Tekanan Psikologis Terhadap Megawati agar Tidak Maju

11 January 2014 | 9:37 am | Dilihat : 2904

Ketua Umum PDIP Megawati dan Jokowi (liputan6.com)

Pemilu legislatif 2014 akan berlangsung sekitar tiga bulan kurang, sementara pemilihan presiden akan berlangsung sekitar enam bulan. Sebelum masa kampanye berlangsung, kini terjadi perang psikologis diantara elit politik, diantara parpol, diantara capres serta diantara para pendukung dan pembuat skenario yang berada dibelakang layar.

Menurut penulis, secara umum para elit serta mereka yang sangat berkepentingan terhadap siapa yang akan menjadi pimpinan nasional yang pelantikannya akan dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2014 , terbaca melakukan kegiatan dengan pola serta  metoda intelijen.

Para elit politik dan kelompok kepentingan itu dalam dua tahun terakhir mengamati dan mengukur bahwa PDIP beserta Ketua Umum Megawati akan menjadi parpol dan tokoh yang besar peluangnya menang pada pemilu dan pilpres 2014. Justru karena itu maka penulis membaca adanya sebuah tekanan psikologis yang dikondisikan secara perlahan tetapi terencana untuk menghalangi agar ratu banteng ini tidak ikut bertarung pada pilpres 2014.

Disiplin intelijen harus mampu mengurai dan menjawab pertanyaan indikasi dalam kata     ”mengapa?.” Di dalam ilmu intelijen, sebuah informasi yang akurasinya dapat dipergunakan sebagai intelijen untuk pengambilan keputusan harus memenuhi unsur-unsur  Siabidibame, terdiri dari,  Si (siapa), A (apa), Bi (bilamana), Di (dimana), Ba (bagaimana) dan Me (mengapa). Kata terakhir (Me) adalah pekerjaan rumit dan harus dijawab oleh seorang analis ataupun handler intelijen kepada  principle (pimpinan tertinggi/bisa juga penyandang dana).

 

Fakta-fakta Pendukung

 

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), tanggal 1-8 Maret 2013, elektabilitas Megawati (20,7 persen), Aburizal Bakrie (20,3 persen), Prabowo (19,2 persen), Wiranto (8,2 persen). Elektabilitas Golkar 22,2 persen, PDIP 18,53 persen, Demokrat 11,7 persen, Gerindra 7,3 persen, Nasdem 4,5 persen, PKB, PPP, PAN dan PKS (4,5 persen, 4 persen, 4 persen, dan 3,7 persen.

Hasil Survei Lembaga Survei Nasional (LSN), 1-10 Mei 2013 elektabilitas Golkar 19,7 persen, PDI-P 18,3 persen, Gerindra  (13,9 persen),  Hanura (6,9 persen), Demokrat (6,1 persen), PKB (4,8 persen), Nasdem (4,6 persen), PPP (4,3 persen), PAN, 3,8 persen), PKS (3,8 persen), PBB (1,4 persen), dan PKPI (0,5 persen).

Hasil survei LSN (Lembaga Survei Nasional) yang dirilis tanggal 16 Juli 2013, Partai Golkar 19,7 persen, PDIP 18,3 persen, Gerindra (13,9 persen), Hanura (6,9 ), Demokrat (6,1), PKB (4,8), Nasdem (4,6), PPP (4,3), PAN (3,8) PKS (3,8),PBB (1,4) dan PKPI (0,5 persen).

Hasil survei Lembaga Survei Cyrus 21-27 Agustus 2013, Golkar 18,9, PDIP 17,8 persen, Demokrat 10,3, Gerindra 8,7, Hanura 5,5 dan PKB 5,1 persen.Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI)  12-15 Oktober 2013. Golkar 20,4 persen, PDIP 18,7 persen, dan Partai Demokrat 9,8 persen, sedangkan partai lainnya di bawah 7 persen.

Hasil survei Cyrus Network 18-24 November 2013, PDIP 20,5 persen, Golkar 17,7, Gerindra 12,8, Demokrat 6,7, Hanura  6,7 dan PKB 4,2 persen.

Hasil survei Indo Barometer 4-15 Desember 2013, menyebutkan pencalonan Ketua Umum PDIP Megawati saebagai capres 2014 bukan hanya melapangkan jalan Prabowo tapi juga Aburizal Bakrie. Kekalahan Mega terjadi disemua simulasi dari 3 hingga 12 calon. Dalam simulasi 12 calon, Mega (17,3 persen), Prabowo (19,8 persen) dan Aburizal 17,0 persen. Dalam simulasi 5 calon, Megawati di posisi 3 (17,3 persen), Prabowo 19,8 persen) dan Aburizal (17,9 persen.  Qodari  menegaskan, “Kalau nama Mega digantikan Jokowi, maka Gubernur DKI Jakarta itu yang menang di semua simulasi,” kata Qodari. Jokowi suaranya mencapai  37,7 persen sementara Prabowo hanya 13 persen di posisi ketiga.

Menanggapi survei Indo Barometer, Capres Prabowo Subianto mengatakan, banyaknya lembaga survei yang menerima jasa politik berupa survei pesanan calon-calon atau Partai tertentu sudah menjadi rahasia umum. Lain survei lain hasilnya kata Prabowo. Prabowo meledek hasil-hasil survei semacam itu, memesan data hasil survei kepada lembaga-lembaga survei tertentu. “Besok-besok bisa saya keluarkan 15 survei yang sayanya di urutan satu” kata Prabowo di Media Center Gerindra.

Survei Charta Politica, 28 November-6 Desember 2013, apabila dipasangkan, pasangan Megawati-Jokowi 23,3 persen, Prabowo-Hatta Rajasa 21,4 persen. Dimana deviasi kesalahan pasangan Mega-Jokowi 2,83 persen, hingga Prabowo-Hatta dapat menyalibnya. Apabila Jokowi-JK akan mendapat 47,7 persen menang dari Prabowo-Hatta yg hanya akan mendapat 14,2 persen.  Sementara pasangan Aburizal Bakrie-Mahfud MD, 11,3 persen. Apabila Jokowi dengan Hatta, elektabilitasnya diatas 40 persen. Di simpulkan Charta, Jokowi sebagai tokoh penentu.

Dalam perayaan HUT PDIP ke-41 di Lenteng Agung, Jakarta, Jumat (10/1) Puan Maharani membacakan empat perintah harian Ketua Umum; Pertama, perkuat konsolidasi seluruh pilar partai untuk memenangkan pileg dan pilres 2014 dengan mengandalkan semangat gotong royong antar struktur partai, kader PDIP dan caleg semua tingkatan untuk menjalankan strategi pemenengan pemilu. Kedua, perkuat disiplin partai untuk mengukuhkan kembali Kongres PDIP di Bali untuk menentukan capres yang berada di tangan Ketua Umum PDIP.

Ketiga, diserukan pada seluruh elemen partai untuk mewaspadai kemungkinan kecurangan pemilu dengan mengawal semua tahapan pileg dan pilpres agar tercipta pemilu luber dan jurdil sesuai prinsip demokrasi. Keempat, buka ruang komunikasi dan dialog seluas-luasnya kepada seluruh elemen bangsa sebagai rumah besar kaum nasionalis. Yang terpenting, Megawati menegaskan bahwa calon presiden PDIP baru akan diumumkan setelah pemilu legislatif 9 April 2013.

 

Analisis

 

Dari beberapa fakta pendukung, pada awal Tahun 2013 terlihat bahwa beberapa lembaga survei mendapatkan hasil, Partai Golkar dan PDIP sangat berpeluang akan  menduduki posisi dua besar sebagai partai papan atas pada pemilu legislatif 2014. Pada awal tahun 2013, tokoh yang tercatat kuat dari persepsi responden survei adalah Megawati dan Aburizal Bakrie. Kemudian di susul oleh Prabowo dan Wiranto. Secara perhitungan realistis demikian adanya, para elit parpol diluar PDIP menyimpulkan bahwa PDIP dan Megawati adalah parpol dan capres yang berpeluang sangat besar akan menang pada 2014.

Setelah Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, beberapa bulan kemudian secara perlahan dengan mendasari penilaian sikap kesederhanaan, menunjukkan sikap kejujuran dan dekat dengan rakyat (blusukan), elektabilitasnya terus beranjak naik. Nah, kini menjelang tiga bulan sebelum pemilu legislatif, elektabilitas Jokowi menurut beberapa lembaga survei demikian melambung tak tersaingi, baik oleh Megawati, Aburizal Bakrie maupun Prabowo. Bahkan lembaga survei mengatakan Jokowi akan mampu mengangkat perolehan suara parpol.

Indo Barometer menyatakan elektabilitas  PDIP dengan capres Jokowi akan mencapai angka 35,8 persen.Timbul pertanyaan (sense of intelligence), untuk menjawab, “mengapa?”Beberapa lembaga survei melempar analisis dengan fakta-fakta tak terbantahkan, bahwa elektabilitas Megawati turun. Bahkan berada dibawah Aburizal dan Prabowo, dan disebutkan juga jauh berada dibawah Jokowi. Dari banjirnya informasi yang disampaikan beberapa lembaga survei, kemudian terbentuklah opini publik bahwa sebaiknya Megawati lebih baik mengajukan Jokowi sebagai Capres PDIP, karena apabila Megawati yang maju PDIP perolehan suaranya diperkirakan turun dikisaran 18 persen dan  Megawati di persepsikan akan kalah oleh Prabowo.

Hujan informasi dari lembaga survei kemudian ditangkap beberapa pengamat dan tanpa disadari menyusup ke alam pikiran kader-kader (caleg?) PDIP yang memang kemudian mengidolakan Jokowi dan memanfaatkan momentum citra untuk kepentingannya sebagai caleg. Terbentuklah misalnya faksi PDIP Projo (Pro Jokowi) yang walaupun kecil dimasa mendatang diperkirakan akan dapat mengganggu soliditas PDIP. Di dalam teori intelijen, khususnya intelijen penggalangan, berlaku rumus “let them think let them decide,” yang diartikan biarkanlah mereka (rakyat) berfikir dan biarkanlah mereka memutuskan.

Publik mendapat informasi secara sistematis bahwa elektabilitas Jokowi menduduki peringkat tertinggi, informasi membentuk demikian sakralnya, hingga  dikatakan Jokowi adalah manusia setengah dewa. Benar yang dikatakan peneliti Cyrus, Eko David, bahwa masyarakat terperangkap di antara realitas dan mitos tentang seorang pemimpin seperti Jokowi. Masyarakat menjadi tidak rasional terhadap sosok Jokowi.

Disinilah rakyat yang juga termasuk ada  kader PDIP meyakini semua informasi dari beberapa lembaga survei tersebut. Semuanya pada akhirnya menyatu kearah Ketua Umum PDIP Megawati berupa tekanan politik, karena disitulah Jokowi bermuara. Akan tetapi nampaknya Megawati seperti sikapnya selama ini tidak goyah dengan derasnya arus tekanan psikologis tersebut, berat memang, hingga muncul perbedaan pendapat dikalangan kader mudanya.

Apapun yang terjadi, citra dan elektabilitas Jokowi sudah terbentuk. Demikian juga baik popularitas dan elektabilitas PDIP sudah terbentuk. Tanpa banyak membuang uang untuk beriklan seperti parpol dan capres lainnya, Megawati yang dengan diam dan tetap tegar menjaga soliditas partai, keturunan Bung Karno serta para elit partainya.

Diakui bahwa tekanan hebat yang justru diyakini publik untuk pencapresan Jokowi di apresiasinya. Pihak berkepentingan nampaknya tidak menginginkan Jokowi disandingkan dengan Mega, harus menjadi nomor satu. Mega di gambarkan akan kalah dengan teori simulasi, dihadapkan dengan Prabowo dan Aburizal Bakrie. Nah, opini sudah mulai terbentuk, masyarakat sudah sangat percaya dan menyukai sosok Jokowi dengan brand image, jujur, sederhana dan merakyat.

Megawati akan terus diupayakan di pinggirkan. Tekanan semakin nyata dan fokus dibuat serealistis mungkin. Itulah kondisi yang berlaku. Apakah semuanya bisa dipercaya? Kini menjadi pertanyaan, apakah benar bahwa sang setengah dewa tersebut akan tidak terkalahkan? Semua terserah kepada Jokowi dan Megawati, keduanya nampaknya akan dibenturkan. Hanya Jokowi yang akan dijadikan nomor satu. Skenarionya terbaca demikian. Disiplin intelijen membacanya dibelakang layar abu-abu itu si pembuat skenario memang ampuh.

Megawati kini terus ditekan dengan argumentasi pembentukan opini melalui data survei, bahwa PDIP hanya pantas mengajukan Jokowi. Prabowo  juga mencium pengkondisian itu terjadi dengan menggunakan lembaga survei. Apabila Megawati  kurang waspada, sangat mungkin PDIP akan kembali menang tetapi terkondisikan tidak akan berhasil mendudukkan tokohnya sebagai pemimpin nasional, kisah 1999 akan terulang. Atau the worst scenario, Jokowi akan dimajukan dengan kendaraan lain oleh pembuat skenario itu. Kalimat terakhirnya "Asal bukan Mega," begitulah.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

-Hanya Mega dan SBY sebagai Kingmaker Terkuat pada Pemilu 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=7872

-Antara Megawati dan Jokowi Soal Capres 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=7849

-Antara Jokowi dan Kejujuran, Kunci di 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=7805

-Numpang Populer atau Menyerang Jokowi, Strategi yang Salah, http://ramalanintelijen.net/?p=7668

-Menurut LSI, Mungkin Demokrat Hanya bisa Usung Cawapres, http://ramalanintelijen.net/?p=7660

-Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama, http://ramalanintelijen.net/?p=7601

-Survei LSI; Capres Riil 2014, Megawati, Aburizal dan Dahlan Iskan, http://ramalanintelijen.net/?p=7597

-Capres 2014 Yang Mengapung, Sebuah Telaahan dari Old Soldier, http://ramalanintelijen.net/?p=7059

-Apakah Mega akan Menyerahkan Tongkat Estafet Calon Presiden?, http://ramalanintelijen.net/?p=6915

-Ramalan Intelijen dan Ramalan Jayabaya Presiden 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=4315,

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.