Kebakaran Setneg, Sabotase atau Keteledoran?

21 March 2013 | 11:22 pm | Dilihat : 402

The worst condition dalam bahasa pengamanan intelijen adalah istilah menilai sebuah kondisi terburuk dalam menghadapi provokasi atau ulah lawan. Dengan berdasarkan kepada pemikiran kemungkinan terburuk maka kita akan terhindarkan dari unsur pendadakan. Itulah dasar yang harus sangat difahami oleh sebuah sistem security. Sistem pengamanan terhadap sebuah obyek vital harus mendapat perhatian ekstra, dan secara berkala penanggung jawab security harus melakukan pemeriksaan security. Mengukur atau menilai apakah sistem masih bekerja baik atau mungkin sudah kurang berfungsi atau ketinggalan jaman.

Nah, sore ini kita disodori tontonan di media elektronik, tentang terjadinya kebakaran gedung utama Sekretariat Negara. Gedung Setneg menurut penulis adalah sebuah obyek vital, lokasinya satu halaman dengan Istana Negara. Disamping itu yang terpenting, di gedung tersebut selain sebagai tempat sidang kabinet, tempat berkantor beberapa pejabat tinggi negara juga jelas tersimpan demikian banyak dokumen negara.

Menurut pemberitaan api awalnya membakar ruangan di lantai tiga pada pukul 16.50 WIB.  Beberapa petugas pemadam internal Setneg  dengan memanfaatkan satu mobil pemadam kebakaran milik Setneg tampak kewalahan memadamkan api. Api terus membesar karena petugas pemadam kebakaran dibantu petugas Setneg hanya bisa naik hingga lantai dua karena mobil PK hanya dilengkapi tangga pendek.

Air juga tak mampu disemprotkan hingga lantai tiga. Akhirnya, petugas hanya berusaha menyemprotkan ruangan-ruangan di lantai dua melalui kaca yang dihancurkan. Sekitar 20 menit kemudian, api sudah membakar habis sebagian ruangan di lantai tiga hingga atap gedung. Bantuan mobil pemadam kebakaran tiba sekitar pukul 17.30 WIB karena padatnya trafik pada saat jam pulang kantor. Pemadaman lalu dilakukan dari berbagai sisi gedung dan akhirnya, api bisa dipadamkan sekitar pukul 18.00 WIB, lalu dilanjutkan pendinginan hingga pukul 19.30 WIB.

Pada saat kebakaran, nampak demikian banyak para pejabat tinggi negara yang menyaksikan dengan raut muka prihatin, termasuk Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono yang terlihat cemas. Gedung Setneg tersebut letaknya cukup  dekat dengan istana. Karena itu kepulan asap yang meluas karena kencangnya angin membuat keadaan semakin mencekam.

Seperti biasa insan pers selalu menanyakan apa penyebab kebakaran? Apa pendapat Bapak Presiden? Pihak Setneg menduga kebakaran akibat korsluiting listrik di lantai tiga. Meski demikian, akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran. "Sekalipun dugaan kami akibat konslet listrik di lantai tiga, kami akan melakukan penyelidikan," kata Sekretaris Menteri Sekretaris Negara Lambok V. Nahattands saat jumpa pers di Gedung I Setneg, Kamis malam. Menurut Lambok, ruang Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan para staf di lantai dua kondisinya aman. Semua dokumen aman, tidak ada yang hancur atau rusak katanya.

Menurut sumber dari Kompas, api itu mulai menjalar di sayap kanan gedung di lantai tiga. Beberapa pegawai yang berada di tempat itu lari berhamburan keluar. Ruangan yang terbakar merupakan ruang rapat yang jarang digunakan dan hanya dipakai untuk sidang kabinet. "Kalau ruang rapat memang selalu sepi. Kalau tidak ada sidang kabinet, ruangan tersebut tidak dipakai. Intinya karena angin kencang plus ruangan sepi, jadi cepat membesar dan tidak ada pegawai yang menyadari," katanya. Menurut beberapa sumber, alarm tanda bahaya kebakaran tidak berbunyi atau mungkin tidak ada?

Nah, mari kita berfikir positif. Kebakaran ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi para pejabat negara. Istana adalah simbol negara tempat tinggal dan berkantor kepala negara serta beberapa pembantunya. Karena itu lingkungan istana dimasukan sebagai sebuah obyek vital. Di Amerika, Gedung putih dijaga demikian ketat dengan sebuah sistem keamanan yang sulit ditembus. Bahkan gedung tersebut juga mempunyai sistem pertahanan dalam menghadapi sebuah serangan udara. Dalam kondisi khusus, maka presiden AS akan dievakuasi melalui jalur khusus yang dirahasiakan dan aman.

Nah bagaimana dengan istana negara kita? Apakah sistem keamanan telah dibuat dengan sistem yang memadai? Bagaimana apabila dalam keadaan emergency, presiden beserta keluarganya akan escape dengan escape route yang aman?

Terjadinya kebakaran yang semestinya dapat diantisipasi dengan sistem pemadam kebakaran internal nampaknya telah gagal. Lantai tiga gedung penting tersebut terbakar habis. Kita hanya percaya penjelasan  kalangan istana, kebenaran informasi bahwa dokumen penting tidak ada yang rusak. Kita lihat, anggota pemadam kebakaran kalau menyemprotkan air di lantai dua dengan merusak kaca jendela, apakah tidak merusak segala sesuatunya? Walau lantai dua tidak terbakar, dengan hancurnya lantai tiga serta atap gedung, bukankah aktivitas kerja Mensesneg dan stafnya juga terganggu?

Kelemahan atau kerawanan obyek vital tersebut terletak kepada lemahnya penangkal kebakaran. Kerawanan menurut  pakem intelijen adalah kelemahan yang apabila di eksploitir lawan akan menyebabkan kerusakan dan bahkan kelumpuhan. Sebuah kejadian kebakaran bisa terjadi karena tidak sengaja, tetapi bisa juga disengaja. Agak sulit membuktikannya memang. Hanya petugas intelijen, dan ahli forensik polri yang bisa menelusurinya.

Memang tidak bisa kita langsung mengatakan ini sebuah sabotase. Tetapi yang perlu diingat, ada dua hal penting yang menempatkan Gedung Setneg itu bisa menjadi sasaran sabotase. Pertama di gedung tersimpan arsip/dokumen yang sangat-sangat berharga bagi negara kita. Kedua, gedung itu adalah obyek vital yang terletak dilingkungan halaman istana negara, sehingga apabila terbakar, pengaruhnya besar, terkait dengan citra.

Dikaitkan dengan gonjang-ganjing situasi polkam saat ini tentang akan adanya upaya penggulingan pimpinan nasional, nampaknya kasus ini jangan dianggap sepele murni hanya sebuah insiden. Gedung tersebut merupakan bagian jantung kegiatan kepala negara dan beberapa pejabat tinggi negara. Hal penting lainnya yang juga perlu diperhatikan, kebakaran terjadi sore hari pada saat jam pulang kantor, dimana trafik sedang padat. Ini akan menghambat kedatangan mobil bantuan PK dari luar istana. Faktanya demikian, satu lantai ludes terbakar.

Dengan demikian, nampaknya penyebab kebakaran seharusnya segera ditemukan, tidak bisa disimpulkan segera hanya  karena korsluiting listrik, atau AC sudah tua atau kabel sudah lapuk dan sebagainya. Api yang membesar dalam waktu singkat bukanlah hal yang biasa dan sederhana. Kalau memang penyebabnya hal tersebut diatas, namanya itu sebuah  keteledoran yang mempermalukan institusi dan negara. Menyepelekan sebuah ancaman. Nampaknya ini hal yang lumrah di negara kita, barangkali.

Apabila indikasi menjurus kearah adanya kesengajaan, kejar dan perdalam terus. Sabotase juga dikerjakan untuk sebuah tujuan dengan sasaran yang lebih besar, kira-kira demikian dasar berfikirnya. Semoga bermanfaat.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : megapolitan.kompas.com

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.