratic Union Party  (PYD). Suku Kurdi, yang berjumlah 15 persen dari 23 juta warga Suriah, sekarang tinggal di bagian Utara Suriah yang terus dilanda pergolakan yang cukup lama.

Lebih dari 186.000 warga Suriah telah melarikan diri ke Turki selama tiga minggu terakhir, setelah tekanan serangan semakin keras di Kobane. Lebih dari 200 warga Suriah yang menyeberang perbatasan dalam beberapa hari terakhir telah ditahan oleh pihak berwenang di Turki, yang  mempertanyakan hubungan mereka dengan militan Kurdi   YPG. Dikabarkan bahwa sekitar 700 warga sipil Kurdi masih tertinggal dan terjepit di Kobane. Namun wakil ketua partai yang memerintah AK Turki, Yasin Aktay, mengatakan kepada BBC pada hari Jumat bahwa semua warga sipil Kobane telah meninggalkan kota dan sudah di Turki.

Kobane menjadi kota yang penting dan strategis yang diincar IS, karena jika dikuasai maka mereka akan mengendalikan  jalur distribusi antara Suriah dan Turki. Kota ini yang juga dikenal sebagai Ain al-Arab itu, apabila jatuh akan menjadi hadiah besar bagi kelompok IS, dimana mereka akan menguasai kendali yang tak terputus atas bentangan wilayah sepanjang perbatasan antara Suriah dengan Turki.

tank turki

Tank Turki Hanya Bersiaga di Perbatasan (Foto: bbc.co.uk)

Dalam pertempuran tersebut, militer Turki hanya menyiagakan pasukan dan tanknya di sepanjang perbatasan, tanpa ikut terlibat dalam pertempuran. Mereka menolak mengirimkan pasukannya ke Kobane. Turki terlibat perang saudara yang panjang dengan minoritas Kurdi dan kini tidak mengizinkan kelompok Kurdi menerima persediaan dan senjata kecuali memenuhi seperangkat tuntutan yang hampir tidak mungkin terpenuhi secara politik. Turki juga menginginkan PYD untuk menjauhkan diri dari Kurdistan Workers 'Party yang dilarang, yang pemerintah Turki serta Amerika Serikat menyebutnya sebagai kelompok teroris.

Komando Pusat AS (US Central Command) mengatakan bahwa pesawat-pesawat tempur AS bersama UEA dan pesawat militer Arab Saudi telah melakukan  serangan udara  pada hari Kamis dan Jumat (10/10/2014) di sekitar Tenggara dari Kobane dan di Deir al-Zour, Suriah Timur, yang berhasil menghancurkan beberapa kendaraan IS dan fasilitas pelatihannya.

Kemenlu AS berpendapat  bahwa kota Kobane tidak boleh jatuh ke tangan para penempur Islamic State (ISIS). Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jennifer Sake, menyatakan telah terjadi hubungan telepon pada hari  Selasa (7/10/2014) antara Menlu AS John Kerry dan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada hari Selasa (07/10/14) menyebut pertempuran yang berlangsung di kota Kobane (Ain al-Arab), yang disaksikan oleh dunia melalui televisi, adalah menakutkan.

Islamic State Semakin Taktis Dalam Medan Tempur

Para pengamat militer kini menjadi lebih memperhatikan dan khawatir dengan kemajuan para penempur Islamic State dalam kemajuan penyerangan ke Kobane. Dibawah ancaman dan gempuran serangan udara pesawat-pesawat tempur AS dan koalisi, mereka mampu bergerak secara taktis dalam melawan penempur sayap militer Kurdi YPG. Menurut Institute Studi Perang Unit tempur Islamic State kini  menggabungkan struktur kepemimpinan menyebar dengan strategi militer multi-cabang dari terorisme, perang gerilya dan perang konvensional.

Menurut Walter Laqueur seorang peneliti masalah terorisme, selama ini terorisme tidak dapat dikatakan sebagai perang, karena jauh dari peperangan. Di samping itu juga berada di luar perang gerilya, perang revolusioner pemberontakan atau perang konvensional. Tujuan perang konvensional untuk penghancuran secara total, baik manusia maupun material, perang gerilya merupakan perang revolusioner untuk menimbulkan kerusakan fisik. Sedang terorisme, cenderung menginginkan hasil kerusakan secara psikologis. Aksi teror baik pembunuhan, penculikan, kerusuhan, dan aksi lainnya mengabaikan segala bentuk peraturan dan prosedur perang. Korban aksi teroris kebanyakan masyarakat, yang pada saat insiden berada dekat tempat serangan.

New Yorker Dexter Filkins menyatakan, "Salah satu keunggulan dari strategi militer ISIS ini telah meluncurkan beberapa serangan secara bersamaan, mengganggu lawan dari target yang sesungguhnya." Sementara ahli tentang ISIS asal Irak,  Hisyam Alhashimi mengatakan,  "Kelompok ini berjuang di berbagai bidang di Irak dan Suriah,  dipercayai bahwa mungkin mereka merencanakan serangan besar di tempat lain, di Teluk atau di Eropa," katanya.

Sementara, David Kilcullen, ahli kontra insurgency menuliskan di bukunya, Out of the Mountains: The Coming of Age of the Urban Guerilla ;  Dalam lingkungan perkotaan, di mana tembak-menembak cenderung singkat dan terjadi pada jarak pendek antara sejumlah kecil gerilyawan, kemampuan para teroris yang beroperasi dalam sebuah kelompok besar, kelompoknya didistribusikan menjadi tim kecil otonom, dengan mobilitas yang tinggi akan  merupakan keuntungan taktis kunci kemenangan.

Yang kini dilakukan oleh unit tempur Islamic State, meskipun itu seolah-olah dipimpin oleh "the  Ghost" Abu Bakr al-Baghdadi, banyak letnan dan deputinya bertindak secara otonom, dimana struktur pengendalian sangat terdesentralisasi. Taktik kelompok penyerang tersebut   membutuhkan komando, kontrol dan kendali cepat  yang dapat disesuaikan dengan hampir pada semua situasi  yang dihadapi.

Penempur Islamic State terus bergerak menyerang dari Mosul ke Sinjar dan kini ke Kobane, dalam  strategi perluasan wilayahnya. Kelompok penyerang kemudian akan memanfaatkan dan  bergantung pada pengendalian kota regional, yang oleh pengamat dikatakan  sebagai tujuan utamanya (primary objective). Sekali mereka menguasai kota, kelompok penyerang memulai bagian kedua dari apa yang mereka kampanyekan dan sama suksesnya dengan taktik pendudukan.

Secara terbuka mereka  berbaur dengan penduduk setempat, terutama simpatisan IS atau mereka cenderung menjadi bersimpati kepada IS, untuk mendorong mereka memberontak terhadap pemerintah/penguasa setempat. Dan yang kedua adalah untuk melemahkan legitimasi partai yang berkuasa di kota ini dan melemahkan kepercayaan dalam layanan keamanan pemerintah. yang penting adalah bagaimana menanamkan pengaruh ideologi kepada penduduk yang wilayahnya mereka kuasai. Oleh karena itu, Islamic State  jarang kehilangan kota yang telah mereka kuasai.

 First Lieutenant Dennis Lowe menulis pada Small Wars Journal bahwa, "Daya tergantung pada kontrol populasi dan aliran sumber daya" (Power is dependent on its control of populations and the flow of resources). Dimana gabungan dari keduanya akan merupakan alat mencapai kemenangan dan mengendarai dari benteng perkotaan menuju sasaran berikutnya. Setelah menguasai Mosul, mereka banyak mendapatkan hasil rampokan baik dari Bank maupun penjualan minyak. Tercatat kekayaan mereka sempat berkisar diatas US$2 miliar dan jumlah anggotanya diperkirakan kini diatas 31.000 orang.

Dari beberapa informasi diatas, terlihat bahwa penempur Islamic State kini bukan hanya segerombolan orang dengan seragam hitam, berbendera hitam dan menenteng senjata AK saja. Mereka sudah lebih terkordinasi, terlatih dan mampu menerapkan taktik teror yang di gabungkan dengan perang gerilya (perang revolusioner) dan perang konvensional. Titik berat langkah mereka tetap pada teori dasar aksi terorisme. Dengan pengembangan strategi baru, maka timbul dan tercapai efek penggentar berupa daya rusak fisik, manusia dan material yang digabungkan dengan efek psikologis berupa rasa takut yang sangat.

Hal inilah  kini yang kini membuat cemas Amerika dan terlebih lagi Turki. Perlawanan baik milisi YPG, maupun kekuatan pemberontak lain yang di dukung Turki selama ini agak sulit membendung arus serangan militan Islamic State. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan kini semakin khawatir dan memperingatkan bahwa kota perbatasan itu akan jatuh, dan dia  khawatir apabila Kobane jatuh akan sulit untuk direbut kembali.

Erdogan juga mengatakan bahwa serangan udara saja mungkin tidak cukup untuk menghentikan kemajuan militan IS, dia  menyerukan lebih banyak dukungan diberikan kepada  pemberontak yang menentang pemerintah Suriah. Dengan demikian, ia mengulangi fokus kebijakan utama antara Turki dan Washington: Presiden AS Barack Obama ingin Turki untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap Islamic State, sedangkan Erdogan ingin upaya AS untuk lebih fokus untu menjatuhkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad . Turki diketahui telah lama mendukung oposisi bersenjata untuk Assad, tetapi tidak ingin terlibat langsung sendiri dalam menerjunkan pasukan darat. Kondisi yang complicated ini jelas banyak menguntungkan militan IS.

Inilah salah satu keuntungan dari penempur Islamic State, lawannya langsung dalam pertempuran kota hanya kelompok sayap bersenjata Kurdi YPD,  gangguan lainnya dari serangan udara koalisi dibawah pimpinan AS memang cukup merusak tetapi tidak terlalu menghambat selama mereka menerapkan sistem kodal yang terdesentralisasi. Penulis hanya mengingatkan, bahwa para ahli strategi dan counter terrorism di Indonesia sebaiknya mempelajari dan menguasai taktik baru yang dimainkan oleh penempur Islamic State. Mereka telah berkembang jauh lebih maju, mampu menembel titik lemah dan rawannya pada kemampuan infanteri serta kemampuan memengaruhi rasa takut lawan dan memotivasi untuk bergabung. Itulah ISIS/ISIL/IS atau apalah namanya yang semakin canggih dan menakutkan.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

     
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.