Bau Konspirasi di Balik Dua Kasus Boeing 777ER Malaysia Airlines

8 August 2014 | 7:08 am | Dilihat : 2513
[google-translator]  

conspiracyDunia internasional benar-benar dikejutkan dengan dua kasus kecelakaan yang terjadi pada dua pesawat super modern Boeing 777-200ER yang dioperasikan Malaysia Airlines. Dalam rentang waktu empat bulan sembilan hari, kecelakaan terjadi pada  pesawat dengan flight number MH370 (hilang sejak 8 Maret 2014) dan flight MH17 (patut diduga ditembak rudal di Ukraina Timur pada 17 Juli 2014). Apabila melihat kedua kasus itu,  keduanya hingga kini masih merupakan misteri. Tidak jelas mengapa MH370 itu lenyap begitu saja, dan kini belum dapat dibuktikan siapa yang menembak MH370.

Penulis tertarik dengan sebuah artikel yang ditulis sesama "the Blues," Marsekal (Pur) Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI AU yang menganalisa kasus Boeing dengan judul "Apa Yang Salah Pada Boeing 777." Pak Chappy yang merupakan sahabat penulis, yang sama-sama penulis, sama-sama mantan perwira tinggi TNI AU, sama-sama anak wartawan, sama-sama hobby nyanyi dan ngeband adalah salah satu pakar terkemuka di Indonesia dalam dunia transportasi, lebih khusus penerbangan. Penulis sebut pakar karena bukan hanya bicara, tetapi juga menuliskan masalah penerbangan dalam analisa-analisanya yang sangat cerdas.

Nah, pada kesempatan ini penulis mencoba mengaitkan pemikiran Pak Chappy dengan pemikiran penulis dari perspektif yang agak berbeda, tetapi bisa dipakai sebagai bahan dasar analisis yang lebih lanjut untuk membongkar apa sebenarnya dibalik ini semua. Memang yang kini tersentuh dari tiga kasus Boeing 777, yang masih merupakan misteri dua kasus yaitu  Boeing 777  dengan operator Malaysia. Kasus ini jelas menarik bagi kita apabila misteri tersebut kita kaitkan dengan teori konspirasi.

Pendapat Chappy Hakim tentang kasus Boeing 777ER

Pada tanggal 6 Juli 2013, pesawat B 777-200ER Asiana Airlines flight 214 mengalami kecelakaan saat akan mendarat di San Fransisco International Airport. Tiga orang meninggal dunia, 181 luka-luka dan 304 lainnya selamat. The New York Times, tanggal 24 Juni 2014, memuat tulisan tentang penjelasan NTSB, National Transportation Safety Board tentang kecelakaan tersebut. Pada garis besarnya, NTSB berpendapat bahwa kecelakaan terjadi karena Pilot terlalu banyak mengandalkan mekanisme pengendalian otomatis dari pesawat, namun sebenarnya dia tidak menguasai dengan baik secara keseluruhan sistem otomatis tersebut.

Pada garis besarnya, NTSB berpendapat bahwa kecelakaan terjadi karena Pilot terlalu banyak mengandalkan mekanisme pengendalian otomatis dari pesawat, namun sebenarnya dia tidak menguasai dengan baik secara keseluruhan sistem otomatis tersebut. NTSB juga berpendapat bahwa kecelakaan itu telah memunculkan pertanyaan besar terhadap sistem otomatis yang seharusnya bertujuan meningkatkan keamanan terbang dan sangat membantu dalam penerbangan jarak jauh, ternyata telah menurunkan “basic pilot flying skills”. Saat itu, Pilot terpaksa melakukan pendekatan manual untuk mendarat, karena alat bantu pendaratan otomatis di San Fransisco International Airport tidak berfungsi karena tengah dalam siklus perawatan rutin.

FAA (Federal Aviation Administration) sendiri baru saja mengeluarkan laporan setebal 279 halaman yang merupakan hasil penelitian panjang dari satu kelompok kerja mengenai Pilots Addicted to Automation. Dikatakan antara lain sebagai berikut : “The FAA report stresses the risk that future accidents could occur as commercial airline pilots become overly reliant on automated computer systems in the cockpit and lose their hands-on, manual flying skills.” Kebiasaan yang terlalu mengandalkan sistem otomatis telah menarik perhatian para ahli sebagai salah satu penyebab terjadinya kecelakaan. Automatic Pilot telah membuat penerbangan secara umum menjadi lebih aman, akan tetapi ketergantungan yang sangat besar terhadap sistem otomatis di kokpit akan sangat membahayakan.

NASA (National Aeronautics and Space Administration), badan antariksa Amerika Serikat telah membiayai satu penelitian di Iowa University yang memakan waktu 3 tahun lebih dalam masalah hubungan Pilot, Sistem otomatis dan Kecelakaan pesawat terbang. Dr.Thomas “Mach” Schnell yang memimpin tim riset, menjelaskan bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap sistem otomatis telah menurunkan dan banyak mengganggu konsentrasi Pilot dalam menerbangkan pesawat. Dia juga mengatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa pilot modern telah menjadi sangat tergantung kepada sitem otomatis di kokpit. Studi tersebut juga telah menemukan bahwa 60 % dari kecelakaan yang terjadi ternyata disebabkan karena kesalahan dalam mengoperasikan Flight Management Computer.

Dalam konteks terjadainya “aircraft accident”. Issue tentang “automation addiction” ternyata sama sekali bukan omong kosong di warung kopi dari pembicaraan naif orang awam, akan tetapi sudah menjadi bahan studi dan penelitian yang sangat serius di NASA, FAA, NTSB dan beberapa perguruan tinggi serta institusi lainnya di Amerika dan Eropa. Minimal, otomatisasi terbukti dalam banyak penelitian telah menurunkan tingkat “kewaspadaan” Pilot. (Why Planes Crash, an accident investigator’s fight for safe skies, David Soucie;SkyHorse Publishing New York USA) Itu menunjukkan satu analisis komprehensif yang multi disiplin dari banyak personil dengan berbagai bidang keahlian , yang bukan sekedar “pendapat” atau anggapan seorang pilot semata.

Analisis yang berbasis ilmiah dan berorientasi kepada “obyek” atau “content” penelitian, jauh dan “bukan” melihat justru kepada “siapa” yang membahas/menelitinya. Kembali kepada masih belum ada kabar tentang hilangnya pesawat super modern B-777-200ER Malaysia Airlines MH370, tentunya masih tetap mengundang tanda tanya besar, apa gerangan yang telah terjadi. Apakah ada yang salah pada Boeing 777-200ER ? Apakah memang ada faktor seperti yang ditunjukkan dari sebagian hasil penelitian panjang yang telah dilakukan oleh NASA di Iowa University ?

Pendapat Pak Chappy dalam melihat kasus yang terjadi pada Boeing 777-ER yang dikatakannya sebagai pesawat super modern adalah sudut pandang tajam dari sisi teknis penerbangan dimana pendapat terhadap kasus kecelakaan pesawat sebaiknya harus melalui sebuah penelitian dari badan resmi seperti FAA, NTSB  dan NASA.  Hasilnya sudah melalui penelitian mendalam dan dengan langkah yang komprehensif dari sisi teknologi. Inilah sudut pandang Pak Chappy.

Kronologis Kasus Boeing 777-200ER  Dari Sudut Pandang Intelijen

Mengamati kasus yang terjadi pada pesawat Boeing 777-200ER, tidak terlepas dari tiga fakta intelijen dari tiga kasus. Pertama,  tanggal 6 Juli 2013, pesawat B 777-200ER Asiana Airlines flight 214 (Perusahaan Penerbangan Korea Selatan) yang mengalami kecelakaan saat akan mendarat di San Fransisco International Airport. Kesimpulannya adalah human error. Dari penjelasan Pak Chappy, NTSB menyimpulkan pilot tidak menguasai dengan baik secara keseluruhan sistem otomatis tersebut. Saat akan mendarat, pilot terpaksa melakukan pendekatan manual  karena alat bantu pendaratan otomatis di San Fransisco International Airport tidak berfungsi, tengah dalam siklus perawatan rutin. Penulis juga membuat  artikel "Antara Crashed Landing Boeing-777 Asiana Airlines dan Garuda," (http://ramalanintelijen.net/?p=7021).

Kedua, kasus hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines flight number MH370 pada tanggal 8 Maret 2014, enroute Kuala Lumpur-Beijing. Banyak pembahasan upaya dan daya untuk menemukan  MH370 dengan berbagai teori yang melibatkan para ahli penerbangan dari 28 negara, yang hingga kini belum juga membuahkan hasil, Bahkan dimana perkiraan tepat  jatuhnya pesawat tersebut masih belum diketahui. Penulis  menulis kasus menjadi sebuah buku dengan judul 'Misteri MH370.' Kesimpulan penulis, kasus MH370 disebabkan penyebab ekstrem. Pesawat sangat mungkin telah dibajak, melibatkan Captain Pilot  dan sengaja dilenyapkan untuk menghilangkan bukti dan motif.

Ketiga, kasus ditembaknya Malaysia Airlines MH17 enroute Amsterdam-Kuala Lumpur pada tanggal 17 Juli 2014. Kasus ini sangat menarik perhatian masyarakat internasional, karena tabu bagi militer apabila menembak jatuh pesawat komersial. MH17 saat ditembak sedang melakukan penerbangan dari Amsterdam-Kuala Lumpur dan menggunakan route (airways L980) yang melalui wilayah udara Ukraina (dikenal sebagai salah satu highway karena jaraknya yang pendek). Saat berada diatas wilayah koflik, pesawat tersebut mendadak jatuh meledak dan hancur, sangat patut diduga telah ditembak dengan peluru kendali Hanud jenis SA-11 Buk buatan Rusia.

Hingga kini belum ada yang mengakui menembak, bahkan terjadi saling tuduh diantara AU Ukraina (dibantu negara-negara Barat) dengan pemberontak (Separatis) di Ukraina Timur (dukungan Rusia). AS dan sekutunya mengatakan peluru kendali penghancur sangat patut diduga diluncurkan dari wilayah yang dikuasai separatis.

Nah dari kedua kasus tersebut, yang sama-sama merupakan misteri, terdapat fakta intelijen  penting yang menarik,  dua kasus terjadi pada perusahaan penerbangan yang sama (Malaysia Airlines) serta pada pesawat yang sama (Boeing 777-ER). Bagi  penulis ini  justru menimbulkan  pertanyaan. Kedua kasus kecelakaan  terjadi dengan penyebab ekstrem yang belum (sulit) bisa dibuktikan. Oleh karena itu penulis mencoba mengulas kedua kasus, apakah ada kaitannya, atau justru merupakan rangkaian dengan design khusus, karena  adanya unsur misteri yang sangat sulit dibuktikan. Dalam dunia intelijen, konspirasi adalah sebuah sarana conditioning dan apabila sulit dibuktikan disebut sebagai 'the Art of impossible'.

Fakta-fakta  Kasus MH370

Pada tanggal 8 Maret 2014, dini hari, pesawat Boeing 777-ER milik perusahaan Malaysia Airlines (MAS) dengan nomor penerbangan MH370 hilang dalam penerbangannya dari Kuala Lumpur ke Beijing, Tiongkok. Hingga kini belum satu pun data sahih yang dapat diutarakan sehingga bencana yang terjadi merupakan sebuah kegagalan dari teknologi tinggi di dunia penerbangan yang kadang tidak diperkirakan sebelumnya. Demikian banyak para ahli dari pelbagai disiplin ilmu seperti ahli penerbangan, pabrik, aparat hukum, intelijen yang dikerahkan hanya untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat super modern tersebut. Tetapi MH370 tetap raib. Menjadi misteri penerbangan terbesar abad ini.

Para penumpang MH370 berjumlah 227,  crew 12 ; terdiri dari  152 warga China, 38 warga Malaysia, tujuh Indonesia, lima India, tujuh Australia, tiga Prancis, empat Amerika Serikat, dua New Zealand, dua Ukraina, dua Kanada, satu Rusia, satu Italia, satu Taiwan satu Belanda dan satu Austria.

Kronologis hilangnya MH370;  pada pukul 00.41/LT  pesawat take off dari KL, pada pukul 01.07 pesawat mengirim transmisi ACARS (Aircraft Communications Addressing and Reporting System) tentang data engine dan fuel  ke MAS (diketahui kemudian berubah ke off mode), saat itu terjadi perubahan heading pesawat. ACARS terdiri dari dua bagian, yaitu informasi dan transmisi. Pilot/Copil bisa mematikan bagian informasi, namun tidak dapat mematikan bagian transmisinya yang terletak di electronic bays di bawah cockpit.

Dengan demikian transmisi terus mengeluarkan signal berupa "blips" yang berhasil direkam satelit Inmarsat setiap sejam sekali. Tercatat sejak hilangnya MH370 dari radar, terekam 5 kali blip sehingga diduga pesawat masih terus terbang sekitar 5 jam. Blip tidak berisi pesan atau data tetapi dapat dipetakan. Lokasi blip terakhir  (08.11) yang sekaligus diduga sebagai waktu dan  daerah jatuhnya pesawat. ACARS terus menyampaikan blips selama generator engine masih hidup.

Dari sebagian transkrip pembicaraan MH370 dengan  ATC :

01:07:55 (MAS 370) Malaysian... three seven zero maintaining level three five zero.

01:08:00 (ATC) Malaysian three seven  zero.

01:19:24 (ATC) Malaysian three seven zero contact Ho Chi Minh 120 decimal nine. Good night.

01:19:29 (MAS 370) Good night, Malaysian three seven zero.

The last transmission from the plane's communication transponder is at 1:21 am, and it vanishes from ATC radar at 1:30am (ABC)

Perubahan heading pesawat dilakukan pada 01.07. Pukul 01.19,  pilot (diperkirakan Fariq Abdul Hamid) menyampaikan kalimat terakhir "Good night, Malaysian three seven zero." kepada ATC. Pukul 01.21 transponder pesawat dimatikan pada saat MH370 akan memasuki wilayah udara Vietnam. Transponder adalah alat pemancar di pesawat dapat dioperasikan dari cockpit.

Panglima Tentera Udara Diraja Malaysia sempat melaporkan pada tanggal 9 Maret 2014, tetapi kurang mendapat respon.   Panglima TUDM , Jeneral Tan Sri Dato' Sri Rodzali bin Daud  dalam jumpa pers di Sepang, Minggu (9/3/2014) menyatakan bahwa besar kemungkinan MH-370 berbalik arah kembali ke Malaysia. “Yang kami lakukan adalah melihat rekaman pada radar dan kami sadari bahwa ada kemungkinan pesawat putar balik. Kami masih bekerjasama dengan radar penerbangan sipil dan lembaga internasional lainnya, dan dengan kerjasama ini kami berharap bisa mendapat gambaran lebih baik,” katanya.

Tan Sri Rodzali  juga mengaku heran dengan tidak terpantaunya lokasi terakhir pesawat  yang mengangkut 227 penumpang plus 12 crew itu.”Kami dibingungkan oleh tidak adanya sinyal ELT (emergency locator transmitter)” kata Rodzali. Sementara pimpinan MAS Group, Ahmad Jauhari Yahya mengatakan, “Normalnya, ketika dia membuat keputusan putar balik, dia akan melapor ke base dan ATC (Air Traffic Control),” katanya.

Dari pantauan Air Defence Radar TUDM, dilaporkan, MH370 setelah di posisi wpt IGARI (01:21) berbalik arah dan kemudian berbelok  ke arah Barat memotong Kotabahru,  sampai wpt VAMPI, berbelok ke Timur Laut ke wpt GIVAL (selatan Phuket) berbelok ke Barat Daya ke wpt IGREX terus masuk airways P628 yang merupakan jalur Timur Tengah dan Eropa. Radar militer kemudian kehilangan jejak. Black flight tersebut terbang secara tidak sesuai aturan dari waypoint (erratically flight), seperti manuver naik tajam (step ascents) dan turun cepat (rapid descends), beberapa kali. Manuver ini dan tanpa transponder akan sulit diamati oleh Air Defence radar.

Berdasarkan informasi New York Times, MH370 mengalami perubahan ketinggian secara signifikan setelah pesawat keluar dari jalur yang seharusnya dan lepas dari jangkauan radar sipil.  Sinyal radar yang terekam radar militer (Air Defence Radar) Malaysia, menunjukkan bahwa pesawat naik ke ketinggian 45.000 ft (13,716 km) melebihi batas maksimum ketinggian pesawat Boeing 777-200ER, pesawat kemudian berbelok ke Barat dan turun ke ketinggian 23.000 ft (7,104 km). Menurut pejabat senior di AS, pesawat berbelok dengan menggunakan sistem manajemen penerbangan yang diprogram seseorang di cockpit. Pelaku dinilai pasti tahu banyak mengenai Boeing 777.

Menurut informasi teknis, service ceiling Boeing 777-200ER adalah 41.000 ft, apabila melebihi batas maksimal, akan terjadi critical engine dan critical wing, pesawat akan mengalami high speed stall (jatuh karena kehilangan daya angkat dengan kecepatan tinggi) Dalam kondisi  manuver ketinggian ekstrem,  akan menyebabkan penumpang menjadi tidak sadarkan diri karena terkena G positif, dan sangat mungkin bisa tewas, kecuali bagi penumpang/crew yang menggunakan G suit (pakaian anti gravitasi).

Empat hari setelah MH370 dinyatakan hilang pada tanggal 8 Maret 2014, Direktur CIA John Brennan menyatakan ada sejumlah anomali yang sangat ingin diketahui tentang semua ini. Mantan penasihat kontra-terorisme untuk Presiden Barack Obama itu menyatakan bahwa ia tidak akan mengesampingkan kemungkinan adanya tindakan bunuh diri dan juga tidak mengesampingkan kemungkinan terkait dengan teroris. Brennan menyampaikan komentarnya pada sebuah acara pada hari Rabu (12/3/2014)  di Washington yang diselenggarakan Council on Foreign Relations, sebuah lembaga think tank.  Ditegaskannya, “Pihak berwenang terus menyelidiki kemungkinan bahwa pilot dari pesawat Malaysia Airlines MH370 melakukan tindak bunuh diri,” katanya.

Pemerintah Malaysia menyatakan, bahwa Satelit Inmarsat yang menangkap ”blip” yang dipetakan merupakan dua jalur alternatif ke arah Selatan. Pesawat diperkirakan menuju ke arah Samudera Hindia, crash sekitar 2.500 km sebelah Barat kota Perth, Australia.

Pada konferensi pers di Kuala Lumpur pada tanggal 16 Maret, Kepala Kepolisian Malaysia Khalid  Abu Bakar mengatakan dia yakin pesawat telah dialihkan oleh pembajak, penyabot atau pelaku adalah  seseorang yang mempunyai dendam pribadi atau masalah psikologis. Teman-teman dan kerabat dari Capt Zaharie membantah ia mempunyai motif apapun untuk membajak pesawatnya sendiri dan mereka menggambarkan dia sebagai pria yang hangat dan berkomitmen melakukan kerja sosial. Zaharie telah berkampanye untuk Partai Keadilan Rakyat  dari mantan wakil perdana menteri Malaysia Anwar Ibrahim, tetapi dia tidak mendukung ekstremis Islam, demikian dikatakan  Sivarasa Rasiah dari PKR kepada The Telegraph lama setelah pesawat itu menghilang.

Pemerintah Malaysia belum memastikan MH370 hilang disebabkan aksi pembajakan, tetapi Perdana Menteri Malaysia Najib Razak saat konferensi pers di Malaysia, Sabtu (15/3/2014), menyatakan pesawat Boeing 777-200ER milik maskapai MAS sengaja dibelokkan dan dimatikan radar transpondernya. Ada seseorang yang ahli menguasai pesawat tersebut.

Pada hari Senin (19/5/2014) seperti dikutip laman IB Times, Mantan PM Malaysia Mahatir Muhammad menyatakan, kecelakaan pesawat itu janggal dan mengatakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat CIA (Central Intelligence Agency) telah menyembunyikan informasi penting terkait hilangnya MAS MH370. Mahathir juga menyatakan bahwa pencarian pesawat itu di pantai Barat Australia (Samudera Hindia) adalah pekerjaan sia-sia, membuang uang dan waktu saja. (Baca artikel;  "Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Menyatakan CIA Menutupi Masalah MAS MH370",  http://ramalanintelijen.net/?p=8404 ).

Mahathir juga meminta agar CIA membagi informasi kepada Malaysia. Selain itu dia menyatakan bahwa pesawat telah diambil alih kendalinya. Pabrik Boeing serta instansi pemerintah AS mempunyai kemampuan mengambil alih kendali pesawat dari jarak jauh. Selama memerintah, Mahathir dikenal  sering mengkritisi negara-negara Barat, misalnya dia mengatakan bahwa serangan ke WTC (911) adalah sebuah rekayasa agar ada alasan untuk dilakukannya serangan terhadap dunia muslim. Mahathir tidak percaya sebuah pesawat canggih sekelas Boeing 777 hilang begitu saja, dimana diketahui bahwa pesawat dilengkapi dengan sistem komunikasi  yang canggih, radio dan satelit tracking.

Sebagai dasar argumennya Mahathir menggunakan referensi artikel flightglobal.com   tahun 2006 yang menyatakan bahwa CIA dapat mengaktifkan autopilot khusus yang diinstal pada pesawat untuk mencegah teroris apabila terjadi pembajakan dengan kekerasan. Boeing dan CIA akan mengaktifkan kendali pesawat tersebut dan dapat dikontrol untuk didaratkan.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Senin (24/3/2014), mengatakan kepada keluarga penumpang Malaysia Airlines MH370 bahwa penerbangan pesawat itu berakhir di wilayah selatan Samudra Hindia. Menurut Najib Razak, analisis data satelit terbaru (Inmarsat) menunjukkan pesawat yang hilang itu jatuh di wilayah selatan Samudra Hindia. Najib menyatakan bahwa seluruh penumpangnya tewas. Ia menambahkan fokus pemerintah Malaysia dan negara-negara lain yang membantu akan mencari  dikawasan tersebut.

Dari rumah Captain Pilot MH370 Zaharie telah ditemukan sebuah simulator. Menurut Harian The Telegraph (22/6/2014), dokumen yang dihapus dari simulator Zaharie telah dapat dikembalikan, hasilnya, ada latihan dari Capt Zaharie untuk mendaratkan Boeing 777ER di landasan pendek disebuah pulau kecil terpencil tidak dikenal di Samudera Hindia Selatan. Selain itu bagian yang dihapus juga berisi  perencanaan program latihan penerbangan ke arah Samudera Hindia.

Penemuan ini  telah mengintensifkan kecurigaan bahwa Capt Zaharie sengaja membajak pesawatnya  sendiri dan dialihkan dari jalur penerbangan KL-Beijing. Kepolisian Malaysia dan investigator, termasuk ahli dari Inggris Air Insiden Branch, sejauh ini tidak menemukan bukti adanya kesalahan teknis atau kerusakan yang dapat menjelaskan mengapa pesawat itu hilang.  Pertanyaan ke latar belakang penumpang penerbangan dan crew  juga gagal untuk menghasilkan bukti, atau motif, siapa pembajak pesawat atau yang melakukan sabotase itu. Polisi Malaysia menyatakan penyelidikan masuk kategori criminal investigation.

Hilangnya MH370 menyebabkan munculnya tekanan psikologis berat kepada Malaysia sebagai pihak yang paling disalahkan dan harus bertanggung jawab. Jelas ini membawa konsekwensi pada berbagai bidang. Saham Malaysia Airlines tercatat jatuh hingga 18 persen setelah dilaporkan hilangnya MH370. MAS mengalami keterpurukan semakin berat, dimana pada 2013 tercatat Malaysia Airlines System, perusahaan yang mengoperasikan Malaysia Airlines, melaporkan mengalami  kerugian sebesar 1,17 miliar ringgit (Rp4 triliun) dan membutuhkan suntikan dana.

Dari sisi pariwisata, menurut  travellingbisnis.com melaporkan kepada Reuters bahwa sebelas agen perjalanan China pemesanan tiket ke Malaysia anjlok dan banyak orang membatalkan perjalanan mereka. Menurut data Bank of America Merrill Lynch, wisatawan China memberikan kontribusi 12% terhadap total jumlah kedatangan wisatawan dan 0,4% kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto. Malaysia menyatakan tahun 2014 sebagai Visit Malaysia Year, serta menargetkan jumlah wisatawan pada 2014 mencapai 28 juta (tahun lalu, 25,7 juta), dengan pemasukan mencapai 76 miliar ringgit (Rp262 triliun).

Dari beberapa fakta diatas nampak bahwa pemerintah Malaysia mendadak mengalami goncangan sangat keras, baik rentang kendali, kesiap siagaan pertahanan, sekuriti penerbangan, dan simpang siurnya pengambilan keputusan.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott mengatakan bahwa pencarian memasuki fase baru yang meliputi pemindaian dasar laut. Pencarian dengan menggunakan pinger locator dan kapal selam tanpa awak Bluefin-21 belum juga membuahkan hasil. Belum juga didapatkan puing ataupun petujuk yang pasti akan keberadaan pesawat tersebut.

Ketua tim pencari MH370 dari Australia, Air Marshal Angus Houston AC AFC (Ret’d) sebagai Ketua dari Joint Agency Coordination Centre (JACC) dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur menyatakan yakin  bahwa tim telah mencari pada area yang tepat di Samudera Hindia bagian Selatan. Tetapi dibutuhkan waktu satu tahun untuk mencari pesawat yang hilang tersebut. Pencarian dihentikan sementara dan akan dilanjutkan pada bulan Agustus oleh kontraktor dari Belanda.

Dari pengalaman pencarian pesawat Air France AF 447, yang jatuh pada tahun 2009 di Samudera Atlantik dan sudah diketahui lokasinya, dibutuhkan waktu dua tahun untuk menemukan black box yang mampu membuka tabir penyebab kecelakaan. Kini MH370 hanya diperkirakan track-nya berdasarkan 'blips' yang direkam satelit  Inmarsat, lokasi pasti tidak jelas. Entah berapa tahun lagi dibutuhkan tim menemukan black box tersebut, atau bahkan mungkin tidak akan ditemukan.

Pada ulasan di buku 'Misteri MH370" penulis menyimpulkan adanya tangan kotor pembajak dan teroris, diperkirakan terlibat dalam pencurian dan penghilangan MH370. Dari beberapa kaitan dan informasi, pelaku bisa lone wolf dari dalam negeri Malaysia dengan jaringan  di dalam negeri, atau pelaku dari dalam negeri dengan handler dari luar negeri. Apabila melihat fakta-fakta, ada kemungkinan terlibatnya jaringan Al-Qaeda yang meninggalkan pesan kepada Amerika Serikat, seperti fatwa pengganti Osama bin Laden (Ayman al-Zawahiri) dalam rangkan meningkatkan state tension AS dan menyerang dari sisi ekonomi.

Fakta-fakta  Kasus MH17

Pada tanggal 17 Juli 2014, sore hari, pesawat Boeing 777ER Malaysia Airlines flight number MH17 telah jatuh hancur di atas udara Ukraina. Pesawat naas itu jatuh di dekat desa Grabovo Ukraina Timur pada hari Kamis (17/7/2014) dengan 298 penumpang, termasuk 15 crew pesawat. Wilayah (lokasi)  jatuhnya pesawat  diketahui berada pada wilayah kekuasaan kelompok pemberontak (separatis) yang menyatakan kemerdekaan sebagai Republik Rakyat Donetsk (pro Rusia) dengan PM Alexander Borodai.

Presiden AS Barack Obama kemudian menegaskan bahwa pesawat telah ditembak oleh peluru kendali dari daerah yang dikuasai kelompok separatis. Pada awal pernyataannya, Obama menyatakan kejadian ini adalah "terible tragedy" dan menyatakan rasa berduka kepada  keluarga dari 23 warga AS yang menjadi korban. Obama kemudian melangsungkan pembicaraan telpon dengan Presiden Rusia Putin untuk membahas jatuhnya pesawat Malaysia itu, dia mendapat laporan bahwa pesawat jatuh diperbatasan Rusia-Ukraina.  Pernyataan Gedung Putih menyebutkan,  Presiden Obama menekankan, "bukti nyata bahwa Rusia secara signifikan meningkatkan pemberian senjata berat untuk separatis di Ukraina."

Ditekankannya bahwa peristiwa itu tidak akan terjadi apabila Rusia tidak mendukung kelompok separatis tersebut. Pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Duta Besar AS Samantha Power mengatakan sistem rudal SA-11 buatan Rusia, dengan mudah akan mampu menembak pesawat yang terbang pada 33.000 feet.  Karena sistem "kompleksitas teknis," Rusia dipastikan membantu penembak tersebut.

Para penumpang dan crew MH17 yang berjumlah 298, terdiri dari warga negara ; Australia 27, Belgia 4, Canada 29, Jerman 4, Indonesia 12, Malaysia 43,  Belanda 193,  New Zealand 1,Filipina 3, Inggris 10. Ternyata informasi awal yang dilaporkan ke Presiden AS tersebut tidak benar, tidak ada warga negara AS yang menjadi korban.

Perdana Menteri David Cameron mengatakan: "Saya terkejut dan sedih oleh bencana pesawat udara Malaysia." Dia akan mengadakan pertemuan untuk membahas masalah tersebut, dan mengecek berapa warga Ingris yang on board di pesawat itu. Cameron mengatakan bahwa Rusia  perlu mendapat sangsi lebih keras karena kejadian sebelumnya dalam membantu pemberontak,  pesawat tempur Rusia menembak jatuh pesawat tempur Ukraina.

Muncul berita di media sosial, seorang tokoh separatis pro-Rusia, Igor Strelkov, mengakui sebagai orang  yang bertanggung jawab di balik jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17. Igor yang merupakan pejabat tinggi militer kelompok yang memproklamirkan  “Republik Rakyat Donetsk” itu menyebutkan bahwa kelompok separatis ini secara tak sengaja menembak MH17, karena awalnya diyakini sebagai pesawat cargo angkatan darat Ukraina. Para  intelijen Barat mengatakan, Igor adalah mantan agen di Direktorat Intelijen Utama Rusia. Kemudian pernyataan di media itu dihapus.

Kronologi penerbangan MH17. Malaysia Airlines MH17  take off dari Schipol Airport Amsterdam pukul  12:14/local time (10:14 UTC) dan dijadwalkan landing di Bandara Internasional Sepang, Kuala Lumpur tanggal 18 Juli pada 06:00/LT  (22:00, 17 Juli UTC) . Eurocontrol, yang bertanggung jawab untuk route semua penerbangan di wilayah ini, menyatakan bahwa pada saat kejadian pesawat berada di wilayah Ukraina pada ketinggian 33.000 kaki atau 10.060 meter.

Malaysia Airlines menyatakan bahwa Ukraina ATC telah kehilangan kontak dengan pesawat pada pukul  14:15 UTC,  30 km (19 mil) dari waypoint TAMAK pada perbatasan Rusia ditemukan dari  locator beacon darurat pesawat. Transmisi transponder terakhir tercatat oleh Flightradar24 berada pukul 13:21 tercatat pada ketinggian 33.000 kaki dengan kecepatan  490 knot. Pesawat jatuh di dekat desa Grabovo di Ukraina bagian timur Donetsk Oblast. Pesawat diketemukan dalam keadaan hancur dan terbakar.

Flightradar24 melaporkan bahwa Singapore Airlines Boeing 777-200ER (Flight SQ351) dan Air India Boeing 787-8 (Flight AI113) masing-masing berada pada jarak  sekitar 25 km (16 mil) dari pesawat MH17 ketika pesawat ditembak dan  hilang dari radar.

Pada bulan April, ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) memperingatkan kondisi bahaya penerbangan yang akan melintas diatas Ukraina. FAA ( Federal Aviation Administration) mengeluarkan pembatasan maskapai penerbangan AS untuk  tidak menggunakan rute Ukraina, dan menyarankan maskapai yang masih menggunakan rute tersebut (Airways L980) Ukraina untuk "ekstra hati-hati".

Maskapai Aeroflot, Lufthansa, Singapore Airlines, termasuk MAS dan beberapa lainnya masih overflying  Ukraina sampai saat MH17 ditembak jatuh. Seperti negara-negara lain, Ukraina menerima jasa overflight untuk setiap pesawat komersial yang terbang melalui wilayah udaranya. Sejak 3 Maret 2014 Korean Air dan Asiana Airlines telah menghidari rute Ukraina. Nampaknya Korea telah belajar dari pengalaman buruk masa lalu saat pesawat komersialnya ditembak jatuh oleh Rusia.

Dengan meningkatnya konflik di Ukraina Timur, otoritas penerbangan Ukraina mengeluarkan Notam, wilayah udara di atas Donetsk Oblast telah ditutup oleh Ukraina pada 1 Juli 2014 di bawah ketinggian 26.000 ft (7.900 m), dan pada 14 Juli 2014 ditutup di bawah 32.000 ft (9,800 m).

Pada tanggal 15 Juli 2014, setelah kunjungannya ke Kiev, Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski memperingatkan tentang bahaya yang akan ditimbulkan sebagai akibat dukungan militer Rusia kepada separatis pro-Rusia, terutama ancaman rudal darat-ke-udara (surface to air missile).

Pada 17 Juli, Rusia telah menutup lebih dari selusin airways di berbagai ketinggian di dekat zona konflik.

Setelah peristiwa penembakan MH17, beberapa perusahaan penerbangan (Aeroflot, Transaero, Air France, Turkish Airlines, Virgin Atlantic, Lufthansa, dan S7 Airlines) mengumumkan tidak akan menggunakan jalur udara tersebut.

Menurut AP,  pemberontak Ukraina menembak jatuh pesawat MH17 yang  menewaskan 298 orang itu mungkin karena mereka tidak memiliki sistem yang tepat untuk membedakan antara pesawat militer dan sipil, demikian para ahli militer mengatakan Sabtu (19/7/2014). Untuk berfungsi dengan benar, rudal SA-11 Buk  seharusnya terhubung ke radar yang memberi perintah  untuk lebih memastikan apa jenis pesawat yang akan ditembak. (Di Indonesia perintah kepada Hanud titik akan diberikan oleh Komando sektor yang telah mengidentifikasi target dan menetapkan sebagai friend or foe).

Dari informasi yang sudah terungkap sejauh ini, para pemberontak tampaknya tidak memiliki sistem seperti ini, demikian kata Pavel Felgenhauer, kolumnis pertahanan Novaya Gazeta, surat kabar yang berbasis di Moskow. "Mereka bisa dengan mudah membuat kesalahan tragis dan menembak jatuh sebuah pesawat penumpang ketika memang mereka ingin menembak jatuh sebuah pesawat angkut Ukraina," katanya.  Rudal bisa ditembakkan oleh operator yang tidak benar-benar yakin apa yang mereka targetkan.

Major General Robert Latiff purnawirawan USAF menyatakan, "Jika rudal ditembakkan tanpa mencoba untuk mengidentifikasi pesawat dan mengakibatkan kehancuran Malaysia Airlines MH17, itu adalah  sebuah tindakan kelalaian kriminal," katanya. Dia mengatakan pesawat komersial beroperasi pada frekuensi komunikasi yang dikenal dan memancarkan sinyal yang mengidentifikasi mereka dan memberikan ketinggian dan kecepatan mereka.

Pada hari Jumat, kantor berita Novosti milik pemerintah Rusia  mengutip pendapat Konstantin Sivkov, direktur Akademi Masalah geopolitik, yang mengatakan rudal Buk "Harus dilengkapi dengan sistem eksternal untuk  mengidentifikasi sasaran, yaitu sistem radio-lokasi. Ini adalah seluruh sistem. Dan para pemberontak tentu tidak memiliki radio-lokasi."

Surat Kabar New Yor Times (23/7/2014) menyiarkan, para pejabat intelijen Amerika mengatakan bahwa mereka tidak memiliki bukti definitif siapa yang menembakkan rudal, tapi dari akumulasi bukti telah disimpulan bahwa separatis Ukraina telah dilatih di Rusia untuk melakukan serangan itu. Para pejabat itu menambahkan bahwa penilaian Amerika saat ini adalah bahwa pemberontak telah keliru mengira pesawat sipil (MH17) dikira  jet militer Ukraina.

Bencana yang terjadi pada MH17 dan disebabkan kesalahan identifikasi bukan kasus serangan pesawat komersial pertama yang terjadi. Komando Pertahanan Udara Soviet pada tahun 1983 dengan sengaja telah menembak jatuh pesawat Korean Airlines 007 dan menewaskan 269 jiwa. Tahun 1988, USS Vincennes,  telah menembak pesawat Iran Air flight 655 dengan rudal jelajah, karena dikira sebagai pesawat penyerang, mengakibatkan tewasnya 290 orang. Pada bulan Oktober 2001, Siberian Airlines flight 1812, jatuh karena ditembak rudal dalam perjalanan dari Tel Aviv (Israel) ke Novosibirsk (Rusia). Pesawat jatuh di Laut Hitam dan menewaskan  78 penumpang. Militer Ukraina pada awalnya menolak bertanggung jawab, tapi kemudian mengakui militernya keliru menembak jatuh pesawat tersebut pada saat latihan.

Kronologis konflik udara di Ukraina yang melibatkan pesawat tempur dan peluru kendali. Sebelum peristiwa penembakan MH17, telah terjadi beberapa insiden yang melibatkan alutsista udara penembakan dengan peluru kendali (rudal) dan  pesawat tempur :

Pada tanggal 14 Juni 2014, pesawat Angkatan Udara Ukraina jenis  Ilyushin Il-76 telah ditembak jatuh saat mendekati Bandara Internasional Luhansk; semua 49 orang penumpang meninggal.

Pada 29 Juni 2014, kantor berita Rusia melaporkan bahwa pemberontak telah memperoleh akses ke sistem rudal Buk setelah menguasai dasar pertahanan udara Ukraina (mungkin bekas baterai 156 Anti-Pesawat Rocket Resimen (156 ZRP), AU Ukraina). Pada hari yang sama, Republik Donetsk Rakyat mengklaim kepemilikan sistem tersebut. Pernyataan ini telah dibantah oleh pihak Ukraina.

Tanggal 14 Juli,  pesawat transport jenis An-26 Angkatan Udara Ukraina yang terbang pada ketinggian 21,000 ft (6.400 m) ditembak jatuh di Ukraina Timur. Separatis dilaporkan mengklaim melalui media sosial bahwa rudal peluncur Buk telah digunakan untuk menembak pesawat. Pejabat Amerika  mengatakan adanya bukti yang menunjukkan pesawat itu ditembak jatuh dari wilayah Rusia.

Pada tanggal 16 Juli, sebuah Sukhoi Su-25 AU Ukraina telah ditembak jatuh. Pemerintah Ukraina mengatakan militer Rusia telah menembak jatuh pesawat itu dengan rudal udara-ke-udara dari MiG-29 jet AU Rusia; juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia membantah laporan tersebut.

Segera setelah insiden penembakan MH17 pada tanggal 17 Juli 2014, otoritas penerbangan Ukraina menutup semua rute di wilayah udara Timur Ukraina  di semua ketinggian.  Beberapa maskapai penerbangan diantaranya  Aeroflot, Transaero, Air France, Turkish Airlines, Virgin Atlantic, Lufthansa, dan Singapore Airlines mengumumkan pesawatnya tidak akan overflying wilayah Ukraina.

Setelah kecelakaan itu,   Malaysia Airlines mengumumkan  mulai 25 Juli 2015 akan mengganti nomor penerbangan MH17   (Amsterdam-Kuala Lumpur) menjadi penerbangan MH19.  Pada 18 Juli 2014, saham Malaysia Airlines turun hampir 16%.

Pada tanggal 23 Juli, kembali dua Sukhoi-25 AU Ukraina telah jatuh ditembak rudal pada ketinggian 5.200 meter (17.100 ft) di dekat  area kejadian kecelakaan MH17. Menurut Dewan Keamanan Ukraina, kedua pesawat itu telah ditembak rudal yang berasal dari  Rusia.

Pengacara dari McCue & Partners, sebuah firma hukum di London, telah terbang ke Ukraina untuk berdiskusi tentang bagaimana untuk membawa kasus ini dan di mana harus diajukan tuntutan. Keluarga korban akan diundang untuk bergabung dengan tindakan. Seorang juru bicara McCue & Partners mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Telah ada pembicaraan dari gugatan perdata terhadap Malaysia Airlines,  mereka juga harus bertanggung jawab, dan tidak hanya kelompok separatis yang diduga telah menembakkan misil pada MH17.

Kasus ini pasti akan menyoroti peran dimana patut diduga dimainkan oleh Rusia dalam memicu konflik di  Ukraina Timur. Pengacara Inggris sedang mempersiapkan class action terhadap presiden Rusia melalui pengadilan Amerika. Komandan militer senior Rusia dan politisi yang dekat dengan Presiden Putin juga cenderung terlibat dan akan dimasukan dalam daftar tuntutan hukum. Putin menghadapi tindakan hukum multi-jutaan pound atas dugaan perannya dalam kecelakaan MH17. Kasus hukum perdata yang diajukan oleh para korban bisa mempermalukan Putin.

Tuntutan terhadap Putin ini mungkin akan dilakukan melalui pengadilan AS dan mungkin akan dimintai pertanggungan jawab,  apabila dinyatakan bersalah, maka  aset Putin dan orang-orang terdekatnya akan dibekukan, jika kompensasi tidak dibayar.  McCue  sebelumnya telah berhasil menuntut di pengadilan AS mantan pemimpin Libya Kolonel Muammar Gaddafi yang dituduh telah mensponsori terorisme IRA di Irlandia Utara dan di daratan Inggris. Pada Jumat malam (25/7/2014), Uni Eropa mengumumkan bahwa tercatat 15 orang, termasuk dua kepala intelijen paling senior Rusia, akan dimasukan  ke dalam daftar tokoh yang terkena sanksi.

Simon Smith, Duta Besar Inggris di Ukraina, mengatakan kepada The Sunday Telegraph suatu keprihatinan dimana lokasi kecelakaan telah "dikompromikan,"  keluarga korban mungkin harus menunggu waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan  jawaban yang tepat atas apa yang terjadi, termasuk yang memerintahkan serangan dan siapa yang memasok persenjataan dan pelatihan tentang sistem rudal. Para penyelidik mengatakan kepada The Sunday Telegraph bahwa penyelidikan, mengalami kesulitan,  terhambat mendekati situs kecelakaan, bisa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan penyelidikan untuk menemukan kebenaran. Pertempuran terus terjadi, walau ada seruan gencatan senjata.

Chris Yates, seorang analis penerbangan independen yang telah bekerja sebagai konsultan pada sejumlah kecelakaan udara, mengatakan: "Saya takut ini akan berlangsung selama bertahun-tahun karena alasan sederhana lokasi kecelakaan sekarang terkontaminasi secara substansial. Orang-orang telah menginjak-injak di atasnya; puing-puing telah bergeser, dipotong dan dihapus." Smith mengatakan: "Ada cukup banyak bukti telah diganggu. Sudah dipindahkan, tidak terletak di tempat awal seperti setelah kecelakaan terjadi, itu sangat disesalkan. Dia mengingatkan, "Mungkin  penyelidikan akan memakan waktu yang sangat lama."

Spesialis kecelakaan udara dari Inggris yang  bertugas men-download data dari dua kotak hitam yang ditemukan dari lokasi kecelakaan akan menyerahkan informasi itu kepada tim penyelidikan yang dipimpin oleh Dewan Keamanan Belanda.  Seorang juru bicara untuk organisasi Belanda mengatakan pihaknya berharap untuk merilis laporan komprehensif pada kotak hitam pada akhir minggu. Analisis perekam kotak hitam penerbangan dari Ukraina mengatakan bahwa MH17 itu dihancurkan oleh pecahan peluru yang berasal dari ledakan misil dan jatuh karena kuatnya ledakan dekompresi, kata seorang pejabat keamanan Ukraina pada hari Senin (28/7/2014).

Analisis Kasus

Dari fakta-fakta tersebut diatas, dimana sebagian sudah merupakan hasil analisis kasus, terutama yang terjadi pada MH370, dengan pembuatan kesimpulan sementara, antara pelaku, sasaran dan kaitan jaringan. Penulis mencoba menganalisis apa yang kemudian terjadi pada kasus MH17.

Dalam menganalisis sebuah kasus, dipergunakan fakta-fakta, terlebih yang sudah menjadi intelijen (setelah diolah), dan bisa ditambahkan dengan indikasi perkembangan situasi, walaupun penilaian belum dilakukan dengan lengkap. Semua data yang sudah dikonfirmasikan, dinilai sumber dan isi informasinya, menjadi bahan intelijen, inilah yang penulis coba rangkaikan.

Penulis dalam hal kasus ini melihat adanya keganjilan yang diberitakan secara luas. Dari apa yang disampaikan oleh Presiden Obama, awalnya dinyatakan terdapat 23 orang warga negara AS tercantum sebagai korban. Rasanya ganjil, bagi negara sebesar AS, seorang presiden mendapat laporan salah tentang jumlah penumpang. Ternyata tidak ada korban dari warga AS, hanya diberitakan ada seorang warga Belanda yang mempunyai dwi kewarga negaraan dengan AS? Sistem komunikasi dan penjejakan dan penyadapan dari negara sebesar Amerika diketahui  yang terunggul di dunia. Sangat kecil dijumpai kesalahan, kecuali ada sesuatu yang ditutupi kepada presidennya.

Presiden George Bush pada saat mengakhiri masa jabatannya sangat menyesalkan karena mempercayai informasi intelijen tentang adanya Senjata Pemusnah Massal di Irak, sehingga keliru dalam pengambilan keputusan. Di era surveilance menjadi tulang punggung negara Adi Daya ini, kecil kemunkinan kekaisaran intelijen membuat kesalahan dalam memonitor berapa warga AS yang onboard di MH17.

Setelah kejadian runtuh dan hancurnya MH17, pemerintah AS, badan intelijen dan beberapa pakar langsung mengeluarkan tekanan kepada pemerintah Rusia dibawah Presiden Putin. Semua media Barat memberitakan bahwa rudal SA-11 Buk adalah kesalahan separatis dan Rusia. Dianggap bahwa Rusia telah memberikan dukungan persenjataan berat kepada kelompok pemberontak separatis Donetsk. Pembentukan opini internasional kemudian bersama-sama menekan Rusia yang terus disalahkan karena peluru kendalinya menyebabkan tewasnya penumpang pada pesawat komersial.

Hal lain yang penulis perhatikan, airways L980 yang melalui Ukraina Timur dimana terjadi konflik yang semakin serius, sebenarnya sudah sejak 14 Juni 2014 menjadi wilayah yang sangat berbahaya, dengan kejadian ditembak jatuhnya pesawat Ukraina Ilyushin Il-76 yang ditembak rudal saat akan mendarat di Bandara  Internasional Luhansk. Diperkirakan jenis rudal panggul MADPADS dengan jarak tembaknya hanya 4 km (12.000ft). Wilayah udara di atas Donetsk Oblast telah ditutup oleh Ukraina pada 1 Juli 2014 di bawah ketinggian 26.000 ft (7.900 m).

Yang sebenarnya lebih berbahaya, kejadian  14 Juli,  pesawat transport jenis An-26 Angkatan Udara Ukraina yang terbang pada ketinggian 21,000 ft (6.400 m) ditembak jatuh di Ukraina Timur.  Dari kasus ini, pada 14 Juli 2014 ketinggian penutupan wilayah dinaikkan, wilayah diatas Donetsk Oblast ditutup di bawah 32.000 ft (9,800 m).

Ini berarti paling tidak intelijen militer Ukraina mengetahui bahwa separatis pro Rusia memiliki rudal menengah yang semestinya diketahui Ukraina bahwa pemberontak memiliki misil yang lebih jauh jarak jelajahnya, misalnya sebagai SA-11 Buk, dengan jarak tembak 46.000ft. Akan tetapi Ukraina hanya menutup wilayah udaranya dibawah ketinggian 32.000 ft. Inilah menurut penulis sebuah keganjilan lainnya. Saat MH17 akan melintas dan request 35.000ft kemudian diarahkan ke 33.000 ft. Ketinggian ini sangat kritis dan berbahaya, mengingat Buk bisa mencapat target hingga 45.000ft.

Dari analisa kasus, setelah MH17 runtuh, maka jadilah pemberontak (separatis) dan Rusia menjadi pihak yang sangat disalahkan. Memang sangat mungkin pemberontak itu mengendalikan misil SA-11 Buk di wilayah konflik, yang berfungsi sebagai Pertahanan Udara titik (hanud titik). Tanpa dukungan radar utama, maka baterai Buk yang terdiri dari empat buah itu tidak mampu mengidentifikasi apa pesawat yang melintas. Dia hanya mampu mengenali adanya target pesawat yang melintas. Dengan alasan itu adalah pesawat tempur AU Ukraina, maka para operator yang tidak berpengalaman akan tidak berfikir panjang langsung meluncurkan Buk.

Saat itulah keputusan dibuat untuk melakukan penembakan. Penulis mecurigai salah satu pimpinan separatis yang mantan anggota dinas rahasia Rusia itu justru sebagai agen ganda. Tidak sulit untuk memonitor berlalunya sebuah pesawat, cukup dengan membuka situs FlightRadar24, mana kita akan mengetahui pergerakan pesawat di suatu lokasi. Disinilah bau konspirasi tercium, sangat mungkin justru MH17 memang sudah menjadi target.

Lantas, mengapa MH17? Menganalisis pesawat Malaysia ini, penulis membuat artikel (Baca: Apakah Malaysia Airlines MH17 Memang Sudah Ditarget?, dengan link ;  http://ramalanintelijen.net/?p=8660). Salah satu tokoh militer Republik Rakyat Donetsk Igor Strelkov menyatakan mengakui mereka yang tidak sengaja  menembak, dan dia diketahui sebagai mantan anggota Dinas Intelijen Utama Rusia.

Inilah yang dalam dunia intelijen disebut sebagai conditioning operation, menciptakan kondisi, memanfaatkan kerawanan agar lawan tunduk dan patuh kepada si perancang. Apa sebenarnya dibalik semua itu? Memanfaatkan isu MH370 yang demikian sangat terkenal kemudian merancang MH17 sebagai target untuk memukul secara langsung oleh kelemahan dan kerawanan pihak lawan. Nampaknya memang rumit kasus tersebut, tetapi dampak yang ditimbulkan demikian kuat, berpotensi mampu menekan sebuah negara sebesar Rusia yang ditekan dan dilumpuhkan tanpa pengiriman pasukan atau sebutirpun peluru ditembakkan.

Apakah kemudian kita mempercayai adanya teori konspirasi yang mengorbankan 298 jiwa? Pada beberapa perang besar terutama di Afghanistan dan Irak, korban yang jatuh mencapai puluhan ribu jiwa. Apabila tidak ditangani, maka Ukraina akan menjadi medan tempur berat bagi AS dan sekutunya, mengobarkan perang yang bisa membakar Eropa.

Menteri Pertahanan Chuck Hagel baru-baru ini mengatakan bahwa dia setuju dengan pendapat  Polandia tentang risiko tinggi invasi Rusia ke Ukraina. PM Polandia Donald Tusk memperingatkan bahwa "ancaman intervensi langsung (oleh Rusia ke Ukraina) menjadi semakin besar." NATO memperingatkan bahwa jumlah pasukan Rusia yang siap tempurt di dekat perbatasan Ukraina telah meningkat  dari 12.000 menjadi 20.000 pasukan. Hagel menyatakan sikap keseriusan AS dan mengatakan, “The longer that Russia perpetuates and instigates this tension and the possibility of escalating their activity, it’s going to get worse. And we have to be prepared for that.”

Kesimpulannya, kasus MH17 adalah korban konflik di Ukraina, sulit memang membuktikan sebuah konspirasi yang biasanya dibuat oleh para spesialis intelijen. Mungkin membaca kulitnya bisa, tetapi untuk melihat substansinya jelas sangat kecil kemungkinannya. Kecuali apabila ada penghianatan yang dilakukan oleh agen pembuat rencana. Oleh karena itu penulis memberi judul artikel ini intinya ada bau konspirasi dalam dua kasus Boeing Malaysia Airlines. Kasus ini sebaiknya menjadi perhatian dari maskapai penerbangan di Indonesia, khususnya Garuda. Jangan sampai menjadi target serupa. Kira-kira begitulah.

Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Apakah Malaysia Airlines MH17 Memang Sudah Ditarget?,   http://ramalanintelijen.net/?p=8660

-Boeing 777 Malaysia Airlines Flight MH17 Jatuh Ditembak di Udara Ukraina,  http://ramalanintelijen.net/?p=8550

-Penembakan MH17 Dinilai Sangat Merugikan Bagi Putin dan Rusia,  http://ramalanintelijen.net/?p=8567

-Rudal Mematikan SA-11Buk Yang Meruntuhkan Malaysia Airlines MH17,  http://ramalanintelijen.net/?p=8641

                                           
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.