Pesawat F-16 C/D-52ID Asal Hibah Dari AS Mulai Memperkuat Skadron Tempur TNI AU

26 July 2014 | 2:43 am | Dilihat : 2168

[google-translator]

air-refueling-di-atas-samudra-pasifik-pagi-ini-tiga-pesawat-f-16-cd-tni

F-16 C/D-52ID saat air refueling dari Guam ke Lanud Iswahyudi (foto : TNI AU)

Jumat (25/7/2014) pada  pukul 11.25 WIB, tiga pesawat dari 24 pesawat F-16 C/D 52ID asal hibah dari pemerintah AS telah tiba di fighter home base, Lanud Iswahyudi  (IWY) Madiun. Ketiga persawat diterbangkan dari  Anderson AFB (Air Force Base) Guam ke IWY  dalam waktu 5 jam 16 menit dengan melaksanakan empat kali air refueling (pengisian bahan bakar di udara) oleh pesawat Tanker KC-10 yang berasal dari pangkalan AU Amerika, Yokota AFB Jepang. Flight F-16 (Viper Flight)  ini terbang pada ketinggian 26.000 kaki dan terus di kawal pesawat tanker hingga memasuki wilayah udara Indonesia. Pengisian bahan bakar terakhir dilaksanakan diatas Pulau Halmahera, dan selanjutnya KC-10 mengawal hingga jarak 150 km dari Makassar,  kemudian   kembali ke Guam.

Sebagai leader ketiga pesawat itu adalah  Colonel Howard Purcell dari USAF, yang menerbangkan F-16 dengan tail number TS-1625,  Major Collin Coatney/ Letkol. Firman Dwi Cahyono dengan pesawat TS-1620 dan terakhir Ltc. Erick Houston/ Mayor Anjar Legowo yang menerbangkan pesawat TS-1623. Setibanya di Lanud IWY, kedatangan pesawat disambut  oleh Panglima Koopsau II Marsda TNI Abdul Muis yang didampingi Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI Donny Ermawan, Kepala Proyek “Peace Bima Sena II,” Kolonel Tek Amrullah Asnawi dan para pejabat dari jajaran Kemhan, Mabes AU serta Lanud Iswahjudi.

Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI IB Putu Dunia mengatakan bahwa kedatangan pesawat F-16 C/D-52ID pada Proyek “Peace Bima Sena II” merupakan bagian dari pembangunan kekuatan TNI AU secara bertahap, dan berlanjut sesuai rencana pembangunan Kebutuhan Pokok Minimal. Kasau menegaskan kehadiran 3 unit pesawat dari total pengadaan 24 unit pesawat F-16 C/D-52ID dan ditambah program upgrade 10 unit pesawat F-16 A/B-15OCU diproyeksikan menjadi kekuatan utama Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru.

Dua Skadron F-16 ini akan menjadi bagian dari strategi penggelaran dan pelibatan dua Koopsau. Kedatangan pesawat-pesawat F-16 C/D-52ID ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan Air Power kita untuk menegakkan kedaulatan serta hukum demi kepentingan nasional, tidak saja di wilayah udara nasional namun juga di luar wilayah ZEE Indonesia. Selain menjadi tulang punggung operasi Pertahanan Udara namun juga sebagai penjamin keunggulan udara komando gabungan TNI dalam penyelenggaraan operasi darat, laut maupun di udara.

Ketiga pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU memulai perjalanan panjang meninggalkan Hill AFB Utah pada hari Selasa (15/7) menuju Alaska. Baru pada hari Rabu (22/7) ketiga pesawat ini bisa meninggalkan Eielson AFB menuju Andersen AFB, Guam yang ditempuh selama 9 jam 46 menit dengan sembilan kali pengisian bahan bakar diudara. Sesuai rencana maka mulai awal bulan Agustus 2014 enam orang instruktur penerbang F-16 A/B-15OCU TNI AU akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi “differential flying training” F-16 C/D-52ID di Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi Madiun dibawah supervisi tiga instruktur penerbang dari US Air Force Mobile Training Team.

Dijelaskan oleh Kadispenau, sesuai rencana pesawat-pesawat lainnya akan mulai berdatangan. Seluruh pesawat F-16 C/D ini adalah pesawat Block 25 USAF yang sudah dibongkar total sebelum menjalani upgrading dan refurbished, baik kerangka “airframe” serta modernisasi sistem “avionic” dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah. Rangka pesawat diganti dan diperkuat, cockpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat ditambahkan agar pesawat lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat dan ampuh setara dengan Block 50/52.

Modernisasi dan upgrade avionic berpusat pada pemasangan Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 standar Block 52+ sebagai “otak dan syaraf” pesawat yang jauh lebih besar dan cepat kemampuannya dari system lama sehingga kemampuan avionic pesawat menjadi setara dengan F-16 block 50/52 Demikian pula kemampuan radar AN/APG-68 ditingkatkan sesuai system baru yang dipasang. Pemasangan Improved Modem Data Link 16 canggih untuk komunikasi data disamping Embedded GPS/ INS (EGI) block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS untuk penembakan JDAM (Bomb GPS).

Ditambah lagi peralatan perang elektronika yaitu Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213, Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV serta Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan Chaffs/ Flares anti radar/ anti rudal. Pelaksanaan Upgrade mesin pesawat menjadi tipe F100-PW-220/E yang memiliki umur muda kembali, serta lebih awet dan lebih handal dari mesin sebelumnya, khususnya pemasangan system DEEC (Digital Electronic Engine Computer) Grup 6 serta Augmentor Engine baru yang lebih mudah dirawat dan usia pakainya dua kali lebih lama.

F-16 ID juga mampu menggotong persenjataan kanon 20mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), rudal AGM-65 Maverick, AGM-84 Harpoon antikapal, AGM-88 HARM antiradar, AIM-9 Sidewinder L/M/X, AIM-120 AMRAAM-C untuk penembakan “Beyond Visual Range”. ACMI Pod serta mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Suppression Of Enemy Air Defence (SEAD), yaitu menghancurkan pertahanan udara musuh.

Head Up Display layar lebar terbaru yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google. Improved data modem link 16, memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

Pesawat juga dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/ Litening untuk operasi tempur malam hari serta mampu melaksanakan missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.  Ke-24  F-16 C/D 52ID TNI Angkatan Udara ini selanjutnya akan menjadi kekuatan satu skadron 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru (16 pesawat) dan sisanya melengkapi F-16 yang sudah ada di Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun.  Anggaran upgrade ke 24 pesawat tersebut sebesar US$400 juta, memakai skema pembayaran foreign military sales.

Dislokasi F-16 di Pekanbaru merupakan pertimbangan khusus, dimana Mabes TNI memilih Pekanbaru sebagai lokasi jet tempur itu karena dinilai sebagai daerah strategis di Sumatera, untuk pengamanan wilayah barat Indonesia terutama di Selat Malaka. Sebab, selama ini pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Singapura hanya memerlukan waktu kurang dari satu menit untuk bisa berpapasan dengan garis batas wilayah kedaulatan Indonesia di Selat Philips dan Selat Singapura. Skadron 16 merupakan skadron tempur bentukan baru dibawah kendali Panglima Koopsau-1.

Apabila kedua skadron tersebut sudah lengkap, maka TNI AU akan mempunyai dua skadron tempur sergap F-16 yang masuk generasi ke-empat, disamping skadron Sukhoi 27/30 yang masuk pesawat tempur generasi 4,5.

Pengertian pesawat tempur generasi ke-empat adalah pesawat-pesawat yang dikembangkan pada era 1970-an dan 1980-an, dengan radar dan avionik canggih, termasuk fly-by-wire (computer interfaced controls). Termasuk diantaranya,   pesawat F-14, F-15, F-16 dan F-18 dengan fitur antara lain manuver jauh lebih baik karena stabilitas statis yang rendah,  memiliki kemajuan dalam komputer digital dan teknik integrasi sistem, serta telah dilaksanakan  upgrade sistem radar seperti AESA, digital avionics buses dan IRST.

Untuk pesawat generasi 4,5 menurut analis militer di  Amerika Serikat  adalah pesawat tempur yang menggunakan radar AESA, kapasitas data-link yang tinggi, upgrade avionik dan kemampuan untuk menggunakan senjata canggih yang ada saat ini dan masa depan. Diantaranya adalah MiG-29/MiG-29M/MiG-35, Mikoyan MiG-29K (AL), Mikoyan MiG-31, Sukhoi Su-27/Su-30/Su-35, Sukhoi Su-33 (AL), Sukhoi Su-34, Sukhoi Su-30, Saab JAS 39 Gripen,  Eurofighter Typhoon, Super Hornet. Korea Selatan kini sedang meneruskan proyek pembuatan pesawat tempur bersama Indonesia KFX/IFX yang masuk ke generasi 4,5. Direncanalkan akan menggantikan pesawat tempur F-5.

Australia kini sedang memesan pesawat tempur F-35 yang termasuk sebagai pesawat tempur generasi ke-lima yang berkemampuan stealth (anti radar). Desain pesawat generasi kelima ini umumnya lebih terfokus pada radar cross-section (RCS), body terbuat dari bahan komposit guna menghasilkan fitur siluman dan mengurangi bobot pesawat dan prosessor utama mengontrol semua sensor dan menggunakan mesin berkinerja tinggi. Pesawat canggih ini merupakan penggabungkan teknologi baru seperti thrust vectoring, material komposit, supercruise (kemampuan jelajah pada kecepatan supersonik tanpa menggunakan afterburner), teknologi stealth, sensor dan radar canggih, dan avionik terpadu. Pesawat buatan Rusia generasi ke lima adakah PAK FA T-50.

Itulah perkembangan kekuatan pesawat tempur yang dipercayakan kepada TNI AU, dimana paling tidak dengan penambahan 24 pesawat tempur F-16 C/D-52ID yang sudah di modernisir tersebut maka kekuatan tempur TNI AU menjadi semakin kuat. Paling tidak kini skadron tempur menjadi lebih variatif dan dapat langsung beroperasi dengan cepat hasil dari penggelaran kekuatan, baik di wilayah Barat, Tengah maupun Timur. Selain itu kini wilayah dirgantara telah dicover dengan radar, sehingga tidak ada satupun ada pesawat yang tanpa ijin masuk ke wilayah udara Indonesia tanpa terdeteksi.

Australia yang oleh banyak kalangan menempatkan dirinya  sebagai Deputy Sherif dari AS khusus di wilayah Asia Tenggara hingga kawasan Laut China Selatan, sempat terkejut karena alutsista tempurnya (Super Hornet) pada latihan tahun 2011 dengan Indonesia berada dibawah kemampuan Sukhoi-30 yang dimiliki TNI AU. Karena itu Australia kini memesan F-35 dalam rangka memiliki keunggulan di udara. Bagi Indonesia, dengan kepemilikan Sukhoi-27/30 maka tidak terlalu sulit apabila akan meningkatkan dan melengkapi pesawat tempurnya dengan Sukhoi-35 atau bahkan PAK FA T-50.

Kini ekonomi Indonesia yang tercatat pada tahun 2013 pertumbuhannya 5,8 persen, dan diakui menjadi negara dengan percepatan pertumbuhan tertinggi kedua di Asia (setelah China), maka penulispun optimis Indonesia akan mampu kembali meningkatkan kemampuan "daya kepruk" udara. Kekuatan udara dapat menjadi kekuatan diplomasi, seperti pada tahun 1961, dimana Belanda segan bertahan di Irian Jaya karena Indonesia saat Operasi Trikora  sudah memiliki pembom TU-16KS. Indonesia tercatat tahun 1961 sebagai pemilik pesawat pembom jarak jauh keempat di dunia disamping Rusia, Amerika Serikat dan Inggris. Semua negara tetangga (termasuk Australia) menjadi gentar, sehingga dengan diplomasi militer, pencapaian tujuan menjadi lebih lancar.

Hal-hal seperti ini yang perlu difahami oleh penguasa Indonesia periode 2014-2019. Jangan ditabukan kepemilikan peralatan tempur kelas berat, hanya satu maksudnya, agar Indonesia, khususnya TNI mempunyai bargaining power, dan bargaining position. Sebagai negara besar dengan 248 juta penduduk, kita ingin tetap dihargai dan tidak disepelekan negara lain. Jelas kita tidak ingin dikatakan sebagai negara "cemen". Semoga bermanfaat.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan,  www.ramalanintelijen.net

Artikel Terkait :

-Australia akan Membeli 58 Pesawat Tempur F-35 Joint Strike Fighters,  http://ramalanintelijen.net/?p=8319

-Australia makin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU,  http://ramalanintelijen.net/?p=6833

-Pada 2014 TNI AU Akan Makin Disegani,  http://ramalanintelijen.net/?p=7041

-Perkuatan Gelar Tempur TNI di Perbatasan dengan Malaysia,  http://ramalanintelijen.net/?p=6058

-Mengapa Jepang Memilih Pesawat Tempur F-35,  http://ramalanintelijen.net/?p=4567

-Kisah kejayaan Tu-16 AURI, yang membuat Gentar Asia Tenggara dan Australia,  http://ramalanintelijen.net/?p=5329

-Dislokasi Pesawat Intai RQ-4 Global Hawk di Cocos Island,  http://ramalanintelijen.net/?p=5339

-Air Power kini menjadi Truf Pemerintah AS dan NATO,  http://ramalanintelijen.net/?p=4243

-Potensi Konflik Militer di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea, http://ramalanintelijen.net/?p=7564

-Kemampuan Militer Jepang Akan Ditingkatkan,  http://ramalanintelijen.net/?p=7143

-Fokus Gelar Tempur Pasukan AS akan ke Asia,  http://ramalanintelijen.net/?p=4819

     
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.