Ramadhan Pohan Menyerang Jokowi soal Penyadapan

4 November 2013 | 11:55 am | Dilihat : 561

Jakarta, 4 November 2013. Seperti yang pernah penulis sampaikan pada artikel dahulu dengan judul 'Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama," http://ramalanintelijen.net/?p=7601, nampaknya sudah tercatat dua bagian parpol yang elitnya melancarkan serangan. Serangan pendahuluan dilakukan oleh Amin Rais (24/9/2013), dimana tokoh reformasi ini dikenal sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional.

Serangan kedua dan berlanjut dilakukan oleh elit Partai Demokrat, diawali oleh Nurhayati Ali Asegaf, Waketum Partai Demokrat (19/10/2013), dilanjutkan serangan ketiga oleh Ruhut Sitompul, anggota Komisi-III Fraksi Partai Demokrat (22/10/2013). Nah kini muncul tokoh ketiga dari Demokrat yang ikut melengkapi serangan.

Wasekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan memprediksi Gubernur DKI Jokowi tak akan nyapres. Ramadhan menilai Jokowi belum cukup matang untuk mengejar kursi RI-1. Dikatakannya, "Apa Mega tega mengajukan Jokowi yang belum matang? Jokowi itu jangan nggege mongso (ambisius), belum waktunya," kata Ramadhan kepada detikcom, Selasa (29/10/2013).

Selanjutnya Ramadhan Pohan melakukan serangan susulan, mengkritik keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang memberikan izin pembangunan dan renovasi gedung Kedubes Amerika Serikat (AS) di Jakarta. Menurutnya,  pemberian izin tersebut membuka celah bagi AS untuk melakukan aksi penyadapan. "Izin pembangunan kedubes itu kan dari Jokowi. Kalau benar, itu berarti memberikan lampu hijau untuk disadap," katanya seusai diskusi di Cikini, Jakarta, Jumat (1/11/2013).

Wakil Ketua Bappilu PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin menilai, Ramadhan sama sekali tidak mengerti cara kerja intelijen.  "Saya kira pernyataan yang disadap karena ada renovasi bangunan itu nggak ngerti teknik penyadapan. Cuma paranoid saja, itu bodoh sekali," ujar Hasanudin saat dihubungi, Minggu (3/11/2013). Hasanudin megatakan agar Ramadhan lebih bijak dalam memberikan pernyataan. Ia mengaku tak memasalahkan jika Jokowi kerap diserang Demokrat selama ada alasan logis. Namun, kali ini, Hasanudin menyayangkan cara yang dilakukan Ramadhan justru semakin menunjukkan ketidaktahuannya soal dunia intelijen.

 

Analisis

 

Dari perkembangan berita tersebut, kelihatan bahwa Partai Demokrat terus melakukan serangan terhadap Jokowi. Berbeda dengan Amin Rais serangannya di batasi. Serangan politik itu dapat dimasukkan dlam  kelompok serangan psikologis, untuk menurunkan popularitas dan elektabilitas Jokowi yang semakin hari semakin naik.

Dengan menyerang Jokowi dan menggunakan isu yang kurang tajam, nampaknya greget serangan hanya akan merupakan angin lalu. Jokowi sudah terlanjur mendapat julukan media darling. Sosok sederhana ini sudah "kadung" disukai dan dicintai masyarakat. Sebagai contoh saat peresmian rumah sakit internasional Mayapada di Lebak Bulus pada dua minggu yang lalu, saat beberapa menteri yang juga hadir, situasi biasa saja. Yang terjadi, saat Jokowi hadir di tempat tersebut, semua yang hadir bertepuk tangan. Itu adalah sebuah bukti bahwa Gubernur DKI Jakarta ini memang "beken." Simbol pemimpin yang disukai rakyat.

Nah, kini, penulis juga agak bertanya, apa kepentingannya beberapa elit Demokrat yang terkenal itu terus bergantian menyerang Jokowi. Serangan terakhir nampaknya membuat TB Hasanudin menjadi gemas, hingga mengeluarkan kata-kata Ramadhan Pohan paranoid dan bodoh. Maka genderang perang antara elit Partai Demokrat VS PDI-P mulai di tabuh.

Terselip pemikiran, apakah para elit tersebut mendapat given untuk menyerang Jokowi? Atau mereka adalah elit partai yang sulit diatur oleh Ketua Umum?. Atau juga bagi Partai Demokrat, peluang berkoalisi dengan PDI-P telah sirna? Nampaknya perkiraan terakhir yang agak tepat. Sejak pemilu 2004, tidak sekalipun pernah terjadi koalisi antara kedua parpol itu. Bahkan posisi politik tingkat nasional jelas berseberangan.

Yang jelas dipastikan, elit Partai Demokrat sadar dan faham bahwa seorang kandidat capres apabila sudah memiliki dukungan suara untuk dicalonkan, maka keputusan terakhir saat konstituen masuk ke bilik suara, dia disukai, diharapkan dan dicintai apa tidak. Para politisi Demokrat menjadi tidak yakin apakah jago mereka yang kini sedang mengikuti konvensi akan mampu menyaingi tokoh PDI-P yang satu ini.

Kita tunggu apakah ada elit Partai Demokrat yang kembali akan menyerang Jokowi. Mereka justru akan berhadapan dengan rakyat pencinta Jokowi. Terlebih elit itu menyerang dengan topik yang jauh, dan sulit dapat menyentuh ketidak populeran Jokowi. Soal penyadapan adalah masalah intelijen, dibawa ke ranah politik masih bisa diterima, tetapi apabila disentuhkan ke Jokowi, nampaknya ungkapan kemarahan TBH yang benar.

Sebagai penutup, sudahlah, mari kita bangun suasana politik dan demokrasi yang baik menjelang pemilu, tidak usah pakai grey campaign, terlebih dengan black campaign. Sekali anda salah bicara, salah melakukan serangan, efek serangan akan berbalik ke anda. Yang perlu diingat, efek bisa saja berimbas dan merugikan ke parpol yang bersangkutan. Begitulah kira-kira.

 

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

-Jokowi Akan Dijadikan Musuh Bersama, http://ramalanintelijen.net/?p=7601

-Konvensi Partai Demokrat dan Harapannya, Mampukah?, http://ramalanintelijen.net/?p=7215

-Capres 2014 Yang Mengapung, Sebuah Telaahan dari Old Soldier,  http://ramalanintelijen.net/?p=7059

-SBY Berbicara Tentang Capres 2014, http://ramalanintelijen.net/?p=6992

-Apakah Mega akan Menyerahkan Tongkat Estafet Calon Presiden?,  http://ramalanintelijen.net/?p=6915

       
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.