Daripada Menjadi Penonton, Golkar Lebih Baik Jadi Pemain

19 May 2014 | 4:45 pm | Dilihat : 597

konvensi-golkar

Saat elit Golkar masih bersatu (foto: ayovote.com)

Teka-teki politik menyangkut siapa cawapres dari Jokowi akhirnya terjawab. Yang terpilih  Jusuf Kalla, mantan wakil presiden di era pemerintahan SBY periode 2004-2009.  Pada tahun 2009 SBY dan JK pecah kongsi, JK maju sebagai capres Golkar bersama Wiranto, dan kalah. Nah kini kartu Joker yang tanggal 15 Mei kemarin genap berusia 72 tahun itu akan kembali berkiprah dengan langkah-langkahnya yang dikenal berani.

Dengan majunya JK yang dipilih PDIP  (Megawati dan Jokowi) sebagai cawapres tanpa melalui jalur partainya menjadikan JK sebagai profesional serta spesialis sebagai wakil presiden. Kalau di militer wakil biasa disebut juga sebagai korps leher,  bagian yang dilalui. Tetapi, dahulu sebagai wakil presiden, JK sering berkiprah, berani maju kedepan, berani pasang badan untuk menyelesaikan masalah. Tetapi gaya JK nampaknya tidak cocok dengan kemauan SBY, dimana dalam hierarchis militer, wakil tidak mengambil keputusan yang prinsip. Karena itu maka pada pilpres 2009 SBY lebih memilih Boediono yang lebih kalem dan nrimo.

Nah, bagaimana dengan Partai Golkar yang pernah dipimpinnya? Kini nampaknya ARB menjadi ketua umum partai yang mungkin paling banyak diberitakan memantul kesana kemari, hingga terakhir setelah rapimnas pada hari Minggu (18/5/2014), ARB yang mendapat mandat sebagai capres/cawapres serta diberi wewenang menentukan arah koalisi. ARB bergerak melakukan lobi menemui Ketum Demokrat serta Ketum PDIP. Apakah ARB  akan melakukan langkah baru, kita belum tahu, masih ada satu hari dari batas pendaftaran. Dalam deklarasi pasangan Prabowo dengan Hatta Rajasa, selain dihadiri para ketua umum dan tokoh parpol pendukung Gerindra, yaitu PAN,  PPP, PKS dan PBB, nampak hadir perwakilan Partai Golkar (Sekjen Idrus Marham dan Cicip Sutardjo). Idrus menyampaikan pidato bahwa Golkar mendukung pasangan Prabowo-Hatta.

Yang sudah nampak jelas, akan maju bertarung dua poros yaitu  Jokowi-JK melawan Prabowo-Hatta. Yang masih menjadi pertanyaan hingga besok hari, apakah Partai Golkar yang belum juga "klop seratus persen" mendapatkan partner  koalisi akan berkoalisi dengan Partai Demokrat atau sudah pasti tetap bergabung dalam koalisi poros Gerindra.  Mengapa ARB tidak muncul saat deklarasi? Itu pertanyaannya.

Partai Golkar sebagai peraih suara terbesar kedua setelah PDIP berarti kalau mau lebih baik menjadi pemain daripada menjadi penonton? Golkar tidak mempunyai masalah prinsip dimusuhi rakyat, sehingga sebaiknya menjadi play maker. Seperti yang dikatakan oleh Prio Budi Santoso, protes saat ARB ke PDIP, sebagai peraih suara kedua terbanyak, untuk apa harus menyerahkan suaranya tanpa dapat apa-apa ke parpol lain? Apabila kemarin Golkar  memutuskan bergabung dengan PDIP dan TAA (Tidak Menjadi Apa-Apa), maka sedikit banyak kadernya akan kecewa dan akan malu. Golkar sudah deklarasi capres dan suaranya besar, nampaknya ada strateginya yang salah.  Dalam berpolitik menang dan kalah adalah hal yang biasa.

Golkar sejak pilpres 2004, kemudian 2009, selalu kalah dalam bersaing. Bersaing dan bertanding adalah pekerjaan politisi dalam meraih kekuasaan.  Apakah Golkar kini siap kalah  justru sebelum bertanding, hanya  menjadi suporter parpol lain?. Apakah Aburizal Bakrie yang sudah berani bertaruh sejak awal perebutan jabatan ketua umum kini menyerah? Kini diantara elitnya menilai ARB tidak ada harapan, ARB akan kalah katanya. Karena itu mereka menyerah, lebih aman jadi suporter. Kalau realistis, mengapa tidak ke poros Jokowi yang elektabilitasnya lebih tinggi? Ada sesuatu dibelakang ini semua, apakah ada langkah terselubung? Apakah ada tekanan terhadap ARB? Karena setelah deklarasi, Prabowo dan Hatta Rajasa mengunjungi ARB. Ada yang belum terselesaikan diantara mereka nampaknya.

Apakah disadari bahwa ini adalah  panggung politik yang banyak juga tergantung dengan momentum. Golkar kini di saat last minute hanya akan bisa maju mengajukan capres-cawapres apabila bersama Partai Demokrat.  Nampaknya Demokrat akan mau menerima apabila diberi posisi cawapres, calon idealnya adalah sang adik ipar, Pramodo Edhie Wibowo. Ungkapan SBY setelah rapimnas Partai Demokrat sangat low profile, tetapi apabila Golkar bergabung dengan Demokrat, poros tiga akan bisa menjadi penentu kemenangan apabila pilpres bisa berlangsung dua putaran. Disatu sisi poros Jokowi harus berusaha pilpres berlangsung satu putaran, dua putaran bisa mengancamnya. Disinilah pertaruhannya.

ARB serta para elit Golkar seharusnya jangan ragu dengan Demokrat, dimana ketum Demokrat kini adalah presiden yang powernya terbesar diantara pejabat politik manapun. Oleh karena itu walaupun kondisi akan tercapai seperti yang penulis tuangkan pada artikel "SBY Menjepit Jokowi dengan Strategi Capit Udang" (http://ramalanintelijen.net/?p=8393), diterima dahulu kondisi itu.

Nah, kini semuanya terserah kepada para elit Golkar, kalah dalam dua pilpres terdahulu juga sudah dilalui, diterima kadernya biasa-biasa saja. Mengapa harus takut? Ayo maju ARB, tidak perlu ragu, anda akan lebih terhormat, mati dalam peperangan daripada menyerah karena hanya mengira lawan kuat. Apabila kalah, inilah resiko politik, tetapi resiko yang sudah dihitung dengan benar. Kita lihat  besok seperti apa sebenarnya Golkar yang disebut sebagai partai senior itu, akan maju atau cukup menjadi suporter Gerindra.

Keputusan harus diambil dan keputusan politik jelas berat karena akan menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia dan masa depan partainya beserta segala kepentingannya baik parpol maupun elitnya. Ada apa dibelakang ini semua? Dalam teori intelijen Siabidibame, kata mengapa memang sulit dijawab.

Penulis : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-SBY Menjepit Jokowi dengan Strategi Capit Udang, (http://ramalanintelijen.net/?p=8393

-Koalisi Pilpres 2014 Ditentukan oleh Dua Kingmaker, Mega dan SBY,   http://ramalanintelijen.net/?p=8378

-Jusuf Kalla Yang Memenuhi Kriteria Sebagai Cawapres, http://ramalanintelijen.net/?p=8359

-Keliru bila Meng-"underestimate" SBY dan Partai Demokrat pada 2014,   http://ramalanintelijen.net/?p=6821

-SBY Berbicara Tentang Capres 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=6992

-Kekuatan SBY di 2014 dan Strategi Sun Tzu, http://ramalanintelijen.net/?p=6297

 
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.