Dzhokhar dan Efek Psikologis serangan Tsarnaev terhadap Rakyat AS

21 April 2013 | 4:10 am | Dilihat : 350

Ungkapan sedih warga Boston (csmonitor.com)

[google-translator]

Dzhokhar Tsarnaev, adik tersangka satu pengebom Boston Marathon ditemukan bersembunyi Jumat malam (19/4) atau Sabtu (20/4) waktu Jakarta di perahu yang di parkir di belakang rumah dari David Hanneberry. Setelah aksi tembak menembak dengan petugas kepolisian (SWAT), Dzhokhar ternyata melarikan diri ke sebuah rumah yang posisinya berada di luar zona pencarian. Pada pagi harinya pemerintah mengakui bahwa mereka tidak menemukannya dan tidak bisa meyakini keberadaannya. Hampir sejuta penghuni diperintahkan polisi untuk tetap tinggal dirumah.

Pencarian besar-besaran yang melibatkan hampir 1.000 petugas keamanan, terus menyisir lebih dari 20 blok di Watertown. Dzhokhar Tsarnaev melarikan diri dengan berjalan kaki, karena petugas melakukan pencegatan berupa pengamanan, pemblokiran perimeter di 20 blok tersebut, dimana sebelumnya kakaknya Tsarlaen yang kemudian telah tewas ditembak saat bersama dengan Dzhokhar di dalam mobil bajakan.

Kronologis pengejaran setelah polisi merilis foto tersangka, menunjukkan bahwa target mereka ternyata tidak meninggalkan kota atau negara AS. Beberapa jam kemudian, mereka mulai melakukan tindakan kekerasan di seberang sungai Charles di Cambridge. Sekitar pukul 10.30 waktu setempat, pihak berwenang mengatakan, keduanya menembak dan membunuh perwira polisi yang bertugas di MIT, Sean Collier, 26, yang saat itu duduk di mobilnya. Tidak jelas apa yang memicu penembakan tersebut.

Setelah itu, kedua Tsarnaev merampas mobil SUV Mercedes-Benz dan menyandera pengemudi bersama keduanya. Salah satu dari keduanya  mengatakan kepada si sopir bahwa mereka adalah pembom di Boston Marathon, kata para pejabat. Mereka memaksa sopir untuk berhenti di beberapa mesin ATM, dan mengambil uang US$ 800, kemudian sopr mercy itu diturunkan di pom bensin.    Dari sana,  keduanya memacu mobil  sekitar tiga mil. Di Watertown, mereka dikenali Polisi dan terlibat dalam tembak-menembak. Keduanya sempat melemparkan bahan peledak rakitan kearah petugas. Petugas kepolisian Boston, Richard H. Donohue Jr, 33, terluka dalam tembak menembak tersebut.

Selama baku tembak itu, pihak berwenang mengatakan bahwa Tamerlan Tsarnaev meninggalkan mobil, dan polisi menangkapnya di jalanan dalam kondisi sudah tertembak, yang bersangkutan meninggal dunia setelah tiba di RS. Dzhokhar yang duduk di belakang kemudi mencoba menabrak polisi tetapi gagal dan kemudian dia melarikan diri, berlari meninggalkan mobil.

Ternyata Dzhokhar kemudian bersembunyi di dalam perahu milik David yang curiga tutup perahunya terbuka. Setelah memeriksa, David menemukan sosok yang berlumuran darah dan dia melaporkan ke polisi. Polisi mengerahkan helicopter yang berhasil melacak keberadaan tersangka dibawah terpal, dengan menggunakan infra merah. Dengan menggunakan bom sinar dan robot, terpal perahu dibuka dan team SWAT akhirnya berhasil menariknya keluar. Tersangka mungkin terluka lagi di kaki dan lehernya dalam tembak menembak dengan SWAT. Dzhokhar kemudian dibawa ke RS untuk dirawat.

Kasus pemboman Boston Marathon tersebut kini menjadi sangat menarik perhatian baik publik maupun pemerintah. Pemerintah AS kini terus mengumpulkan informasi, untuk mengetahui mengapa mereka melakukan serangan teror mengerikan itu, apakah mereka terkait dengan jaringan teroris di luar negeri? Hal ini yang terus dikembangkan, disamping apa motif penyerangan.

Dalam beberapa hari, dalam kasus kelabu di Boston tersebut, kedua emigran itu telah memberikan pelajaran baru kasus yang mengerikan, adanya sebuah aksi dan kekuatan terorisme di dalam negeri Amerika. Dua saudara tersebut adalah orang biasa saja, yang hanya dilengkapi dengan bom berteknologi rendah, mereka tidak merancang sebuah  rencana pelarian yang teliti dan  jelas. Tetapi nilai serangan teror di salah satu kota besar Amerika tersebut, pengaruh psikologisnya demikian besar. Menimbulkan efek, masyarakat Amerika dalam cengkeraman rasa takut.

Secara teori, serangan teror kedua orang tersebut dalam teori teror telah berhasil dan sukses. Teror sangat mengandalkan media dan kini media seluruh dunia telah memberitakan kejadian tersebut secara terus menerus. Warga AS diperkirakan akan mengalami paranoid,  kepercayaan terhadap rasa aman dari kemungkinan mengalami serangan teror di negaranya akan menurun.

Pertanyaannya, apakah kedua bersaudara itu hanya menyerang individual, atau ada kekuatan atau handler dibelakang mereka? Menurut media, FBI menegaskan Jumat (19/4) bahwa agen-agennya di Boston telah mewawancarai Tamerlan Tsarnaev sekitar dua tahun yang lalu, pada tahun 2011 atas permintaan pemerintah asing. Petugas penegak hukum mengatakan permintaan datang dari pemerintah Rusia, dimana ada informasi awal bahwa Tamerlan Tsarnaev mempunyai hubungan potensial dengan kelompok teroris di  Chechnya. Tapi setelah wawancara itu, disebutkan bahwa FBI tidak meneruskan memonitor kegiatan Tamerlan lebih lanjut, kata para pejabat.

Tamerlan adalah seorang petinju berprestasi, dengan istri warga nedara AS dan mempunyai  anak. Dzhokhar adalah pegulat di sekolah menengah umum Cambridge yang kemudian kuliah di  University of Massachusetts di Dartmouth. Paman kedua bomber itu, Ruslan Tsarni memberikan keterangan dari rumahnya di Montgomery Village, bahwa Dzhokhar hanyalah korban pengaruh pemikiran radikal kakaknya Tamerlan. Dzhokhar sebenarnya tidak tahu apa-apa, dan dia hanyalah korban.

Informasi lainnya tentang Tamerlan dirilis media di AS. Albrecht Ammon (21) pelajar asal Jerman, yang tinggal di lantai dua rumah di Norfolk Street, di mana Tamerlan Tsarnaev  juga tinggal, mengatakan bahwa  keduanya  baru-baru ini bertengkar di sebuah restoran pizza tentang masalah Alkitab dan kebijakan luar negeri Amerika. Amon mengatakan, Tamerlan mengungkapkan pandangan bahwa "Alkitab adalah salinan murah dari Quran" dan bahwa Amerika Serikat menggunakan Alkitab sebagai pembenaran untuk melakukan perang. Tamerlan   menurut Albrecht juga mengatakan bahwa "di Afghanistan, sebagian besar korban tidak bersalah dibunuh oleh tentara Amerika."

Nah, dari beberapa informasi diatas, nampaknya pejabat keamanan dan Badan   Intelijen Amerika masih akan menjalani proses panjang untuk menyelidiki kaitan serangan bom Boston dengan sebuah pandangan yang dikembangkan dikalangan kelompok radikal di negaranya. Persoalannya bukan hanya kemampuan melakukan tindakan represif aksi teror belaka kini, yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka berhasil membaca hati penduduk yang anti pemerintah dan mampu memonitor para calon bomber yang setuju dengan pemikiran yang juga sudah diserap oleh para Tamerlan lainnya. Bagian inilah yang terpenting.

Yang pasti sebuah infiltrasi telah berlangsung ke Amerika. Aksi bom Boston Marathon hanyalah sebuah serangan kecil, jauh apabila dibandingkan dengan serangan 911, tetapi efek psikologisnya tidak kalah besarnya. Membuat rakyat Amerika khawatir terhadap keselamatan dirinya,  was-was, itulah tujuan aksi teror yang sebenarnya.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.