Analisis Ancaman ISIS di Australia

24 September 2014 | 9:59 pm | Dilihat : 500
 [google-translator]

ali baryalei isis

Tokoh ISIS asal Australia M.Ali Baryalei  (heraldsun.com.au)

Pada hari Kamis (18/9) pagi buta, aparat keamanan dan intelijen Australia melakukan penggerebekan dan penangkapan di Kota Sydney dan Brisbane terhadap kelompok terduga teroris dari ISIS yang kini berganti nama menjadi Islamic State.

Penangkapan dilakukan sebagai hasil penyadapan yang dilakukan oleh ASIO (Australian Security Intelligence  Organisation) terhadap seorang tokoh IS asal Australia, M Ali Baryalei (33) yang kini berada di Irak. Salah seorang yang ditangkap di Bursill Street di Guildford, Sydney Barat dari 15 tersangka tersebut adalah Omarjan Azari (22), dituduh bekerja sama dengan Barylei dan merencanakan tindak terorisme di kota-kota Australia.

Dalam operasi penangkapan oleh Polisi Federal di Brisbane, disita sejumlah senjata tajam berupa pedang, pisau, dan seragam militer. Penangkapan dilakukan setelah Ali Baryalei melakukan hubungan telepon ke komunitas Afghanistan (Azari) yang memerintahkan melakukan penangkapan siapa pun saja korbannya, memenggal, melakukan rekaman video dan menancapkan kepala korban ke bendera Islamic State. Kemudian rekaman dikirimkan melalui internet ke Irak dan akan diunggah ke Youtube.

Menanggapi terbongkarnya kasus tersebut, Perdana Menteri Australia Tony Abott mengatakan bahwa polisi Australia percaya pembunuhan yang direncanakan berupa sebuah demonstrasi pembunuhan dari pihak teroris. Islamic State diduga merencanakan pemenggalan publik yang akan dilakukan atas nama kelompok militan Negara Islam.

Pemimpin Oposisi Bill Shorten mengatakan bahwa tuduhan itu “benar-benar mengerikan. Laporan di mana orang-orang itu diduga mempersiapkan pemenggalan benar-benar mengejutkan. Sama seperti yang dirasakan oleh setiap warga Australia, tindakan itu membuat saya sakit perut untuk berpikir bahwa beberapa gambar dan video yang kita kaitkan dengan bagian-bagian lain dunia mungkin bisa terjadi di jalan-jalan kita,” katanya.

Pihak Kepolisian dari New South Wales (Komisaris Polisi Andrew Scipione) menyatakan bahwa kekerasan akan bisa dilakukan kepada anggota masyarakat di jalan-jalan, tetapi meminta masyarakat untuk tetap tenang. Semua rencana yang mungkin terjadi telah digagalkan.

Media di Australia melaporkan bahwa delapan ratus polisi menggerebek perumahan dan mobil di pinggiran kota Sydney dari Beecroft, Bellavista, Guildford, Merrylands, Northmead, Wentworthville, Marsfield, Westmead, Castle Hill, Revesby, Bass Hill dan Regents Park yang menurut aparat keamanan ini adalah operasi kontra-terorisme terbesar dalam sejarah Australia.

Polisi menggunakan 25 surat perintah penggeledahan untuk melaksanakan serangan, yang berlangsung pada hari Kamis, dan mengatakan tiga orang mencoba melawan penangkapan. Sebuah senjata api telah disita, namun Komisaris Scipione mengasumsikan bahwa itu mungkin bukan menjadi satu-satunya senjata yang dikumpulkan.

Polisi NSW meluncurkan operasi baru, di mana 200 polisi akan dikirim ke daerah-daerah di mana serangan mungkin terjadi. Menteri Imigrasi Scott Morrison mengatakan pada hari Kamis bahwa skala operasi “menunjukkan ancaman yang sangat nyata yang ada, dan pekerjaan yang sangat baik yang sedang dilakukan oleh lembaga”.

Otoritas Australia meyakini Baryalei, 33, telah merekrut setidaknya setengah dari 60 orang warga Australia yang saat ini sedang ikut berperang dengan ISIS dan memiliki posisi terpercaya dalam komando operasi di kelompok teroris yang terkait dengan Al-Qaeda.

Jaksa Michael Allnutt di Pengadikan Pusat Sydney mengatakan dugaan pelanggaran itu. “Jelas ini dirancang untuk membuat masyarakat Australia terkejut, takut dan terancam. Penggerebekan ini merupakan reaksi cepat untuk mengatasi bahaya yang sudah jelas dan memang harus ditindak,” kata Allnutt.

Analisis

Penggerebekan terduga simpatisan Islamic State di Sydney dan Brisbane Australia menunjukkan bahwa kelompok militan Jihadis di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi yang dikenal dengan julukan “hantu” itu telah mampu membangun jaringan, kini hingga ke Australia. Yang membuat gelisah aparat keamanan dan warga Australia adalah rencana mereka yang secara acak akan menangkap target dan kemudian memenggalnya dan menancapkan ke bendera hitam simbolnya. Kemudian video dikirimkan ke tim media IS di Irak untuk disebarkan.

Upaya dari para anggota Islamic State asal Australia itu jelas akan merupakan sebuah iklan tersendiri di dunia internasional. Oleh karenanya, badan intelijen Australia ASIO terus melakukan pelacakan dan surveilans rencana-rencana mereka. Menurut Ketua ASIO, David Irvine pernah menyatakan pada bulan Agustus 2014 bahwa dari hasil monitornya, dari 60 warga Australia yang bergabung dengan IS di Irak, kini tersisa sekitar 45 orang. Mereka diyakini tewas dengan berbagai faktor dan aksi. Dua di antaranya setelah melakukan bom bunuh diri.

Irvine hanya menggarisbawahi mengenai peringatan ancaman ISIS di Australia. Dia menilai spionase dan intervensi asing di Negeri Kanguru telah meningkat. Tewasnya anggota ISIS asal Australia diakuinya berpotensi melahirkan anggota baru dari kalangan warga Australia. Pemerintah Australia berusaha mencegah warga mereka terlibat dalam kelompok ISIS. Sejauh ini, sekitar 160 warga Australia dilaporkan ASIO terdaftar dalam anggota ISIS. Khaled Sharrouf, anggota ISIS asal Australia, sempat memicu kemarahan di dunia maya setelah mem-posting foto anaknya yang berpose dengan kepala tentara Suriah di Twitter. “ISIS merupakan kelompok radikal yang paling banyak menyedot warga Australia dalam beberapa tahun terakhir,” kata Irvine.

Menurut Channelnewsasia, Menurut Irvine, sebelumnya belum pernah ada warga Australia yang ikut terlibat dalam kelompok radikal selain ISIS atau Islamic State. Kemudian tercatat sekitar 60 orang Australia telah membantu dua kelompok ekstrem di Timur Tengah, yakni ISIS dan Jabhat-al-Nusra yang merupakan turunan Al-Qaeda. Sekitar 100 warga di Australia lainnya juga secara aktif telah mendukung operasi ISIS. Dikatakannya bahwa para simpatisan ISIS memiliki tugas yang berbeda dengan para anggota lainnya di Timur Tengah. Mereka bertugas merekrut pejuang baru, mencari kandidat pengebom bunuh diri, menyediakan dana, dan membeli perlengkapan perang.

Ancaman di Australia membuktikan bahwa kelompok teror radikal yang menamakan Islamic State (Daulah Islamiyah) tersebut semakin merupakan ancaman nyata di Australia, yang menyeberangi wilayah Indonesia dari Timur Tengah.

Lantas pertanyaannya, bagaimana dengan monitoring di Indonesia? Australia bukan negara dengan penduduk dengan mayoritas muslim, kini saja terdapat sekitar 100 simpatisan. Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim dapat diperkirakan jumlah simpatisan Daulah Islamiya bisa 10 kali lipat, dan bahkan kini mungkin lebih. Dalam operasi penggerebekan di NTB (Bima), diketahui bahwa mereka sudah berani melempar bom rakitan kepada Densus, hingga terpaksa ditembak mati.

Kini secara pasti belum diketahui secara pasti berapa warga Indonesia yang ikut perang di Irak dan Suriah. Dengan kondisi tersebut dan melihat perkembangan Islamic State di Australia yang terbongkar, aparat keamanan Indonesia perlu bekerja keras untuk melakukan surveilans agar jangan sampai kecolongan dan terjadi aksi penggal kepala. Ini akan menurunkan citra pemerintah dan menaikkan gengsi IS di Tanah Air, yang pasti akan sangat membuat heboh dan menakutkan. Stabilitas keamanan akan sangat terganggu bila itu terjadi.

Yang menjadi salah satu titik rawan di Indonesia, dalam waktu dekat akan terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Rawan, karena dapat dipastikan ada sebuah dinamika politik khusus dan jelas perubahan nilai yang kadang sulit diprediksi. Di situlah teroris bisa memainkan peran yang berbahaya dan menakutkan. Waspada dan alert, mungkin hanya itu kata yang tepat.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, pengamat intelijen www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.