Rudal Mematikan SA-11Buk Yang Meruntuhkan Malaysia Airlines MH17

26 July 2014 | 1:03 pm | Dilihat : 1019
[google-translator] SA-11 Global

Ilustrasi kasus penembakan MH17 dengan SA-11 Buk (Foto: AP)

Setelah runtuh dan hancurnya pesawat Boeing 777-200 Malaysia Airlines flight number MH17 di dekat desa  Grobovo, Ukraina Timur diwilayah yang dikuasai kelompok pemberontak (separatis)  yang didukung oleh Rusia, hingga kini belum ada pembuktian siapa yang menembak. Dari kepemilikan alutsista pertahanan udara yang ada di wilayah konflik, maka peluru kendali SA-11 Buk sangat patut diduga menjadi penyebabnya.

Selain keberadaan SA-11 telah dikonfirmasi badan intelijen AS, Wakil Perdana Menteri Ukraina, Volodymyr Groysman, mengatakan, "Mereka yang bersalah atas tindakan teroris ini akan dihukum."  Groysman  mempercayai bahwa pihak yang bersalah tidak hanya para pemberontak di timur Ukraina tetapi juga pemerintah Rusia. "Personil militer Rusia meluncurkan rudal yang melanda pesawat Malaysia sipil," katanya.

Tuduhan, yang tidak dapat diverifikasi secara independen, jelas akan membawa konsekuensi diplomatik yang serius, mengingat tuduhan dari Ukraina dan Amerika Serikat kepada Rusia yang telah memasok pemberontak dengan  SA-11 sangat patut diduga telah menjatuhkan MH17 tersebut.

Setelah penembakan MH17 pada tanggal 17/7/2014, pada tanggal 23/7/2014, dua buah pesawat tempur Ukraina jenis SU-25 kembali ditembak jatuh di wilayah konflik. Pemerintah Rusia melalui juru bicaranya Alexander Lukashevich menyatakan,  "Alih-alih bekerja sama dengan penyelidikan internasional yang menyeluruh dan berisi mengenai penyebab kecelakaan, yang hasilnya kemudian akan dipublikasikan, dengan transparansi maksimum, pihak berwenang Kiev setiap hari dan jam datang dengan tuduhan baru, tidak masuk akal dan benar-benar tak berdasar terhadap Rusia ,"katanya. Dalam seruan genjatan senjata, pihak Ukraina terus membom dengan pesawat tempur yang akhirnya ditembak jatuh.

Pejabat Ukraina mengatakan bahwa sebelum MH17 ditembak jatuh,  bahwa dua pesawat militer lainnya dari  AU Ukraina yakni  sebuah pesawat transport An-26 dan  Su-25 fighter - ditembak  oleh Rusia.  An-26  terbang pada ketinggian lebih dari 20.000 kaki, yang tidak terjangkau oleh rudal bahu pemberontak (MADPADS). Pejabat Ukraina mengatakan penghancuran An-26 menunjukkan bahwa para pemberontak telah memperoleh dan menggunakan senjata modern seperti SA-11 yang juga diyakininya  telah digunakan terhadap pesawat Malaysia Airlines MH17.

Peluru Kendali SA-11 Buk/Gadfly

The 9K37 Buk (NATO SA-11/Gadfly/ 'pengganggu') dikembangkan sesuai dengan Resolusi dari Komite Sentral CPSU dan Dewan Menteri Uni Soviet  pada tanggal 13 Januari 1972. Sistem ini dikenal di Federasi Rusia sebagai 9K37 Buk dengan sistem yang lengkap, termasuk radar dan peralatan pendukung, memiliki nomor Industrial Index Rusia, 9K37. Versi ekspor dikenal sebagai 'Gang', dengan berbagai sub-elemen yang memiliki akhiran, 'E' (untuk Ehksportiynyi, Rusia untuk ekspor) ditambahkan ke sebutan mereka, misalnya 9A310M1E.

Ekspor pertama rudal ini ke  Suriah pada tahun 1983, dimana pengiriman dimulai pada tahun 1986. Karena adanya sejumlah masalah dengan sistem Buk, termasuk  radar pengawasan Tabung rudal. Pengujian sistem baru dilakukan pada 1982.  Dikenal sebagai Buk-M1 yang mulai beroperasi pada tahun 1983. Buk adalah peluru kendali  jarak menengah sistem permukaan-ke-udara rudal (Surface to Air Missile) yang awalnya dikembangkan oleh Uni Soviet pada 1980/1984, dan selanjutnya disempurnakan oleh Federasi Rusia. Terlepas dari perbaikan teknis yang varian yang lebih modern dari SAM , SA-11 tetap menjadi sistem yang sangat mampu dan mematikan.

Sa-11 dirancang untuk mampu mencegat dan menghacurkan rudal balistik taktis, rudal yang diluncurkan dari pesawat, bom, rudal anti radar, pesawat fix wing, rotary wing, pesaat tanpa awak (drone) dan juga kapal  laut. Rudal  SA-11 telah beroperasi sejak tahun 1980, dan sejak itu mendapat reputasi sebagai sistem yang sangat mobile dan canggih. SA-11 biasanya dioperasikan sebuah komposisi baterai (Kohanudnas; pertahanan udara titik), terdiri dari komponen-komponen,  Command Post (CP), Target Acquisition Radar (TAR), dan  Self-Propelled Mounts (SPMs)/Transporter Erector Launcher and Radar (TELARs).

Dalam situasi tempur di mana SA-11 diluncurkan independen dari sistem lengkap / luar penggunaan doktrinal, dimana  SPM  terdiri dari suite sistem digital seperti  “TV optical sight, a laser range finder, navigation and communications equipment, an IFF interrogator (Identify Friend or Foe), a built-in simulator, and documentation equipment",  dengan suite  sistem ini, SPM mampu menerima informasi target dari Command Post (CP) kendaraan jika berada di baterai / konfigurasi doktrinal, atau independen (sofrep).

Jika beroperasi di luar pekerjaan doktrinal yang khas (yaitu, dalam situasi aktor non-profesional/ tidak teratur, Komposisi baterai mampu mendeteksi sasaran, meneliti dan mengidentifikasi untuk menentukan target tersebut  kawan atau lawan (IFF). Sistem akan secara otomatis melacak target dan mengidentifikasi jenisnya, menghitung misi penerbangan dan tugas peluncuran, meluncurkan rudal, mengirimkan koreksi radio perintah untuk rudal, dan mengevaluasi hasil pembakaran."  Seluruh waktu reaksi sistem yang dibutuhkan adalah sekitar dua puluh dua detik.

akibat pecahan rudal Buk

Bukti kerusakan akibat pecahan SA-11 (foto: heraldsun.com.au)

Dengan informasi di atas, maka pesawat  Boeing 777-200 dan pilotnya jelas sama sekali tidak akan menyadari keadaan kejadian fatal di mana mereka secara tragis akan hancur berantakan. MH17 saat itu terbang cruising  ke arah timur Ukraina (Airways L980) sesuai perintah ATC Ukraina. MH17 terbang pada ketinggian  33.000 kaki dengan cruising speed  570 mph (Mach 0.84). Sementara rudal SA-11 yang diluncurkan, terbang dengan  2.284 mph (3 kali kecepatan suara).   MH17  benar-benar tak berdaya untuk bereaksi terhadap serangan rudal mematikan ini.

Dengan asumsi keterlibatan SA-11 ini yang merontokkan MH17, rudal akan mencapai pesawat di sekitar 10-12 detik, di mana sekering dari kontrol radar akan meledakkan hulu ledak (warhead) pada jarak sekitar 18-100 meter, yang akan  membentuk awan metal yang tersebar mengepung Boeing 777 naas tersebut.  Ledakan kepala rudal seberat 154,3 pound dengan fragmentasi-tinggi, akan menembus pesawat baik di sayap, body maupun engine. Benar-benar sangat menghancurkan akibat tabrakan antara pecahan warhead dengan pesawat, pesawat akan langsung jatuh.

Kepemilikan sebuah alutsista canggih ditangan mereka yang tidak terlalu faham dengan teknologi tinggi yang sangat menghancurkan dan mematikan nampaknya sementara ini menjadi sangkaan fihak Barat, walaupun disanggah oleh pihak Rusia. Dilain sisi penulis masih terus bertanya-tanya di dalam hati, apakah benar Rusia sebagai negara maju, modern tidak menyadari bahayanya,  menyerahkan SA-11 kepada kelompok separatis yang jelas tidak faham dengan situasi konflik dengan resiko diplomatik yang sangat tinggi. Yang lebih parah apabila nanti diketahui adanya personil militer Rusia yang langsung terlibat. Walaupun kejahatan menembak pesawat komersial ini  belum dapat dibuktikan, paling tidak mulai terbentuk tekanan psikologis terhadap Rusia dari masyarakat internasional.

Atau dari sisi sudut pandang intelijen, apakah bukan tidak mungkin ada sebuah konspirasi tingkat tinggi dalam kasus MH17. Tersisa pertanyaan, setelah Malaysia Airlines MH370 dengan pesawat Boeing777-200 buatan Amerika hilang dan belum ditemukan (sudah lima bulan), kini kembali terjadi kasus Malaysia Airlines MH17 dengan pesawat Boeing777-200 buatan Amerika runtuh dengan tidak jelas siapa yang menembak.  Penulis sedang menyusun dari teori pengamatan intelijen "the Art of Impossible, MH17." Salam.

Oleh : Air Vice Marshal (Ret) Prayitno Ramelan (Pray), intelligence analyst. www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.