Homegrown Terrorism Mengancam AS

24 May 2013 | 1:00 pm | Dilihat : 485

 [google-translator]

Pada hari Rabu (19/5/2013) waktu setempat, FBI menembak mati seorang warga imigran keturunan Chechnya yang bernama Ibraghim Todashev bertempat di kediaman yang bersangkutan di Orlando, Central Florida. FBI menyatakan terpaksa menembak Todashev karena saat diperiksa melakukan penyerangan terhadap petugas. Todashev saat diperiksa oleh agen FBI dan dua polisi melakukan penyerangan dengan pisau sehingga kemudian ditembak mati.

Pemeriksaan Todhasev diduga mempunyai hubungan dengan Tamerlan Tsarnaev yang melakukan pemboman saat Boston Marathon pada 15 April lalu. Baca artikel penulis, "Bomber Boston yang Nekat itu Dari Etnik Chechnya," http://ramalanintelijen.net/?p=6804. Media di AS menyebutkan bahwa kemungkinan Todhasev patut diduga terlibat dalam tiga kasus pembunuhan yang masih merupakan misteri di pinggir kota Boston, Waltham pada bulan September 2011.

Pada peristiwa tersebut pelaku bom Boston, Tamerlan Trsarnaev diduga juga terlibat, karena salah satu korban, Brendan Mess adalah teman dekat Tamerlan. Pemboman di Boston dan jaringan teror tersebut adalah sebuah contoh dari tindakan yang disebut homegrown terrorism. Penulis mencoba menjelaskan bentuk ancaman baru tetapi tidak baru ini untuk kepentingan tambahan pengetahuan langkah anti teror di Indonesia.

Persepsi Ancaman Terhadap AS

Dalam pidatonya di National Defense University pada hari Minggu (23/5/2013), Presiden AS, Barack Obama selain membicarakan kondisi ancaman internasional, juga secara khusus menyinggung  tentang counter terrorism, penggunaan drones (pesawat tanpa awak untuk menyerang tokoh teroris) serta upaya penutupan rumah tahanan di Guantanamo.

Obama menyebutkan bahwa rakyat Amerika telah banyak berkorban untuk menangkal ancaman dan serangan yang dilakukan dalam bentuk teror. Dalam satu dekade terakhir Amerika telah menghabiskan satu triliun dollar untuk perang dan hampir 7.000 orang Amerika telah menjadi korbannya. Dikatakan Obama bahwa, "Amerika berada di persimpangan jalan. Kita harus menentukan sifat dan ruang lingkup perjuangan ini, atau yang lain itu akan menentukan kita. Kita harus memperhatikan peringatan James Madison bahwa tidak ada bangsa yang bisa mempertahankan kebebasan di tengah-tengah perang terus-menerus. Baik saya maupun presiden manapun bisa menjanjikan total kekalahan teror," katanya.

Amerika dikatakannya harus  memahami ancaman saat ini yang  dihadapi. Inti dari Al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan kini lemah sejak terbunuhnya Osama bin Laden, mereka harus lebih berfikir keselamatannya daripada berusaha menyerang Menurut Obama, mereka (Al-Qaeda) tidak mengarahkan serangan di Benghazi atau Boston. Mereka sudah tidak mampu lagi melakukan serangan yang sukses dan spektakuler di Amerika sejak 9/11.

Yang kemudian terlihat dan berkembang adalah munculnya berbagai afiliasi Al-Qaeda. Dari Yaman ke Irak, dari Somalia ke Afrika Utara, ancaman saat ini lebih menyebar, dengan afiliasi Al-Qaida di Semenanjung Arab, AQAP (Al-Qaeda in the Arabian Peninsula), yang paling aktif dalam merencanakan terhadap AS. Dan sementara tidak ada upaya AQAP mendekati skala 911, mereka terus merencanakan aksi teror, seperti upaya untuk meledakkan sebuah pesawat pada Hari Natal tahun 2009.

Kerusuhan di dunia Arab juga memungkinkan teroris untuk mendapatkan pijakan di negara-negara seperti Libya dan Suriah. Tapi di sini juga ada perbedaan dari 911. Dalam beberapa kasus, AS terus menghadapi jaringan yang disponsori negara seperti Hizbullah yang terlibat dalam aksi teror untuk mencapai tujuan politik. Lain dari kelompok ini hanyalah milisi lokal atau ekstrimis yang berusaha dalam perebutan wilayah. Dan sementara AS harus waspada untuk tanda-tanda bahwa kelompok-kelompok ini dapat menimbulkan ancaman transnasional, sebagian besar difokuskan pada operasi di negara-negara dan wilayah di mana mereka berada. Dan itu berarti Amerika akan menghadapi ancaman yang lebih lokal seperti apa yang terjadi di Benghazi, atau fasilitas minyak BP di Aljazair.

Pada akhirnya, menurut Presiden Obama,  Amerika  menghadapi ancaman nyata dari individu yang berfikiran radikal  di negara Amerika Serikat sendiri. Seperti penembakan  di kuil Sikh di Wisconsin, serangan pesawat terbang ke sebuah bangunan di Texas, atau teroris yang membunuh 168 orang di Gedung Federal di Oklahoma City. Seringkali warga AS dapat melakukan kerusakan besar, terutama ketika terinspirasi oleh gagasan yang lebih besar dari jihad kekerasan. Dan yang menarik terhadap ekstrimisme tampaknya telah menyebabkan penembakan di Fort Hood dan pemboman Marathon Boston.

Jadi itulah ancaman saat ini. Mematikan, namun kemampuannya tidak tinggi, mereka bisa berafiliasi dengan Al-Qaeda, mengancam fasilitas diplomatik dan bisnis di luar negeri, ekstrimis homegrown (homegrown terrorism). Ini adalah masa depan terorisme. Amerika harus mengantisipasi ancaman serius tersebut dan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menghadapi mereka.  Skala ancaman ini mirip dengan jenis serangan yang dihadapi AS sebelum peristiwa WTC,  911.

Obama menegaskan sebuah strategi kontraterorisme komprehensif. Pertama, AS harus menyelesaikan pekerjaan mengalahkan Al-Qaida dan pasukan yang terkait. Di Afghanistan, AS harus menyelesaikan transisi keamanan negara Afghanistan. Pasukan AS akan ditarik pulang,  misi tempur  akan berakhir. Perwakilan pasukan AS akan melatih pasukan keamanan, dan mempertahankan kekuatan kontraterorisme yang menjamin bahwa Al-Qaeda tidak bisa lagi membangun tempat yang aman untuk memulai serangan terhadap AS dan sekutunya.

AS harus mendefinisikan upayanya, bukan lagi sebagai sebuah perang global melawan teror tak terbatas melainkan sebagai upaya keras untuk membongkar jaringan teror yang mengancam Amerika. Dalam banyak kasus, AS akan melibatkan kemitraan dengan negara-negara lain.  Di Yaman, AS mendukung pasukan keamanan yang memiliki wilayah reklamasi dari AQAP. Di Somalia, AS membantu koalisi negara-negara  Afrika, mendorong Al-Shabab keluar dari benteng. Di Mali, AS memberikan bantuan militer kepada intervensi Perancis yang dipimpin untuk mendorong kembali Al-Qaida di Maghreb dan membantu rakyat Mali merebut kembali masa depan mereka.

Homegrown Terrorism

Homegrown terrorism pada umumnya terkait dengan organisasi internasional bukan ulah penyerang tunggal  (lone wolf),  yang melakukan teror  individu, terisolasi dan menjadi  terganggu, telah menjadi radikal terpisah kontak dengan kelompok yang  lebih besar.

Sejak penyerangan 911 di Amerika Serikat, dan tindakan militer AS di Afghanistan dan Irak 911, istilah ini sering digunakan para aparat keamanan untuk terorisme yang dilakukan oleh warga AS yang lahir di negara Barat, atau mereka yang telah menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Barat , dan di negara-negara Barat lainnya. Teroris domestik ini melancarkan perjuangan mereka tanpa harus memiliki struktur komando terpusat terlepas dari apakah bersumber atau terinspirasi dari pengaruh dalam negeri, luar negeri, atau transnasional.

Homegrown atau terorisme impor ini  bukanlah hal yang baru bagi Amerika Serikat atau negara-negara Eropa lainnya. Amerika Serikat telah menemukan sejumlah dugaan plot teroris yang telah berhasil ditekan oleh badan intelijen domestik dan aparat penegak hukum lainnya. Amerika Serikat telah mulai memperhitungkan ancaman homegrown terrorism, seperti yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan volume literatur tentang subjek dalam beberapa tahun terakhir. Adanya peningkatan jumlah situs teroris sejak Abu Musab al-Zarqawi, pemimpin Al-Qaeda di Irak, mulai memosting video pemenggalan pada tahun 2003. FBI memperkirakan terdapat  sekitar 15.000 situs dan forum web yang mendukung kegiatan teroris, dimana sekitar 10.000 dari mereka tetap aktif. Sekitar 80% dari situs tersebut menggunakan server yang berbasis di Amerika Serikat.

The Congressional Research Service’s study, menyebutkan, antara bulan Mei 2009 dan November 2010, aparat keamanan telah melakukan penangkapan terkait dengan 22 homegrown terrorism. Rencana teror  yang terinspirasi oleh warga Amerika atau penduduk hukum dari AS ini adalah signifikan meningkat selama 21 plot yang tertangkap dalam tujuh tahun serangan WTC 911. Selama tujuh tahun, dua plot mengakibatkan serangan, dibandingkan dengan dua serangan antara Mei 2009 dan November 2010, yang mengakibatkan 14 kematian. Ini lonjakan pasca-Mei 2009 menunjukkan bahwa sebagian orang Amerika rentan terhadap ideologi yang mendukung bentuk kekerasan dalam bentuk teror.

Kira-kira seperempat dari plot ini telah dikaitkan dengan kelompok teroris internasional, namun terdapat  peningkatan jumlah orang Amerika yang memegang peran operasional tingkat tinggi dalam kelompok-kelompok teroris, khususnya Al-Qaeda dan kelompok afiliasinya. Mantan Direktur CIA Michael Hayden menyebutkan bahwa homegrown terorisme adalah ancaman yang lebih serius yang akan dihadapi oleh warga negara Amerika saat ini dan mendatang.

Inggris, juga, menganggap homegrown terorisme menjadi ancaman yang cukup besar. Pada tanggal 6 Juni 2011, Perdana Menteri David Cameron mengumumkan sebuah strategi yang dikhususkan ke universitas-universitas untuk mencegah warga negara Inggris yang berfikiran radikal berubah menjadi teroris. Strategi ini dimaksudkan untuk mencegah speaker ekstrimis atau kelompoknya  datang ke universitas.

Marc Sageman menulis dalam bukunya, "Leaderless Jihad: Terror Networks in the Twenty-First Century" radikalisasi dalam terorisme bukanlah produk dari kemiskinan, berbagai bentuk cuci otak, ketidaktahuan, kurangnya pendidikan, kurangnya pekerjaan, kurangnya tanggung jawab sosial, kriminalitas, atau penyakit mental. Sagenman mengatakan bahwa imam berbahasa Inggris, seperti mendiang tokoh  Amerika-Yaman, ulama Anwar al-Awlaki , yang sering ditemukan melalui khutbahnya di forum internet, memberikan peran kunci dalam proses radikalisasi.

Jaringan sosial yang disediakan di forum mendukung dan membangun kepercayaan radikal individu. Selain itu, sistem penjara masa kini perlu menjadi perhatian sebagai tempat radikalisasi  pererekrutan. Menurut Sageman, hampir tiga lusin mantan narapidana yang menghadiri kamp pelatihan teroris di Yaman diyakini telah menjadi  radikal dalam penjara.

Kesimpulan

Homegrown terorism memang merupakan ancaman potensial bagi Amerika dan negara-negara Barat lainnya. Presiden Obama menekankan bahwa Amerika akan menarik diri dalam keterlibatan perang melawan teror di kawasan dunia lainnya. Amerika akan mengurangi pengeluaran pembiayaan pasukan dalam menghadapi kelompok teror. Terorisme internasional dikatakannya bukan ancaman langsung ke main land AS, tetapi ancaman teror dalam skala kecil merupakan ancaman masa kini dan masa mendatang.

Tindakan counter terrorism akan semakin diperketat di Amerika, yang jelas dengan adanya ulah imigran asal `Chechnya, maka para imigran dari negara-negara lainnya akan juga diawasi. Dubes RI di Washington sebaiknya mewaspadai kemungkinan adanya warga/imigran Indonesia yang berada di AS agar jangan sampai terlibat dalam aksi radikal. Sekali ada warga Indonesia yang terlibat, maka pemerintah AS, penulis perkirakan akan melakukan pembersihan. Terlebih jelas cukup banyak warga Indonesia yang over stay disana.

Counter  Homegrown Terrorism pada dasarnya adalah pembersihan ancaman serangan teror terhadap warga dan negara AS. Jadi siap-siaplah tindak pengetatan yang keras di negeri Paman Sam itu. Walau serangannya kecil dan sporadis, pemerintah AS jelas tidak ingin dipermalukan lagi. Kira-kira begitulah.

Oleh : Prayitno Ramelan (Pemerhati Intelijen), www.ramalanintelijen.net

                   
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.