Antara Crashed Landing Boeing-777 Asiana Airlines dan Garuda

10 July 2013 | 8:49 am | Dilihat : 2216

[google-translator]

Air Asiana 214, crashed landing, San Francisco (foto : latintimes.com).

Dunia dikejutkan dengan berita jatuhnya (crashed landing) sebuah pesawat Boeing 777 milik maskapai penerbangan Korea, Asiana Airlines 214 saat akan melakukan pendaratan di bandara internasional San Francisco, Sabtu (6/7/2013) siang waktu setempat.  Penerbangan tersebut berasal dari Shanghai dan berhenti di Seoul sebelum menempuh perjalanan panjang selama 11 jam ke San Francisco.

Kementerian Transportasi Korea Selatan menyatakan  bahwa awak pesawat berjumlah 16 orang. Sementara jumlah penumpang pesawat 291 orang terdiri dari 141 orang WN Cina, 77 warga Korea Selatan, 61 orang Amerika, 3 Kanada, 3 dari India, 1 Jepang, 1 Vietnam dan 1 dari Perancis, sedangkan  3 yang tersisa belum dapat dikonfirmasi kebangsaannya.  Diketahui juga tiga puluh satu penumpang adalah anak-anak.

Dari kecelakaan tersebut, tercatat 2 orang anak meninggal dunia, 19 dirawat di rumah sakit, 6 diantaranya dalam kondisi kritis. Sisanya 133 mengalami luka ringan.  Teridentifikasi dua penumpang yang meninggal adalah gadis berusia 16 tahun, siswa sekolah menengah di bagian timur provinsi Zhejiang Cina bernama Ye Mengyuan dan Wang Linjia.

Penyebab kecelakaan belum diketahui dengan jelas, tetapi berdasarkan laporan saksi dan video reruntuhan, seorang ahli penerbangan mengatakan bahwa saat akan mendekati landasan, kecepatannya di bawah terget  kecepatan pendaratan yaitu 137 knot per jam, atau 157 mph. Pesawat terlalu rendah dan bagian ekor kemudian menabrak tembok pembatas laut diujung landasan.

Kepala  National Transportation Safety Board  AS, Deborah Hersman pada briefingnya hari Minggu (7/7) menyatakan NTSB belum menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut. NTSB sedang mengumpulkan fakta-fakta baik dari saksi, tidak adanya masalah kriminal (teroris) serta informasi dari Asiana yang menyatakan tidak adanya kegagalam mekanis. NTSB  mengumpulkan semua fakta yang benar untuk mendapatkan gambaran yang lengkap.

"Kita perlu memahami apakah ada sesuatu yang terjadi," kata Hersman. NTSB juga memeriksa adanya dugaan bahwa captain pilot mungkin tidak memiliki memiliki pelatihan yang cukup? Ini salah satu hal yang mereka sedang selidiki. Hersman mendasarkan komentarnya pada evaluasi komunikasi di kokpit dan perekam data penerbangan yang berisi ratusan berbagai jenis informasi tentang apa yang terjadi pada pesawat. Menurutnya, data NTSB yang diperoleh dari perekam suara kokpit, terdengar salah satu awak pesawat mengatakan untuk menambah kecepatan pesawat itu hanya tujuh detik sebelum benturan.

Sementara Bob Coffman, seorang kapten pilot  American Airlines  yang juga penerbang Boeing-777 mengatakan kepada AP, sistem didalam pesawat jelas selalu memperingatkan pilot apabila speed (kecepatan) dibawah ketentuan dan akan bisa  menyebabkan pesawat stall (jatuh karena kehilangan daya angkat). Respon normal terhadap peringatan stall adalah menambah kecepatan untuk mengembalikan  kontrol. Diketahui adanya upaya untuk meningkatkan speed beberapa detik sebelum kecelakaan itu, katanya. Dia mengatakan saat briefing kecelakaan dengan pertanyaan penting: "Mengapa pesawat  begitu lambat?".

ABC News menyebutkan bahwa captain pilot Lee Kang-kook yang bertanggung jawab atas jet Asiana Airlines Flight 214 tersebut  hanya mempunyai 43 jam terbang pada Boeing 777, meskipun ia memiliki jam terbang yang signifikan terhadap pesawat angkut jet besar lainnya. Lee Kang-kook baru pertama kali melakukan penerbangan ke San Fransisco dengan Boeing 777, dan itu adalah penerbangannya yang kesembilan dengan Boeing 777. Juru bicara  Asiana Airlines Lee Hyo-min mengatakan. "Dia adalah pilot veteran dengan hampir 10.000 jam terbang di pesawat lain seperti Boeing 747," katanya. "Dia sedang dalam proses untuk mendapatkan lisensi untuk Boeing 777."

Dari pengalaman penulis selama bertugas di TNI AU, dalam sebuah kasus kecelakaan pesawat, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menentukan penyebab kecelakaan pesawat. Dari berbagai kategori penyebab kecelakaan itu, tercatat kesalahan pilot (human error) yang paling dominan (50 persen). Kesalahan pilot bisa terjadi murni kesalahan captain pilot, atau berhubungan dengan masalah cuaca, atau mekanis. Pada tahun 1950-an, kejadian murni akibat kesalahan pilot tercatat sebagai penyebab teratas dengan 41 persen. Secara bertahap, tiap dekade presentasenya naik-turun dari 34 persen, 24 persen, 26 persen, 27 persen, dan terakhir 30 persen. Data ini mengacu pada 1.085 kecelakaan fatal pesawat komersial berpenumpang di atas 18 orang dari tahun 1950-2000-an. Data tak menyertakan kecelakaan pesawat militer, pribadi, dan helikopter.

Kesalahan pilot berkaitan dengan cuaca dan mekanis berkisar antara 16 – 24 persen. Kesalahan pilot terkait dua hal tadi sejak dekade 1950-an hingga 2000-an berturut-turut 16 persen, 22 persen, 19 persen, 20 persen, 24 persen, dan 24 persen.  Adapun human error lainnya berkisar antara 2-9 persen dengan rata-rata dikisaran angka tujuh persen.

Faktor di luar human error hanya terjadi lebih sedikit. Kesalahan mekanis menempati posisi kedua setelah kesalahan manusia, yakni rata-rata 22 persen. Cuaca berada di peringkat ketiga dengan rata-rata 12 persen. Sabotase, seperti pada kejadian gedung kembar World Trade Center, rata-rata hanya Sembilan persen. Penyebab lain hanya satu persen saja.

Data prosentase penyebab kecelakaan pesawat diatas seperti yang ditayangkan oleh tempo.co,  juga menyebutkan bahwa  sebagian besar kecelakaan terjadi saat pesawat take off (akan terbang) dan menjelang landing (mendarat). Sebanyak 20 persen kecelakaan terjadi  menjelang take-off, 36 persen menjelang dan saat mendarat. Kondisi lain hanya dibawah 12 persen. Nampaknya dari beberapa fakta-fakta diatas, kesimpulan penyebab kecelakaan Air Asiana ini kemungkinan besar akan mengerucut sebagai human error.

Bagi perusahaan pembuat pesawat, yang fatal apabila kecelakaan disebabkan karena masalah mekanik atau tehnis, karena paling tidak akan ada instruksi seluruh pesawat sejenis dinegara manapun harus grounded (tidak diijinkan terbang) dalam periode tertentu hingga penyelidikan selesai. Tidak bisa dibayangkan kerugian yang akan ditimbulkan para operator penerbanganserta dampak operasionalnya.

Mengenal Boeing-777

Boeing 777 adalah pesawat jet berbadan lebar (wide body) bermesin ganda jarak jauh yang diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes. Ini adalah twinjet terbesar di dunia yang memiliki kapasitas tempat duduk  untuk 314-451 penumpang, dengan kemampuan jelajah  5.235 hingga 9.380 mil laut (9.695 sampai 17.370 km), tergantung pada versinya. Pesawat ini dikembangkan sebagai hasil konsultasi dengan delapan maskapai penerbangan yangbesar. Boeing 777 ini dirancang untuk menggantikan wide body yang lebih tua  dan sebagai jembatan perbedaan kapasitas antara Boeing 767 dan 747. Dengan teknologi fly-by-wire , pesawat  triple seven ini dikontrol melalui komputer.

Varian asli Boeing 777-200 memasuki layanan komersial pada tahun 1995, diikuti oleh extended-range 777-200ER pada tahun 1997. Varian 777-300 memasuki layanan pada tahun 1998. Untuk varian 777-300ER dan 777-200LR masing-masing mulai beroperasi pada tahun 2004 dan 2006, sementara versi kargo, 777F  mulai dioperasikan pada bulan Februari 2009.

Perusahaan penerbangan AS United Airlines adalah maskapai Amerika yang pertama menggunakan Boeing 777 sebagai pesawat komersial sejak bulan Juni 1995. Selanjutnya "triple seven" menjadi sangat popular dikalangan maskapai penerbangan. Pada Juni 2013, 60 pelanggan telah melakukan pesanan untuk 1.452 pesawat dari semua varian, dimana tercatat sebanyak 1.113 pesawat telah diserahkan. Varian yang paling disukai adalah 777-200ER dimana sebanyak 421 pesawat telah diserahkan hingga bulan  Juni 2013. Maskapai Emirates mengoperasikan armada 777 yang terbanyak dengan jumlah 127 pesawat.

Boeing 777 dinilai sebagai salah satu pesawat paling aman, berdasarkan catatan keamanan dari kecelakaan dibandingkan dengan tingginya jumlah jam terbang. Sejak tahun 1995 hingga Juli 2013, tercatat hanya terjadi tiga buah kecelakaan. Triple Seven ini adalah produksi Boeing yang terlaris. Varian   777-200,-200ER dan -300 dilengkapi dengan engine GE90, Pratt & Whitney PW4000 atau Rolls-Royce Trent 800 dikenal sangat irit bahan bakarnya. Varian 777-200LR adalah pesawat wide body yang mempunyai jarak jarak jelajah terjauh di dunia dan bisa terbang lebih dari jarak setengah dunia.  Pesaing pasar langsung adalah Airbus A330-300 dan A340, McDonnell Douglas MD-11 dan, di masa depan, A350, Boeing 787 Dreamliner, yang mulai beroperasi pada 2011.

Garuda dan Boeing 777

PT Garuda Indonesia pada Senin (22/4/2013) di Jakarta melakukan penandatanganan dokumen perjanjian kerja sama pengadaan dua pesawat Boeing 777-300 ER. Acara penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan oleh Chairman Aviation Lease and Finance Company (ALAFCO) Ahmad A Alzabin dan Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar. ALAFCO merupakan perusahaan  leasing dan financing asal Kuwait.

Garuda Indonesia akan mendatangkan sebanyak empat pesawat Boeing 777-300 ER untuk melayani penerbangan jarak jauh. Empat pesawat tersebut merupakan bagian dari 10 pesawat Boeing 777-300 ER yang telah dipesan Garuda Indonesia ke Boeing Company untuk kedatangan hingga tahun 2015.

Boeing 777 tersebut telah tiba di Indonesia pada tanggal 2 Juli 2013 dan mulai 9 Juli-19 Agustus 2013 akan digunakan untuk penerbangan rute Jakarta-Jeddah Salah satu keistimewaan armada ini adanya kursi first class sebanyak 8 buah. "Rencananya penumpang yang duduk di First Class itu akan digratiskan akses WiFi-nya,” kata Direktur Layanan Garuda Indonesia Faik Fahmi.

Lebih lanjut disebutkannya, pesawat yang memiliki first class ini nantinya usai 19 Agustus 2013,  akan melayani rute Tokyo pada 19 September , setelah itu pada 15 november  akan melayani rute Sydney-Jakarta-London. Menurut Fahmi, semua segmen akan dilayani, dimana Garuda akan kembali menghidupkan first class yang dihapus sejak 1985. Dengan demikian maka Garuda akan menjaring penumpang yang biasa terbang dengan jet pribadi.

Direktur Operasi Garuda, Capt.Novianto Herupratomo mengatakan “Boeing 777-300ER akan menjadi model pesawat baru untuk melengkapi armada Garuda, sekaligus dalam rangka peremajaan armada dengan target usia rata-rata pesawat menjadi lebih muda dari 5 tahun pada tahun 2015 mendatang. Pesawat Boeing 777-300ER yang kita miliki ini memiliki kemampuan terbang jarak jauh secara non-stop dan merupakan jenis yang sangat baru jika dibandingkan dengan Boeing 777 yang telah ada di pasaran saat ini.,” katanya, Sabtu (29/06).

Kesimpulan

Walaupun Boeing 777 dikenal sebagai pesawat teraman dibandingkan jenis lainnya, tetapi kecelakaan Air Asiana merupakan kasus khusus yang sangat perlu mendapat perhatian bagi insan penerbangan, khususnya Garuda. Kita harus bangga dengan Garuda yang  kini juga menggunakan Boeing 777. Hanya yang perlu diingat, sebagaimana penulis saat aktif bertugas dalam korps "the blues" (Indonesian Air Force), saat memberikan ceramah, bahwa pada dasarnya manusia kodratnya berada di tanah, tidak diberi kemampuan terbang oleh Tuhan. Hanya dengan akalnya, manusia bisa terbang dengan menggunakan teknologi yaitu burung besi.

Ada hal yang sangat mendasar pada saat manusia terbang, khususnya yang langsung terlibat dengan operasi penerbangan. Dia harus patuh dengan prosedur, aturan penerbangan dan pabrik pembuat pesawat. Selain itu terkait dengan mental airmanship, yang berkaitan dengan kemampuan, kecerdasan, disiplin yang sangat ketat dan tanpa toleransi. Sekecil apapun apabila hal itu dilanggar maka dia akan sangat dekat untuk bertemu dengan kodratnya jatuh ke bumi tanpa maaf. Itulah hal mendasar bagi mereka yang terlibat dalam menerbangkan burung besi tersebut. Semoga bermanfaat. Salam untuk Mas Emir Satar yang penulis kenal, maju terus dan sukses dengan Garuda.

Oleh : Prayitno Ramelan, Air Vice Marshal (Ret), www.ramalanintelijen.net

Artikel terkait :

-Boeing 787 Dreamliner terpaksa Grounded, http://ramalanintelijen.net/?p=6287

-Hasil Investigasi, Sukhoi Jatuh karena Human Error, http://ramalanintelijen.net/?p=6128

-Fokker-27 TNI AU jatuh di Halim, http://ramalanintelijen.net/?p=5446

         
This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.