Awas, Jokowi dan Capres Lain Kemungkinan Sudah Disadap

7 November 2013 | 9:21 am | Dilihat : 574

Jokowi dan Ibu Mega disadap? (foto: luwuraya.net)

Pemilu dan pilpres tahun 2014 akan dilaksanakan dua kali, yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 yang akan memilih para anggota dewan legislatif (DPR RI) dan  Pemilu Presiden akan dilakukan pada tanggal 9 Juli 2014, akan memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden.

Disaat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi tersebut, kita dibuat tidak nyaman dengan pemberitaan penyadapan oleh Amerika Serikat (NSA) dan Australia (ASD) yang terkuak dari pemberitaan di harian Sidney Morning Herald serta Faifax Media. Lebih spesifik berita penyadapan bidang politik, diplomasi, ekonomi serta pertahanan (Angkatan Laut, Udara dan komunikasi militer). Bidang yang disadap tersebut dalam disiplin intelijen merupakan bagian dari sembilan komponen intelijen strategis. Yaitu Ipoleksosbudhankam, sejarah, demografi dan biografi.

Terkait dengan pemilu 2014, bagian dari komponen politik yang merupakan juga komponen intelijen strategis, banyak yang bertanya apa kerugian bagi yang disadap dan apa keuntungan bagi si penyadap. Penulis akan mencoba membahas khusus komponen politik dan biografi, kaitan dengan pemilu, serta calon pimpinan nasional Indonesia dikaitkan dengan penyadapan oleh Australia dan Amerika Serikat.

Sebuah badan intelijen dimanapun  pada umumnya bertugas melakukan pengumpulan informasi, yang kemudian diolah menjadi bahan keterangan  menjadi produk yang bernama intelijen. Pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket) tersebut dapat dilakukan oleh sebuah badan intelijen malalui sumber terbuka maupun tertutup. Bahan terbuka bisa didapat dari media cetak atau elektronik, internet, atau brosud, hasil seminar, press release dan banyak sumber lainnya, yang apabila fakta-faktanya sudah disusun  akan menjadi data intel.

Apabila badan tadi akan mencari informasi rahasia, maka biasanya dilakukan dengan cara tertutup (klandestin), biasa dilakukan dengan penyadapan, atau mendapat dokumen dari pemegang rahasia (dengan bayaran, penghianatan). Kegiatan klandestin ini adalah bagian dari spionase, atau kegiatan mata-mata. Nah, itulah yang dilakukan baik oleh kelompok atau komunitas intelijen 5-Eyes (AS, Inggris, Australia, Selandia Baru dan Canada). Untuk target di Indonesia, maka pelaksananya dikerjakan oleh ASD dengan stasiun di Kedutaan Besar Australia Jakarta, kantor konsulat Australia di Bali dan sangat mungkin juga dilakukan oleh Amerika Serikat dari kantor perwakilannya di Jakarta (SMH).

Australia dan AS sangat perlu mengetahui perkembangan pemikiran dan pendapat para elit politik di Indonesia, juga kebijakan politik yang akan diambil pemerintah, maupun di kalangan parpol. Nah, yang terpenting, dalam kaitan dengan pilpres, mereka perlu mengetahui bagaimana pandangan politik para calon presiden dan cawapres yang akan bertarung pada 2014 nanti. Apakah pemimpin Indonesia yang baru itu pandangan politiknya berseberangan dengan mereka, bersikap biasa-biasa saja atau bersahabat dan akan menjadi teman erat, kalau perlu bisa menjadi salah satu pengikut. Ini sangat penting bagi penyadap, karena akan menyangkut dengan persoalan ekonomi dan pertahanan yang lebih luas.

Dunia intelijen dalam kaitan komponen biografi mengenal dan umumnya melaksanakan kegiatan spotting, yaitu mengamati para tokoh yang diperkirakan mempunyai kesempatan besar akan menjadi pemimpin di Indonesia, intelijen menyebut nantinya sebagai key formal individual. Mereka umumnya sudah diamati sejak lama, begitu begitu melihat potensi seseorang dapat berkembang akan menuju ke puncak. Bagi intelijen sekelas badan intel AS, bisa dilakukan sejak mereka masih muda, saat kuliah, akan disaring mengerucut.

Salah satu contoh di dunia yang populer tentang penyadapan yang terkait dengan spotting intelijen yaitu di;lakukannya penyadapan terhadap Kanselir Jerman Angela Merkel.  Menteri Dalam Negeri Jerman Hans Peter Friedrich mengatakan hari Minggu (27/10/2013) bahwa badan intelijen AS melanggar hukum Jerman karena mereka memantau ponsel di Jerman, menyusul adanya laporan ponsel Kanselir Merkel telah disadap jauh sebelum dia menjadi Kanselir, bahkan sejak 2002. Menurut majalah berita Jerman Der Spiegel, komunikasi Merkel mungkin telah disadap  sejak tahun 2005 , mengutip informasi yang dibocorkan Edward Snowden dari dokumen NSA.  Penyadapan terhadap ponsel Angela Merkel dilakukan dari Kedutaan Besar AS di Berlin. Terbukti penyadapan terhadap Merkel sukses karena Merkel akhirnya menjadi Kanselir. Tetapi kini dengan terbongkarnya penyadapan, Amerika menjadi tidak disukai oleh warga Jerman yang marah.

Dari beberapa info serta berdasarkan teori intelijen soal spotting, maka menurut hemat penulis, sangat besar kemungkinan komunikasi (ponsel), telpon lainnya, jalur internet para tokoh yang diperkirakan berpeluang akan maju sebagai capres/cawapres pada tahun 2014 juga disadap oleh Australia dan Amerika Serikat. Selain itu juga mereka penulis perkirakan  juga menyadap pimpinan nasional yang kini menjabat, termasuk para pejabat teras lainnya.

Dengan informasi lengkap,  baik dari sisi karakter, komunikasi, pengambilan keputusan, keinginan, cita-cita, kemampuan, kekuatan, kerawanan serta pandangan terhadap negara penyadap, maka  ketelanjangan seseorang dari beberapa aspek kehidupannya, dia akan mudah di intervensi dan diarahkan oleh negara penyadap. Yang jelas kerawanan para pemegang amanah kini rahasianya penulis perkirakan sudah mereka kuasai.

Itulah kesimpulan dari ulasan ini, jangan sepelekan dan jangan sederhanakan informasi penyadapan yang kini telah berkembang. Para pemimpin dan calon pemimpin seharusnya lebih waspada dalam penggunaan alat komunikasinya. Tidak ada yg tidak bisa disadap, dan upaya melakukan pengamanan enkripsi masih sulit dilaksanakan secara menyeluruh, disamping dibutuhkan biaya besar, masih banyak yang belum tertangani.

Untuk para tokoh, Pak Jokowi, Pak ARB, Ibu Mega, Pak Prabowo, Pak Wiranto, Pak Harry Tan, Pak Hatta Rajasa, Pak Dahlan Iskan serta peserta Konvensi, Pak JK, Pak Mahfud, dan lain-lainnya, mohon waspada kedepannya. Penyadapan sulit dibuktikan secara material dan faktual, dan tidak akan mereka hentikan karena mereka memang memerlukan, serta kita belum bisa membuktikannya. Mohon lebih alert, penyadapan dan spotting tetap berjalan. Mudah-mudahan ulasan penulis terbaca, karena ini hanyalah sebuah sumbangan kecil dan bagian ibadah penulis dalam pengabdian kepada bangsa dan negara di usia senja.

Oleh : Prayitno Ramelan, www. ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

-Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama, http://ramalanintelijen.net/?p=7601

-Opini Pray Tentang Penyadapan NSA dan ASD di Harian Sindo,  http://ramalanintelijen.net/?p=7656

-Apa Target Spionase Kedubes Australia di Jakarta?, http://ramalanintelijen.net/?p=7640

-Kedubes AS Jakarta, Salah Satu Stasiun Penyadap NSA, http://ramalanintelijen.net/?p=7630

-Siapkah Kita Menghadapi Spionase Internasional?, http://ramalanintelijen.net/?p=7615

 

 

 

   
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.