Mabes Polri Bicara Soal Terorisme di Indonesia

16 May 2013 | 8:48 am | Dilihat : 762

Detasemen Khusus 88/Anti Teros (cencored.blogspot.com)

Setelah beberapa lama tidak menunjukkan aksinya, mendadak penggerebekan teroris kembali terjadi di empat wilayah di Pulau Jawa. Penggerebekan yang menarik terjadi di daerah Bandung dan Kebumen, dimana terjadi aksi baku tembak yang berlangsung cukup lama antara terduga teroris dengan Densus 88. Pada akhirnya penggerebekan usai, beberapa tersangka mati ditembak dan beberapa ditangkap. Diantaranya muncul nama cukup besar, Abu Roban yang diketahui mempunyai rencana akan membom Glodok dan akan mengacaukan pemilu 2014.

Dari beberapa kasus terorisme tersebut, muncul pertanyaan masyarakat, siapa sebenarnya para teroris itu dan mengapa terus ada dan terus ditangkapi, tetapi tidak habis-habis. Yang lebih tidak mengenakkan adanya tuduhan kasus terorisme adalah sebuah rekayasa. Menanggapi beberapa berita yang beredar, Mabes Polri kemudian memberikan keterangan agar masyarakat menjadi lebih jelas.

Wakapolri, Komjen Pol Nanan Sukarna menegaskan, bahwa aksi kelompok terorisme yang selama ini diungkap Densus 88 bukan merupakan sebuah rekayasa. Nanan mengingatkan bahwa kegiatan terorisme tersebut masih ada. Ditegaskannya, ”Kita ingin menyampaikan ke media dan masyarakat bahwa teroris ini bukan rekayasa kepolisian. Kita ingin semua alert bahwa teroris masih dan ada” katanya di Graha CIMB Niaga, Jl Jenderal Sudirman, Rabu (15/5/2013). Dalam pertemuan antara kepolisian dan pimpinan media tersebut, Wakapolri berharap ada sinergitas pemberitaan terkait penanggulangan masalah terorisme di Indonesia, tidak justru membantu teroris untuk meneror.

Dilain kesempatan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar menyatakan dalam sebuah penjelasannya di media, bahwa “Terorisme berada dalam simpul besar.” Diingatkannya bahwa agar jangan bicara pemberantasan teroris yang dilakukan Densus 88 dan BNPT tidak efektif. Karena pemberantasan terorisme tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Ini soal pemahaman ideologi yang salah tentang jihad.

Jaringan terorisme Indonesia masih saling berkaitan. Mereka ada dalam simpul besar, dan masih aktif. Awalnya berkembang ketika NII non teritorial menjelma dalam berbagai bentuk. Salah satunya, Jemaah Islamiyah (JI), dimana jaringan JI terungkap tahun 2002 usai peledakan bom Bali-1. Setelah JI membubarkan diri, anggota-anggotanya membentuk kelompok-kelompok baru. Ada yang berkaitan langsung, ada yang tidak. Ini yang disebut sel.

Jaringan-jaringan teroris ini kebanyakan merupakan alumni pelatihan-pelatihan militer di Afghanistan dan Filipina Selatan pimpinan Abu Sayyaf. Teroris-teroris pun bermunculan, dari Dr. Azahari sampai Noordin M Top. Setelah kematian keduanya, kekuatan teroris relatif melemah. Tetapi aksi-aksi terus berlangsung. Teroris kini meniru apa yang mereka dapat di Filipina Selata. Mereka melakukan pelatihan-pelatihan militer di daerah konflik, misalnya Aceh dan Poso Sulawesi Selatan.

Dari sisa-sisa jaringan teror yang ada, nama Abu Omar yang paling tersohor. Selain berperan sebagai pemasok senjata, Omar beberapa kali mengirim anak-anak muda ke MIndanau untuk latihan perang. Salah satunya anak tirinya, Farhan, teroris Solo yang ditembak mati Densus 88 Agustus 2012.

Bagi kelompok teroris, anak muda adalah sasaran yang potensial, karena mereka paling mudah dipengaruhi dan dicuci otaknya. Masih mencari-cari jati diri. Ketika diiming-imingi janji, mereka terjebak dalam kelompok radikal itu. Kepolisian sudah berupaya melakukan pencegahan pencegahan dengan pendidikan deradikalisasi bagi anak-anak muda dan teroris.

Jaringan yang digerebek di Bandung pekan lalu diduga jaringan Abu Omar. Senjata yang disita adalah jenis Kruger dan pistol FN kaliber 30. Meskipun sudah tertangkap tahun 2010, tapi lapisan di bawah Abu Omar masih berjalan. Masih terlibat dengan kelompok ini dalam memasok senjata.

Sementara Abu Roban yang ditembak mati di Kendal Jateng, terkait dengan Santoso. Santoso alias Abu Umar adalah tokoh sentral teroris Poso. Santoso ini giat merekrut dan ahli dalam membentuk mental serta jiwa teroris. Dia juga lihai dalam mengembangkan praktik pelatihan dalam sejumlah aksi teror, termasuk dalam aksi penembakan tiga anggota polisi di BCA di Palu, 25 Mei 2011. Dia pemimpin 20 orang terduga teroris yang ditangkap di sejumlah tempat dan pimpinan halaqoh Cileduk.

Abu Roban sebelumnya terlibat dalam perampokan toko emas di Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat, beberapa waktu yang lalu dan perampokan di Bank DKI. Hasil perampokan itu untuk mendanai aksi terorisme atau fa’i. Abu Roban juga terkait kelompok Abu Omar. Saat ini mereka belum merancang aksi teror besar. Kelompok ini tersebar di berbagai daerah , dari Jawa, NTB sampai Poso.

Tetapi ada juga jaringan-jaringan baru yang sama sekali  tidak terkait dengan kelompok lama. Kelompok Pepi Fernando misalnya, yang bersama 16 anggotanya merancang bom buku dan dikirimkan ke sejumlah tokoh padfa 2011. Kepolisian tengah mencari kelompok-kelompok semacam ini. Ini  merupakan kendala tersendiri karena kelompok seperti ini sulit cukup sulit dideteksi.

Lingkaran kegiatan terorisme terus tumbuh, dengan masuknya wajah-wajah baru. Mereka merencanakan dan siap melakukan aksi teror. Atas dasar inilah Polri terus bersigap diri  untuk selalu berada satu atau dua langkah di depan kelompok teroris yang hendak mengganggu ketenteraman di Indonesia. Ancaman-ancaman inilah yang harus kami kelola, Polri terus memantau. ( Artikel Karo Penmas Mabes Polri, Rakyat Merdeka, Senin, 13/5/2013).

Dari penjelasan baik Wakapolri maupun Karo Penmas tersebut, terlihat bahwa sel-sel terorisme masih aktif melakukan kegiatannya di Indonesia. Untuk sel yang terkait dengan jaringan lama, nampaknya mapping Densus sudah cukup lengkap, khusus untuk sel-sel bentukan baru, agak sulit melakukan deteksi dininya. Teroris walau dianggap sebagai ancaman/bahaya laten, akan sulit diberantas segera, hal ini disebabkan karena masih berkembangnya pemikiran di sebagian kecil masyarakat yang mengganggapnya sebagai bagian perjuangan/jihad. Yang terpenting adalah bagaimana melibatkan masyarakat agar mau bersama-sama aparat keamanan dalam memberantas terorisme.

Apabila masyarakat bersedia menjadi early warning (peringatan dini), maka terorisme tidak akan berkembang, dan bahkan diharapkan bisa menjadi lumpuh. Korupsi kini menjadi musuh masyarakat, partisipasi masyarakat terbukti efektif melaporkan tindak korupsi ke KPK. Apakah bisa kita mengondisikan terorisme juga musuh masyarakat? Itulah pekerjaan rumah aparat keamanan.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.