FBI menyebarkan Foto Tersangka Pengebom di Boston

19 April 2013 | 11:49 am | Dilihat : 234

Dua tersangka pelaku pemboman di Boston Marathon (AP Photo/FBI)

 

FBI telah merilis gambar dari dua tersangka yang mereka yakini telah menanam bom di dekat garis finish maraton Boston, Senin lalu. Kedua tersangka terlihat terekam  video saat berjalan di Boylston Street. Tersangka pertama, laki-laki, mengenakan topi hitam, jaket hitam dan membawa ransel hitam. Orang ini, disebut FBI sebagai "Suspect 1" (diyakini terkait dengan ledakan di dekat Marathon Sports.)

"Tersangka 2" jelas terlihat mengenakan topi bisbol warna putih yang dipakai secara terbalik. Dia terlihat di CCTV berjalan di belakang tersangka 1 dan membawa ransel hitam yang digendong di salah satu bahunya. FBI mengatakan pria ini meninggalkan ransel di dekat lokasi bom kedua, di depan restoran Forum.

Jika Anda memiliki informasi tentang tersangka ini Anda diminta untuk menghubungi 1-800-CALL-FBI atau kunjungi bostonmarathontips.fbi.gov. itulah pesan aparat keamanan di Boston. Agen khusus FBI, Richard Deslauriers mengatakan dua orang tersebut dikatakan berbahaya dan dianggap bersenjata.  FBI meminta bantuan masyarakat untuk mengidentifikasi kedua orang tersebut setelah melakukan evaluasi di rekaman kamera-kamera kurang dari tiga hari setelah serangan mematikan.

Foto tersangka  dirilis beberapa jam setelah Presiden Barack Obama dan first lady Michelle Obama menghadiri layanan antar agama di katedral Katolik Roma di Boston untuk mengingat tiga orang yang tewas dan lebih dari 180 terluka dalam ledakan itu. "Jangan mengambil tindakan sendiri," Deslauris memperingatkan. Sebuah informasi penting dalam kasus ledakan tersebut berasal dari salah satu korban Jeff Bauman, yang kehilangan dua kaki di bawah lutut di salah satu ledakan.

Bauman menuliskan bahwa dia melihat salah satu tersangka menjatuhkan tas di kakinya sesaat sebelum meledak, saudaranya, Chris Bauman mengatakan kepada Bloomberg News. Jeff Bauman menggambarkan tersangka kepada penyidik ​​saat dalam perawatan intensif. Gambar-gambar dan video  kasus ledakan dikumpulkan FBI  hanya beberapa hari setelah serangan.  Spesialis analisis foto dari FBI telah menganalisis demikian banyak rekaman kamera dan gambar amatir dan video hingga berujung sebagai petunjuk kepada pelaku yang melakukan serangan.

Pada umumnya, dalam menangani kasus kejahatan di AS, lembaga penegak hukum akan merilis foto tersangka hanya sebagai jalan terakhir, ketika mereka membutuhkan bantuan masyarakat dalam mengidentifikasi atau menangkap seseorang. Merilis foto akan memberitahu posisi dan langkah penegak hukum dan yang jelas menghilangkan elemen kejutan dari operasi. Polisi terpaksa membuang waktu berharga mengejar para tersangka.

Pengalaman pengejaran tersangka pengebom di AS yang menarik terjadi saat adanya bom meledak di Centennial Olympic Park, pada 27 Juli 1996, dimana si pelaku Eric Robert Rudolph baru teridentifikasi setelah setahun berlalu dan kemudian dia melarikan diri.  Pada tanggal 14 Oktober 1998, Departemen Kehakiman resmi baru mendakwa Rudolph sebagai tersangka dalam pengeboman di Park tersebut dan tiga tempat lainnya. Dalam pengejaran, dengan janji hadiah US$ 1 juta, akhirnya Rudolph tertangkap pada tanggal 31 Mei 2003, mengakui mengebom empat tempat, dan dijatuhi hukuman seumur hidup.

Dalam kasus Boston Marathon ini FBI tidak menyebutkan ketinggian pria, berat atau perkiraan usia dan  etnis kedua  pria tersebut. "Ini tidak pantas untuk mengomentari etnis laki-laki karena bisa membuat orang menyimpulkan ke jalan yang salah," kata agen FBI Greg Comcowich, juru bicara kantor FBI di Boston. Informasi pada tersangka pertama dikembangkan dalam satu atau dua hari sebelum rilis, kata Deslauriers. Agen Daniel Curtin mengatakan FBI tidak mengeluarkan foto-foto sebelumnya karena pemerintah ingin teliti: " Sangat penting untuk mendapatkan yang benar."

Di Roman Catholic cathedral, pada hari sebelumnya, Presiden Obama menyatakan kepada rakyat Boston: "tekad Anda adalah teguran terbesar untuk siapa pun melakukan tindakan yang mengerikan ini." Obama berbicara ditujukan kepada mereka yang melakukan kekerasan tersebut. Ditegaskannya, "We finish the race, and we do that because of who we are. And that's what the perpetrators of such senseless violence -- these small, stunted individuals who would destroy instead of build and think somehow that makes them important -- that's what they don't understand."

"Kami akan menemukan Anda," Presiden Obama dengan tegas memperingatkan orang-orang yang berada di balik serangan itu.

Hingga kini diketahui tujuh korban tetap berada dalam dalam kondisi kritis. Yang tewas adalah Martin Richard (8 tahun) dari Boston, Krystle Campbell Medford, manajer restoran (29 tahun), Massachusetts, dan Lu Lingzi (23 tahun), mahasiswa pascasarjana Boston University yang berasal dari China.

Diberitakan oleh media bahwa penyelidikan akan dilakukan terhadap  sekitar satu juta jam rekaman video dari kamera keamanan tetap (CCTV) dan ponsel serta kamera yang digunakan oleh penonton, kata Gene Grindstaff, demikian disebutkan oleh seorang ilmuwan di Intergraph Corp, sebuah perusahaan Huntsville, Alabama, yang membuat perangkat lunak analisis video yang digunakan oleh FBI dan lembaga penegak hukum lainnya.

Demikian perkembangan penyelidikan oleh badan keamanan AS terhadap aksi pemboman di Boston Marathon. Yang tersisa, serangan terhadap kegiatan olah raga merupakan kasus yang jarang terjadi setelah pemboman yang terjadi saat penolakan pelaksanaan Olympiade di Atlanta, Georgia pada 27 Juli 1996. Apakah pengebom tidak menyetujui pelaksanaan marathon yang telah dilaksanakan sekian lama? Itulah pertanyaan yang harus dijawab FBI dan polisi di Boston. Yang jelas mereka kini sudah memiliki tersangka, hanya berapa lama kedua tersangka tertangkap itulah persoalannya.

Ini yang disebut sebagai pertaruhan citra aparat keamanan AS sebagai negara yang terkenal sangat maju. Tapi entahlah, cukup sulit mengejar pelaku pemboman yang masuk sebagai tersangka teror, pelaku pengebom empat lokasi saja di AS baru bertahun-tahun tertangkap. Kasus serupa juga pernah terjadi Indonesia, gembong teroris Noordin M Top dari Malaysia baru dapat disergap dan ditembak Densus setelah 9 tahun malang melintang di sini, dan bahkan sempat pula menikah tiga kali di beberapa tempat di tanah air. Setelah itu beberapa kasus terorisme relatif lebih cepat terbongkar dan ditangkap, karena mapping yang dimiliki Densus-88 lebih lengkap.

Kesimpulannya, masyarakat memang harus membantu informasi, aparat saja tidak cukup dalam menangani aksi teroris. Begitu?

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.