Pilgub Jawa Tengah dan Jokowi Effect

15 March 2013 | 10:23 am | Dilihat : 568

Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah baru akan  dilaksanakan pada 26 Mei 2013, tetapi gregetnya sudah mulai terasa dan semarak di beberapa daerah Jawa Tengah. Pada hari terakhir pendaftaran, tercatat ada tiga pasang yang akan maju sebagai pasangan cagub-cawagub. Pasangan pertama adalah petahana, pasangan Bibit Waluyo-Sudjiono telah dahulu mendaftarkan diri ke KPU dengan didukung Partai Demokrat, partai Golkar, dan PAN.

Pasangan kedua yang mendaftarkan diri adalah pasangan Sekda provinsi Jawa Tengah, Hadi Prabowo yang berpasangan dengan Don Murdono, Bupati Sumedang. Pasangan dengan singkatan HP-Don  ini didukung oleh koalisi enam partai Politik yaitu PKB, PPP, PKS, Partai Gerindra, PKNU, Hanura,  mendaftar hari Selasa (5/3/2013) malam.  Pasangan terakhir yang mendaftar adalah pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang didukung oleh PDIP.

Suatu hal yang menarik dari ketiga calon tersebut, semuanya boleh dikatakan mempunyai atau pernah menjadi bagian dari PDI Perjuangan. Sebut saja, Bibit Waluyo yang pada pilkada 2008 maju dengan melalui PDIP, kini Hadi Prabowo dan Don Murdono juga kader PDIP, sedang Ganjar dan Heru jelas kader PDIP. Jadi pertebutan suara akan terjadi dikalangan PDIP, serta perkuatan berasal dari parpol pendukung lainnya.

Hingga saat ini dari ketiga pasangan yang maju, tingkat elektabilitas mereka belum diukur oleh lembaga survei, karena mereka baru saja mengumumkan pencalonannya. Posisi politis ini jelas menguntungkan Bibit Waluyo sebagai incumbent dibandingkan cagub lainnya.

Referensi yang agak bisa dipakai adalah survei yang dilakukan oleh  Lembaga Pengkajian Survei Indonesia (LPSI), yang  menggelar survei   berjudul "Menakar Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2013-2018", pada tanggal  1-15 September 2012 dengan jumlah responden tiga ribu orang yang tersebar di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Hasil survei menunjukkan persepsi publik terhadap beberapa nama cagub cawagub yang saat ini muncul, elektabilitasnya masih sangat rendah.

Popularitas Bibit cukup tinggi,  65 persen dan Rustriningsih sebagai wagub 63 persen. Tetapi nilai elektabilitas Bibit  masih dibawah 20 persen, dan bahkan Rustri dibawah lima persen. Sedangkan elektabilitas tertinggi di Jateng adalah  Jokowi, dengan persepsi 21 persen. Rustriningsih tidak menjadi calon yang diajukan oleh PDIP, akan tetapi menyatakan tetap akan setia atas dasar idealismenya kepada PDIP.

Dengan demikian, nampaknya sementara ini posisi Bibit Waluyo sebagai incumbent masih merupakan yang terkuat dibandingkan dua cagub lainnya. Kondisi psikologis Jawa Tengah akan bergeser apabila sudah memasuki masa kampanye, karena Jokowi sebagai mantan Walikota Solo pengaruhnya masih sangat besar di Jawa Tengah. Bukti lebih tingginya elektabilitas Jokowi dibandingkan Bibit sebagaio incumbent Gubernur adalah fakta yang sulit terbantahkan.

Penulis memperkirakan bahwa calon PDIP Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko akan memperoleh dukungan penuh dari Jokowi. Sebagai magnit penarik suara konstiuen, Jokowi adalah pendukung yang sulit ditandingi di Jawa Tengah oleh pesaing lainnya yang juga sebenarnya berkaitan dengan PDIP, walaupun kini loncat pagar. Ganjar juga mengklaim, Puan, Mega dan Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, juga akan terjun untuk membantu menggalang dukungan.

Ganjar memang belum banyak dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah.  Tingkat grassroot Ganjar-Heru lebih dikenal di pusat, Kabupaten Karanganyar, dan Purbalingga. Faktor yang memperkuat lainnya dari calon PDIP ini adalah apabila Rustriningsih memberikan dukungan kepada Ganjar-Heru.

Jadi posisi sementara setelah pendaftaran cagub-cawagub, posisi Bibit masih berada diatas, kemungkinan posisi kedua adalah calon dari PDIP, Ganjar-Heru, dan ketiga baru pasangan HP-Don. Yang perlu disimak, Jawa Tengah adalah lumbung suara dari partai Banteng moncong putih. Faktor fanatisme ideologis akan berpengaruh besar di pilkada ini.  Dengan demikian apabila Bibit-Sudjiono serta HP-Don "lengbet" (apabila meleng  keduanya akan disabet oleh Ganjar-Heru).

Jokowi effect yang tidak berjalan penuh di Pilkada Jabar dan Sumut akan lain ceritanya di Pilkada Jawa Tengah, karena disitulah dia berasal. Kita tunggu perkembangan lainnya,  penulis akan membuat ulasan yang lebih rinci.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : panturanews.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.