Koalisi Pilpres 2014 Ditentukan oleh Dua Kingmaker, Mega dan SBY

14 May 2014 | 9:55 am | Dilihat : 658

[google-translator]

mega-sby

Dua Kingmaker Pilpres 2014 (foto ; libass-online.blogspot.com)

Menjelang pendaftaran pasangan capres dan cawapres ke KPU dengan batas akhir 20 Mei 2014, di permukaan yang nampak mengerucut hanya kubu PDIP dengan capres Jokowi dan kubu Partai Gerindra dengan capres Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto.

Dari parpol yang lolos ke Senayan, terlihat PDIP akan didukung oleh gabungan Partai Nasdem dan PKB. Sementara Partai Gerindra akan berkoalisi dengan PAN (pasti, menunggu deklarasi), PKS dan PPP (menunggu kepastian deklarasi). Hanura memberikan indikasi akan berkoalisi dengan Gerindra, walau pernyataan baru dikeluarkan oleh Katua DPP Hanura Ali Kastela.  (masih bisa berubah). Nah ada parpol yang masih belum menentukan koalisi yaitu Partai Golkar, Demokrat.

Dari komposisi kubu PDIP, jelas sudah memenuhi syarat dari perkiraan perolehan kursi untuk pengajuan capres yaitu 112 kursi (20% dari 560 kursi). Gabungan koalisi PDIP (109 kursi), Nasdem (35 kursi), PKB (47 kursi), jumlah perkiraan perolehan kursi 191.

Partai Gerindra dengan perkiraan perolehan 73 kursi, dengan perkuatan PAN (49 kursi), berjumlah 122 kursi, sudah memenuhi syarat ketentuan 112 kursi. Apabila ditambah PKS dan PPP maka diperkirakan akan menjadi 201 kursi.

Sementara Partai Golkar yang mendapat 14,75 % suara nasional diperkirakan akan mendapat 91 kursi, masih belum secara pasti menentukan akan berkoalisi. Pada awalnya Golkar sebagai peraih suara terbanyak kedua setelah PDIP akan maju dengan telah mendeklarasikan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai capres. Tetapi dengan berjalannya dinamika politik menjelang pilpres, para elit politik baik Golkar maupun parpol lain menjadi tidak yakin, karena dari hasil survey, elektabilitas ARB jauh lebih rendah dibandingkan Jokowi maupun Prabowo. Upaya berkoalisi dengan Gerindra tidak mencapai titik temu.

Golkar kemudian mendekati PDIP, apakah akan menawarkan diri selain berkoalisi juga menawarkan ARB sebagai cawapresnya Jokowi? Nampaknya kemungkinan ini kecil. Golkar kini hanya membangun kesepakatan dengan PDIP apapun langkahnya nanti, mereka akan berkoalisi di parlemen. Dengan perkuatan Golkar maka koalisi kubu PDIP akan tercapai 321 kursi. Paling tidak apabila Jokowi menang, maka sudah tercapai mayoritas kursi di parlemen.

Bagaimana dengan Gerindra? Prabowo sebagai capres kini elektabilitasnya menjadi terkuat kedua setelah Jokowi. Banyak yang menyatakan ada harapan. Kini dengan bergabungnya PAN dan kesepakatan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai cawapresnya, maka sudah pasti Prabowo  bisa dicalonkan ke KPU  sebagai capres bersama Hatta sebagai cawapres. Yang terindikasi kuat akan bergabung juga PPP. Sementara PKS memang menunjukkan akan berkoalisi, tetapi melihat sejarahnya bisa saja PKS kemudian pada saat lasti minute bergeser ke kubu PDIP atau lainnya.

Kemarin, Selasa (13/5/2014), Prabowo bersama Menko Perekonomian  Hatta Rajasa bertemu dengan  Presiden SBY di Istana Merdeka Jakarta. Keduanya, menyampaikan maksud akan bergabung maju sebagai pasangan capres. Hatta mengatakan bahwa Presiden SBY menyampaikan beberapa pesan diantaranya, dalam kompetisi Pilpres 2014 yang harus membawa keteduhan untuk rakyat dan kesejukan sebagai sebuah proses demokrasi. Sehingga mampu membawa kejayaan bagian bangsa.

Selain itu juga SBY menyampaikan, pemerintahan 2014-2019 diharapkan SBY untuk melanjutkan kebijakan positif pemerintahan saat ini. Seperti upaya Indonesia untuk berkontribusi besar terhadap pembangunan di ASEAN. Prabowo menyampaikan bahwa SBY adalah seniornya, sehingga dia perlu menghadap karena akan maju sebagai capres. Untuk Hatta jelas harus meminta approve karena tidak bersama Partai Demokrat. Hatta pintar karena mampu mencairkan suasana hati Pak SBY sebagai besannya itu. Faktor besan menurut beberapa pengamat akan menguntungkan Prabowo.

 Posisi Politik  Megawati 

Dari komposisi dua kubu nampaknya partai nasionalis masih menguasai panggung politik. Kubu PDIP sudah pasti didukung Nasdem sebagai partai nasionalis dan PKB sebagai partai pintar yang sukses mengikuti arah angin berlalu. Siapa sebenarnya penguasa dan pengambil keputusan di PDIP, jelas tetap ditangan Ibu Megawati. Jokowi merupakan sosok salah satu kader yang sangat menonjol, karena disukai oleh rakyat.

Popularitas dan elektabilitas Jokowi jelas terus dipantau ketat oleh Mega. Dengan rekam jejak di Solo dan DKI Jakarta, nampaknya Bu Mega memutuskan kaderisasi cepat dengan berani  menurunkan tokoh muda PDIP dipanggung politik dan eksekutif. Yang menonjol adalah Jokowi dan Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng). Nampaknya daya tarik tokoh muda lebih disukai karena tidak mengandung residu negatif pada masa lalu.

Saat penulis bertemu dengan Bu Mega di kediaman beliau pada tahun 2011, penulis mendengar langsung dari beliau dengan nada low profile tetapi tegas. Mega menyatakan "Saya ini bodoh Pak, tetapi saya setia menjaga NKRI dan Pancasila," katanya.  Dari pernyataan ini, maka penulis melihat bahwa siapapun yang mau dekat, bekerjasama dengan Mega dan PDIP harus dilandasi dengan dasar, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Inilah yang di pompakan dan harus dipegang teguh  oleh para kader muda PDIP dalam membangun bangsa kedepan.

Nah dengan dasar tersebut, kini silahkan bagi mereka yang disebut sebagai capres untuk melakukan introspeksi, apakah syarat atau kriteria esensial Bu Mega ada pada mereka. Bagaimana JK, Mahfud MD, Abraham Samad, Ryamizard Ryakudu yang kini disebut sebagai capres masuk dalam katagori lulus? Ukurannya siapa yang selama ini membicarakan masalah NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945? Selain itu apakah Megawati kembali akan memainkan kartu kader atau tokoh nasional yang muda untuk mendampingi Jokowi? Ini sebuah pertanyaan yang akan terjawab dalam beberapa hari mendatang.

Keputusan berada ditangan Megawati, dimana Jokowi selama ini dikenal sebagai sosok yang selalu menghormatinya dan mampu menempatkan diri sebagai kader partai yang diunggulkan. Pada kubu PDIP, Megawati adalah Kingmaker, yang akan menentukan kebijakan masa mendatang  dalam strategi dasar berbangsa dan bernegara.

Posisi Politik SBY

Pak SBY ini kini tidak menunjukkan sikap terburu-buru karena tidak akan maju kembali.  Sebagai seorang yang masih menjabat sebagai Presiden RI, maka kekuatan serta pengaruh politiknya masih sangat kuat. Yang jelas strategi SBY dengan pengalaman 10 tahun berkuasa sangat faham dan faseh  dengan dinamika dunia politik di tanah air.

SBY membuat konvensi capres Partai Demokrat. Maksudnya untuk memberi ruang para tokoh nasional serta kader partainya yang menonjol untuk bergabung dan menggunakan partainya sebagai kendaraan politik apabila ingin maju sebagai capres. Jelas pada akhirnya penilaian berakhir pada elektabilitas si calon.

Para calon kemudian memromosikan diri serta Partai Demokrat dalam persaingan sebagai capres. Perolehan Partai Demokrat sebesar 10,19% nampaknya juga tidak terlepas dari upaya para capres tersebut, karena elektabilitas Demokrat longsor dan jatuh bebas  hingga mencapai 6% sebelum pileg. Inilah salah satu strategi SBY dalam penyelamatan partai.

Nah, strategi koalisi dilakukan dengan memberi restu sang besan Hatta Rajasa menjadi cawapres dari Prabowo. Apakah dengan demikian Partai Demokrat akan berkoalisi dalam kubu Gerindra? Belum tentu juga. Dalam urusan politik tidak ada urusan antara besan dengan kebijakan partai. PAN adalah partai terbuka, dimana keputusan diambil secara musyawarah, tidak hanya ditangan Hatta semata.

Tetapi yang nampak terlihat dominasi serta besarnya pengaruh SBY masih besar, capres Gerindra yang demikian confident akhirnya "sowan" ke SBY bersama Hatta Rajasa sang besan. Dan SBY banyak memberikan pesan serta petuah kepada keduanya. Dalam dunia politik ini adalah sebuah indikasi adanya kontrol SBY terhadap langkah Prabowo. SBY memberi restu dan titip pesan kepada keduanya. Terlebih Prabowo juga menyebutkan setelah pertemuan ytersebut,  bahwa SBY adalah seniornya sehingga perlu  meminta restu. Disini terlihat bahwa pengaruh SBY akan kuat terhadap kubu Gerindra, khususnya terhadap pasangan Prabowo-Hatta. Ada pengaruh hierarchis tradisi militer diantara keduanya.

Lantas kemana langkah Golkar dan Demokrat? Golkar akhir-akhir ini mencoba mendekati PDIP. Tetapi kemungkinan ARB menjadi cawapresnya Jokowi sangat kecil, koalisi nanti mereka bentuk di parlemen mungkin terjadi. Menurut penulis kemungkinan besar Partai Golkar akan berkoalisi dengan Partai Demokrat, mengajukan pasangan capres-cawapresnya. ARB tetap akan menjadi capres Golkar dan cawapres akan berasal dari Demokrat. Cawapres dari Demokrat bisa ditentukan dari hasil pemenang konvensi yang akan ditetapkan oleh majelis tinggi dimana ketuanya adalah SBY. Tetapi bisa juga calon lain yang menurut SBY pantas diajukan, seperti misalnya Marsekal TNI (Pur)  Djoko Suyanto yang kini masih menjadi Menko Polhukkam.

Apabila dihitung dari elektabilitas, pasangan ini masih akan kalah dari kubu PDIP dan Gerindra. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo cukup tinggi. Tetapi yang perlu diingat juga, gabungan keduanya bisa mencapai 152 kursi,. Walau elit Hanura menunjukkan niat akan merapat ke Gerindra, bisa juga Hanura bergabung di koalisi ketiga ini, apabila terbentuk, lebih nyaman dan bergengsi bila dibandingkan berkoalisi dengan Gerindra.

Nah, dengan demikian maka kemungkinan paling banyak hanya akan terdapat tiga kubu yang akan bertanding. Strategi bagi Pak SBY adalah makanan sehari-hari selama menjadi presiden dalam dua periode. Menghadapi perkembangan demokrasi yang semakin maju, memang SBY dinilai sukses dalam menerapkan strateginya, karena tidak ada sanggahan atau cercaan dari negara asal demokrasi.

Inilah bukti bahwa SBY adalah Kingmaker kedua setelah Megawati. Sehebat apapun sebuah parpol dan elitnya, semua akan ditentukan oleh Kingmaker yang walau tidak turun gelanggang, tetapi keputusannya sangat menentukan. Begitulah kira-kira kondisi perpolitikan di negara kita menjelang Pilpres 2014.

Oleh : Prayitno Ramelan, pengamat intelijen, www. ramalan intelijen.net

Artikel terkait :

-Hati-Hati dengan Prabowo, Elektabilitasnya Terus Naik,  http://ramalanintelijen.net/?p=8372

-Sulit Menaklukan Jokowi, Prediksi Pilpres Satu Putaran, http://ramalanintelijen.net/?p=8343

-Antara Ramalan Intelijen Presiden 2014 dan Jokowi,  http://ramalanintelijen.net/?p=8218

-Antara Jokowi dan Kejujuran, Kunci di 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=7805

-Capres 2014 Yang Mengapung, Sebuah Telaahan dari Old Soldier, http://ramalanintelijen.net/?p=7059

-Keliru bila Meng-"underestimate" SBY dan Partai Demokrat pada 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=6821

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.