Pelajaran dari Serangan Bom Boston

18 April 2013 | 8:06 am | Dilihat : 380

lokasi ledakan boston marathon (cbsnews.com)

 

Hingga hari ketiga setelah serangan pemboman di Boston Marathon, pihak keamanan di AS belum menemukan titik terang kearah mana mereka akan melacak arah penyerang. Penyerang bisa merupakan perorangan atau kelompok, bisa dilakukan oleh kelompok/perorangan radikal domestik, tetapi bisa juga dari luar negeri.

Kemajuan penyidikan  setelah ditemukannya material dan macam bom yang meledak, diumumkan oleh FBI bahwa bom yang meledak menggunakan rumah bom (casing) berupa pressure cooker (rice cooker). FBI dan Polisi Boston menyatakan bom tersebut adalah “improvised explosive devices,” (IEDs) diledakkan dengan remote control dari perangkat elektronik ponsel, atau cara lainnya. Casing tersebut yang diisi bahan peledak, juga  diisi dengan material pencelaka seperti paku, gotri dan bahan logam lainnya. Bahan-bahan itulah yang membuat luka-luka mereka yang berada di radius berbahaya, karena material logam dihempaskan oleh peledak dan mampu menembus kulit dan daging. Karena bom diletakkan diposisi bawah, maka sebagian besar korban menderita luka parah (kerusakan maksimum) di bagian kaki.

Pembuatan bom dengan menggunakan rice cooker juga pernah ditemukan dalam penyergapan oleh  Densus-88 terhadap kelompok teror Badri di Indonesia. Menurut Densus-88 mereka pernah menemukan pernah menemukan dua bom rice cooker di rumah tersangka teror bernama Barkah Nawa Saputra di Jalan Kentingan RT 02 RW 11 Kecamatan Jebres, Solo pada 2012. Tetapi bom rice cooker yang ditemukan saat itu sudah berisi rangkaian swicthing yang dihubungkan dengan HP. "Tapi saat itu belum dipasang bahan peledak. Jika diisi dengan bahan peledak, maka itu juga akan menjadi bom yang mematikan. Dahsyat," kata sumber ahli bom Polri kepada Berita Satu.

Selain itu dijaringan kelompok teroris Solo, yaitu di rumah Badri  yang juga telah ditangkap,  polisi menyita 7 buah bom botol (nitroglycerine), 11 detonator rakitan (nitroglycerine), pipa yang disiapkan untuk casing, 1 kilogram (kg) pupuk urea, 3 kg belerang, arang, dan komponen elektronik. Sementara di rumah Kamidi, pelaku lainnya yang juga telah ditangkap, disita bom cair nitroglycerine dalam bungkus plastik, bom pipa aktif empat buah, satu bom botol (nitroglycerine), 4 kg flash powder, 5 kg black powder, dan switch telepon selular.

Berkaitan dengan bom Boston Marathon, FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebarkan   foto-foto dari casing pressure  cooker yang tersisa kepada masyarakat dalam upaya untuk mengumpulkan informasi dan  melacak sumber bahan. FBI kini melacak dua orang yang meletakkan tas warna hitam, berdasarkan CCTV dari sebuah Departemen Store. Keduanya diperdalam melalui CCTV dikenali membawa dan kemudian muncul dibagian lain tanpa membawa tas yang diperkirakan berisi bom tersebut. Nampaknya pihak keamanan semakin dekat mendeteksi kearah pelaku.

 

Pelajaran dari Boston

 

Bom Boston Marathon, ternyata sebuah bom sederhana tetapi berbahaya yang cukup dikenal dikalangan teroris di pelbagai bagian dunia, seperti di Afghanistan, dan juga di Indonesia. Jenis ini juga dikenal seperti dijelakan sumber ahli bom  di Polri. Beberapa ahli terorisme menyatakan bahwa serangan nampaknya lebih mirip karya seseorang atau kelompok kecil, bukan berasal dari kelompok jaringan yang besar. Apabila jaringan teroris yang lebih besar terlibat, maka ini merupakan sebuah cara pendekatan baru dan dinilai sangat kasar yang rendah nilai serangan yang dilakukannya. Dalam setiap kasus, para penyerang utama dengan cara-cara yang mirip ulah di Boston dilakukan ileh penyerang perorangan, dikenal sebagai serigala tunggal (lone wolves).

Pejabat di AS kini fokus dengan hasil pulbaket dasar, menganalisa semua data surveilans yang dikumpulkan di daerah sekitar Boylston Street, sebelum dan sesudah bom meledak, dan semua bukti forensik di TKP. Badan-badan intelijen mencari informasi dari beberapa sumber dan jaringan yang dimiliki di luar negeri, terhadap kemungkinan keterlibatan kelompok teror luar, sementara  FBI melakukan tindakan penyelidikan  di dalam negeri.

Ahli kontraterorisme mengatakan bahwa kekuatan kontrateror yang paling efektif adalah publik. Pelajaran yang paling penting adalah, "jika anda melihat sesuatu, laporkan sesuatu." Kewaspadaan publik menjadi pertahanan yang paling efektif terhadap serangan teror  yang  sulit sekalipun untuk di deteksi. Hank Crumpton, mantan CIA spesialis kontraterorisme atas dan penulis "The Art of Intelligence, "mengatakan  “The Boston attack is another harsh reminder that terrorism can be immediate, intimate and random,” serangan Boston mengingatkan kita bahwa terorisme dapat menyerang sewaktu-waktu, dimanapun dan  secara random dengan serangan terpilih.

David Ignatius penulis kolom pada media di AS menyatakan, bahwa sistem canggih kontraterorisme Amerika Serikat yang telah dikembangkan sejak kasus 911 pada tahun 2001 akan membantu penyelidikan teror bom, tetapi hanya sampai titik tertentu. Sistem surveilans telah dikerahkan di seluruh Boston untuk kegiatan maraton tersebut, dan terutama di dekat garis finish, dimana telah dipersiapkan petugas secara lengkap. Tapi itu ternyata tidak menghentikan pemboman. Disatu sisi, semua kamera dan peralatan pengawasan lainnya, dan sistem analitik mampu untuk menafsirkan data mentah, dan akan membantu menghasilkan sebuah kemajuan, seperti yang kini pelacakan semakin dekat ke target penyerang. Tapi pemboman Boston menunjukkan bahwa teknologi pengawasan bukanlah obat mujarab untuk menangkal serangan, kenyataannya demikian.

Teroris kini telah menjadi lebih canggih dalam menghindari deteksi. Mereka mempertahankan disiplin yang lebih baik dalam menjaga komunikasi mereka keluar dari jangkauan pemantauan, seperti yang ditunjukkan oleh Osama bin Laden yang secara menakjubkan telah mampu mengecoh dan sepuluh tahun bersembunyi di Abottabat, kota militer Pakistan. Mereka telah belajar bagaimana untuk menggagalkan kamera pengintai dengan menggunakan penyamaran cahaya. Komunikasi dibatasi dan hubungan satu sama lainnya lebih dilakukan melalui "personal meeting."

Melihat ke dalam pikiran musuh jelas sangat sulit bagi aparat intelijen yang dimiliki oleh AS, dengan organisasi teroris yang menjadi lawan AS yang berjumlah menjadi sempalan hingga ratusan, seperti inti Al-Qaeda. Ini akan jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kelompok kecil yang terdesentralisasi atau pelakunya individu. David mengatakan bahwa satu dekade telah mengajarkan kepada Amerika Serikat, dimana   destabilisasi 9/11 saat itu bukanlah aksi teroris itu sendiri tetapi bagaimana  cara negara merespon sebuah aksi serangan. AS pada waktu lalu merespon terorisme dengan melakukan perang yang sangat mahal di Irak dan Afghanistan. hal ini  melemahkan moral publik tanpa tercapainya keuntungan yang jelas. Semua ketenangan yang dicapai AS setelah AS menghadapi badai kontraterorisme, tetapi kini kembali  terkoyakl dengan terjadinya serangan Boston Marathon.

Nah, bagi Indonesia, respon yang dilakukan dalam menghadapi aksi teror lebih di fokuskan dengan penindakan hukum terhadap pelaku teror itu sendiri. Dilain sisi, BNPT sebagai badan strategis penanggulangan teror melakukan langkah deradikalisasi. Seperti yang dikatakan ahli kontraterorisme, bahwa langkah kontrateror akan jauh lebih sukses apabila publik dilibatkan. Masyarakat dilibatkan dalam kesadaran kontrateror, bertindak sebagai early warning, dan mau melaporkan apabila menemukan kejanggalan di masyarakat yang mungkin terkait dengan aksi teror.

Ketidak pedulian masyarakat akan ancaman teror merupakan gong bunuh diri masyarakat itu sendiri, yang mana kelompok teroris di negara kita seperti dikatakan Hank Crumpton "harsh reminder that terrorism can be immediate, intimate and random."

Perbedaan teror penyerang wilayah AS kini nampaknya  lebih kepada motif politik, sementara di Indonesia lebih kepada masalah ideologi. Yang membedakannya, di Indonesia serangan sudah demikian banyak sehingga Densus lebih mudah melakukan mapping, sementara teror di AS kwalitas serangannya masih terbatas dan pelakunya dilakukan oleh orang yang berbeda, sehingga lebih sulit mendeteksinya.

Dengan demikian, maka masyarakat Indonesia harus terus waspada dan mau terlibat dengan aksi penanggulangan terorisme. Tahun 2013 diperkirakan sekitar 300 tahanan yang terkait kelompok teror akan keluar dari penjara, dan pada umumnya dimonotor mereka akan bergabung dengan kelompoknya lagi. Masih butuh waktu lama melenyapkan teroris, selama konflik masih terus terjadi, bukan hanya konflik fisik tetapi juga konflik batiniah. "Terrorism is a part of modern life, but it didn’t win any victories. A Terorist in one side, but a patriot on the other."

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.