Dirgantara Indonesia Mulai Bangkit

3 September 2013 | 2:27 am | Dilihat : 3071

[google-translator]

PT Dirgantara Indonesia, Bandung (Foto: Indonesian-Aerospace.com)

Kita semua mengetahui bahwa PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang bahasa Inggrisnya Indonesian Aerospace Inc, adalah industri pesawat terbang milik pemerintah dengan lokasi di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Dari sejarah nya, industri pesawat terbang Indonesia mencatat dua nama tokoh dirgantara yaitu BJ Habibie yang berjasa membangun PT IPTN dan Nurtanio, anggota  TNI AU sebagai Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia.

Pada masa keemasannya, PT Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16.000 orang. Karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Dirgantara Indonesia terpaksa melakukan rasionalisasi karyawannya hingga menjadi berjumlah sekitar 4000 orang. Karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, PT DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan.

Saat sulit itu, penulis mengenal Dirut PT DI Muhammad Nuril Fuad (2005-2007) yang menghadapi beratnya kondisi perusahaan. Mas Nuril ini meninggal karena sakit. Sulitnya kondisi hingga menimbulkan gurau karyawan di gajih dengan "yen," bukan berarti yen mata uang Jepang tetapi, gajian akan terlaksana Yen ono duit atau Yen eling. Artinya karyawan digaji apabila perusahaan punya uang atau apabila ingat.

Nah, dalam kondisi jatuh bangunnya, kini Indonesian Aerospace Inc ini mulai dibenahi pemerintah, dibangkitkan kembali. Tahun 2012 merupakan momen kebangkitan Dirgantara Indonesia. Pada awal 2012 Dirgantara Indonesia berhasil mengirimkan 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan. Pada Renstra 2009-2019, PT DI banyak diberi kesempatan berpartisipasi bekerjasama serta membangun beberapa produk pesawat terbang, baik pesawat helikopter, pesawat angkut ringan hingga pesawat tempur.

PT Dirgantara Indonesia bersama-sama dengan tim dari Balitbang Kementerian Pertahanan, BPPT, Institut Teknologi Bandung, dan TNI AU terlibat dalam pembangunan pesawat tempur gabungan Korea Selatan-Indonesia (Proyek KFX/IFX) Boramae. Proyek ini menggantung setelah tim Korea-Indonesia menuntaskan tahap pertama, yakni Technology Development, dalam waktu 18 bulan, pada Desember 2012. Proyek oleh pemerintah Korea Selatan ditunda hingga akhir tahun 2014,  penundaan selama sekitar satu-setengah tahun dilayangkan Pemerintahan Park Geun-hye tak lama setelah dirinya terpilih sebagai presiden ke-11 Korea Selatan pada Februari 2013.

Menurut Pembina Tim Komunikasi PT DI, Sonny S. Ibrahim (14/6), PT DI tengah mempersiapkan diri untuk memasuki tahap kedua, yakni Engineering Manufacturing Development. Ahli dari pabrik pesawat terbang ini akan coba mempelajari 30 dari 72 item teknologi pesawat tempur stealth generasi 4,5 ini yang belum dikuasai agar saat dilanjutkan mereka siap melaksanakannya. Teknologi tersulit yang masih terus dikejar ilmuwan kedua pihak adalah radar AESA serta material dan sistem elektronik penyerap gelombang radar. Keduanya akan sangat menentukan keunggulan dari pesawat yang semula direncanakan operasional pada 2020 ini (Angkasa).

Proyek lain yang kini ditangani oleh PT Dirgantara Indonesia  adalah pembuatan helikopter anti-kapal selam (AKS) produk Eurocopter, AS-565 Panther. Kepala Staf TNI AL, Laksamana Marsetio sebelumnya mengungkapkan, TNI AL telah menyiapkan skadron khusus untuk menerima 11 helikopter AKS buatan PT DI dengan nama Skadron 100 AKS. Helikopter AKS dimaksudkan untuk membentuk kekuatan tempur sistem senjata armada terpadu (SSAT) pada 2014. SSAT ini melibatkan unsur kapal perang, pesawat udara, korps Marinir dan pangkalan.  Asisten Direktur Utama PT DI Sonny Ibrahim Saleh membenarkan adanya pesanan tersebut.

Selain mendapat pesanan dari TNI AL, PT DI juga mendapat pesanan 8 helikopter serang ringan dari TNI AD. Rencananya helikopter tersebut juga produksi Eurcopter, yakni AS-350 Ecureuil atau AS-555 Fennec. Sebelumnya PT DI memang telah menandatangani kerja sama dengan Eurocopter untuk produksi sejumlah jenis helikopter, termasuk Fennec dan Ecureuil.

PT DI juga akan memenuhi pesanan 7 buah helikopter Eurocopter jenis lain. Enam di antaranya untuk TNI AU. Jenisnya adalah EC-725 Cougar varian Combat SAR and Personal Recovery. Pengerjaan tersebut di luar jumlah pesanan atas helikopter angkut personel Bell 412 EP untuk kepentingan TNI. Bukan hanya itu, Kementerian Pertahanam juga memesan beberapa CN- 235 MPA dan 8 C-295.

Dengan demikian banyaknya pembuatan pesawat terbang oleh PT DI, maka salah satu industri strategis Dirgantara dan Pertahanan milik bangsa ini diharapkan tidak meredup, bangkit menuju ke era modernisasi yang lebih maju. PT DI dahulu mempunyai demikian banyak ahli penerbangan yang dikirim oleh BJ Habibie sekolah ke luar negeri, dan banyak diantara mereka kini justru bekerja di luar negeri, terutama sejak krisis tahun 1998.

Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli, tetapi yang dibutuhkan adalah bagaimana kembali menata manajemen pabrik pesawat terbang dan yang jauh lebih penting bagaimana menghargai para tenaga ahli kita yang cukup mumpuni itu hingga tidak lari keluar negeri. Harapan kita, Indonesia dimasa mendatang mampu membangun sendiri pesawat tempur modern. Semoga

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-Korsel meninjau ulang Proyek KFX (Fighter) dengan Indonesia, http://ramalanintelijen.net/?p=6163

-TNI AU Akan Memiliki Pesawat Angkut Baru CN-295, http://ramalanintelijen.net/?p=4841

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.