Australia Mengirimkan SAS Dan F/A-18 Super Hornet Dalam Operasi Gabungan Bersama AS di Irak

29 September 2014 | 2:23 pm | Dilihat : 480
 [google-translator]

f_a_18_super_hornet_by_makivic-d5g39ve

Pesawat Tempur F/A-18 Super Hornet (foto: deviantart.com)

Australia telah mengirimkan delapan jet tempur F / A-18F Super Hornet beserta 400 personil pendukung dan 200 pasukan khusus SIS (Special Air Service)   ke Uni Emirat Arab dalam rangka persiapan untuk bergabung serangan terhadap IS target di Irak. Selain itu dikirimkan juga pesawat early warning E-7A serta pesawat tanker KC-30A. Personil dan Alutsista tersebut akan ditempatkan pra strategis di pangkalan militer Australia di Al Minhad di Uni Emirat Arab. Mereka akan berada di samping pesawat C-130 dan C-17 yang sudah dikirimkan  untuk mengangkut senjata dan perlengkapan para pejuang Peshmerga di Utara Irak.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengatakan bahwa meningkatnya terorisme Islamic State (Negara Islam) merupakan ancaman ke Australia yang tidak dapat diabaikan. Pengiriman militer Australia dan komitment tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan.Ditegaskannya, '"Ini bukan hanya situasi keamanan internasional, tetapi situasi keamanan dalam negeri, '' katanya.

PM Abbott mengatakan tidak ada rencana bagi warga Australia untuk bertempur di Suriah. Dia menggambarkan misi tersebut pada dasarnya ''sebuah operasi kemanusiaan untuk melindungi jutaan orang di Irak dari kemarahan pembunuh gerakan Isil ," tegasnya. Pasukan khusus SAS yang dikirimkan dalam jumlah kecil tersebut hanya akan bertugas sebagai penasihat militer untuk tentara Irak dan ke Peshmerga.

"Akan ada keputusan-keputusan lebih lanjut yang akan dibuat sebelum pasukan Australia dilibatkan bagi operasi-operasi tempur di Irak," kata Abbott dalam jumpa wartawan di Darwin. "Kendatipun demikian, Australia siap terlibat dalam operasi-opeasi internasional untuk mengacaukan dan melumpuhkan ISIL yang berganti nama menjadi IS, karena ancaman yang ditimbulkan kelompok itu tidak hanya pada rakyat Irak , tetapi juga rakyat Timur Tengah, bahkan seluruh dunia termasuk Australia."

 Abbott menjelaskan bahwa permintaan khusus Itu berasal dari Menteri Pertahanan Chuck Hagel kepada Menteri Pertahanan Australia  David Johnston.  Selain itu PM  Abbott telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pemimpin dunia lainnya, termasuk PM Irak yang baru  Haider Al-Abadi, yang membuat permintaan langsung untuk dilakukannya intervensi militer dalam rangka memulihkan perdamaian dan keamanan di negaranya. Australia kini terdaftar bersama negara-negara lain yang telah sepakat untuk berpartisipasi dalam koalisi yang dipimpin oleh Amerika, bersama-sama dengan Inggris, Prancis, Belanda, Kanada, Yordania, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

"Sudah jelas bahwa semakin banyak negara melakukan beberapa bentuk aksi militer untuk mendukung pemerintah Irak dan untuk mengganggu dan menurunkan gerakan Isil," katanya.  Selanjutnya dikatakan,"Pemerintah Belanda baru saja sepakat untuk mengirimkan delapan F-16 dan kami melihat lima negara Timur Tengah bergabung dengan Amerika Serikat dalam serangan mereka pada Isil target di Suriah dalam beberapa hari."  Australia harus 'memainkan peran dalam memerangi kultus kematian.'

Pemimpin Oposisi Bill Shorten dalam sebuah pernyataan mengatakan, "Buruh mendukung pengumuman dari penggelaran pasukan militer Australia, termasuk aset RAAF dan personil untuk Uni Emirat Arab, '' katanya.

Keterlibatan baik pasukan maupun alutsista Angkatan Bersenjata Australia ke Irak bukan yang pertama kalinya. Pada invasi AS bersama pasukan koalisi NATO ke Irak tahun 2003, Australia juga ikut terlibat.

Saat itu pemerintahan Australia yang dipimpin PM  Howard  mendukung perlucutan senjata Irak selama krisis perlucutan senjata Irak. Australia kemudian mengirimkan salah satu dari empat kontingen pasukan tempur paling besar selama invasi Irak tahun 2003, dengan sandi Operasi Falconer. Bagian dari kontingen ini termasuk di antara pasukan pertama yang memasuki Irak setelah  koalisi menyatakan eksekusi. Kekuatan yang dikirimkan terdiri dari  tiga kapal Angkatan Laut Australia, 500 tentara pasukan khusus SIS, pesawat patroli maritim P-3 Orion , pesawat angkut C-130 Hercules dan 14 pesawat tempur F/A-18 Hornet dari skadron 75.  Pasukan ini mulai ditarik  dari Irak pada tanggal 1 Juni 2008 dan secara penuh  ditarik oleh pada tanggal 29 Juli  2009.

Dengan demikian maka Australia telah membuktikan dirinya menjadi sekutu Amerika yang dinilai setia, karena di banyak medan tempur, pasukan serta mesin perangnya mereka kirim, terutama apabila berkoalisi dengan AS. Apakah dengan pengiriman perkuatan militer dalam jumlah banyak lantas Islamic State menjadi lemah? Belum tentu juga. Mereka akan lebih memanfaatkan langkah teror yang lebih mengerikan, terutama dalam menyerang negara-negara yang tergabung dalam Koalisi .

Yang perlu diwaspadai adalah langkah "homegrown terrorism," dimana IS akan mengaktifkan para simpatisannya yang mereka rekrut dibanyak negara dan Australia sudah menerima ancaman dari warganya sendiri yaitu Muhammad Ali Baryalei sebagai salah satu tokoh Islamic State di Irak, yang memerintahkan simpatisannya di Sydney dan Brisbane untuk melakukan aksi teror berupa pemenggalan kepala dengan korban acak. Indonesia juga sebaiknya waspada, karena simpatisan IS cukup banyak disini dan lagipula ada militan IS asal Indonesia yang sudah kembali.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.