Apakah Mega akan Menyerahkan Tongkat Estafet Calon Presiden?

28 May 2013 | 10:00 pm | Dilihat : 675

 

Dalam membuat forecast (the future), intelijen menggunakan dasar the past dan the present. The past yang disebut sebagai basic descriptive intelligence dalam dunia perpolitikan di Indonesia adalah hasil pilpres 2004 dan 2009 serta faktor yang mempengaruhi. Faktor yang sangat menentukan dalam pilpres adalah budaya paternalistik masyarakat, yang masih sangat percaya dengan para  patron.

Menurut penulis, patron yang kuat saat ini adalah SBY dan Megawati, dimana SBY sudah dipastikan tidak akan dapat kembali maju sebagai capres pada 2014. Nah berdasarkan pandangan dan penilaian ramalan intelijen dengan beberapa faktor penunjang khususnya hasil survei dan keteguhan Mega yang mengarahkan PDIP tetap berposisi diluar pemerintahan Presiden SBY, Mega menurut penulis masih kuat sebagai patron sekaligus capres 2014.  Sementara Wiranto, Aburizal Bakrie dan Prabowo sedang berusaha menjadi patron, tetapi nampaknya agak berat karena masih adanya hambatan psikologis. Baca artikel penulis "Ramalan Intelijen dan Ramalan Jayabaya Presiden 2014," http://ramalanintelijen.net/?p=4315.

Dalam perjalanan menuju pemilu 2014, PDIP melakukan uji coba memainkan beberapa kader mudanya untuk bersaing di Pilkada bergengsi dibeberapa propinsi. Hasil survei LSN menunjukkan bahwa pemilih pemula lebih menyukai PDIP, baca artikel penulis, “PDIP, Golkar, Hanura, Gerindra, disukai Pemilih Pemula”  http://ramalanintelijen.net/?p=6855. Pada tiga propinsi besar,  kader PDIP kalah (Jabar, Sumut dan Bali), sementara di dua propinsi bergengsi lainnya PDIP menang (DKI Jakarta dan Jawa Tengah).

PDIP menempatkan dua tokoh mudanya sebagai ujung tombak, Jokowi sebagai Gubernur DKI adalah kadernya yang paling populer tidak hanya di Jakarta, juga ditataran nasional. Gayanya yang kalem, sederhana dan menunjukkan semangat kerja serta dekat dengan rakyat kemudian meraih simpati. Bahkan Jokowi dikatakan sebagai media darling, disukai oleh media manapun. Sementara Ganjar Pranowo, dikenal smart, enerjik, bersih dan dipersepsikan pro perubahan.

Setelah kadernya menang di Jawa Tengah, nampak terlihat sedikit pergeseran pandangan politik Megawati yang disampaikan oleh putrinya Puan Maharani. Dikatakannya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/5), "Tentu saja Bu Mega (Megawati) memang ingin bahwa kaderisasi dan regenerasi juga dilakukan di PDIP. Kalau memang ada tokoh atau kader yang potensial dan bisa dimajukan, ya kenapa tidak," kata Puan sebagai Ketua DPP PDIP.

Menurutnya, dinamika politik yang tinggi,  bisa saja memungkinkan banyak hal terjadi ke depan. Bila saat ini tokoh-tokoh muda PDIP seperti Jokowi dan Ganjar Pranowo disukai rakyat, perkembangan menjelang pilpres bisa saja membuat peta politik berubah. Menurut strategi PDIP, tidak sepenuhnya pilkada menjadi cerminan bagi pilpres, karena pilkada bergantung kultur wilayah, kondisi geografis dari wilayah tersebut, disesuaikan dengan calon yang didukung. Sedangkan pilpres memiliki jauh lebih banyak variabel dibanding pesta demokrasi setingkat pilkada.

Lantas bagaimana membaca pemikiran Mega sebagai Ketua Umum PDIP menyikapi perkembangan politik yang kini terjadi?

Penulis melihat sebuah kekuatan, keyakinan dari Mega yang berbeda dari beberapa tokoh parpol lainnya. Mega penulis nilai menjadi  patron karena dia sebagai tokoh politik dengan "base on ideologi." Menurut pengertiannya, Mega adalah generasi penerus darah Bung Karno, sebagai anak biologis sekaligus ideologis ayahnya. Mega akan tetap berpegang teguh kepada dasar keyakinannya tersebut. Dia berbeda dengan adiknya baik Rahmawati ataupun Sukmawati. Mega dinilai lebih liberal. Oleh karena itu Mega akan mengukur setiap kadernya dengan dasar keyakinannya tersebut.

Nah, kini muncul seorang kader yang mendadak bak berlian yang perlu diasah lebih lanjut dari kalangan PDIP. Pria tersebut adalah Joko Widodo (Jokowi) yang sedang menggeluti tantangan besar dan berat sebagai kepala daerah. Penulis melihat bahwa Mega terus melihat dan menilai kelas Jokowi sebagai kader partainya, apakah nanti pantas dan mampu bersaing apabila diterjunkan ke medan persaingan pilpres yang jelas sangat berat?. Apabila dia meyakini dengan dasar pemikiran ideologi, maka Jokowi akan diajukan sebagai capres dan apabila Mega belum yakin maka Jokowi baru akan dimainkan pada pilpres 2019. Maka capres PDIP pada 2014 akan dilakoninya sendiri.

Bagaimana Mega mengukur Jokowi dari sisi pandangnya? Jokowi belumlah terukur sebagai tokoh PDIP. Kemungkinan Jokowi akan bisa dijadikan sebagai Ketua Harian PDIP dan Mega tetap sebagai Ketua Umum. Atau kemungkinan lainnya Jokowi sebagai Ketua Umum PDIP dan Mega akan menjadi king maker sebagai Ketua Dewan Pembina. Kira-kira begitulah.

Apabila didudukkan sebagai pengurus partai, maka Jokowi sangat mungkin akan meningkatkan perolehan suara PDIP pada pemilu 2014. Dengan gayanya yang merakyat, disukai media, bersih dan menunjukkan semangat kerja dan memperjuangkan rakyat kecil maka Jokowi akan tambah dicintai rakyat. Dengan dukungan media, penulis perkirakan akan berlangsung silent revolution. Dukungan media akan besar artinya dan mampu mengalahkan jejaring partai. Demikian perkiraan penulis melihat perkembangan PDIP yang menurut teori militer, suatu saat akan menghanguskan harapan parpol lain, karena PDIP memiliki cluster bom yang bernama Jokowi.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : AdminKompasiana.com

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.